Merekam Kenangan Sepanjang Perjalanan Di Kereta Api

Kereta api

Menurut pembaca, enakan bepergian ke luar provinsi menggunakan kendaraan apa? Kereta api, mobil, motor atau pesawat? Kalau saya pribadi, lebih senang naik kereta api. Ada banyak hal yang pernah saya alami selama menggunakan transportasi darat ini. Juga perubahan moda ini, yang saya lihat dari masa ke masa. Kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman yang membuat saya selalu rindu naik kereta api..tut...tut...tut.

Packing Barang Bawaan

Sebelum saya membagikan kenangan yang membekas setiap naik kereta. Satu hal ini, yaitu merapikan barang untuk dibawa. Merupakan proses yang tidak mudah. Tapi, sekitar tahun 2009, saat saya melihat kicauan Ibu Suri ‘Dee’ mampir di linimasa saya. Ketika itulah, saya mendapatkan, semacam pencerahan, untuk mengatur tas saat melakukan perjalanan jauh.

Mencatat barang yang harus dibawa. Ternyata sangat membantu sekali. Yang harus diperhatikan adalah waktu mencatatnya. Jadi, mencatat barang apa saja yang dimasukkan ke dalam tas. Bukanlah saat kita hendak bepergian. Tapi, ketika kita sedang santai atau tengah merencanakan ingin pergi. Kenapa? Untuk mengurangi resiko barang yang tertinggal. Apalagi membawa barang yang bahkan tidak digunakan sama sekali.

Dengan memiliki catatan barang bawaan yang paling sering dibawa. Membantu kita untuk mengurangi beban pikiran selama berkemas. Sebab, saat berkemas tentu kita akan memikirkan banyak hal. Entah itu mempertimbangkan akan membawa barang tertentu atau tidak. Terlebih, kalau pergi ke luar kota karena ada acara seperti kondangan. Pastinya porsi otak kita sedang dikerahkan untuk berpikir pakaian hingga sepatu yang ingin dibawa.

Melakukan perjalanan darat, menuju provinsi berbeda. Membutuhkan persiapan yang tidak sedikit. Hal utama yang saya siapkan adalah persiapan fisik. Karena, pasti akan membutuhkan waktu di perjalanan yang lama. Kemudian, tanggal keberangkatan. Biar bisa pesan online tiket kereta api

Packing Check Lists

Pakaian : terdiri dari celana panjang atau rok yang sering kita pakai. Baju saat kita pergi dan juga baju untuk kita kenakan saat tidur. Pakaian dalam juga jaket. Hingga kaos kaki bagi yang sering memakainya. Juga, hijab dan dalaman hijab bagi para hijaber.

Perlengkapan Mandi Dan Perawatan Wajah : seperti odol, sabun badan, shampoo, sikat gigi, sabun wajah. Kemudian, tak lupa untuk membawa pelembab wajah serta tubuh dan sun protection. Juga sisir! Ini barang yang sering saya lupa bawa. Ketika dibutuhkan, ternyata tertinggal di rumah.

Aksesoris Tambahan : khusus untuk hijaber. Jangan lupa bawa peniti atau jarum pentul tambahan. Terus, kacamata hitam dan syal. Apalagi kalau bepergian ke tempat yang mataharinya bersinar cukup cerah.

Alas kaki : bawa sandal dan alas kaki cadangan.

Perlengkapan Teknologi : pengisi daya, tripod untuk kamera, headset, modem untuk koneksi internet saat darurat dan telpon dengan teknologi satelit jika hendak bepergian ke wilayah yang sulit sinyal.

Lain-lain : Parfum, tempat minum, sabun cuci piring dan sabun cuci baju (sabun colek), termos air, camilan.

Kenapa harus bawa sabun cuci piring dan sabun cuci baju? Pengalaman saya ketika bepergian. Pernah beberapa kali merasakan kesulitan mencari tempat untuk mencuci kotak makan yang saya bawa.

Sudah lama saya selalu bawa tempat makan yang isinya bekal selama perjalanan. Nah, saat waktunya untuk mencuci kotak-kotak tersebut. Baru ingat kalau saya lupa, tidak bawa sabun cuci piring. Dimana ketika itu kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi untuk membeli ke warung terdekat. Alhasil mau tak mau dibersihkan dengan tisu basah.

Untuk sabun cuci baju. Ini saya sering membiasakan mencuci pakaian dalam serta kaos kaki. Meskipun saat itu tidak sempat untuk menjemur. Tapi, minimal, ketika dibawa dalam keadaan bersih. Bahkan, untuk hijab yang saya kenakan juga saya cuci. Terkadang, kalau tidak sempat dijemur, saya gantung di kamar mandi. Dibiarkan agar airnya tiris dulu sebelum disimpan kembali.

Mencuci selama berada di luar kota. Ternyata banyak membantu saya. Terutama, ketika dalam kondisi darurat. Seperti tahu-tahu terkena hujan. Karena basah, mau tak mau persediaan yang harusnya bisa sampai tiga hari, ternyata hanya cukup dua hari. Tapi, dengan mencuci sebelumnya, membuat saya bisa mengenakan pakaian yang sudah saya cuci. Sedikit basah masih bisa diangin-anginkan sebentar. 

Waktu saya berkunjung ke Malang. Yang paling terasa itu kaos kaki. Karena, selama aktivitas di sana banyak berada di luar ruangan. Mau tak mau, saya harus sering mengganti kaos kaki agar kaki saya tidak lembap. 

Berbagi Makanan Dengan Penumpang Lain

Cerita berkemas sebelum pergi saja sudah panjang, ya. Iya, karena setiap hendak pergi selalu saja ada cerita yang membuat saya tertawa sendiri kala mengenangnya. Sekarang, kenangan saya saat menggunakan kereta api sebagai transportasi pilihan.

Saya masih mengingatnya dengan jelas. Kala itu, saya dan beberapa saudara tengah menahan kantuk. Perjalanan menuju Bojonegoro ini diputuskan secara mendadak. Berangkat dengan terburu-buru karena informasi mengenai Nenek kami yang tengah sakit. Saat itu, tanpa pikir panjang akhirnya kami putuskan untuk segera berangkat. Padahal, saat itu kami semua baru saja pulang dari bekerja.

Otomatis, setelah bisa duduk manis di atas kereta api. Kami tampak sudah sangat kelelahan. Tidak sempat mempersiapkan semuanya dengan baik. Sampai, kami pun belum sempat makan. Bergantung saja pada ketersediaan makanan dari restorasi kereta api. Wajah lelah kami disertai suara keroncongan. Mungkin membuat penumpang yang duduk bersama kami merasa iba. Mungkin saja.

Karena, setelah itu sang Ibu yang tampaknya sudah berusia sekitar 60 tahunan. Menyodorkan makanan pada kami. Camilan berupa buah pisang yang membuat mata kami setidaknya lebih optimis. Perjalanan panjang dengan perut keroncongan ternyata membuat energi kami tampak tinggal 17%. Beruntunglah kami bukan robot, sehingga tidak tampak jelas sisa baterai yang dimiliki di tubuh.

Tak hanya menyodorkan setandan pisang. Sang Ibu juga membagi bekal perjalanannya kepada kami. Berupa gorengan seperti bakwan, tahu goreng sampai ubi. Rasanya, saat itu kami seperti bepergian dengan Ibu kami. Sosoknya yang lembut dan tampak ‘ngemong’ membuat kami nyaman. Hingga tak terasa pihak restorasi mulai lewat dan kami memesan makanan berat.

Perjalanan Menjadi Tak Terasa Dengan Obrolan Ringan

Tak begitu singkat memang. Selain merasakan nikmatnya dibagi makanan. Saya juga pernah, berbagi makanan dengan seorang mahasiswa. Dia hendak kembali ke kampung halaman. Sepanjang perjalanan, saya lihat dia tidak banyak makan. Hanya sekali saja, ia memakan bekalnya berupa nasi bungkus. Waktu itu baru saja lewat dari jam makan siang. Saya dan keluarga pun tengah menyantap bersama makan siang kami.

Namun, ketika sore menjelang. Tampak sang pemuda masih belum menampakkan akan memakan bekalnya atau cemilannya. Hingga malam tiba pun masih belum mengeluarkan bekalnya. Dari situlah, ketika kami membeli makan dari pihak restorasi. Tapi, tidak melihat pemuda itu membeli juga. Firasat mengatakan kalau saya harus membeli juga untuk si mahasiswa itu.

Benar saja. Saat ditawari, pemuda itu tidak menolak dan menerimanya dengan sumringah. Tak lama kami terlibat obrolan singkat yang diikuti curahan hati sang mahasiswa. Yang katanya, ongkos pulangnya tak bersisa lagi, bahkan untuk membeli makan malam. Tak hanya itu, sisa uangnya juga tinggal sedikit untuk digunakan melanjutkan perjalanan nanti dengan transportasi umum menuju desa tempat orangtuanya.

Obrolan kami akhirnya melebar kemana-mana. Tapi, ini yang saya suka. Kami berbincang hal yang santai. Terkadang mendengar pengalamannya berkisah tentang desanya yang begini dan begitu. Atau, bagaimana orangtuanya berusaha untuk menyekolahkannya. Perbincangan yang hangat, seolah kami berada di teras rumah sambil dihidangkan teh dan biskuit untuk teman berbincang.

Pernah pula saya terlibat berbincang dengan seseorang. Yang sepanjang perjalanan membagikan pengalamannya bekerja di rumah sakit. Dari suka, duka hingga kisah yang tak masuk akal. Sebagai seorang yang senang mendengar cerita. Saya tak pernah sekalipun hendak memutus obrolan. Meski terkadang diselingi suasana sepi. Seolah jeda sesaat untuk menarik napas. Atau sekadar mencari bahan ide untuk obrolan.

Tapi, yang paling berkesan adalah ternyata rumah orang tersebut tidak jauh dari tempat saya tinggal. Sehingga, kami bisa melanjutkan perbincangan dengan hal yang terjadi di sekitar lingkungan. Pertemuan ini, membuat saya dan orang tersebut akhirnya saling mengenal. Hingga kini, setiap kali bertemu kami akan saling bertegur sapa. Atau sesekali mengobrol sebentar sebelum kembali beraktivitas.

Yang saya ceritakan, tampaknya senang semua, ya. Tapi, ada juga obrolan dengan penumpang lain yang langsung saya hentikan saat itu. Kenapa? Karena, beberapa kali perasaan saya mengatakan ada sesuatu yang tidak tepat. Sehingga, membuat saya tidak nyaman. Saat itulah, saya tak mau mengabaikan sinyal yang saya tangkap. Mau benar atau tidak. Saya akhirnya memutuskan untuk diam dan waspada sepanjang perjalanan.

Menghabiskan Bacaan Membunuh Rasa Bosan

Bukan sekali atau dua kali saya memutuskan untuk berhenti membaca buku tertentu. Penyebabnya, tentu karena belum mood membaca buku tersebut. Tapi, ketika saya membacanya sepanjang perjalanan di kereta. Entah kenapa, malah cepat sekali menuntaskannya. 

Itulah kenapa saya selalu aji mumpung kalau bepergian dengan kereta api. Membaca di kereta api tidak sama dengan membaca di mobil. Sepanjang perjalanan, mata saya tidak mengalami pusing apalagi sakit saat membaca. Justru terkadang bisa masuk dengan mudah ke dunia yang dibangun oleh penulisnya. Sehingga mempermudah saya menyelesaikan bacaan.

Kalau malas membawa buku fisik selama perjalanan. Saya sudah menyiapkan beberapa buku elektronik yang sudah saya unduh di aplikasi seperti I-Jak, I-pusnas atau Gramedia Digital. Kalau sudah diunduh, meski sinyal sepanjang perjalanan sering galau. Saya tidak akan mengalami masalah untuk membaca. Sebab, sudah tersimpan di media penyimpanannya.

Tak hanya mudah menyelesaikan bacaan. Terkadang, membaca di kereta api. Membangun pengalaman berbeda kala membaca buku tertentu. Rasanya seperti memiliki pemikiran yang tidak saya dapat kalau saya baca di rumah. Pengalaman membaca inilah yang sering membawa saya pada lintasan-lintasan pikiran beragam saat menulis ulasannya.

Memotret Demi Stok Foto

Sepanjang perjalanan dengan kereta api. Pemandangan dari luar jendela yang disuguhkan teramat sayang kalau dibiarkan. Memang, saya tipe yang senang menikmati. Tapi, belakangan ini saya juga ingin sekali merekamnya sepanjang jalan. Karena, saya takut, suatu hari nanti sawah hijau nan luas itu akan berubah menjadi gedung tinggi dan perumahan.

Lebih baik diabadikan dulu. Sebelum semuanya menghilang. Apalagi, selain foto pemandangan. Saya juga sering menangkap momen yang cukup lucu di dalam kereta api. Sayang juga kalau tidak direkam. Siapa tahu, suatu saat nanti bisa diikut-sertakan dalam lomba. Setidaknya, ada stok foto itu bisa membuat saya bisa punya banyak ide. 

Ide itu juga sering datang saat saya memandang foto. Seringnya berkelebat tak tentu. Sehingga, nantinya, kalau sedang santai. Saya bisa melihat lagi foto-foto yang saya rekam. 

Penutup

Beberapa kenangan yang saya tuliskan ini. Tidak sebanding dengan kenangan para traveler lain. Tentunya, setiap orang punya pengalaman berbeda di setiap jejak langkah yang mereka tempuh. Kenangan itulah yang membuat kita terkadang ingin kembali merasakannya. Kadang pula tak ingin kembali mencicipinya. Tapi, sering juga mendatangkan tawa dan tangis yang datang saat menyapa.

Tentunya, setiap perjalanan itu selalu mendatangkan sesuatu yang berbeda. Semoga saja, sesuatu itu selalu baik dirasa. Saya selalu berusaha untuk menuliskannya. Meski dalam bentuk tulisan racauan di blog seperti ini atau tulisan di jurnal. Setidaknya, biar saya selalu ingat, kenangan apa saja yang sempat terlupa.

Bagaimana dengan pembaca, apakah ada kenangan sepanjang perjalanan menuju suatu tempat yang tak pernah bisa dilupakan?


Postingan Terkait