Review Anime Movie Colorful


Colorful Anime Movie : Tentang Menghargai Hidup

Film anime berjudul Colorful yang disutradarai oleh Keichi Hara ini diangkat dari novel dengan judul Colorful juga dan ditulis oleh Eto Mori. Novel ini terbit tahun 1998 dan filmnya tayang di tahun 2010. Saya baru berkesempatan menontonnya justru tahun ini. Padahal, untuk buku terjemahannya sudah sempat booming di jagat Bookstagram sejak beberapa tahun lalu.

review anime

Kalau Anda mencari film dengan genre Slice of Life dan mengangkat drama kehidupan yang realistic tapi diambil dari sudut pandang anak sekolah. Anime Colorful ini cocok banget untuk ditonton sebagai tayangan yang berbobot tapi tetap ringan untuk dinikmati.

Anime art di film ini juga termasuk bagus, memanjakan mata dengan beberapa bagian pemandangan yang realistik. Disertai soundtrack musik yang bikin betah selama menonton. Penasaran seperti filmnya tentang apa?

Kita tahu betapa menjalani kehidupan memang tidak mudah bagi siapa saja, di usia berapapun. Apalagi kalau banyak hal yang terjadi dalam kehidupan sehingga sering menjadikan pelaku kehidupan itu sendiri merasa lelah dan kewalahan dalam menghadapinya.

Ini juga dialami oleh Makoto, seorang siswa SMP yang terbaring kritis dan hampir tak tertolong di bangsal rumah sakit. Ia menenggak obat penenang dalam jumlah banyak. Alasan apa? Akan segera dibongkar di pertengahan film menjelang akhir.

Jadi, di awal film ditampakkan ada barisan manusia yang seperi mengantri. POV salah satunya seperti kebingungan sambil melihat antrian barisan tersebut tapi dari belakang. Jadi, tidak terlihat wajah mereka satu per satu. Namun, kehadiran seorang anak berambut abu-abu yang sedikit lebih pendek dari si POV mendatangkan rasa penasaran.

Sebab, anak itu mengenalkan dirinya sebagai pendamping si POV. Siapa POV itu? Itu adalah sebuah Jiwa. Jadi, barisan tadi adalah barisan jiwa-jiwa yang akan melakukan perjalanan. Demikian juga si Jiwa yang menjadi POV utama dimana ia didampingi oleh si anak lelaki berambut abu-abu tadi. Dia akan mengajak si jiwa ini untuk turun ke bumi dan masuk ke tubuh seorang anak bernama Makoto yang tadi sudah kusebutkan.

Di rumah sakit, setelah Jiwa itu masuk. Ia diberitahu sedikit informasi mengenai Makoto dan keluarganya serta kehidupan si anak ini. Tapi, tidak semuanya sebab Soul (sebut saja demikian ya biar ngga bingung) harus mencari tahu sendiri tentang kehidupan Makoto.

Perjalanan kehidupannya ini juga sebagai proses magang si Soul. Yang nantinya tetap akan didampingi sama anak berambut abu-abu, sebut saja bocah abu-abu ya, meski tidak sering.

Hari pertama Soul menjadi Makoto, ia menjalani hari-hari sebagai pasien hingga beberapa bulan. Ditandai saat Soul turun ke bumi, bunga-bunga masih bermekaran dan ketika hendak pulang dari rumah sakit, bunga mulai berguguran sebagai tanda musim semi telah tiba.

Di rumah, ada banyak hal yang harus diidentifikasi oleh Soul sebagai Makoto. Tentang bagaimana kehidupannya dia sebelum memutuskan untuk bunuh diri. Seperti apa dia di sekolah? Hingga bagaimana dia sebagai anak di keluarganya.

Saat makan malam, Makoto dipandang tampak berbeda oleh kedua orangtuanya. Tapi, keduanya tetap memusatkan perhatian padanya serta bersemangat untuk memberikan banyak kasih sayang pada Makoto.

Ada sedikit informasi yang membuat Makoto akhirnya mengubah perangainya, tentang Ibunya. Dari sinilah sikap Makoto mulai berubah menjadi lebih abai pada Ibunya. Tapi, saya tidak akan memberitahu kenapa dan ada apa dengan Ibunya dulu, melainkan ingin menyeritakan tentang Makoto.

Kenapa Makoto Sampai Bunuh Diri?

review anime colorful

Langsung saja dimulai dari rasa penasaran Soul terhadap kehidupan Makoto yang membuatnya bunuh diri. Meski saat menjalani kehidupannya sebagai Makoto ia masih belum banyak mengetahui karena kurang informasi. Tapi, ia jadi tahu kalau Makoto itu seorang siswa yang jago menggambar tapi tidak bagus dalam bidang akademi.

Dia bahkan tidak memiliki teman satupun. Terbukti dari saat ia dirawat di rumah sakit, tidak ada satupun temannya di sekolah yang menjenguk. Tapi, di kelas Art, ia menemukan kedamaian di sana. Ia juga jadi mengenal beberapa teman sekelasnya yang juga berada di kelas Art. Dan mengenal seorang gadis yang ia sukai, fotonya tersimpan di ponsel Makoto.

Selama menjalani kehidupan sebagai Makoto, akhirnya Soul berusaha untuk tidak melanjutkan kehidupan ala Makoto sebab ia tidak begitu paham seperti apa kehidupan sebelumnya? Makoto versi Soul ini tampak berbeda. Dimulai dari lantang berbicara di kelas. Sempat dipukuli oleh berandalan saat malam hari. Mencoba menyelamatkan gadis yang disukai dan berusaha untuk menjalin pertemanan dengan Saotome.

Di sinilah terjadi perubahan dalam hidup Makoto sejak bertemu Saotomo secara tidak sengaja di stasiun. Keduanya menghabiskan waktu bersama sambil melihat kereta. Dan setelahnya mereka berteman dengan baik.

Menurut Sano, temannya seorang gadis berkacamata di kelas kesenian, ia mengatakan kalau Saotomo memang siswa yang berteman dengan siapa saja. Dan Makoto sangat berbeda sebab mau berteman dengan Saotomo.

Tapi, komentar itu tidak dimasukkan ke dalam hati Makoto. Dan ia mendapat pengalaman yang berkesan sepanjang berteman dengan Saotomo. Yang tadinya nilainya tidak begitu bagus, tiba-tiba saja Makoto semangat untuk belajar biar bisa satu sekolah dengan Saotomo.

Sebuah perubahan yang kemudian diingatkan kembali oleh bocah rambut abu-abu bahwa sebentar lagi jika masa magang selesai, maka Makoto akan benar-benar meninggal dunia.

Demi bisa menjalani kehidupan dengan baik, Makoto kemudian banyak melakukan hal yang sangat berbeda. Mulai dari menyuarakan pendapatnya hingga akhirnya berusaha mengerti Ibunya.

Apa Yang Spesial Dari Saotomo?

Jadi, siswa ini teman sekelas Makoto yang memperhatikannya dari kursinya di barisan paling belakang. Ia memperhatikan Makoto dan karena pertemuan yang tidak disengaja itulah Saotomo akhirnya bisa berteman juga dengan Makoto.

Saotomo termasuk siswa yang cuek, tapi tidak menonjol. Sepanjang film ia tidak tampak seperti anak yang dibully. Namun, ia bukan dari keluarga yang kaya. Dia juga punya adik. Sehingga kehidupannya harus serba mengirit.

Saotomo jago main tenis meja dan sangat suka sekali dengan kereta. Ia mengajak Makoto menyusuri beberapa kawasan sejarah yang pernah dilewati oleh kereta. Selama perjalanan dengan Saotomo inilah banyak pesan moral yang disampaikan dalam bentuk dialog dan pemikiran bocah ini.

“Buatku, hidupku saat ini cukup walaupun tidak sesuai dengan harapanku.”
“Walaupun banyak yang hal kubenci dalam hidup ini, tapi tidak masalah selama kita menjalaninya saja.”

Saotomo ini seperti anak yang dipaksa dewasa oleh keadaan. Terlebih karena dia punya dua adik, sehingga seperti kondisinya ini membuatnya memiliki pemikiran dewasa. Dimana justru malah memberi kebaikan buat Makoto yang saat itu seperti terombang-ambing dengan kehidupan yang ia jalani.

Lantas, Apa Yang Sebenarnya Terjadi Dengan Ibunya?



Sebenarnya, kalau hanya dibahas mengenai fakta yang Makoto ketahui kalau ia melihat Ibunya keluar dari hotel bersama lelaki lain. Ini tentu hanya akan berakhir begitu saja dan tidak membawa manfaat apa-apa.

Tapi, menjelang akhir, saat Makoto pergi memancing bersama Bapaknya. Di sinilah, Bapaknya menyeritakan bagaimana kondisi Ibunya yang pernah ngedrop dan membutuhkan obat.

Obat yang dimiliki sang Ibu ini merupakan penenang akibat Ibunya mengeluh tidak bisa tidur hingga mengalami hari yang tidak nyaman. Tampak seperti depresi akibat trauma setelah ditinggal meninggal sang Ibu, neneknya Makoto.

Jadi, Ibunya Makoto dengan neneknya ini bukan Ibu dan anak yang sangat dekat. Namun, menjelang kematiannya, sang nenek yang dirawat di rumah sakit ini dijaga setiap hari oleh Ibunya Makoto. Di sinilah ikatan rasa sayang Ibunya ke sang nenek akhirnya tumbuh subur hingga membuat Ibunya Makoto bersedih hati cukup berkepanjangan usai neneknya Makoto meninggal.

Keluhannya tidak bisa tidur, tidak nafsu makan hingga sedih terus menerus, sempat diabaikan oleh Bapaknya. Namun, ketika Makoto menenggak obat anti depresan tersebut dalam jumlah banyak. Seketika kedua orangtuanya mencoba menyadari ada yang salah dengan keluarga mereka.

Bapaknya mengakui setelah kejadian tersebut lebih berusaha memperhatikan Makoto dan Ibunya. Sang Ibu juga, berusaha untuk menyembuhkan dirinya sambil mencurahkan perhatian pada Makoto yang sebelumnya, keluarga ini termasuk tidak begitu banyak berbincang.

Ada banyak perbaikan yang terjadi usai Makoto bunuh diri dan menjalani kehidupan lagi. Terlebih, setelah moment Makoto berbincang dengan Bapaknya, Makoto juga berusaha untuk memperbaiki hubungannya agar tidak terlambat. Apalagi mengingat nasihat dari bocah abu-abu yang katanya Makoto akan benar-benar meninggal.



Jadi, Makoto Benar-benar Meninggal?

“Makoto, kau sudah mati. Jadi, jangan mati lagi, ya!”

Nah, tenang aja, film ini happy ending dan termasuk cukup inspiring banget. Dikemas dengan ringan, ceritanya mengalir tapi tetap pesan moralnya berbobot juga tersampaikan dengan baik.

Makoto tetap hidup. Tapi, di akhir film baru terungkap peran si bocah abu-abu yang kemudian membuatku menebak, kalau sms yang diterima Makoto itu dari si rambut abu-abu ini, hehe.

Meski tidak jadi meninggal dunia lagi, tapi kehidupan yang ia jalani berbeda. Ada banyak yang berubah. Perubahan yang diusahakan bukan ditunggu. Dan pesan ini tersampaikan dengan cukup baik sebab saya menerimanya dengan mudah.

Tonton deh film ini. Bisa dicari di platform anime yang ada di internet.

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik ya. Untuk komentar dimoderasi ya.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *