Ketika Tuntutan Instagram Membuatmu Stress Dan Depresi

Ketika Tuntutan Instagram Membuatmu Stress Dan Depresi



Instagram




Kamu pengguna Instagram? Pernahkah mengalami pertanyaan yang terbesit sekilas saat melihat foto yang mampir di lini masa, "kok foto dia bisa dapet like yang banyak, ya?". Pernah jugakah mengalami atau sedang mengalami kegundahan, akan menutup akun Instagram atau lanjut terus?

Saya tidak sedang ingin membandingkan antara Instagram dan Twitter. Mengingat warganet pengguna Twitter dan Instagram sering menyindir satu sama lain. Karena, kalau saya bahas pun tidak ada habisnya. Jadi, yang ingin saya bahas adalah mengenai 'tekanan-tekanan' tertentu yang sering dirasakan mereka pengguna Instagram.

Bagi seorang blogger yang juga merangkap sebagai influencer. Mendapatkan engagement dari satu unggahan di Instagram tentunya sangat berarti. Karena, berkaitan juga dengan penilaian agensi yang suatu saat akan mengadakan kerjasama dengan akun yang dikelola. Tuntutan agar foto bagus, dapat respon yang lumayan sampai jumlah 'like' yang banyak, tentu tidak mudah bagi sebagian orang. Apalagi kalau kemampuan fotografi masih standar dan belum bisa maksimal seperti para selebgram lain.

Tuntutan seperti ini pun pernah dialami oleh beberapa akun bookstagram mancanegara yang sudah mendapat label selebgram. Mengenai alogaritma Instagram yang kerap membuat mereka berjibaku untuk mendapat komen dan like yang banyak demi nilai engagement yang besar. Dan hal ini, pada akhirnya menjadi sangat meresahkan. Beberapa bahkan ada yang menghapus akun Instagram miliknya yang jumlahnya sudah ratus ribuan, kemudian membuat akun baru lainnya yang sampai saat ini masih ribuan nilainya. Gadis asal Australia yang terjun ke bookstagram community sejak tahun 2016 ini, mengakui dirinya cukup stress akibat dampak alogaritma Instagram dan ambisinya (silakan cek akunnya @flippingthroughpages). Dia hanya salah satu contoh dari ribuan orang yang memutuskan menutup akun lamanya dan membuat akun baru.

Disadari atau tidak, terkadang ini kerap mengganggu beberapa pengguna. Bagi saya kekhawatiran mereka sebenarnya cukup beralasan, mereka ingin memberikan sesuatu secara totalitas. Tapi, lupa bagaimana caranya bahagia. Kapan waktunya berhenti. Dan kapan untuk melanjutkan hidup. Apalagi, sekarang Instagram benar-benar memfokuskan diri untuk menjadikan kanal mereka ini lebih interaktif dan komunikatif antar sesama pengguna Instagram.


Jadi, bagaimana caranya tetap bertahan dan totalitas menggunakan Instagram?



1. Instagram Hanya Aplikasi


Serius deh, Instagram itu kan hanya aplikasi yang kalau kita enggak buka sehari atau dua hari, dia akan tetap sama. Ketinggalan satu atau dua Giveaway/berita tidak akan membuat kita kejang-kejang, kan? Jadi, cobalah untuk meletakkan sejenak gawaimu, perhatikan sekitarmu. Dengarkanlah apa yang tubuh dan jiwamu butuhkan saat ini.



2. Tidak Mendapat Like Dan Komen Tak Mengapa


Begini, saya paham, karena saya juga pernah beberapa kali diminta bekerjasama dengan agensi dan penerbit. Tentunya, hasil engagement itu sangat berpengaruh terhadap performa kinerja kita. Tapi, jangan sampai ketika jumlah Like dan Komentar pada postingan kita, seketika membuat kita langsung emosi atau bahkan merasa stress. Teruslah tinggalkan komentar dan like di akun-akun yang Anda sukai. Teruslah menjalin komunikasi dengan akun-akun tersebut. Toh, nantinya mereka akan mampir ke postingan kita.

Kalau saya, lebih memilih fokus meninggalkan komentar ke akun-akun yang memang sudah saya tandai akan terus berkomunikasi lebih lanjut. Beberapa akun tersebut memang menyajikan entah itu foto atau ulasan yang menarik. Jadi, tidak ada salahnya membangun penilaian yang baik terhadap diri kita sendiri. Nothing to lose, tidak ada ruginya ketika kita tidak meninggalkan komentar dan like serta tidak mendapat komentar dan like secara langsung.


3. Komunikasi Dan Berdiskusi Dengan Follower


Konon, alogaritma Instagram saat ini menekankan komunikasi dua arah antara follower dengan akun yang di following. Artinya, postingan Instagram yang tidak setiap hari itu tidak mengapa. Asal, komunikasi dengan follower yang kita punya tetap berjalan. Instagram ingin menciptakan kondisi dan situasi dimana para penggunanya benar-benar bisa bersosialisasi antar pengguna. Bukan sekadar mencari jumlah ini dan itu. Jadi, kunjungi akun-akun yang sering loyal memberikan like di akun kita. Berikan lagi like yang banyak di akun mereka. Dan tinggalkan komentar meski mereka belum sempat meninggalkan komentar di akun kita.


4. Yang Dibutuhkan Bukan Kesempurnaan


Karena yang paling penting adalah Passion. Bagaimana kita menampilkan sesuatu yang sesuai dengan hal yang kita sukai, gemari dan ingin terus kita gali. Dengan menjadikan Instagram bukan sekadar tempat mencari uang dan ketenaran, tapi juga tempat menyimpan portfolio. Dengan menampilkan apa saja yang kita sukai dan kita gemari, bisa menjadikan Passion kita tampak sempurna. Terkadang kesempurnaan yang kita miliki tak kita sadari, namun orang lain yang menyadarinya. Jadi, yuk optimalkan Passion yang kita geluti saat ini.


5. Follow Dan Unfollow Sebuah Kisah Tak Berujung


Jadi, setiap kali saya memerhatikan, pembahasan mengenai akun-akun yang tak kunjung follow-back atau setelah follow kemudian langsung unfollow ini sering perdebatkan.

Sebenarnya, jika situasinya adalah saat mengikuti satu event Follow for Follow, tentunya jika tidak follow-back berarti akun tersebut sudah melanggar peraturan. Kalau di event FFF online shop, akun-akun yang tidak kunjung follow-back dan akun yang meng-unfollow usai event selesai, akan segera di block secara massal. Sayangnya, peraturan ini masih belum berlaku di beberapa event non online shop yang pernah saya perhatikan. Dan, ketika si pemilik akun yang merasa dirugikan dengan kasus unfollow atau tidak follow-back, bagi saya wajar. Toh, karena memang sudah semestinya komitmen dengan peraturan saat mengikuti satu event. Solusinya, silakan di-block saja, toh tidak akan merugi juga, kan?

Tapi. Kalau kondisinya ini di luar dari event. Dan si pemula dalam dunia Instagram ini sudah menyindir karena tidak di-follow-back, lebih baik diabaikan saja. Kecuali, memang akun ini memiliki manfaat dan informasi yang cukup untuk diri kita sendiri, silakan di follow. Karena, kebanyakan memang orang-orang yang meminta kita mem-follow akun mereka, itu hanya untuk kepuasan diri mereka sendiri. Kalau tidak kenal, sebaiknya diabaikan. Kalau kenal, kemudian langsung diunfollow usai di follow-back, lebih baik di abaikan saja atau di block jika sudah sangat mengganggu.

Duh, dari tadi saya bilang block-block terus, ya. Kenapa? Begini, kalau merasa tidak sanggup untuk menjaga hati dan jempol untuk tidak menyindir akun-akun yang gemar unfollow dan tidak follow-back, lebih baik di block dan diabaikan. Jadi, tidak mengganggu pikiran dan hati. Bukankah lebih baik berkata baik atau diam? Kalau diam saja sudah tidak tahan, lebih baik dihindari hal-hal tersebut. Ini menurut pendapat saya yang malas membahas hal-hal seperti ini :D.



***



Dengan menggunakan Instagram dan mengenal dengan baik visi dan misi kanal ini, tentunya bisa memberikan kemudahan untuk kita dalam berkarya. Jangan mengkhawatirkan banyak hal, apalagi sampai membuat stress. Lebih baik, jadikan kegiatan memotret dan mengunggahnya di Instagram menjadi hal yang menyenangkan tanpa beban. Lantas...kalau ingin optimasi bagi pemula, bagaimana?




  • Kalau foto-foto saya masih belum bagus, bagaimana? 


Belajar fotografi. Dari yang paling dasar dulu. Bergabung ke komunitas-komunitas di Instagram seperti komunitas @Belajar_motret.id yang sering membagikan ilmu-ilmu terkait fotografi. Ikutan juga setiap mereka membagikan tema untuk praktek. Dengan sering mengikuti challenge-challenge fotografi, insya allah keahlian dan kemampuan kita bisa bertambah. Tapi, jangan lupa belajar dan praktek, ya. Belajar saja tanpa praktek itu percuma, apalagi praktek tanpa belajar :).




  • Kalau enggak punya kamera, bagaimana bisa berlatih fotografi?


Sebentar, kalau enggak punya kamera digital apalagi kamera DSLR. Kamu punya kamera handphone, kan? Jangan bilang kalau handphone-mu tidak ada kameranya, karena sangat jarang sekali orang-orang saat ini tidak menggunakan handphone yang tanpa kamera. Ingat, jarang! Bukan tidak ada. Nah, kalau sudah punya handphone, kenapa tidak memaksimalkan penggunaan handphonenya?

Banyak loh, teman-teman di komunitas fotografi yang menggunakan handphone untuk memotret. Salah satunya komunitas Macro Fotografi. Banyak dari mereka yang menggunakan handphone untuk memotret. Jadi, jangan banyak alasan.




  • Gimana caranya foto pakai handphone yang bagus?


Sama seperti penjelasan di poin nomor satu. Belajar fotografi. Tapi, tidak hanya itu, kamu juga harus mengenal handphonemu.

Begini, saya pernah punya pengalaman, teman saya ini pengguna handphone Xiaomi. Dimana saat bertemu dengan saya, dia baru tahu kalau di layar handphone Xiaomi ini bisa menempatkan fokus sesuai dengan keinginan. Dari sinilah saya sadar, kalau banyak orang-orang yang belum mengenal handphonenya dengan baik. Jadi, cari tahu deh, di Youtube atau di blog-blog yang bertebaran di Google mengenai cara memotret dan pengaturan apa saja yang belum dimaksimalkan dari handphone yang kita miliki.



***

Terakhir, bagi pengguna Instagram yang hendak memutuskan menghapus akunnya. Saran saya, coba luangkan waktu untuk hiatus. Ada salah satu bookstagram yang memutuskan hiatus dari dunia Instagram, kemudian tidak lama justru bertemu jodoh dan menikah. Siapa tahu, dengan meletakkan Instagram dan kembali ke dunia nyata, berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar kita dengan baik. Bisa mengembalikan apa yang kita lupakan tentang hidup.

Sesuai dengan konsep Logostherapy yang ditemukan oleh Victor L. Frankl, bahwa Manusia membutuhkan Makna Dalam Hidup mereka untuk bertahan. Dan kesenangan serta kesedihan itu hanyalah efek dari pencapaian makna hidup. Jadi, teruslah lanjutkan hidup hari demi hari, dan carilah makna hidup itu, ada dimana dan bagaimana mewujudkannya. [Ipeh Alena]

2 comments:

  1. aku lagi belajar motret mba :) susah2 gampang emang perlu kenali medianya yah kyk hp dan skrg aku sdg geluti kamera mirrorless pgn bisa motret dg baik hehehe

    ReplyDelete
  2. ada yg follow dan unfollow sampai 3 kali. Dari yg aku gak ngeh sampai akhirnya terganggu... Maksudnya ini orang apa sih? Akhirnya ya aku block drpd bikin esmosi jiwa

    ReplyDelete

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup, Spam dan anonymous akan dihapus ya :)


Terima kasih

Powered by Blogger.