Suzuki Minded Merapat Ke Sini Kalau Sering Menggunakan Produk Dari Brand Yang Sama

Suzuki Minded Merapat Ke Sini Kalau Sering Menggunakan Produk Dari Brand Yang Sama



Suzuki Motor



Ada yang suka berkendara dengan menggunakan sepeda motor? Saya salah satunya. Mengingat kehidupan saya dengan motor lebih lama ketimbang dengan mobil (baik pribadi maupun angkutan umum).

Dulu, saya memilih naik motor karena orangtua saya belum punya mobil. Sehingga, untuk bepergian kemana pun harus menggunakan motor. Bahkan tidak jarang juga sih, kami menggunakan transportasi umum, mengingat saya dan adik saya mulai bertumbuh besar sehingga tidak memungkinkan lagi naik motor berempat.

Sejak saat itu, ketika saya sudah mulai bisa mengendarai motor. Muncul kenikmatan tersendiri saat mengendarai motor. Dari mulai pengalaman saat berkendara, pengalaman kala menanti di lampu merah sampai pengalaman memarkirkan motor di tempat parkiran umum. Semua itu menjadi kenangan yang cukup sering membuat saya tersenyum dan tertawa saat mengingatnya.

Misalnya, sekitar tahun 2007, saat pertama kali saya mengunjungi ITC Kuningan. Saya mendapati betapa parkiran motor di tempat ini sungguh menyesakkan, tapi rapi. Setiap ke tempat ini, saya selalu bingung dimana saya harus memarkirkan kendaraan saya. Sampai suatu ketika, saya melihat bagaimana penunggu parkiran di situ, pada saat itu, tengah menyusun motor hingga tidak ada celah yang tersisa antara satu motor dengan motor lainnya.

Kita pasti sering melihat kondisi motor di parkiran yang masih menyisakan ruang kosong meski sedikit. Tapi, ternyata kalau setiap ruang kosong pada setiap motor yang berjejer ini dipersempit, dapat menghasilkan satu ruang kosong untuk motor lainnya! Sungguh, ini pelajaran berharga yang di kemudian hari hingga saat ini sangat terpakai keahlian ini dimana pun saya berada, hehee. Serius! Kalau sudah pergi ke Mall atau ke pasar, kemudian tampak masih ada ruang kosong di beberapa motor yang diparkir, seketika saja saya geser-geser hingga bisa membuat motor saya masuk. Sementara banyak orang yang berputar-putar mencari parkiran, saya sudah mendapat parkiran dengan tenang.

Sayangnya, keahlian ini tidak memiliki sertifikat. Kalau ada sertifikatnya, mungkin akan banyak penghuni ITC Kuningan dan pengunjung yang pintar memarkirkan kendaraan mereka di sana. Hehehe. Kalau untuk sekarang atau beberapa tahun setelah tahun 2015, saya sudah tidak tahu lagi bagaimana kondisi di sana. Jadi, cerita ini benar-benar pengalaman lawas saya.

Berbicara masalah kendaraan motor atau apa saja lah. Mau itu handphone, laptop atau barang apapun yang bermerk. Ada sebagian orang yang tipikal Brand Minded, di sini saya merujuk pada beberapa orang yang kalau sudah membeli sesuatu pasti merk tertentu yang dibelinya. Nah, ini ada kisah yang ingin saya ceritakan juga, terutama karena saya termasuk Suzuki Minded.



1. Suzuki Thunder 125 cc


Pertama kali mengendarai motor gede ini sekitar tahun 2007. Tenang, motor ini bukan saya yang mengendarai, saya hanya membonceng. Tapi, dulu motor ini dibeli saat pertama kali muncul di PRJ beberapa tahun sebelumnya. Karena motor ini menggunakan kopling, otomatis sulit bagi saya untuk mengendarainya. Soalnya saat itu saya cuma bisa mengendarai motor bergigi saja. Kalau saya bisa mengendarai motor kopling, mungkin sudah saya pakai touring ke sana kemari.

Saat itu sayangnya saya masih belum terlalu sadar bagaimana desain dan mesin dari si Thunder ini cukup bandel. Saya baru sadar saat kilas balik ketika menjadi boncenger ke Waduk Jatiluhur pulang-pergi menggunakan motor Thunder ini. Pengalaman ini membuat saya merasakan senang yang bukan main, tentunya karena waktu itu Jatiluhur merupakan tempat terjauh yang saya capai dengan menggunakan motor. Tentunya, motor Thunder ini cukup irit karena hanya mengisi tangkinya satu kali saat berangkat hingga pulang. Selain itu, mesinnya bandel banget, karena selama perjalanan, meski dikebut, tidak membuat mesinnya overheating.

Hanya ada satu masalah waktu itu, karena motor Thunder ini dimodif total alhasil sering mengalami busi kebakar kemudian berimbas dorong motor. Ketika dicek lebih lanjut, ini karena busi motornya pun diganti. Padahal, jika menggunakan busi standar hasilnya tidak pernah meledak businya. Gara-gara busi meledak inilah saya harus jalan saat hendak berangkat ke Ancol acara Gathering dari kantor. Syedih akutu jadinya.



2. Skywave 125cc Matic


Saat pertama kali membeli motor Suzuki Skywave ini, waktu itu awal kemunculan motor matic, sedang heboh-hebohnya. Setiap brand motor mulai bersaing memunculkan motor matic dengan desain dan kelebihan begini dan begitu. Namun, hati saya tertambat ke motor ini karena..... BAGASINYA GEDA CUY. Serius deh, ini sudah dicoba saat belanja bulanan. Setiap belanja bulanan saya sering memasukkan belanjaan saya ke dalam kotak bagasi di bawah joknya. Itu muat banget!!

Meskipun body-nya cukup berat kalau dibawa, tapi mesinnya Skywave ini juga cukup bandel. Asal setiap beberapa bulan sekali selalu dicek ke bengkel resmi. Kalau tidak, tentunya akan cepat rusak. Asiknya motor ini, joknya juga cukup luas. Mengingat beberapa tahun kemudian tubuh saya menggelembung tak tentu arah, ahahahaha, dan saat mengendarai motor ini membonceng siapa saja, tetap membuat saya dan penumpang di belakang saya, kedapatan tempat duduk :D.

Pengalaman saya menggunakan motor ini yang paling sulit itu kalau ingin jagrakin motor. Tahu kan maksudnya? Ini tuh cukup susah karena berat banget Skywave ini. Tapi, meski motor Address yang muncul sebagai saingannya Skywave, saya tetap tidak merasa puas dengan bentuk dan semua yang dijadikan kelebihannya. Saya tetap cinta mati sama motor Skywave ini.

Karena sudah sering mengendarai motor ini, saya tuh jadi hapal dengan suara motor Skywave lainnya. Kadang sering merasa syedih kalau melihat motor Skywave lewat tapi kondisinya tidak terurus. Huhuhuhuh, untung motornya enggak kaya di film Cars yang bisa ngomong. Kalau bisa ngomong, sedih banget pasti kalau curhat di bengkel #apabanget.



3. Suzuki Nex


Beli motor ini karena kondisi yang cukup terdesak. Karena, motor Skywave yang ada di rumah waktu itu dipakai oleh mendiang Papah rahimahullah, sementara motor Thunder sudah berpindah tangan ke orang lain. Jadilah saya harus membeli motor baru untuk wara-wiri beraktivitas sehari-hari. Sama seperti kedua motor sebelumnya, motor Nex yang dibeli ini pun belum ada iklannya. Serius, seringnya begitu, beli motor sebelum ada iklan di televisi ataupun media cetak.

Bahkan, tertarik motor ini saat baru banget turun di bengkel Suzuki Galaksi, Bekasi. Di situ perbincangan yang paling saya ingat adalah saat montirnya mengatakan kalau motor ini tuh iritnya bukan main. Kemudian body-nya cukup ringan dan enak dipakai saat bepergian dalam kota. Kalau luar kota? Motor ini memang jagonya dalam segi pengiritan.  Tapi, jangan harap kalau dipakai untuk racing.

Motor Nex yang saya beli ini warnanya hijau batik, kelemahan yang dimilikinya adalah tidak bisa dipakai untuk ngebut dan juga untuk tanjakan membutuhkan energi yang ekstra. Tidak jarang saya harus bersiap-siap ngegas sebelum naik tanjakan yang cukup tinggi. Bahkan untuk menyalip kendaraan pun harus saya mainkan gasnya, kalau tidak, bisa tidak mengejar mobil atau motor yang mau saya salip.

Ini perbedaan dengan Skywave, yang meskipun tampaknya lemot atau lola saat di jalan. Tapi, ketika harus naik tanjakan atau nyalip kendaraan, tenaganya bisa maksimal. Memang gasnya ini tidak spontan, tapi konstan pada awalnya dan baru akan maksimal setelah diberi sedikit dorongan tambahan aka ngegas sedikit lagi. Sayangnya, saat dipakai untuk racing motor Skywave ini cukup cepat overheating.

Selain ringan dan irit, motor Nex ini juga cukup bandel, loh. Saya sendiri jarang sekali mendapat permasalahan timing bell si motor ini rusak. Yang sering rusak dan minta diganti itu si Skywave. Sementara si Nex ini justru awet dan kuat. Mampu menahan beban yang beratnya sangat membuat sakit hati, ahahahaha, karena sering saya membonceng Mamah atau Ibu dengan membawa belanjaan yang cukup banyak.

Sayangnya, motor Nex ini bagasi penyimpanannya cukup kecil. Hanya muat untuk satu jas hujan yang tipis. Jadi, untuk penyimpanannya cukup digantung. Tapi, kalau untuk membawa dua galon air, tentunya bisa banget. Cukup berbekal karet atau tali untuk mengikat galonnya. Karena tempat pijakan kakinya tidak ada bagian lengkungan seperti milik Skywave.



4. Nex II Injection


Jadi, ceritanya, saat baru saja memasukkan Skywave ini ke bengkel untuk rawat inap akibat overheating. Saat harus ngebut dari Cibinong ke Bekasi karena ada urusan yang mendadak dan waktunya mepet. Alhasil, motor Skywave yang sudah cukup tua ini, harus menghabiskan waktunya di bengkel selama empat hari. Nah, di bengkel ini lagi saya melihat ada Nex II yang warnanya cukup menarik : DOVE BIRU.

Serius deh, saya jatuh hati banget sama motor Nex II tapi melihat warnanya membuat saya tertarik. Meski kalau dibandingkan dengan Nex generasi pertama, motor Nex II ini cukup berbobot, tidak seringan Nex generasi pertama. Tapi, kalau masalah irit sih tetap sama. Kemudian untuk ukuran body-nya lebih besar sedikit dan joknya juga lebih besar dibanding yang sebelumnya.

Kalau memilih Nex II bukan yang standar punya, ada fitur tambahan yaitu terdapat colokan untuk charger handphone. Namun, saya memilih yang Standar Elegan. Ada yang Standar saja, yang warnanya merah. Tapi, untuk Dove Biru atau Dove Hitam ini termasuk yang Standar Elegan. Untuk harga antara Standar biasa dengan Standar Elegan ini sama, tidak ada bedanya. Tapi, beda dengan tipe lainnya cukup lumayan.

Sayangnya, saya masih belum mencoba mengendarai motor ini. Karena baru saja datang dan belum siap pakai mengingat plat nomornya belum siap. Tapi, saya sudah memiliki rencana ingin membawa motor ini kemana, tentunya blusukan ke gang-gang sempit di Bekasi yang sering membawa saya ke tempat lain di daerah lain yang membuat saya geleng-geleng karena saking banyaknya jalan alternatif di Bekasi, hehehe.

Yang pasti, saya enggak menyesal sering memilih kendaraan motor dari merk yang sama. Bahkan untuk mobil pun saya sedang mengincar New Ertiga meski desain Ignis lebih menarik, tapi saya butuh yang bisa memuat banyak. Maklum, adik saya saja ada tiga, belum keponakan dan bapak serta Ibu saya. Sudahlah, mendingan mobil yang bisa membawa banyak orang, meski tetap tidak semua anggota keluarga saya bisa masuk dalam satu mobil, yakalik sempit kaya ikan pepes nanti :D.

Untuk masalah kendala selama menjadi pengguna Suzuki, cuma satu sih, lokasi bengkel resminya. Setelah sebelumnya sempat mengalami kemunduran penjualan, sehingga menyebabkan banyak bengkel resminya yang tutup. Alhasil di Bekasi, saya lebih memilih bengkel resmi Suzuki di kawasan perumahan Galaksi Bekasi. Selain karena sudah kenal dengan montirnya, juga karena waktu bukanya lebih teratur.

Tapi, ada informasi baru, nih. Kemunculan Satria Fi, cukup membuat penjualan Suzuki ini meningkat tajam. Cukup laris bahkan. Meski sebentar lagi akan hadir juga motor gede yaitu Suzuki Bandit yang saat ini sedang dibawa touring ke Lombok, kalau enggak salah, untuk diuji coba. Untuk bentuknya si Bandit ini hampir mirip dengna Thunder. Kemudian, saya jadi napak tilas, hehehe.

Tulisan ini murni pengalaman saya sebagai pengguna motor Suzuki. Bukan tulisan berbayar, tapi kepengen juga sih kalau dibayar pakai Suzuki Bandit gitu, halah.....



Kalau Anda bagaimana? Ada enggak produk atau barang yang Anda beli tapi selalu dari brand yang sama? Silakan berbagi di kolom komentar, siapa tahu ada persamaan juga dengan saya.

1 comment:

  1. wah nex II injection terbaru ya, semoga suzuki banyak mengeluarkan produk yang oke punya, salam kenal ya . kunjungi balik blogku ya

    ReplyDelete

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup, Spam dan anonymous akan dihapus ya :)


Terima kasih

Powered by Blogger.