ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Film Muatan Budaya Batak Ngeri-ngeri Sedap di Netflix

Selasa, 01 November 2022
Film ngeri sedap


Beberapa kali cuplikan film Ngeri-ngeri Sedap ini lewat di beranda tiktok. Membuatku yang awalnya hanya senyam-senyum saja menyaksikan tayangan singkat tersebut. Hingga akhirnya, penasaran sampai titik tertinggi.

Bersyukur sekali, karena tak lama setelah penayangan di bioskop selesai. Film Ngeri-ngeri Sedap ini muncul di Netflix. Langsung saja saya putuskan untuk menontonnya saat melihat film yang mengangkat budaya batak ini berada di urutan pertama rekomendasi dari Netflix.


Berhubungan Dengan Suku Batak Sejak Kecil

Saat menonton tayangan ini, saya termasuk yang beberapa kali menyaksikan youtube channel Adik Abang yang dulu saya kenal sebagai Agak Laen. Gara-gara muncul lagu Agak Laen yang memang benar lain kali lah lagu ini, hehe.

Sejak kecil saya sudah dekat dengan orang-orang dari suku batak. Bukan apa-apa, kalau pernah dengar nama daerah Rawa Lumbu, mungkin akan tahu kalau di Jembatan 13 sampai Jembatan 14 itu banyak sekali suku bataknya di sini.

Bermula dari issue mengenai pemindahan terminal Bekasi ke daerah Jembatan 13 yang kala itu masih belum dibangun perumahan. Letaknya di lapangan super besar di bagian paling ujung Jembatan 13. 

Sejak issue tersebut, warga suku batak yang berprofesi sebagai supir angkutan kota ini bermukim di Rawa Lumbu. Bahkan, nama daerah Rawa Lumbu juga sempat disebut sama bang Boris Bokir di channel Vindes.

Sementara, saya pindah ke Rawa Lumbu jembatan 13 ini sejak tahun 1992. Dahulu, mobil angkot hanya mau berhenti sampai jembatan 7, sisanya kami harus berjalan kaki sampai rumah. Alasannya, ya karena masih sepi dan belum banyak rumah terisi hingga jembatan 13. Ditambah jalanan yang gelap membuat orang enggan untuk pulang malam hari, apalagi angkot, mereka juga malas karena lebih sering takut oleh gangguan makhluk halus dan makhluk hidup.

Hidup berdampingan dengan suku batak, membuatku tidak kaget dengan beberapa hal yang sering tampak olehku. Mulai dari nada bicara yang tinggi. Bahasa daerah yang berbeda dengan bahasa daerah di pulau Jawa. Sampai nama anak-anak mereka yang selalu terdengar kebarat-barat-an di telingaku.

Nama teman-temanku ada Bobi, Hendi, Abby, Reinhart, Madonna sampai Christina. Yang pada waktu saya kecil, itu nama yang cukup barat banget. Bahkan, namaku saja masih Indonesia sekali. 

Terbiasa berteman dengan suku batak, membuatku juga biasa mengenal nama marga mereka. Walaupun tetap tidak hafal.

Di tempat tinggalku, ada satu-satunya warung di RT 5. Yang dimiliki oleh orang batak, kami menyebutnya warung Opung. Meski sering yang menjaga adalah anaknya dan kami memanggilnya tante.

Suatu hari, kakak sepupuku menikah dengan orang dari suku batak. Sungguh, buatku pernikahan tersebut cukup unik karena tradisi dari suku bukan batak masuk ke suku batak.

Yang saya ingat waktu itu, kakak sepupuku, perempuan, ia diangkat anak dulu oleh keluarga batak dengan marga yang boleh dinikahi marga calon suaminya. Setelah itu, ada upacara apa saya tak begitu paham setelah pengangkatan hingga lamaran. Upacara adat ini memakan waktu cukup lama sampai akhirnya mereka menikah, seingat saya dua bulan setelahnya baru mereka menikah di gereja.

Oiya, fyi ya, keluarga besarku memang campur. Ada nasrani ada islam dan ada pula kong hu cu. 

Setelah mereka menikah, Ibukku allahu yarham, sempat cerita ke pemilik warung Opung. Dan ternyata, masih saudaraan dengan marga Opung, saya lupa nama istilahnya apa. Namun, pernikahan kakak sepupu saya ini hanya berlangsung beberapa tahun saja. Mereka bercerai karena suaminya meninggal akibat kecelakaan. Sedih bukan main.

Nah, lanjut lagi ke kehidupan sekarang. Saya pernah kerjasama dengan pemilik marga Napitupulu dalam usaha makanan. Alhamdulillah sempat berjalan lancar, hingga ada kendala yang agak sulit dijelaskan. Apalagi warung yang memang saya buka saat pandemi ini, sering membuat saya khawatir. Bukan khawatir tentang revenue, tapi khawatir kalau saya tertular covid, bisa menulari kedua orangtuaku. Karena itu, setelah Ibu meninggal karena covid (bukan tertular dariku, tapi dari lingkungan rumah), tak lama bapak pun meninggal dunia. Saya menutup total warung tersebut. 

Karena terbiasa bergaul dengan suku batak. Warung saya dulu juga ramai dengan orang batak yang tinggal di Mutiara Gading Timur. Saya senang karena bisa mengenang masa-masa kecil bersama teman-teman dari suku batak. Sampai sekarang sih, meski rumah Bapak Ibu sudah dijual, tetangga batak di jembatan 13 masih sering saya dan adik-adik saya sambangi.


Film indonesia

Film Ngeri-ngeri Sedap

Pembukaan tulisan yang cukup panjang rupanya. Baiklah, saya akan langsung masuk bercerita sedikit tentang pengalaman saya menonton film Ngeri-ngeri Sedap.

Bermula dari rasa rindu seorang Ibu pada tiga anak lelakinya yang ada di perantauan. Membuat suami istri yang biasa dipanggil Pak Domu dan Mak Domu (sebab anak pertama mereka bernama Domu), sepakat untuk menelpon mereka agar mau pulang.

Sayangnya, beberapa kali komunikasi via telpon justru berakhir agak kurang harmonis karena Pak Domu ini masih menuntut idealisme pada anaknya. Sehingga, tiga anak lelaki mereka agak kurang semangat untuk pulang ke kampung halaman.

Sebenarnya, pak Domu dan mak Domu tidak hanya tinggal berdua. Ada Sarma, anak perempuan satu-satunya yang juga anak kedua, yang tinggal bersama mereka. Sarma bekerja sebagai PNS sehingga ia bisa leluasa juga mengurus orangtuanya.

Namun, malam itu ada pertengkaran hebat yang membuat pak Domu dan mak Domu berkata cerai. Berita ini disampaikan Sarma ke saudara laki-lakinya. Ia meminta agar kakak-kakak dan adiknya pulang ke rumah.

Akhirnya, setelah penantian panjang bertahun-tahun. Ketiga anak lelaki pak Domu dan mak Domu ini pulang. Domu, Gabe dan Sahat menginjakkan kaki mereka lagi di rumah. Demi mencari solusi agar bapak dan ibu mereka tidak bercerai.

Film keluarga ini memang mengangkat cerita orangtua yang rindu anak. Tapi, ini bukan film sederhana. Film ini punya muatan budaya dan tradisi lokal khas batak yang cukup kental. Sehingga, banyak wawasan baru yang saya dapat lagi usai menonton film ini. 


Anak Bungsu Suku Batak

Ternyata, di suku batak, anak bungsu itu biasanya tidak merantau. Mereka adalah anak yang ditakdirkan untuk tinggal bersama orangtua dan menemani orangtua di kampung halaman. 


Pernikahan Antar Suku

Sebenarnya, bukan hanya di suku batak saja sih, dimana pernikahan antar suku ini sering menimbulkan perbincangan serius. Namun, karena tradisi di suku batak ini cukup kompleks sebab melibatkan marga yang ternyata tidak semudah itu untuk masuk ke keluarga besar suku batak. Membuat pernikahan antar suku dengan orang batak ini menjadi tampak berat.

Jangankan antar suku, beberapa teman yang asli suku batak saja mengatakan pernikahan sesama orang batak pun bisa rumit. Karena itu, dari film ini saya bisa melihat sebenarnya maksud dari orang-orang yang ingin kesukuan mereka tetap terjaga. Sebab, warisan budaya ini kalau bukan generasi selanjutnya yang meneruskan, lantas siapa lagi? 

Namun, memang pada akhirnya, agak menyulitkan bagi mereka yang ingin menikah dengan suku di luar batak. Teringat dengan sebutan yang pernah dijelaskan bang Boris, "Boru mana ini? Boru sunda apa boru jawa?". 


Film batak

Beda Penyebutan Panggilan

Buat yang hanya sering mendengar panggilan om dan tante dengan sebutan Tulang dan Nantulang. Perlu banget menonton film ini karena ternyata ada perbedaan panggilan.

Ada Tulang dan Nantulang. Ada juga Amang Boru dan Nanboru. Saya sempat mencari tahu mengenai panggilan ini dan berakhir menyerah, hehe. Sepertinya memang harus langsung bertanya pada orang batak asli. Soalnya, ada lagi panggilan Eda, Ito, Opung Doli, Inanguda sampai Inangtua.

Nah, di salah satu scene film Ngeri-ngeri Sedap. Saat Sahat salah menyebut seorang Ibu yang sedang memasukkan makanan ke dalam tasnya. Ternyata, saking banyaknya saudara yang harus mereka kenal, membuat Sahat yang kelamaan di perantauan bingung memanggil sosok Ibu tersebut, hingga memanggilnya dengan sebutan "Bude". Ini scene paling kocak sih.


Penjemputan Seorang Istri Untuk Kembali ke Rumah

Ini budaya yang paling baru buat saya. Yaitu, proses penjemputan seorang istri untuk kembali lagi ke rumah mereka oleh keluarga besar suami. Serius.

Jadi, Mak Domu ini akhirnya memutuskan pulang ke rumah Ibunya. Nah, saat pak Domu mampir ke rumah mamaknya pak Domu, dia mengutarakan ingin tetap tinggal bersama mak Domu. Namun, mamaknya Pak Domu ini mengingatkan kalau proses penjemputan seorang istri yang kembali ke rumah orangtuanya itu ada tradisinya.

Dari sini saya melihat kalau tradisi suku batak cukup kompleks. Dalam artian yang positif. Sebab, dengan adat seperti ini benar-benar menjaga nama baik pihak istri dan suami. Tidak asal kabur kemudian pulang kembali tanpa ada unggah-ungguh kalau dalam istilah orang jawa. Karena itu, saat tahu mengenai tradisi ini saya jadi paham kenapa orang luar negeri sering kagum dan sering mengangkat budaya Indonesia sebagai pembahasan serius. Karena memang sekomplit itu.


Film Favorit Dari Indonesia Dengan Muatan Budaya Lokal Yang Menarik

Ngeri-ngeri Sedap menjadi film favorit ketiga, kategori budaya lokal yang sangat saya sukai. Film pertama yaitu Denias, dimana dari film tersebut saya mengetahui budaya potong jari ketika ada suami atau istri yang meninggal dunia.

Kedua, film pendek Tilik, yang mengangkat budaya khas Indonesia banget saat hendak menjenguk tetangga yang sakit. Di sini banyak yang relate dengan kondisi di lingkungan saya. Dan ketiga adalah film Ngeri-ngeri Sedap ini.

Dan film ini juga menjadi film favorit ketiga, kategori eksplorasi pemandangan versi saya. Film pertama masih Denias, kedua Marlina dan pembunuh empat babak, dan ketiga adalah Ngeri-ngeri Sedap. 

Pemandangan yang disajikan dalam film ini, saat Domu, Gabe dan Sahat kembali ke kampung halaman sangat keren sekali. Cuplikan pemandangan danau toba yang diambil menggunakan drone, membuat saya jadi ingin sekali ke sana. 

Dari sini pula saya sedikit mencari tahu mengenai danau toba. Yang saat pembentukannya dalam sejarah Indonesia, sampai mengubah iklim dan DNA manusia masa kini. Danau yang kalau dilihat bukan sekadar danau biasa. Tapi, sudah seperti laut buatku. Apalagi, bukit-bukit yang ada di sekitarnya, maasya allah sekali pemandangannya.

Ada satu hal yang saya dapat dari penggalian informasi mengenai danau toba. Kalau daerah ini masih kental dengan hal mistis. Jadi, kalau berkunjung ke sini harus berperilaku baik dan tidak merusak. Ini saya tahu saat melihat tayangan behind the scene film Ngeri-ngeri Sedap sih.

Kak Bene Dion sempat bilang kalau mereka lupa syukuran pas datang ke pinggir danau toba. Sehingga, proses syuting berjalan agak tersendat. Setelah itu, mereka mengadakan syukuran dadakan untuk menghargai dan menghormati apapun yang ada di danau toba.

Selain budaya lokal, ada juga kebiasaan lokal yang konon masih sering menjadi ciri khas dari daerah batak. Saat itu bang Boris yang cerita, mengenai penjemputan dengan mobil merk Kijang. Mobil ini ternyata memang sering seliweran di daerah sana sehingga menjadi sangat identik dengan warga lokal.

Ada juga daya tarik lain dari film ini yang saya suka, yaitu soundtrack dan lagu latar dalam film ini. Digubah oleh musisi yang juga saya sukai bernama Vicky Sianipar.

Saya mengenal gubahan bang Vicky dari lagu aransemen pertamanya beliau berjudul Piso Surit. Dengan video klip yang membuat saya teringat tayangan anak seribu pulau. Lagu yang dinyanyikan oleh kak Mega Sihombing ini menarik perhatian saya dan sering saya lantunkan meski tidak tahu liriknya.

Waktu bergulir dan saya kembali jatuh hati di tahun 2018/2019 dengan lagu Aut Boi Nian dari album Toba Dream yang juga aransemen dari bang Vicky. Hingga kemudian, ada lagi lagu baru yang saya suka dari film ini berjudul Huta Namartuai. Entah kenapa gubahan bang Vicky ini selalu easy listening di telinga saya. 

Film Ngeri-ngeri Sedap ini bukan saja sekadar film keluarga biasa. Tapi, film yang sedikit banyak menambah wawasan dan juga pemahaman saya tentang suku batak. Ada banyak hal yang relate dan menjadi jawaban untuk saya, diwakili oleh Sahat yang lama merantau. Hingga lupa dengan banyak adat yang ada.

Mengingatkanku pada banyak teman sampai tetanggaku yang orang batak tapi menikah dengan suku lain, lama tinggal di Bandung sehingga tak lagi paham dengan bahasa batak. Agak mirip dengan bang Boris, ya. Tapi, bang Boris masih mempertahankan batak-nya. Sementara tetangga dan beberapa temanku, tidak.

Namun, apapun itu sebenarnya memang hak setiap keluarga besar. Sepertiku, yang lahir dan besar di Bekasi tapi tidak bisa bahasa Sunda. Padahal orang Bekasi juga pakai bahasa Sunda dan ada mata pelajaran bahasa Sunda saat sekolah. Tapi, sayangnya, justru lidahku lebih ringan untuk berbahasa Jawa, hehe. Meski belum paham banget dengan bahasa Jawa, tapi lebih nyaman dan mudah paham dengan bahasa Jawa dibanding Sunda.

Jadi, buat yang belum menonton film Ngeri-ngeri Sedap. Kalau bisa nontonnya di Netflix aja ya. Sekalian dukung film Indonesia. Apalagi ini filmnya bagus, kalau bisa diaktifkan juga subtitle-nya. Biar pas ada bahasa batak diselipkan, enggak roaming dan jadi tahu juga.


Buat yang sudah nonton, gimana pendapatmu?


Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik ya. Untuk komentar dimoderasi ya.