BSO7GSroTUd0TfOiTpC5GfGiGA==

​Edukasi Pangan Berkelanjutan: Mengenal Aktivitas Komunitas di Cafe Seniman Pangan

Pohon kopi bekasi


Di Bekasi ternyata masih ada ya tempat yang bisa dijadikan wisata edukasi di alam? Jadi, nggak harus ke luar kota, apalagi lokasinya masih dekat dengan rumah di Mustika Jaya. Kalau lokasi tepatnya bisa googling Sekolah Seniman Pangan, ini alamatnya RUKO ALUN-ALUN BUSINESS PARK, NO 4-5, RT.002/RW.001, Padurenan, Kec. Mustika Jaya, Kota Bks, Jawa Barat 17156.


Sekolah Seniman Pangan merupakan komunitas para pemberdaya ekonomi yang berfokus pada pengembangan produk pangan lokal yang berkualitas tinggi. Program ini diinisiasi oleh Javara Indonesia yang bertujuan untuk mengubah komoditas pertanian dan bahan pangan mentah menjadi produk olahan yang berkualitas tinggi serta memiliki nilai ekonomis yang juga tinggi.


Melalui program ini, #JavaraIndonesia menekankan pentingnya pemanfaatan pangan yang berasal dari daerah setempat sebagai salah satu cara untuk menjaga dan melestarikan pengetahuan tradisional serta warisan budaya. Upaya ini untuk memaksimalkan peran masyarakat adat dan komunitas lokal (Indigenous Peoples and Local Communities) dengan berkontribusi langsung dari rumah atau daerah masing-masing.


Visi dan Misi utama dari Seniman Pangan adalah mengedukasi masyarakat adat di beragam daerah di Indonesia agar mampu mengolah hasil bumi di daerah asal mereka menjadi produk standar kualitas, kemasan, dan higiene yang baik. Juga ikut mempertahankan keanekaragaman hayati dan heritage food. Serta ikut mengedukasi dan memberdayakan peranan komunitas dan anak muda agar pengelolaan potensi pangan asal daerah mereka menjadi mandiri dan berkelanjutan.


Selain mengedukasi banyak petani, nelayan hingga pengrajin lokal di seluruh Indonesia. Seniman Pangan juga membuka Cafe sekaligus Eco Learning agar masyarakat perkotaan bisa ikut mendapat ilmu dan menambah wawasan yang sesuai dengan visi misi mereka.




sekolah seniman pangan


Mengenal Farm to Table Dari Tim Seniman Pangan


Semua tanaman yang ada di Sekolah Seniman Pangan merupakan tanaman produktif yang bisa diolah menjadi makanan. Karena itu, di sini tidak banyak taman bunga, kalaupun ada biasanya bunganya harus tetap bisa dimanfaatkan untuk makanan atau minuman.


Efisiensi lahan seluas 3 hektar yang berlokasi di Vida Bekasi ini ditujukan untuk menjadi sumber utama bahan mentah dapur Cafe Seniman Pangan. Sehingga, jejak karbon untuk mendatangkan bahan mentah menu sajian di Cafe ini berkurang.


Selain itu, pemanfaatan lahan kosong dengan menanam tanaman produktif, juga bisa menjadi lahan hijau untuk penyerapan air yang maksimal. Ditambah, menjadi tempat yang cukup nyaman untuk menghirup udara yang segar juga tidak sesak meski panas mentari disertai polusi udara di Bekasi menyelimuti.


Di sini juga ada kolam ikan dimana ikannya sudah siap panen. Hanya saja tidak dibuat dalam skala besar kolamnya, sebab peruntukan tempat ini sebagai Cafe sekaligus Sekolah Seniman Pangan yang fokus pada diversifikasi pangan yang berkelanjutan.


Ada juga kandang ayam dan kambing, dimana keberadaannya bukan sekadar untuk bahan mentah menu makanan yang dijual di Cafe Seniman Pangan. Tapi, juga untuk menghasilkan kompos alami yang berasal dari kotoran hewan. 



eco learning bekasi


Dari Kebun Ke Piring : Latar Belakang Sekolah Seniman Pangan


Pada mulanya, tahun 2019 saat Seniman Pangan mendapat penawaran dari Perumahan Vida. Dimana konsep perumahan ini benar-benar memprioritaskan beberapa persen lahannya untuk ruang hijau. Tawaran yang cukup menarik ini tidak disertai dengan kondisi lahan yang sama menariknya.


Kenapa? Sebab, awalnya lahan yang saat ini ditempati dan dikelola Seniman Pangan merupakan lahan yang berisi brangkal-brangkal serta timbunan sampah. Sampah memang bisa menjadi pupuk kompos alami tapi jenis sampahnya berbeda. Bukan tumpukan sampah yang bercampur antara organik maupun anorganik. Karena itu, lahan ini awalnya merupakan lahan yang dinilai agak kurang subur untuk dijadikan lahan produktif.


Ilmu tentang pertanian, perkebunan hingga tanaman itu ada karena memang dibutuhkan untuk menopang kegiatan dan aktivitas manusia. Sebab itu, tim Seniman Pangan yang memang bukan sekadar komunitas pencinta makanan lokal saja. Tapi, juga berisi orang-orang yang memahami ilmu terkait pertanian dan perkebunan, memutuskan untuk membuat bedeng-bedeng yang digunakan untuk menanam.


Selain hambatan berupa lahan tanah yang kurang kondusif. Kondisi cuaca di Bekasi yang cenderung panas dan kering juga menjadi PR yang harus diatasi. Karena itu, solusinya dengan menjadikan pohon Trembesi yang menjulang tinggi dan subur sebagai payung yang tidak menutupi cahaya matahari langsung tanaman-tanaman yang ada di bawahnya.


Keberadaan pohon Trembesi ini juga yang membuat lahan kebun belakang Cafe menjadi lebih adem dan cenderung segar. Tak hanya menaungi tanaman yang tidak kuat terkena cahaya matahari langsung. Tapi, juga melindungi pegawai yang bekerja di sini serta pengunjung dari cahaya matahari yang terik.


Ada tanaman yang tidak begitu kuat dengan sinar matahari langsung tapi ada juga yang justru membutuhkan sinar matahari secara langsung. Karena itu, di separuh bagian lain dari lahan kebun Seniman Pangan tidak ditanami tanaman untuk berteduh. 


Beberapa tanaman yang langsung terkena cahaya matahari ada Pohon Kopi, Tebu Papua, Pohon kembang Kantil hingga Pohon Singkong dan Bambu.


Keanekaragaman tanaman di sini, menjadi sarana informatif terutama untuk siapa saja yang bahkan belum pernah mengetahui bentuk asli tanaman yang pernah dikonsumsi maupun yang hanya didengar namanya saja.


Seperti tanaman bunga Rosella, yang saya tahu hanya bentuknya saja yang sudah kering. Saya biasanya menyeduhnya dengan gula batu. Efek yang saya rasakan saat pertama kali mengenal kembang Rosella ini adalah pegal-pegal di tubuh cepat mereda.


cafe seniman pangan


Tanaman Unik Yang Ternyata Bisa Tumbuh Subur Di Bekasi Mustika Jaya


Ada juga pohon Kopi yang ajaibnya tumbuh subur di tanah Bekasi. Bayangkan saja, Kopi tumbuh di Bekasi yang notabennya pernah saya ukur altimeternya sekitar 20 meter dari permukaan laut. Khususnya di wilayah Mustika Jaya ini ya. Soalnya, Bekasi memang wilayah yang dekat dengan pesisir pantai. Paling dekat pantainya yaitu di Muara Gembong.


Sementara biasanya habitat pohon Kopi itu berada di 700-800 meter di bawah permukaan laut. Normalnya harus lebih tinggi dari wilayah kawasan Mustika Jaya ini. Tapi, pohon Kopi yang ada di @SenimanPangan ini, maasya allah banget bisa tumbuh subur dan ketika saya serta teman-teman dari Eco Blogger Squad mampir, sedang berbuah segar dan subur.


Memang ada jenis Kopi yang kuat di dataran rendah dengan suhu sekitar 20-28 derajat celcius. Tapi, ini Bekasi, bung! Suhu normalnya saja sering berada di angka 30 derajat celcius. Karena itu, tanaman Kopi yang tumbuh ini sangat unik karena mampu bertahan di wilayah Bekasi.


Selain Pohon Kopi, ada juga Tebu asli dari Papua. Tebu ini bahkan bisa tumbuh juga dengan subur. Padahal tanah Papua termasuk yang cukup subur dan tidak bercampur dengan timbunan sampah. Hasil cairan manis dari dalam Tebu Papua ini, rasa manisnya tidak begitu kuat tapi tetap segar dan after-taste-nya meninggalkan kesegaran di mulut.




kebun seniman pangan


Mengenal Bahan Lokal Unggulan


Setiap tumbuhan yang tidak berasal dari Bekasi ini hadir dari cerita perjuangan yang panjang Bu Eet, Bu Cora dan Bu Jo serta Tim Seniman Pangan lain yang terlibat.


Seniman Pangan dan timnya sering mengadakan program edukasi ke daerah-daerah pelosok Indonesia. Edukasi yang mereka berikan terutama untuk memanfaatkan sumber alam dari daerah tersebut agar bernilai ekonomis dan tidak hanya menjadi daerah penyalur bahan mentah tapi menjadi pengolah bahan tersebut menjadi produk yang hasil serta nilai ekonomisnya bertambah.


Sudah bukan cerita dongeng lagi jika petani lokal, pemilik kebun hingga pekerja yang mengumpulkan bahan mentah untuk didistribusikan ke seluruh Indonesia ini, tidak menerima gaji atau upah yang layak. Layak dari segi apa? Layak dari segi pemenuhan kebutuhan dasar hingga pendidikan untuk anak-anak mereka. Bayangkan saja, masyarakat adat di seluruh wilayah Indonesia, mereka yang menjaga hutan dan lahan untuk bisa terus dinikmati hasil buminya. Malah harus berhadapan dengan bentrokan antara pemegang kuasa disertai tim hukum yang membuat masyarakat adat kehilangan banyak hal.


Padahal Indonesia ini memiliki banyak sekali tanaman yang bisa diolah sebagai sumber pangan yang bervariasi. Setiap daerah memiliki sumber alam yang khas dan bisa diolah sebagai sumber pangan yang istimewa. 


Mereka pernah mengedukasi wanita-wanita dari tanah Jambi dimana kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai pedagang asongan. Para wanita ini mengikuti program edukasi pengolahan hasil bumi agar bernilai ekonomis bersama tim SSP. Bahkan, di program ini juga mendatangkan tamu-tamu khusus yang membuat acara menjadi sangat bernilai dan memantik semangat bagi para Ibu ini.


Hasil bumi seperti Gula yang seringnya hanya tahu berasal dari tebu. Beberapa juga mengetahui kalau Gula dari Nipah juga ada. Tapi, kalau Gula dari umbi Singkong, apa sudah pernah tahu dan sudah pernah coba? Sebab, faktanya Gula yang berasal dari umbi Singkong ini memiliki kadar Glikemik yang rendah dan fruktosanya benar-benar alami serta kalorinya juga rendah.


cafe seniman pangan



Bukan hanya Gula, nyatanya dari Nipah juga terdapat Garam yang natriumnya hanya sekitar 40-an% saja namun tetap memiliki kandungan mineral yang bermanfaat untuk tubuh. Bahkan, Garam ini termasuk aman untuk penderita hipertensi dan stroke.


Dua contoh hasil bumi dari Nipah ini merupakan backstory dari Nipah yang tumbuh di Papua. Tim Seniman Pangan membawa beberapa produk hasil pengolahan masyarakat di Papua ini untuk bisa dijual dan dinikmati masyarakat luas.


Tak hanya mendatangkan produk khas dari banyak daerah di Indonesia ke Bekasi. Tim Seniman Pangan juga pernah mengedukasi wanita-wanita dari tanah Jambi dimana kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai pedagang asongan. Para wanita ini mengikuti program edukasi pengolahan hasil bumi agar bernilai ekonomis bersama tim Seniman Pangan. Bahkan, di program ini juga mendatangkan tamu-tamu khusus yang membuat acara menjadi sangat bernilai dan memantik semangat bagi para Ibu ini.


Selain Jambi, juga ada banyak daerah lainnya yang didatangi tim Seniman Pangan untuk diedukasi. Namun, menariknya justru ada beberapa wanita dari Samoa dan Fiji yang ikut belajar di Sekolah Seniman Pangan. Wanita-wanita ini belajar tentang ragam makanan yang khas dari Indonesia, cara pengolahannya dan bagaimana sajian ini terhidang di meja makan.


Karena itu, tahun ini Sekolah Seniman Pangan mengampanyekan The Future Table yang merupakan ajakan untuk menyadari dan memahami agar bahan pangan lokal yang tidak bersumber dari bahan impor, yang akan tersaji di piring kita di masa depan.


Masa depan itu jangan dibayangkan masa dimana robot mendominasi kehidupan harian kita. Tapi, masa depan itu adalah masa beberapa menit dari sekarang yang lebih dekat untuk mendorong kita mengupayakan makanan yang kita konsumsi 100% dari Indonesia.


cafe seniman pangan



Kajian-kajian terkait Gastronomi di Indonesia ini sudah banyak menghasilkan ilmu tentang makanan yang kategorinya real food dan sehat. Makanan Indonesia itu sebagian besar real food. Seperti nasi pecel, tempe dan tahu bacem, singkong kelapa parut, jagung rebus, pisang rebus, hingga kacang rebus.


Bahkan, di Indonesia juga ada butter yang hampir semua bahannya diproduksi asli dari Indonesia. Sehingga tidak perlu lagi menggunakan produk yang datangnya dari impor. Mungkin sudah saatnya memang menggalakkan lagi mencintai produk-produk 100% Indonesia, baik dari hasil bumi, bahan mentah hingga proses produksinya. 




eco learning seniman pangan


Tur Kebun & Bercocok Tanam (Eco-Learning)


Kegiatan bersama Eco Blogger Squad di Sekolah Seniman Pangan ini bukan saja meninggalkan kesan menyenangkan karena bisa beraktivitas di alam bersama teman komunitas. Tapi, juga meninggalkan banyak kesadaran untuk #BersamaBergerakBerdaya mengembalikan menu sajian ke sajian Real Food yang bahannya asli dari Indonesia terutama dari masyarakat lokal.


Apalagi saat kami sarapan sebelum beraktivitas bersama, dimulai dengan sajian rebus-rebusan seperti pisang rebus, jagung rebus hingga kacang rebus. Dan minuman yang disajikan juga sangat sesuai dengan kebutuhan dari mulai infused water timun, minuman manis dari bunga telang sampai minuman hangat dari teh daun pala.

Menu-menu yang dihidangkan Seniman Pangan banyak berasal dari seluruh Indonesia. Seperti : 

  • Sambal Tumpang 
  • Inter Singkong - Bogor
  • Nasi Subut - Kalimantan
  • Ayam Tangkap - Aceh
  • Ikan Goreng
  • Tahu Tempe Bacem
  • Sate Singkong dengan sambal Kacang - Mollo NTT
  • Perkedel Jagung - Mollo NTT
  • Sambal Beberok - NTB
  • Sambal Terong Belanda - Sumatera Selatan
  • Kerupuk / Emping
  • Rujak Aceh
  • Sagu Sep Pisang dengan Gelatto - Papua


Saya mau menyeritakan keseruan kegiatan komunitas Eco Blogger Squad bersama tim Seniman Pangan di Sekolah Seniman Pangan. Dimana acara ini sebagai bagian dari peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia #HIMAS2026 yang jatuh tanggal 9 Agustus.


Usai menyantap sarapan, kami langsung bergegas menuju kebun yang lokasinya persis di belakang Cafenya. EBS dibagi menjadi 2 tim, yang satu akan langsung merasakan proses menanam dan memanen. Sementara tim kedua akan mengeksplorasi lahan tanaman sambil mendengar kisah Bu Eep terkait kendala lahan hingga perjuangan tim Seniman Pangan menjadikan semua tanaman ini subur.


Kami juga diperbolehkan memetik tanaman dan buah serta bunga yang sudah cukup umur. Ada yang memetik nanas, memetik daun bayam Malabar hingga memetik Kopi. Setelah itu, kami bergantian untuk menanam dan memanen. 


Bibit yang kami tanam adalah bibit cabai. Sejujurnya, PR terbesar saya selama belajar menanam di rumah adalah belum berhasil menanam cabai hingga tumbuh subur. Tapi, dari kegiatan praktek menanam cabai ini, saya jadi tersadarkan sepertinya perlu mencoba cara menanam yang diajarkan oleh tim Seniman Pangan.


Setelah menanam bibit cabai, kami melanjutkan kegiatan dengan memanen tanaman singkong. Umbi singkongnya banyak betul, tapi memang proses pencabutannya cukup effort ya. Butuh tenaga yang kuat. 


Sejauh mata memandang memang penampakan kebun di Cafe Seniman Pangan mengingatkan saya dengan kondisi Bekasi beberapa tahun lampau, saat saya masih kecil hingga remaja. Pemandangan kebun di halaman rumah orang-orang Bekasi itu sangat wajar. Bahkan dulu pun di rumah Kakek juga ada kebun yang ditanami pohon nangka, jambu air, jambu kristal, pohon sirsak hingga pohon lain yang selalu berbuah musiman.


Kebun kalau di Bekasi itu disebutnya Kebon. Hampir mirip dengan bahasa betawi memang. Jadi, main di kebon bukan lagi sesuatu yang baru tapi menjadi hal yang sudah sulit dan jarang bisa saya nikmati di masa dewasa ini.


kebun buah seniman pangan


Sekolah Seniman Pangan ini terbuka untuk umum. Bu Jo bahkan menyeritakan kalau biasanya yang datang ke SSP adalah anak-anak sekolah yang sangat antusias saat mereka menghabiskan waktu di kebun. Aktivitas ini juga tentunya tidak bisa dirasakan anak zaman sekarang ya. Mengingat lahan di Bekasi saja sudah banyak berkurang dan berganti dengan perumahan dan pertokoan. 


Untuk masuk ke lahan kebunnya dikenakan biaya sebesar Rp 25.000. Informasi ini saya dapat dari tulisan yang tercantum. Bisa saja informasi ini berubah, kalau ingin mengetahui lebih banyak bisa juga menghubungi melalui Instagram @senimanpangan. 


Kalau mau menikmati makanan yang dimasak oleh Chef dimana sumber bahannya dari kebun belakang. Bisa juga memesannya di Cafe Seniman Pangan. Menu yang tersedia bisa dicek atau ditanyakan langsung. Saya rekomendasikan mencicipi nasi pecelnya, karena rasanya enak dan sesuai dengan lidah saya. Selain itu ada juga sate daun singkong, rasanya juga unik dan enak.


kebun produktif seniman pangan


Semisalnya mampir ke Kopi Tuku di Vida Bekasi, kalian bisa juga memesan makanannya di Cafe Seniman Pangan. Sebab, cafenya ini lokasinya sebelah kopi Tuku persis. Jadi, tidak jauh bahkan bisa asyik menikmati pemandangan hijau di Cafe Seniman Pangan.


Kalau ditanya apa saja yang saya dapat usai mengunjungi Sekolah Seniman Pangan, selain rasa senang karena bisa seru-seruan bareng dengan komunitas Eco Blogger Squad. Saya juga jadi mengetahui buah pohon Kopi.


Sebagai orang yang suka minum kopi, saya hanya pernah melihat buah Pohon Kopi dari gambar saja. Dan ini pertama kalinya saya melihat secara langsung. Bahkan, saya mencicipi biji kopinya yang ternyata rasanya manis, namun after-taste-nya agak getir.


Kemudian, saya juga jadi semakin semangat untuk belajar mengenai Tabulampot. Sebab, saya melihat banyak sekali tanaman produktif yang ditanam dengan pot dan tumbuh tinggi juga subur. Sepertinya benar kata beberapa urban farming yang akunnya saya follow, “kalau tanaman itu kenyang dan cukup nutrisinya, akar mereka tidak akan keluar dan merusak pot. Juga akan tetap tumbuh seperti ditanam di tanah langsung.”


Efek dari mengikuti komunitas Eco Blogger Squad itu banyak bagi saya. Sebab, saya sudah beberapa tahun ini memilah dan memisahkan sampah. Bahkan, sudah mengurangi jajan langsung dari aplikasi sebab sampah packagingnya terlalu menumpuk. Saat ini memilih jajan sambil bawa tempat sendiri. Selain itu, sudah terbiasa belanja membawa wadah sendiri. Dan saat ini, sedang berproses mengubah halaman yang sempit, tidak ada lahan tanahnya menjadi kebun mini yang isinya sayur dan buah. Kalau sekarang baru ada kemangi, temu kunci, kunyit, jahe dan bidara. 


Ikut tumbuh bareng komunitas yang positif, nyatanya memang membawa dampak positif juga untuk kehidupan nyata. Tak sabar, kira-kira ilmu baru apalagi yang akan saya dapat bersama komunitas @ecobloggersquad ini. 


seniman pangan


0Komentar