Ulasan Film Rumah Dan Musim Hujan



Film Indonesia Ini Jenis Yang Mau Di-Spoiler-In Kayak Apapun Tetap Meninggalkan Misteri Yang Belum Memiliki Jawaban Pasti

Film Rekomendasi Seseorang

Berawal dari rekomendasi yang saya dapat dari empunya blog ayowaca.com, bernama Iyas. Saya menonton film ini. Pun gara-gara dia bilang ke saya kalau saya harus menonton film ini, karena ada topik kejawen yang sehari sebelumnya kami bahas. Dari mulai hal-hal mistis sampai cerita-cerita yang kalau disuruh menilai berapa persentase logika dari hal tersebut akan saya jawab, “Logika saya kaburentah kemana.”


Rumah Dan Musim Hujan



Kalau cek di Internet, sudah banyak kok yang membahas film ini. Dari tulisan yang mengaku spoiler, sampai yang berisi pengalaman setelah menonton film ini. Faktanya, tidak atau belum ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika menonton film ini.

Film yang bagus bagi saya itu seperti film Rumah dan Musim Hujan atau Hoaks. Iya, film yang pernah tayang di festival film mancanegara ini diganti judulnya biar lebih komersil. Kemudian digantikan menjadi Hoaks judulnya. Meski, saya lebih sreg dengan judul Rumah dan Musim Hujan karena saya bisa benar-benar mengambil benang merah dari film dan judulnya.


Kenapa saya bilang film ini bagus?



Karena usai menonton film ini, saya dan Mbak Yas yang merekomendasikan film ini, terlibat dalam diskusi yang tiada ada ujung dan tiada ada jawaban yang pasti. Film ini meninggalkan misteri yang bisa ditelaah dengan persepsi yang berbeda dari para penontonnya. Film yang bagi saya seperti sedang mempertanyakan jati dirinya, ini film Drama Keluarga atau Komedi Percintaan ataukah Horor? Jadi, saya putuskan untuk menuliskan spoiler dari film ini. Ingat, spoiler, bukan jawaban akan misteri yang terus mengendap dalam relung pikiranmu.




Berawal Dari Meja Makan


Kalau Anda bingung apakah film ini sudah benar atau belum awalnya, saya jawab : YA. Cerita diawali di meja makan, tempat seluruh keluarga berkumpul dan sedang menikmati buka puasa bersama. Ada Bapak, Raga (anak pertama), Sukma (pacarnya Raga), Ragil dan Adik. Mereka tengah memainkan permainan dari Korea yang pernah juga saya lihat di tayangan Running Man.

Di Meja Makan itu pula, Adik mendapat tatapan sinis akibat hendak merokok di dalam. Kemudian dia keluar sambil membawa pisang dan menelpon Ibunya. Saat itu, hujan memenuhi suasana sepanjang film. Semacam, apa yang terjadi di sebuah rumah kala hujan turun. Mungkin, film ini bisa mendatangkan imajinasi bagi mereka yang mengaku mencintai hujan.

Usai menelpon, Adik berpamitan kepada Bapak untuk pulang lebih dulu. Kemudian disusul dengan Raga yang juga ikutan pamit pulang. Baiklah di sini ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan.


- Pada saat Adik dan Ragil keluar, Raga sempat ingin berbincang dengan Bapak, namun tidak jadi.

- Adik langsung saja pulang tanpa pamitan lagi. Dimana, Raga sendiri masih menyempatkan untuk pamit. Adik langsung membawa sepedanya sambil hujan-hujanan. Awalnya saya pikir, ini si Adik tipe pembangkang yang menolak untuk bersopan-santun ria.
- Ketika pamit, Raga pun tidak say goodbye sama Adik. Tapi, pamitan sama Ragil.
- Pisang. Ini sebagai clue yang cukup lumayan membuat saya sedikit waspada tapi sempat merasa aneh nantinya. 


Kisah Tiga Anak Dan Rumah

Saya masih belum tahu, dimana letak perbedaan antara film yang diputar di festival dengan film yang diputar di bioskop. Katanya, ada beberapa yang dipotong dan juga beda, entahlah. Tapi, yang jelas, usai buka puasa bersama. Masing-masing mengalami peristiwa-peristiwa yang mana tidak ada yang terikat antara satu sama lain. Kemudian saya jadi paham, bahwa Ifa benar-benar realistis dalam mengemas film ini.

Sekilas saya sematkan sedikit mengapa saya katakan film ini realistis. Ketika kita sebagai anak sudah mencapai kehidupan dewasa, anggaplah Anda memiliki dua orang saudara kandung yang juga sudah dewasa. Tentunya dalam satu malam, di tempat berbeda, kita akan mengalami peristiwa yang berbeda juga. Usai bersenang-senang di rumah orangtua,, misalnya, si sulung bisa saja baru menerima telepon yang membuatnya sedih. Atau anak kedua yang bisa saja dia sedang selingkuh. Bisa jadi ketika anak bungsu tengah sampai di rumah, dia bertengkar dengan pasangannya. Masing-masing mendapat genre tersendiri dalam kehidupan mereka usai bertemu di rumah orangtua mereka. Ini pula yang juga digambarkan dalam film ini.

Baiklah, saya lanjut. Usai pamit, Raga dan Sukma yang tengah meluncur naik mobil di bawah hujan malam itu. Tengah membahas masalah kepercayaan Bapaknya Raga. Di saat itu, Raga menyeritakan pada Sukma bahwa Bapaknya Islam namun tetap menjalankan tradisi kejawen. Masih percaya dengan Papat Limo Pancer. Bagi yang penasaran, bisa langsung cek di mesin pencari, karena banyak sekali penjelasan mengenai hal ini.

Nah, di dalam mobil itu Raga menjelaskan bahwa pada waktu wetonnya ada pula kemungkinan para saudara kembar itu mewujudkan diri aka menampakkan diri. Adegan ini di selang-seling dengan perjalanan Adik pulang ke rumah yang mengendarai sepeda, hujan-hujan, malam hari. Ketika melewati jalanan sepi, dekat beberapa pohon pisang berdiri. Sambil ditemani suara Raga sebagai backsound sambil menjelaskan kalau para saudara kembar ini bisa menampakkan diri.

Adik tampak mengalami kejadian yang cukup menegangkan. Dia melihat laki-laki yang tampak menyanyikan lagu yang sama dengan yang Adik dendangkan saat pulang. Kemudian, tidak lama berselang, lelaki itu menyerang Adik dan ada adegan ‘perkosaan’. Dan film beralih kembali ke Raga yang tengah mencoba menguji kepercayaan dari Sukma. Dengan menutup mata sambil menyetir (jangan pernah mencontoh hal ini karena ini tindakan bodoh teramat bodoh).

Sekarang kita tinggalkan sebentar Adik dan Raga. Kali ini fokusnya ke Ragil yang tengah berada di atas genteng karena atapnya bocor. Kemudian ada beberapa bagian si Bapak minta handuk di dalam kamar mandi. Dan, film kembali menampilkan sosok Adik yang berjalan pulang melewati banjir di perumahan tempat mereka tinggal. Tapi, ternyata pintunya tidak bisa dibuka dan Adik harus masuk melewati jendela. Adik mencari Ibunya tapi tidak ada orang di rumah. Oiya, kondisi si Adik ini sedang menangis.

Sekarang saya akan menyeritakannya berdasarkan masing-masing anak di rumah mereka. Karena kondisi Raga sudah berada di rumah dan Adik juga sudah masuk rumah.


Raga


Sebelum masuk rumah tadi, Raga dan Sukma tengah indehoy di mobil. Dan, di dalam rumah ditampilkan kondisi Sukma yang tengah loncat-loncat, bukan...bukan karena dia berubah menjadi setan pocong, tapi karena dia tengah berusaha agar tidak hamil. Raga sendiri tampak enggan untuk menanggapi kekhawatiran Sukma.

Tidak lama berselang, datanglah mantannya Raga ke rumahnya. Meminta tolong padanya bahwa dia tengah disakiti suaminya. Kemudian terjadilah pertengkaran antara Raga dan Sukma karena kehadiran perempuan dari masa lalunya.


Ragil

Di rumah, usai mereparasi atap yang bocor. Ragil dan Bapak duduk bersama di depan dekat televisi. Tampak si Bapak ini lupa dengan nama pacarnya Raga, padahal baru bertemu hari itu. Namun, ingat dengan nama mantannya Raga yang bernama Ragil. Kemudian, perbincangan terus berlanjut dengan pertanyaan, kenapa Ragil masih belum juga punya pacar?

Kondisi Bapak ini ditonjolkan sebagai sosok Bapak yang sudah sepuh. Selain rambutnya yang memutih, kesan oldnya diwujudkan dengan selera musik dan juga kepikunan yang wajar takarannya. Contohnya tadi, ketika lupa nama pacarnya Raga. Terus, lupa kalau sedang masak air, akhirnya ceretnya gosong.

Sementara itu, Ragil sendiri memiliki rahasia yang tidak bisa dia katakan secara langsung. Mengingat, apa yang dirasakan olehnya saat itu merupakan bentuk perilaku penyimpangan di sosial masyarakat kita. Sehingga, rahasia-rahasia setiap anggota keluarga tampak disimpan sendiri dan kita sebagai penonton mendapat kesempatan khusus untuk bisa mengetahui rahasia kelam mereka.


Adik


Ini bagian paling favorit, mengingat nuansa horor pada bagian si Adik ini yang sangat teramat kental. Saya akui akting Ibu Jajang C. Noer memang tidak ada duanya, sebagai aktris senior, beliau sudah memberikan ketetangan yang membuat perut saya melilit akibat rasa takut.

Tenang, horor yang mencekam di sini tidak mewujudkan hantu atau setan. Tapi, dalam bentuk lain yang lebih mencekam.

Setelah si Adik sampai di rumah, kunci depan masih menggantung di pintu sehingga Adik tidak bisa membuka pintu dan harus masuk lewat jendela. Usai masuk, Adik langsung mandi. Di balik tirai kamar mandi, Adik terkejut karena kehadiran sosok Ibunya sendiri. Tidak lama keduanya terlibat dalam obrolan, sementara si Adik sendiri masih menangis.

Perbincangan keduanya tentang musim hujan, banjir dan cara merawat tubuh kemudian Ibunya berjanji akan memberitahu Adik cara merawat rambut. Tidak lama, pintu diketuk. Ketukan pertama, Adik menolak untuk menyapa tamunya dengan baik. Ketukan kedua ini yang membuat saya melongo. Sambil berkata dalam hati, “lah terus tadi siapa?”

Malam mencekam itu tak kunjung selesai dengan percakapan demi percakapan yang terjalin antara Adik dengan Ibu. Dari mulai keinginan si Ibu yang enggak mau melibatkan anak-anak dalam urusan perpisahan mereka. Sampai keinginan si Ibu untuk menyenangkan hati Adik. Dialog yang saya suka dari Ibu, “apa yang harus Mama lakukan agar Adik percaya, kalau ini Mama yang melahirkan Adik?”

Sambil membawa pisau cutter Adik terus menjaga jarak dengan Mamanya. Apalagi usai disajikan Kopi. Kemudian tidak lama diberikan hadiah pohon pisang. Sampai, diajak untuk solat tarawih. Semua rasa penasaran semakin menjadi usai Adik menerima telpon. Favorit dialog saya dari Adik, “Mama selesain aja apa yang mama mau kerjain. Nanti baru kita bicarakan.”


Nah, sekarang pertanyaannya adalah...


- Itu si Adik beneran diperkosa oleh manusia atau dedemit? Soalnya sempat menampilkan sepintas wajah seperti hantu. Tapi, sempat ditampilkan juga wajah aslinya.

- Antara jeda pertemuan Adik dengan Ibu dan telpon, yang mana yang Ibu asli? Sementara buat saya, yang menelpon pun bukan Ibu yang asli.

- Saya masih berpikir, apakah Raga bekerjasama dengan Sari demi menyingkirkan Sukma? Atau justru Sari ingin melindungi Raga dari Sukma atas dasar inisiatifnya sendiri?

- Apa maksud dari Bapak yang menyesal memberi nama Ragil? Memang, tampak aneh, sementara Ragil itu kan berarti anak terakhir. Sementara ada lagi anak perempuan yang dipanggil Adik.



***


Pada akhirnya, film ditutup dengan pertemuan kembali saat sahur di Meja Makan. Formasi Bapak, Raga, Ragil dan Adik, tetap minus kehadiran si Ibu. Namun, wajah mereka masih menampakkan kondisi seolah tidak terjadi apa-apa dalam kehidupan mereka. Begitulah, sama halnya dengan beberapa kondisi keluarga, dimana masing-masing menyimpan kisah kehidupan mereka sendiri.

Jadi, buat saya pribadi, film yang tayang di bioskop-bioskop bulan Februari tahun 2018 ini, lebih cocok berjudul Rumah dan Musim Hujan, karena saya bisa langsung paham ketimbang judul Hoaks.

Akhir kata, ini kutipan terakhir yang tampak menjadi tradisi di beberapa keluarga di Indonesia.


“Pintu depan kuncinya sudah dilepas?” ~


[Ipeh Alena]



No comments:

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup, Spam dan anonymous akan dihapus ya :)


Terima kasih

Powered by Blogger.