BSO7GSroTUd0TfOiTpC5GfGiGA==

Gambut yang Terbakar, Piring yang Terancam : Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan Dengan Ketahanan Pangan

 

lahan gambut

Pernah gak sih kamu nonton film Mad Max atau The Hunger Games? Di kedua film yang bergenre dystopia, bumi digambarkan sudah porak-poranda, gersang, mengalami krisis pangan dan air serta sumber daya alamnya menipis. 


Di film tersebut manusia berjuang setengah mati buat bertahan hidup, sementara segelintir orang berduit menguasai suplai makanan utama dan air. Sebentar, kok situasinya hampir sama dengan kondisi di negeri kita hari ini, ya? Padahal, itu kan ‘cuma’ film fiksi ilmiah. Kok bisa?


Maksudnya mirip, bukan karena dunia mau kiamat besok pagi, tapi karena kita sedang menghadapi kondisi nyata yang ironis banget: negeri yang dikenal subur dan kaya raya akan sumber daya alamnya ini justru mulai keteteran mengurus pangannya sendiri, sampai lebih sering dengar berita impor bahan pangan dibanding ekspor produk pangan.


​Belakangan ini, isu seputar lumbung pangan atau food estate, pembukaan lahan gambut, sampai ancaman perubahan iklim sering banget menghiasi berita. Tapi, pernahkah kita merenung, apa hubungannya asap kebakaran hutan, lahan gambut yang kering, dengan isi piring makan kita sehari-hari? 

Ternyata, benang merahnya terletak di cara kita memandang makanan dan alam. Mari kita ngobrolin ini santai, sambil melihat bagaimana singkong—pangan lokal yang sering dipandang sebelah mata—bisa jadi pahlawan sunyi di piring kita.



​Ketika "Spons Raksasa" Kita Mulai Haus

 

​Indonesia merupakan rumah bagi lahan gambut tropis terbesar di dunia. Penyebaran gambut tropis ini seluas 24,2 Juta hektar yang tersebar di Kalimantan, Sumatera dan Papua. 


Gambut ini bisa dibayangkan seperti spons raksasa alami yang tugasnya menyerap air hujan dalam jumlah jumbo dan menyimpan cadangan karbon demi menjaga kestabilan iklim bumi.
​Masalahnya muncul ketika lahan-lahan gambut basah ini mulai dialihfungsikan untuk proyek skala besar. Demi sebuah ambisi pemimpin untuk mencetak kawasan produksi pangan cepat saji, lahan gambut basah ini  dikeringkan lewat pembuatan kanal-kanal air yang masif.


Padahal, saat gambut kering, struktur lapisannya berubah jadi sangat rapuh. Alih-alih menjadi lumbung yang subur, lahan gambut kering ini justru bisa menjadi sangat rentan menyulut api. Di sinilah titik panas dan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berulang kali terjadi.


​Kalau suasananya sudah berasap, kering, dan rusak, suasananya jadi mirip latar tempat di Mad Max, dimana di film tersebut, kondisi bumi berasap dan berwarna paduan abu-abu, kuning juga orange. Serta kekeringan melanda, eh persis seperti kondisi sekarang juga, ya? 


Sedihnya lagi, kerusakan ekologis ini bukan cuma meninggalkan asap pekat dan gangguan kesehatan. Tapi, juga langsung menghantam dapur-dapur masyarakat lokal yang tinggal di sekitarnya.


​Hilangnya Hutan, Datangnya "Sumber Pangan Impor" 


​Banyak orang lupa bahwa bagi saudara-saudara kita di daerah seperti Kalimantan, Sumatera dan Papua, memiliki hutan dan lahan berlimpah bukan cuma jadi lahan kosong, tapi fungsi hutan dan lahan ini sebagai "supermarket" alami sekaligus ruang hidup yang penuh berkah. Dari sanalah masyarakat lokal secara turun-temurun dikenal sebagai peramu sagu, pengolah umbi-umbian, pemburu yang sekaligus penjaga keragaman pangan lokal yang kaya nutrisi.


​Namun, ketika hutan-hutan dan lahan gambu itu beralih fungsi dan ruang hidup mereka menyempit akibat ekspansi korporasi atau proyek pembukaan lahan, rantai kehidupan itu putus. Masyarakat lokal perlahan kehilangan akses ke sumber pangan aslinya. 


Ironisnya, untuk bertahan hidup, mereka kemudian digelontorkan produk-produk instan dari luar, seperti beras dan mi instan. 


​Fenomena ini oleh para pengamat sering disebut sebagai gastro kolonialisme—sebuah situasi di mana pola makan tradisional yang sehat, variatif, dan mandiri tergeser begitu saja oleh gelombang makanan ultra-proses yang murah. 


Akibatnya, alih-alih sehat, generasi di daerah produsen pangan justru menghadapi masalah gizi buruk dan stunting. Situasi ini terasa mirip seperti alur cerita di film The Hunger Games, di mana distrik-distrik pinggiran yang memproduksi kekayaan alam justru hidup dalam keterbatasan, sementara pasokan hidupnya diatur dari pusat.


indonesia distopia



​Jebakan Piring yang Seragam

 

​Ketergantungan ini sebenarnya tidak hanya terjadi di wilayah pelosok, tapi juga di piring kita sehari-hari secara nasional. Coba deh jujur, apakah meja makan kita hari ini terasa lengkap kalau belum ada nasi?


​Data menunjukkan bahwa sekitar 70% asupan kalori harian masyarakat Indonesia saat ini bertumpu pada dua komoditas saja: beras dan gandum. Padahal, Indonesia dulunya adalah juara dalam hal keragaman biokultural. Nenek moyang kita tidak pernah menggantungkan hidupnya hanya pada satu jenis makanan. Ada sagu di Maluku dan Papua, ada sorgum di NTT, ada beragam jenis umbi di Jawa dan Sulawesi.


​Ketika kita memaksa diri untuk "seragam" dan hanya mengandalkan beras serta terigu (yang sebagian besar impornya mencapai jutaan ton per tahun), kita sedang memasang bom waktu bagi ketahanan pangan nasional. 


Terlebih lagi, laporan ilmiah dari berbagai lembaga iklim global mengingatkan bahwa kenaikan suhu bumi secara nyata menurunkan potensi hasil panen tanaman utama seperti padi dan jagung. 


Kalau iklim makin panas, pasokan global terganggu, dan kita tetap menolak melirik sumber pangan lain, kita sedang berjalan menuju krisis ala film fiksi ilmiah—bukan karena fiksi, tapi karena kita kurang fleksibel.



​Singkong: Pahlawan Lokal yang Sering Diremehkan


​Nah, di sinilah pentingnya kita berkenalan kembali dengan bintang lapangan yang sering dicap "kampungan": Singkong.


​Banyak yang mengira singkong hanyalah makanan darurat zaman masa penjajahan. Padahal, jika kita telaah secara bijak, singkong adalah salah satu bentuk kedaulatan pangan paling tangguh yang kita punya. 


Berdasarkan Undang-Undang Pangan, pangan lokal adalah apa saja yang diproduksi dan dikonsumsi sesuai dengan potensi serta budaya setempat. Singkong, ubi jalar, talas, hingga sukun adalah contoh nyata bagaimana alam Nusantara menyediakan karbohidrat yang ramah lingkungan.


​Berbeda dengan padi sawah yang butuh pasokan air melimpah dan sistem irigasi rumit, singkong bisa tumbuh subur di lahan yang relatif kering dan marginal. Ia tidak rewel, tahan banting terhadap cuaca ekstrem, dan tidak memerlukan pupuk kimia berlebihan yang merusak tanah.


​Beberapa komunitas lokal di Indonesia bahkan sudah membuktikan ketangguhan ini sejak lama. Di Kampung Adat Cirendeu, Jawa Barat, ada masyarakat adat yang menjadikan beras singkong (Rasi) sebagai makanan pokok harian mereka selama puluhan tahun, terbukti sehat, mandiri, dan tidak pernah pusing memikirkan naik-turunnya harga beras nasional di pasaran.


Bahkan, faktanya singkong ini merupakan tanaman yang sangat kuat dan mampu bertahan dengan kondisi tanah dan cuaca Bekasi yang cukup kering juga panas. Tanaman singkong masih bisa ditemui ditanam oleh masyarakat Bekasi di halaman rumah mereka.
Sering juga bisa didapati tanaman singkong ditanam di lahan kosong yang biasanya sudah dimiliki developer perumahan namun belum digunakan.


Singkong goreng sendiri pun, di Bekasi sini, masih cukup sering didapati di etalase pedagang gorengan pinggiran. Bersama sukun, keduanya mudah didapat dengan harga terjangkau dan sumber karbohidrat alternatif selain nasi.



​Menuju Kedaulatan yang Sesungguhnya

​Kembali menikmati singkong dan beragam pangan lokal bukan berarti kita harus serta-merta meninggalkan nasi sepenuhnya. 


Ini lebih kepada soal fleksibilitas dan kesadaran. Bayangkan jika seandainya seluruh rakyat Indonesia sepakat untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis karbohidrat saja, misalnya dengan membiasakan diri menikmati variasi pangan lokal dalam menu harian kita. Kita tidak hanya menghemat cadangan beras nasional, tapi juga mengurangi tekanan eksploitasi lahan secara besar-besaran. Juga mengurangi impor beras dan bisa menambah cadangan keuangan yang bisa digunakan untuk mensejahterakan rakyat.


​Menjaga piring kita tetap beragam sama artinya dengan merawat bumi. Ketika kita mengapresiasi singkong, sagu, ubi, dan sorgum, kita sedang mengirim sinyal kepada pasar dan pembuat kebijakan bahwa kekuatan pangan Indonesia tidak terletak pada penyeragaman, melainkan pada kekayaan keragamannya.


​Jadi, ketimbang menunggu dunia jadi kacau balau seperti di Mad Max atau terjebak dalam sistem yang tidak adil ala The Hunger Games, mari kita mulai revolusi kecil dari meja makan kita sendiri. 


Yuk, kita angkat kembali singkong dan pangan lokal Nusantara sebagai kebanggaan di piring kita. Karena pada akhirnya, kedaulatan bangsa ini tidak hanya dijaga lewat senjata atau teknologi canggih, tapi dimulai dari apa yang kita kunyah setiap hari.


Sekaligus mengenalkan pada generasi muda Indonesia tentang sajian pangan lokal yang lebih menyehatkan dibanding camilan berbahan dasar gandum seperti seblak, makaroni, dll.
Ketika berbicara tentang makanan lokal, kita berbicara juga tentang identitas dan budaya. Sehingga, mengenal dan membiasakan kembali mengonsumsi sajian menu lokal, berarti ikut serta menjaga warisan budaya dan identitas kita sebagai Indonesia.

 

 

eco blogger squad

 

Webinar  Komunitas EBS dan Pantau Gambut Bersama Mas Arif


Dari diskusi bersama dengan saling memberikan informasi dan pertukaran wawasan, membuat saya sebagai bagian dari komunitas #EcoBloggerSquad sangat bersyukur.


Memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan serta menjaga nilai dari leluhur dan warisan sejarah juga budaya Indonesia, tidak bisa dilakukan sendiri. Kita butuh berisik dan bersuara lantang secara bersama-sama. Sesuai dengan peribahasa, “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.”


Kolaborasi dengan #PantauGambut meninggalkan kisah perjuangan masyarakat lokal dan rakyat Indonesia demi menjaga gambut yang tersisa. Suara ini juga menyematkan sebuah semangat untuk terus bersuara, mendesak pemerintah melakukan restorasi lahan gambut yang sudah terbakar dan rusak.


Kita tidak bisa tinggal diam saat kebakaran hutan dan lahan ini terus terjadi setiap tahun. Harus ada mitigasi yang serius. Harus ada peran serta masyarakat lokal yang lebih tahu kondisi hutan juga lahan di wilayah mereka.


#PeatlandIsNotWasteland merupakan sebuah kesadaran dan wawasan bagi generasi muda. Bahwa, lahan gambut bukan lahan yang tidak berguna. Keberadaannya bahkan mampu mengubah kondisi iklim. Dan seperti yang sudah terjadi saat ini, pengrusakan hutan dan lahan gambut ini bahkan sudah merusak kesehatan antar negara.
Apalagi jika kapasitas alaminya ini tidak lagi mampu menyerap air. Maka bencana berikutnya yang akan membayangi adalah risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir.


Lantas Apa Yang Bisa Kita Lakukan Sebagai Rakyat Indonesia


  • Terus Berisik Suarakan Keadilan

Sebagai rakyat Indonesia yang punya sosial media. Mari kita gunakan akun kita untuk terus berisik suarakan keadilan untuk menghentikan kebakaran hutan dan lahan dengan penanganan serius. Kemudian, desak pemerintah melakukan restorasi gambut dan hutan. Juga membuat peraturan yang ketat terkait alih fungsi hutan dan lahan gambut. 

  • Belajar Variasikan Isi Piring Dengan Pangan Lokal

Memvariasikan makanan yang kita konsumsi sehari-hari bukan berarti tidak makan nasi. Tapi, menjadikan semua menu makanan lokal berganti-gantian mengisi piring kita. Sehingga, kita tetap menjaga kelestarian budaya, warisan juga lingkungan. Tidak harus selalu konsumsi singkong setiap hari. Bisa juga dipadukan dengan sajian kimpul hingga sukun.

  • Jadikan Real Food Sebagai Makanan Penolong Saat Krisis

Daripada sekadar stok beras saat menghadapi krisis pangan atau bencana. Ada baiknya menyimpan makanan real food daripada mie instan. Real food ini juga bisa bertahan lama seperti sarden, ikan tuna kaleng sampai orek tempe kering dan serundeng. Makanan-makanan ini tetap memiliki keutamaan yang bisa disimpan sebagai cadangan makanan atau disalurkan sebagai makanan kala bencana. Jadi, ubah mindset dari sekarang untuk menyimpan makanan real food dibanding mie instan.


Penutup

 

Selain belajar diversifikasi pangan dengan sumber pangan lokal. Sepertinya, Indonesia juga butuh generasi muda yang mau belajar dan menambah wawasan terkait cara pemanfaatan lahan di seluruh Indonesia tanpa merusak ekologi sekitar. Indonesia butuh generasi penerus yang nantinya akan duduk di pemerintahan yang cerdas dan paham pengelolaan sumber daya alam kita dengan bijaksana dan teratur.


Saya masih berharap dengan harapan yang baik. Saya tidak ingin meluruhkan impian bahwa Indonesia akan menjadi negara makmur dengan sumber daya alam yang terkelola secara berkesadaran dan berkelanjutan.

0Komentar