Olahraga Sebagai Cara Untuk Menerima Diri Sendiri

Olahraga proses



Bagi Murakami, lari maraton merupakan olahraga yang mampu membantunya bisa bertahan hidup hingga saat ini. Kebutuhan untuk mendengarkan apa yang melintas di kepala. Kebutuhan untuk mendengarkan suara hati yang terkadang seolah berbisik. Hingga ragam kebutuhan lain yang membuatnya merasakan perbedaan signifikan.

 

Sebelum saya mengenal Murakami, saya pun pernah merasakan apa yang dia juga rasakan. Itulah kenapa tampaknya saya memiliki ikatan yang tak tampak oleh mata telanjang. Seolah, saya dan dia berjalan di jalur yang sama namun masing-masing dari kami tidak ingin mengganggu satu sama lain. Saling menghargai dan juga berbagi apa yang pernah kami rasakan bersama melalui kata demi kata yang membumbung tinggi.

Saya tidak bisa berenang. Kalaupun dianggap bisa, itu hanya karena saya bisa bergerak melaju di bawah air, tapi tidak bisa mengangkat kepala saya untuk mengambil udara. Jangan ditanya, apakah saya bisa bergerak seperti seekor anjing saat berenang? Jawabannya pun tidak. Keterbatasan ini tidak menghambat saya mencintai air dan melaju di bawah permukaannya.

Pada mulanya, saya termasuk orang yang cukup sering takut tenggelam. Sering membayangkan, apa yang akan saya lakukan ketika saya terjebak di lautan air tanpa siapapun bisa langsung menolong? Jawabannya hanya tertinggal dari jejak-jejak rasa takut dan kengerian yang saya tepis sambil berharap semoga hal itu tak terjadi pada saya. 


Face Your Own Fear

Tak begitu saya ingat kapan tepatnya saya mulai ingin mencoba hal-hal yang membuat saya takut. Yang masih dapat saya ingat adalah ketika itu saya bepergian dengan moda udara sendirian tanpa satupun teman. Ini adalah tantangan terbesar untuk saya karena saya memiliki ketakutan pada ketinggian. Seringnya, saat bepergian dengan moda udara ini, saya selalu ditemani, entah itu dengan rekan saya atau dengan keluarga. Selalu ada teman, tak pernah saya berangkat sendiri.

Dari langkah inilah kemudian saya memutuskan untuk mencoba menaklukkan sedikit demi sedikit apa yang saya takuti, kecuali ketakutan saya pada kucing. Beberapa waktu kemudian, saya mencoba untuk berlatih renang sendiri dengan satu pencapaian, bisa bergerak maju tanpa merasa panik di dalam air. Apa yang saya inginkan terwujud setelah beberapa minggu menghabiskan waktu menyelam tanpa melakukan apa-apa.

Ada sesuatu yang ganjil namun menyenangkan yang saya rasakan ketika menyelam tanpa melakukan apa-apa. Suara keramaian di kolam renang yang demikian riuhnya, seketika perlahan terdengar samar-samar hingga kemudian menghilang seolah telingaku kedap oleh suara. Saat itulah, saya merasakan ‘kehadiran’ diri saya sendiri. Yang mendatangkan rasa ingin menangis dan dada saya seolah membesar karena keterkejutan ini.

Ini bukan pengalaman misterius. Namun, ini adalah sebuah pengalaman baru dimana saya di kemudian hari merasakan kebutuhan untuk bergerak demi menjaga keutuhan diri. Setelah merasakan hal yang berbeda nan ganjil itulah, sebuah perubahan besar terjadi bertubi-tubi dalam hidup saya. Di kemudian hari, saya belajar melihat dunia dengan cara yang pada waktu itu tampak aneh, tapi ternyata berharga karena saya tak lagi melihat dengan kacamata yang sama.

Bukan hanya itu, bahkan saya mulai merasakan kenyamanan berada di dalam air, meski masih belum memiliki persiapan ketika membayangkan diri saya terjebak di lautan nan luas. Tapi, ketakutan terbesar saya sudah sedikit demi sedikit memudar. Dan, tumbuh dalam diri saya satu keinginan, suatu saat nanti saya ingin sekali berlatih di instansi khusus tentang cara penyelamatan di tengah laut. Setidaknya, saya harus bisa menolong diri saya sendiri sebelum bisa menolong orang lain, bukan?


Break Your Limit And Keep Going

Kemudian, saya mulai mencoba satu lagi hal yang sering saya hindari : Olahraga Lari. Saya tidak bohong. Sejak masih kecil, saya selalu ingat dan masih sangat ingat, setiap kali berlarian bersama teman-teman yang lain, kerap kali kepala saya dipenuhi kunang-kunang dan dada saya langsung sesak. Hingga saat ini saya belum pernah memeriksa apakah ada sesuatu atau tidak. Tapi, yang jelas, sejak saat itu saya tidak begitu suka berlari.

Mau itu berlari karena dikejar anjing tetangga yang kesal karena saya ganggu. Maupun berlari karena mengejar bis untuk pulang dari tempat beraktivitas. Semua itu saya usahakan untuk saya hindari, bukan diusahakan untuk dioptimalkan waktu itu. 

Dari pengalaman inilah akhirnya saya mencoba untuk mengawalinya dengan jogging. Meski kemudian tetap mengalami kunang-kunang, dada sesak sampai kehabisan energi. Tapi, saya terus mencoba karena saya pikir saat itu tidak ada salahnya, toh racauan dalam kepala saya volumenya menjadi turun sehingga saya seolah bisa bebas dari pikiran tentang segala hal untuk sejenak.

Berawal dari rasa penasaran inilah saya bahkan pernah merasakan berat badan saya turun hingga hampir menuju berat badan ideal. Namun, sesuatu menghentikan saya. Kaki saya mengalami cedera sehingga harus menghentikan kegiatan berlari dan diganti dengan jalan kaki. Karena saya termasuk yang teramat manja akan rasa sakit, alhasil saya benar-benar berhenti total berolahraga hingga berat badan saya naik kembali.

Segala cara sudah saya lakukan, dari berlangganan minuman seperti Her***life, yang memang menampakkan hasil bagus tapi tidak bertahan lama juga. Hingga kemudian mencoba gaya hidup ini dan itu, sampai kemudian saat ini saya tidak menjalani diet apapun namun mengurangi makanan yang memang kurang bagus seperti santan, jeroan hingga yang mengandung kolesterol tinggi. Tapi, bukan berarti saya berhenti, karena saya tetap makan malam nasi bebek madura.

Nah, kembali lagi pada proses yang terus saya jalani hingga saat ini. Dimana sejak pindah rumah dan baru saja menemukan tempat yang asik untuk olahraga, saya memulai kembali. Pasalnya, tempatnya tidak begitu jauh dari tempat saya tinggal. Kemudian, lokasinya strategis dan dekat jalan raya. Dekat sekolahan yang memungkinkan rasa takut saya berolahraga sendirian berkurang, karena banyak ibu-ibu yang menunggu anaknya selesai sekolah, jadi saya merasa ada temannya.

Saya tidak melakukan olahraga yang ekstrim. Cukup berjalan kaki sambil mendengarkan musik tanpa gangguan apa-apa. Dan, ini adalah Me Time yang sungguh teramat berharga. Pernah, suatu waktu saya menangis sambil berjalan kaki meski keringat mengucur deras. Entah karena apa, mungkin karena terkadang manusia memang butuh menangis. Sehingga saya nikmati saja semua keluar apa adanya, namun saat itu saya tutupi sebagian wajah saya (hanya menyisakan mata saya saja) agar tidak tampak terlihat bahwa saya sedang meneteskan air mata.

Usai itu, dada saya merasa lega. Saya tak lagi merasa jenuh dan selalu tahu bahwa saya punya satu tempat yang tidak begitu ramai namun menyenangkan hingga saat ini, untuk saya menghabiskan waktu demi mendengarkan kicauan dalam kepala saya.

Yang saya kejar saat ini bukan tentang tubuh ideal, tapi keseimbangan antara jiwa dan raga.


When You Had a Hard Day Just Keep Going


Sejak mencoba banyak hal, dari berolahraga di rumah dengan mengikuti instruksi video. Sampai berolahraga di luar rumah, akhirnya saya mencapai satu hal yang baru saya sadari. Bahwa, saya lebih membutuhkan olahraga di luar ruangan seperti berjalan kaki. Karena, saya bisa berjalan di bawah awan yang bergerak menuju tempat dimana hanya angin yang tahu kemana mereka akan membawanya.

Menikmati pepohonan yang tidak begitu banyak tapi sudah cukup membuat saya senang melihat warna hijaunya. Menyusuri aliran kali kecil yang melaju sepanjang jalan langkah kaki saya menjejak. Hingga menikmati suara deru mobil dan sedikit mencuri dengar perbincangan orang yang saya lewati.

Tak ada waktu khusus kapan saya akan keluar untuk berjalan kaki. Terkadang, saya baru bisa keluar di siang hari karena harus menuntaskan pekerjaan. Atau, terkadang pagi hari ketika keinginan untuk menyegerakan menikmati udara segar sudah sedemikian mendesak. Namun, tidak ada waktu khusus, saya hanya ingin menikmati dan memanfaatkan waktu dalam satu hari dan itu setiap hari.

Jika hujan turun, saya akan berhenti dan menikmati waktu menatap hujan dari balik jendela. Sesekali menggerakkan tubuh meski sebentar. Tak mengapa, karena toh masalah berat badan ini akan selesai juga. Saya yakin, berat badan saya akan turun pada waktunya nanti. Yang penting apa yang saya lakukan ini bisa bermanfaat untuk saya.


Wise Man Say…


Dari pengalaman saya inilah akhirnya saya baru mengerti dan benar-benar baru paham. Mengapa pada waktu dahulu ada istilah Kesehatan Jasmani Dan Rohani. Jika dipikirkan lagi, jasmani adalah raga dan rohani, dalam pemahaman saya, adalah jiwa. Di sinilah saya baru paham, bahwa apa yang dikatakan orang-orang zaman dahulu kala itu benar. Olahraga merupakan cara untuk menyeimbangkan antara jiwa dan raga.

Tapi, tidak sedikit pula yang berolahraga namun tidak mendapatkan apa yang saya alami. Karena, pengalaman setiap orang berbeda. Itulah sebabnya, saya senang mengikuti akun-akun yang menyerukan untuk olahraga dimana saja dan kapan saja, namun tak lupa untuk mengingatkan para pengikutnya agar tetap menjadi diri sendiri dan menikmati proses.


Penutup


Menuliskan tentang hal ini, tidak menjadikan saya seorang yang profesional. Toh, belum ada hasil yang terbukti. Tapi, yang saya rasakan dalam diri saya inilah yang membuat saya memberanikan diri menuliskannya. Menyerukan kepada siapa saja yang membaca tulisan saya agar mau menemukan olahraga atau aktivitas tubuh yang sesuai dengan kebutuhan dan situasi serta kondisi. Tidak perlu memaksa untuk ke gym jika memang tidak memiliki uang untuk membayar iuran setiap bulannya.

Karena konsisten adalah hal yang masih terus saya upayakan. Itulah mengapa saya tidak bisa menepuk dada saat menulis tentang ini. Meski begitu, saya tetap ingin membuat sebuah tulisan yang sudah sejak bertahun lalu mendesak saya. Menuliskan betapa saya merasakan sesuatu yang berbeda setiap saya berjalan kaki. Sesuatu yang hanya mampu saya genggam dan rasakan tanpa mampu saya deskripsikan.




Postingan Terkait