ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Hari Raya Idul Adha Dan Sekantong Daging Penguat Hati

Minggu, 03 Juli 2022

Hari Idul Adha

Jelang perayaan Hari Raya Idul Adha yang sering dikenal sebagai hari raya kurban, makna berkurban harus kembali diingatkan. Sebab, di hari inilah Nabi Ibrahim alaihissalam harus mau mengurbankan anaknya Ismail alaihissalam atas perintah Allah ta’ala. Dan ini bukan sekadar tradisi yang diturunkan dari kisah seorang Nabi sekaligus Rasul yaitu Nabi Ibrahim alaihissalam. Tapi, ada banyak makna yang terkandung dari perayaan Hari Raya Idul Adha ini.

Setiap tahun, ada banyak hewan yang bersiap untuk dijadikan hewan kurban. Di Indonesia sendiri, hewan yang sering dijadikan hewan kurban adalah Sapi, kerbau, kambing dan domba. Tahun 2021 yang lalu, ada sekitar 1,7 juta hewan kurban yang siap dikurbankan. Jumlah ini memang sedikit menurun mengingat perayaan Idul Adha tahun lalu masih berada pada situasi dan kondisi pandemi.

Alhamdulillah data ini bisa saya dapatkan melalui proses berselancar di dunia maya. Bersyukur juga sebab menggunakan provider internet yang stabil seperti IndiHome yang merupakan bagian dari Telkom Group yang memudahkanku menyaksikan prosesi ibadah haji secara online. Sambil berdoa dalam hati, semoga Allah mengundangku untuk bisa beribadah Haji tahun depan. Aamiin.

Hari Raya Idul Adha Dalam Islam

Saya teringat dengan khutbah seorang ulama saat perayaan Idul Adha ketika pandemi tahun lalu. Saya mengikutinya melalui aplikasi streaming dengan menggunakan internet stabil IndiHome di rumah dikarenakan aturan pembatasan aktivitas sosial yang berlaku. Beliau mengingatkan, selain dikenal sebagai hari raya saat hewan kurban ramai disembelih dan dibagikan. Ada satu ibadah lain yang sudah dilaksanakan sebelum hari raya ini. Dan melaksanakan kurban adalah salah satu rukunnya. Yaitu, ibadah Haji. 

Ibadah Haji dimulai ketika wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah, dan dilanjutkan dengan yaumul nahar yang juga bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Di tanggal 10 Dzulhijjah inilah jamaah haji akan melaksanakan prosesi tawaf dan lain sebagainya yang dilakukan di depan Ka’bah.

Dalam pelaksanaan Hari Raya Idul Adha ada banyak pembelajaran yang terkandung, meliputi penjagaan agama, jiwa, harta dan keluarga. Penjagaan agama, ini terkandung pada ibadah Haji yang menjadi pembuktian kuat bahwa seluruh umat muslim dari seluruh penjuru dunia, dari beragam etnis dan profesi mampu menjalankan ibadah bersama secara damai dan tenang. Dan ibadah Haji ini juga termasuk ke dalam Rukun Islam yang menjadi penyempurna. 

Sementara penjagaan jiwa ini berkaitan dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam, dalam menjaga keikhlasan hatinya serta sebagai bentuk ketakwaannya kepada Allah. Begitupun bagi umat muslim yang menjadi shohibul kurban maupun yang tidak.

Bagi yang berkurban, bentuk pengorbanan melalui hewan kurban ini sebagai ikhtiar untuk menjaga agar hati dan ketakwaannya semakin kuat. Sebab, melaksanakan kurban bagi shohibul kurban bukan saja sekadar menyaksikan hewan kurban disembelih. Tapi, adanya pengorbanan dalam bentuk materi yang diberikan untuk bisa dibagikan pada orang lain yang membutuhkan.

Dalam penjagaan harta dan keluarga, berkaitan dengan pembersihan harta yang dimiliki seseorang. Jika dalam hidupnya harta tersebut belum pernah dikeluarkan untuk agama dan kebaikan, tentu dalam perayaan Idul Adha dan pelaksanaan sebagai shohibul kurban menjadikan harta tersebut dibersihkan dari keburukan. 

Makna Idul Adha Secara Umum

Perayaan ibadah kurban ini tentunya tidak hanya sekadar perayaan beragama saja. Namun, secara langsung mempengaruhi sektor ekonomi dan sosial di Indonesia. Dari segi ekonomi, pelaksanaan kurban dengan menyembelih hewan kurban secara bersamaan ini mendatangkan perputaran uang dari peternak ke shohibul kurban.

Kurang lebih, dalam perayaan hari raya kurban ini, melalui data sekitar tahun 2018 yang dikutip dari uii.ac.id, bahwa ada sekitar 10 triliun jumlah angka yang muncul dari penjualan hewan kurban. Tentunya ini merupakan perputaran ekonomi yang tak hanya menguntungkan satu pihak saja tapi bisa menguntungkan banyak pihak. Sebut saja, penyedia pakan ternak, pengantar hewan ternak, penyedia lahan untuk dijadikan tempat mukim sementara hewan ternak hingga pedagang arang. Ada banyak lapisan masyarakat yang bisa merasakan keuntungan dari transaksi jual beli hewan kurban ini.

Sementara dari sektor sosial, kegiatan hari raya idul adha, sejak dimulai dari solat ied bersama. Membuat banyak orang dari RT, RW sampai kelurahan berbeda berkumpul di satu tempat untuk beribadah bersama. Tak hanya itu, setelah solat, masih ada lagi momen penyembelihan hewan kurban yang dilakukan bersama-sama. 

Ini adalah momen ketika mereka yang jarang terlihat dan hadir di lingkungan tersebut. Akan hadir dan mulai melakukan kegiatan sosial masyarakat dengan berbaur dan berkomunikasi dengan tetangga. Terakhir adalah momen paling krusial yaitu pembagian hewan kurban kepada mereka yang sesuai dengan ketentuan penerima hewan kurban.

Siapa saja yang bisa menerima hewan kurban? Pertama adalah shohibul kurban, kedua adalah tetangga, kerabat atau teman yang tinggal di sekitar lingkungan walaupun mereka mampu atau berkecukupan juga mereka yang menjadi pelaksana penyembelihan hewan kurban, ketiga adalah fakir miskin.

Makna Idul Adha

Dampak Sosial Dari Hari Raya Idul Adha

Yang paling tampak adalah momen ketika banyak orang mendapatkan bagian dari hewan kurban yang sudah disembelih. Dalam perayaan idul adha ini, keluarga atau orang-orang yang sering tak mampu merasakan nikmatnya daging sapi atau kambing atau domba atau kerbau. Mereka bisa merasakannya di hari raya ini. 

Terutama saat tahun 2021 yang lalu, ketika pandemi sedang benar-benar berada di puncaknya. Pemerataan hewan kurban ini menjadi ajang yang sangat mengharukan. Ini adalah pengalaman yang saya dapat dari grup RW. 

Siang itu sudah banyak hewan kurban yang dibagikan ke masyarakat sekitar lingkungan. Bahkan, tak hanya di sekitar lingkungan saja, ada beberapa yang dikirim agak lebih jauh dari kecamatan kami. 

Di suatu tempat, perkampungan ada satu keluarga yang duduk di depan teras dengan wajah penuh harap. Mereka adalah anak-anak yang sedang menunggu kedua orangtuanya pulang. Ternyata, sang Ayah harus dilarikan ke rumah sakit akibat covid 19, sementara Ibunya harus ikut serta menemani dan anak-anak mereka ditinggal di rumah.

Beruntung, keluarga ini memiliki anak sulung yang sudah besar, sekitar usia 13 tahun. Dia yang repot mengurusi keempat adiknya saat datang perwakilan tim penyembelih hewan kurban yang datang ke rumah kontrakan mereka. Dengan binar mata yang menyala, mereka menerimanya. Sebab, itu adalah penyangga perut untuk mereka karena sejak pandemi mereka harus makan seadanya.

Kehidupan masyarakat banyak yang tidak baik-baik saja selama pandemi. Tak terkecuali mereka yang memang harus mati-matian mencari sesuap nasi demi anak dan istri. Apalagi, ketika kepala keluarga yang menjadi tulang punggung keluarga harus tergeletak lemah di rumah sakit.

Tak lama usai perayaan idul adha, salah satu warga yang waktu itu ikut mengantar kembali ke rumah kontrakan tersebut. Sang Ibu yang kali ini membukakan pintunya. Dengan raut wajah lelah, ia mengatakan bahwa sang suami sudah kembali ke pangkuan ilahi. Dan daging yang diberikan saat hari raya kemarin adalah makanan terenak yang mereka rasakan sebelum mendengar kabar kematian ayah mereka.

Daging yang diberikan memang tak seberapa. Tapi, pernahkan terpikirkan oleh para shohibul kurban maupun mereka yang masih baru bisa berniat untuk bisa berkurban. Kalau daging hewan yang disembelih dari hasil jerih payah mereka, bisa membuat banyak orang berbinar dan bersyukur? 

Meski hanya satu hari, tapi daging pemberian itu bisa mengobati lapar dan juga membuat hati mereka ringan. Bahkan, saking ringannya, seolah mereka disiapkan untuk mendengar berita yang mungkin lebih berat dari timbangan daging yang mereka terima.

Jadi, mari kita kuatkan niat dan tekad untuk bisa menyediakan hewan kurban juga dan menjadi shohibul kurban. Agar semakin banyak orang yang merasakan nikmatnya memakan daging di saat perayaan hari besar islam.


Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik ya. Untuk komentar dimoderasi ya.