BSO7GSroTUd0TfOiTpC5GfGiGA==

Bukan Kimpul Tapi Buah Ini Cukup Mudah Didapat di Bekasi dan Bermanfaat Buat Lingkungan

 

 

Mungkin sudah banyak yang mengenal Ibu Kimpul. Seorang content creator yang kerap menyajikan menu makanan yang diganti dengan Kimpul. Banyak menu makanan yang sudah dikreasikan beliau dengan berbahan dasar Kimpul.

Ada juga Mba Manik, sama seorang content creator yang juga sering mengenalkan dirinya sedang berusaha menerapkan diversifikasi pangan di piringnya. 

Diversifikasi pangan, dua kata yang juga sempat diperkenalkan oleh akun GastroNusa dengan menyeritakan bahwa makanan utama di setiap daerah di Indonesia itu sebenarnya bukan beras. Tapi, memiliki sumber pangan lokal yang dekat dengan kehidupan di sekitar masyarakat setempat.

Namun, perlu digarisbawahi nih. Bahwa, diversifikasi pangan bukanlah mencoret beras dari piring kita. Bukan. Bukan juga menghentikan pembelian beras sehingga menyiksa petani, bukan. 

Tujuan utama dari diversifikasi pangan adalah mengenalkan pangan lokal yang sumbernya dari alam yang dekat dengan kita. Agar warisan leluhur tidak punah. Selain itu, untuk membiasakan kita mengonsumsi makanan utama yang bervariasi sehingga jika suatu hari terjadi krisis pangan. Kita tidak menjadi masyarakat yang lemah, sebab kita sudah mengetahui ada banyak sekali sumber pangan yang tersedia di alam di sekitar kita.

Sebagai orang yang lahir dan masih tinggal di Bekasi. Saya paham, bahwa ketersediaan pangan yang berasal dari alam di sekitar kita ini sudah sangat terbatas sebab lahan kosong sudah sangat sedikit jumlahnya. Kalaupun ada tanah kosong, biasanya milik pak Haji anu atau sudah dihak miliki oleh developer.

Namun, bukan berarti sebagai warga Bekasi saya berhenti mencari tahu, kira-kira sumber pangan lokal apa yang masih banyak ketersediaannya di wilayah ini?

Sebelum saya menyeritakan mengenai pencarian pangan lokal yang masih bisa didapat di Bekasi dengan harga cukup murah. Saya akan menyeritakan tentang Mangrove di Raja Ampat melalui webinar yang saya ikuti bersama teman-teman Eco Blogger Squad dengan Bung Daniel dari The Asian Foundation dan Bung Steve dari PKPRA.

Webinar ini sejalan dengan momen Bangkok Climate Action Week 2026 yang akan diadakan bulan Oktober ini. Harapannya dengan adanya Bangkok Climate Action Week 2026 akan hadir solusi lokal yang bukan saja baik untuk lingkungan tapi juga bisa menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat di lingkungan tersebut. Juga berharap agar solusi yang datang bukan saja sekadar hadir dari diskusi tapi sudah tumbuh dari komunitas lokal di daerah.


Mangrove Tak Hanya Melindungi Tapi Juga Sumber Kehidupan Bagi Masyarakat Raja Ampat


Selama bergabung dengan komunitas Eco Blogger Squad. Saya sangat bersyukur sebab pengetahuan saya terkait lingkungan bertambah. Salah satunya mengenal Mangrove. Sebelumnya saya dan teman-teman EBS pernah mengunjungi ekowisata Mangrove yang berlokasi di Jakarta.

Di sanalah saya bisa melihat langsung tanaman mangrove bahkan melihat serta mencicipi buah Mangrove. Nah, mencicipi buah Mangrove yang jatuh di tanah ini berkat Mr. Iqbal, teman di EBS yang berasal dari Aceh. Beliau yang memberitahu saya buah Mangrove dan membuat saya akhirnya mencicipi buah Mangrove secara langsung! 

Meskipun di Bekasi ada juga hutan Mangrove, tapi lokasinya cukup jauh dari tempat tinggal saya dan tidak banyak yang mau menemani saya ke Muara Gembong. Jadi, saya sangat bersyukur adanya kegiatan ini yang membuat saya jadi paham seberapa besar peran Mangrove ini.


Mangrove Bagi Kehidupan Masyarakat di Raja Ampat


“Mangrove adalah napas bagi kehidupan masyarakat di pesisir.” - Bang Steve (Program Manager PKPRA)


Faktanya, Mangrove merupakan sumber pangan lokal yang sudah ada sejak abad ke-14 di tanah Papua. Namun, seiring berjalannya waktu, warisan leluhur ini mulai bergeser sehingga panganan lokal berbahan dasar Mangrove ini tidak lagi banyak diminati.

Alasannya karena adanya pengurangan ekosistem Mangrove di Raja Ampat. Degradasi hutan Mangrove ini disadari pertama kali oleh para Mama di Raja Ampat. Mereka merasa resah sebab hutan Mangrove tempat mereka bergantung hidup mulai berkurang.

Keresahan ini membawa mereka mengadakan diskusi bersama The Asian Foundation dan PKPRA @kawanpesisirr4 mengenai bagaimana mengantisipasi berkurangnya lahan hutan Mangrove ini.

Mangrove sendiri sudah disadari oleh masyarakat sekitar Raja Ampat sebagai pelindung. Baik melindungi dari abrasi hingga menjadi tempat berlindung berbagai jenis biota yang ada di bawahnya. Bahkan, ada banyak jenis biota laut di Raja Ampat yang bernaung di bawah Mangrove yang tidak tersedia di tempat lain, hanya ada di Raja Ampat.


Sempat Mengalami Penyusutan Hutan Mangrove di Raja Ampat


Keindahan Raja Ampat ini tidak dapat dipungkiri mendatangkan banyak wisatawan yang ingin berkunjung. Namun, meningkatnya wisatawan ini membuat lahan hutan Mangrove berkurang sebab banyak masyarakat sekitar membangun homestay menggunakan batang Mangrove. Karena inilah akhirnya TAF dan PKPRA bersama masyarakat Raja Ampat, duduk bersama mencari solusi agar ekosistem Mangrove ini tidak mengalami penyusutan dan tetap bisa dijaga keberadaannya.

Hasil dari edukasi ini membuat penggunaan batang Mangrove untuk pembangunan homestay berkurang. Bahkan, lahir program yang bisa meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat tanpa mengancam keberlanjutan Mangrove. Dengan program pengelolaan dan pengembangan produk turunan Mangrove berbasis kearifan, keberlanjutan dan pengetahuan lokal serta melibatkan perempuan dan anak muda di Raja Ampat.


Akhirnya Mendapat Izin Mengelola Lahan Mangrove 


Bukan hanya memberikan bantuan edukasi pengembangan produk dari Mangrove. Bersama masyarakat di Raja Ampat dan TAF serta PKPRA, bersama mereka meminta hak legalitas untuk mengelola lahan Mangrove yang kemudian diberikan secara langsung.

Dengan memiliki hak legalitas ini, masyarakat adat di Raja Ampat bisa membagi zona di sekitar Raja Ampat menjadi zona khusus hutan Mangrove yang diisolasi dari kegiatan wisatawan. Tujuannya agar hutan Mangrove di zona ini tetap terjaga. Ada juga zona yang diperbolehkan wisatawan mengunjungi wilayah ini sebagai tempat wisata.

Tujuan dari zonasi ini tentunya agar ekosistem Mangrove tidak terganggu. Baik itu jumlahnya, lahannya hingga kehidupan biota yang bergantung di sana. Selain itu, zonasi yang mengikutsertakan masyarakat adat sebagai pengelola bertujuan untuk menjaga agar pemanfaatan Mangrove dan hasil tangkapan laut di sekitarnya tetap bertanggung jawab, berkelanjutan dan tidak berlebihan (tidak dieksploitasi).


Pengelolaan dan Pengembangan Produk Turunan Mangrove di Raja Ampat


“Ketika perempuan itu kuat, maka bangsa itu juga menjadi kuat.” - Loesye Ermy Fainno (Penerima Women Champion Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Tahun 2022)

Meskipun secara adat dalam penjagaan hutan banyak didominasi oleh lelaki, namun keikutsertaan perempuan di dalamnya merupakan pelengkap. Menurut Bung Steve (PKPRA), perempuan itu lebih presisi, lebih mudah mengingat dan lebih detil. Bahkan, seperti yang sudah saya ceritakan di awal, menyusutnya hutan Mangrove pada mulanya diketahui oleh mama-mama di Raja Ampat.

Karena itu, PKPRA bersama The Asian Foundation mendukung perempuan yang saat ini sudah berjumlah 35 perempuan yang ikut dalam program pengelolaan dan pengembangan produk dari Mangrove ini.

Teman-teman tidak usah khawatir jika ingin mengonsumsi produk UMKM dari Raja Ampat ini sebab semua produk yang diolah sudah melalui uji lab sehingga aman dikonsumsi.

Buah Mangrove yang diolah ini merupakan buah yang sudah jatuh dari pohonnya. Dan kebanyakan berasal dari Mangrove jenis Bruguiera Gymnorrhiza. Sebab, jenis ini dari 28 jenis yang tersedia di Raja Ampat, merupakan jenis terbanyak sehingga sangat mudah untuk diolah menjadi produk turunan.

Kemudahan dalam pengujian di lab ini merupakan dukungan yang diberikan oleh PKPRA untuk perempuan di Raja Ampat. Namun, yang perlu diketahui bahwa industri produk lokal ini berbasis kearifan dan keberlanjutan. Jadi, tidak diproduksi dalam skala besar agar tidak mengeksploitasi hutan Mangrove yang ada.

Pengembangan produk dari turunan Mangrove ini juga sebagai upaya menjaga warisan pangan lokal dari leluhur. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, ini adalah bukti diversifikasi pangan yang ada di masyarakat Raja Ampat. Sehingga, masyarakat di sana tidak bergantung dari satu sumber pangan saja tapi juga paham bagaimana menikmati banyak sumber pangan lokal secara berkelanjutan.

Hal ini ditujukan agar masyarakat di Raja Ampat tidak menjadi komunitas yang rentan jika suatu saat terjadi krisis pangan. Sebab, mereka sudah berupaya menjaga sumber pangan lokal yang ada di daerah mereka, salah satunya dari Mangrove ini.


Kendala Dalam Pengenalan Produk UMKM Sebagai Oleh-oleh Dari Raja Ampat


Hasil dari produk turunan Mangrove ini banyak sekali, mulai dari mengolah Mangrove menjadi tepung yang kemudian dijadikan mie kering dan mie basah, ada juga kue kering yang berbahan tepung Mangrove, juga ada teh dari daun Mangrove sampai kerajinan tangan dari pohon Mangrove.

Semua produk ini saat ini dijual di galeri yang disediakan di homestay terdekat untuk ditawarkan kepada wisatawan. Bahkan, The Asian Foundation juga membantu memperkenalkan produk UMKM dari Raja Ampat ini dengan menghadirkannya di setiap pameran-pameran nasional yang diikuti. Namun, semua produk hasil UMKM perempuan di Raja Ampat ini masih memiliki kendala untuk dikenalkan di pasar nasional.

Kendalanya berupa ketersediaan listrik yang rupanya hanya bisa menyala di jam 6 pagi hingga jam 6 sore. Tentunya, dengan keterbatasan listrik ini juga membuat jaringan internet tidak bisa diakses dengan leluasa.

Jujur, saat mengetahui kendala ini, saya jadi teringat bahwa banyak sekali wilayah di Indonesia di luar pulau Jawa yang mengalami keterbatasan penggunaan listrik 😓. Banyak daerah yang sering mati lampu sampai berhari-hari, sementara di pulau Jawa listrik bebas digunakan 24 jam. Miris dan sedih sekali mendengar ini 😭. Semoga saja, kesejahteraan berupa ketersediaan listrik di seluruh Indonesia bisa dirasakan semua lapisan masyarakat. Tidak ada lagi wilayah yang kekurangan listrik. Dan semoga setelah ini, sumber listrik di Indonesia menggunakan energi terbarukan yang berkelanjutan dan bersih.


Bangga Dengan Sumber Pangan Lokal


Seperti halnya Ibu Kimpul yang bangga mengenalkan Kimpul sebagai alternatif sumber karbo selain beras. Ingat ya, ini bukan berarti tidak boleh makan Nasi dari beras. Bukan. Tapi, membiasakan untuk mengonsumsi karbo dari sumber yang berbeda-beda, terutama dari sumber pangan lokal yang ada di sekitar.

Sama seperti masyarakat Suku Biak di sekitar Raja Ampat. Mereka sudah mengenal Mangrove sejak dahulu. Bahkan, sebagai masyarakat pesisir, pengelolaan Mangrove menjadi sumber pangan lokal merupakan suatu kebanggaan akan banyaknya panganan lokal yang beragam di Indonesia.

Saya jadi ingin ikut serta bangga dengan sumber pangan lokal yang masih cukup banyak tersedia di Bekasi. Yaitu buah Sukun. Sebentar, mungkin terdengar aneh karena bisa jadi di daerahmu yang di luar Bekasi, buah Sukun juga ada tersedia dan banyak.

Dilansir dari RRI.co.id, buah Sukun ini awal mulanya berasal dari Nusantara sampai Papua. Kemudian dibawa oleh suku Austronesia pada masa perdagangan sehingga keberadaannya tersebar ke seluruh pulau di Pasifik.

Di Bekasi sendiri buah Sukun banyak ditemui di abang gorengan, ini jujur ya. Sukun goreng memang sudah lama saya kenal sejak kecil. Bahkan, kalau dapat Sukun matang, seringnya diolah lagi sama Ibu saya menjadi berbagai macam makanan.

Mulai dari dikukus terus dicocol sambal, atau dikukus kemudian dihaluskan dan dicampur tepung sehingga bentuk sukunnya tidak tampak lagi. Atau pernah juga dibuat jadi bolu sukun. Ya, itu semua olahan Sukun yang pernah dihidangkan oleh Ibu saya.

Pohon sukun sendiri merupakan pohon yang kuat, bagaimana tidak kuat, dia bisa tumbuh subur di Bekasi yang panasnya aduhai ini. Memiliki daun yang cukup rindang, akarnya kuat dan fungsinya sama seperti Mangrove yaitu menahan erosi tanah dan ikut menjaga ketersediaan air di dalam tanah.

Buah Sukun ini cocok buat pengganti karbohidrat. Belakangan banyak content creator yang memamerkan buah Sukun yang sudah matang banget, kemudian dimakan mentah. Bisa sih, tapi kalau saya sempat coba dan alhasil pusing, hehe sepertinya saya kurang cocok kalau makan mentah. Untuk rasanya memang enak, beneran, tapi sayangnya, setelahnya membuat saya pusing.

Kelebihan dari pohon Sukun lainnya adalah dia gampang banget tumbuh. Jadi, termasuk tanaman yang tidak sulit untuk dirawat. Contohnya pohon Sukun ini, tumbuh di halaman tetangga, tidak banyak perawatan ini dan itu. Dia tumbuh kokoh menjulang tinggi.

Nah, kalau nanya sesuatu tentang buah Sukun sama orang Bekasi asli. Jangan baper nanti ya, biasanya akan ditanya, “Sukun sebelah mane?” atau ”Sukun yang mane? Sebelah domah apa sebelah tanwin?” 😁 

Ini udah candaan jadul ala bapak-bapak Bekasi yang turun-temurun ditanyain kalau  saat nanya “Ini sukun bang?” atau saat nanya “Ada Sukun Bang?”

Saya merekomendasikan teman-teman yang ada di Bekasi untuk mencicipi buah Sukun ini menjadi olahan apa saja terserah selera teman-teman. Untuk yang berada di sekitar Mustika Jaya Bekasi, buah Sukun ini bisa dibeli dengan harga sekitar 20rb-an biasanya dengan berat 2 kilo. 

Kalau mau nyenggetin buah Sukun biar dapet gratis, ada banyak noh di Setu (Bekasi). Tapi, tau dah punyanya pak Haji sapa, hehehe. Jangan deh ya, ntar lu disatronin pak Haji bawa golok, hehe.🙈


Penutup


Mengikuti webinar ini membuat saya menyadari kalau makanan warisan leluhur itu sebenarnya sehat-sehat. Saat saya melihat jajanan pasar yang dahulu sering saya beli saat kecil, seperti lapis warna-warni, kue bugis, nagasari sampai timus dan bajigur. Kebanyakan menggunakan bahan yang free gluten. Tidak bergantung pada tepung terigu seperti sekarang.

Teman-teman mungkin masih ingat dengan video tentang Republik Tepung yang merujuk pada ketergantungan masyarakat kita pada tepung terigu, Nah, diversifikasi pangan juga bertujuan agar kita membiasakan diri lagi untuk jajan makanan yang bukan terbuat dari tepung terigu.

Sekali lagi, bukan stop penggunaan tepung terigu, ya. Tapi, membiasakan jajanan kita beraneka ragam agar tubuh kita juga tetap sehat. Sudah banyak juga ajakan dokter yang mengingatkan agar kita mengurangi penggunaan tepung terigu. 

Biar tetap bisa jajan enak dan nikmat, bisa memilah dan memilih menu jajanan yang no tepung terigu. Bisa juga dengan membeli produk olahan dari Raja Ampat. Mie kering atau kue kering yang mereka buat ini terbuat dari tepung Mangrove, jadi tetap sumber karbohidrat tapi sehat untuk tubuh karena bebas gluten.

Dengan membiasakan diri mengonsumsi anekaragam makanan yang merupakan warisan leluhur atau sudah ada sejak zaman dahulu. Membuat kita tetap menjaga makanan khas daerah kita (menjaga warisan leluhur) juga membiasakan untuk tidak bergantung pada satu sumber saja. 

0Komentar