Ini Pengalaman Saya Bergonta-ganti Platform Menulis Di Blog

Ini Pengalaman Saya Bergonta-ganti Platform Menulis Di Blog


menulis


Jadi, kapan pertama kali Anda memutuskan untuk mulai menulis di blog? Saat ini saya sedang ingin menulis sesuatu yang ringan setelah menyadari 10 hari telah berlalu tanpa ada tulisan terbaru, ahaahaha. Sungguh kuterlalu. Pertanyaan ini memang ditujukan buat Anda atau siapapun yang mampir ke blog ini, baik yang pernah punya blog maupun sedang dalam masa hiatus dalam dunia tulis menulis. Bisa juga mengingat kembali akan kenangan lama itu, ehe ehe.


Menulis Di Buku Harian



Saya bersyukur sebenarnya. Mengenal buku harian justru dari cerita di Majalah Bobo. Kisah tentang seorang anak yang ingin menjadi wartawan. Kemudian dia diberi buku harian sama tantenya yang notabennya seorang wartawan profesional. Sehari-hari dia menulis semua pengalamannya di sekolah dalam buku harian. Suatu hari, dia bermain ke rumah temannya yang ternyata tinggal di lorong stasiun. Dimana pencahayaan dan tempat tinggalnya minim sekali.

Bahkan, jangan harap bisa merasakan suasana yang sunyi dan sepi saat belajar. Tentunya karena suara kereta api kerap terdengar berlalu-lalang. Cerita ini membuat saya kemudian bersemangat untuk ikut juga menulis di buku harian. Padahal, isi pertama buku harian saya itu berisi puisi berjudul payung. Yang kalau diingat-ingat, bocah banget isinya. Ahahahaha.

Kelebihan saya senang menulis di buku harian adalah saya bisa menyeritakan SEMUA cerita rahasia teman-teman saya. Dari rahasia tergelap sampai rahasia memalukan. Saya juga sering menulis kegundahan saya akan masa depan. Dan bayangan saya bahwa tahun 2000 nanti mobil bisa terbang. Duh, peh kecil, nyatanya yang ada mobil bentuk drone yang terbang, ehehehehe.

Saya masih tetap menulis di buku harian, sampai saat ini. Sebagai upaya saya agat jemari saya tidak kelu jika digunakan untuk menulis. Biar terus latihan menulis. Meski terkadang isinya hanya berbentuk mind mapping karena sudah terlalu full sepertinya otak saya. Hehehe.






menulis



Menulis di Friendster



Kalau diingat-ingat, pertama kali menulis panjang itu di Friendster. Saya lupa waktu itu nama fiturnya apa, intinya saya mengisi di fitur tersebut segala macam puisi yang tengah melintas dalam kepala saya. Begini, saya yang dahulu itu, sukar sekali mengungkapkan apa yang tengah saya katakan atau pikirkan dalam bentuk kata demi kata yang runut. Duh, sesungguhnya ini masih hal yang sedikit sulit sampai sekarang, tapi kini sudah sedikit membaik. Jadi, saya memilih media puisi sebagai bentuk penyampaian yang terkadang bisa dicerna dengan cepat tapi juga seringnya tidak bisa dicerna.

Siapa yang pernah juga nulis di Friendster? Jangan takut dibilang generasi tua. Serius deh, saya bangga meski saya mengenal FS ini justru ketika saya duduk di bangku kelas 3 SMA, bulan-bulan terakhir hampir ujian. Dimana saat itu teman-teman saya yang lainnya sudah memiliki 3 atau 4 akun yang keseluruhannya bertuliskan : Full atau Penuh. Enggak tahu lagi bagaimana cara menuhinnya, ahahahaha.


Menulis di Blogspot



Nah, sebenarnya saya mengenal Blogspot terlebih dahulu dari platform lain. Cuma, sayangnya, saya itu tidak begitu antusias karena tampilannya itu menurut saya aneh. Meski, ya, karena waktu itu menulis di Blogspot sedang ramai dengan topik meraup dollar dari blogspot. Akhirnya saya ikutan. Diisi dengan tulisan pasang-tempel berisi trailer film-film yang sedang booming.

Tidak lupa mendaftarkan adsense untuk pertama kalinya. Entah sekitar tahun berapa, saya lupa. Yang jelas, dulu itu tidak sesulit sekarang untuk mendaftar adsense. Beruntungnya, ketika akun baru saya yang saya ajukan ditolak. Saya tinggal memanfaatkan akun lama, biar enggak mubazir juga. Yang pasti waktu itu menulis di blogspot bukan sesuatu yang menyenangkan. Mungkin karena komunitasnya waktu itu masih jarang, kali ya.


Menulis di Multiply



Nah, di sini nih saya mulai senang-senangnya menulis. Dari nulis cerita horor, puisi sampai perasaan saya setiap mendengarkan sebuah lagu. Semua isinya ya, tetek bengek, lah. Di blog ini juga saya belajar menulis ulasan buku. Kalau tidak salah, dulu saya belajar menulis ulasan buku karya Asma Nadia. Meski tidak memenangkan perlombaan, waktu itu, tapi saya senang karena eh karena, saya bisa berkenalan dengan mbw Ifa Avianty.

Beliau penulis buku yang namanya sering nyempil di deretan penulis kumpulan cerita terbitan FLP. Buku-buku terbitan FLP milik saya sudah nangkring di perpustakaan teman saya, semoga saja dijaga dengan baik.

Selain bisa berkenalan dengan mba Ifa. Saya juga senang karena ada grup yang tersedia untuk bisa saling berkunjung satu sama lain di dunia maya ini. Meski saya memang tidak begitu tertarik untuk pertemuan offline para pemilik blog di Multiply. Tapi saya senang, karena dulu saya bisa berkenalan dengan para pedagang online yang menjual vcd original Berty Tilarso. Ahahaha, ini epik banget soalnya buat saya pengalamannya.

Yang pasti, saat itu saya mengisi blog saya dengan sesuatu yang buat senang-senang saja.


Menulis Di Tumblr


Nah, dulu saya masih beruntung berarti, ya. Semenjak Tumblr jalurnya diblock banyak yang akhirnya terhenti kegiatan ngeblog-nya. Dulu, saya memulai ngeblog di sini setelah menghentikan kegiatan menulis diberagam tempat. Apalagi semenjak saya mulai menghentikan menulis di Multiply, tidak lama berselang tutup pula platform ini. Kemudian, saya beralih ke Tumblr karena alasan interfacenya ringan.

Siapa sangka kalau menulis di Tumblr justru lebih membutuhkan usaha besar ketimbang nulis di Blogspot dan Wordpress. Ada yang bilang, menulis di Tumblr itu enggak ada tantangannya. Itu karena belum merasakan menulis sambil menyematkan gambar secara manual. Bukan hanya secara manual saja saya harus menngunggah gambar di tempat lain agar bisa muncul di Tumblr. Tapi juga menulis sambil menuliskan pula kode html dalam drafnya.

Biar apa? Biar rapi. Dari mulai kode <p> untuk menentukan paragraf. Kemudian agar spasinya lebih rata, menggunakan kode juga berupan<br> sampai penyematan tautan dan gambar pun pakai kode yang diketik sendiri. Kesulitan lainnya apa lagi?

Menggunakan Tumblr, sulit untuk bisa langsung dideteksi melalui mesin pencari. Saya sudah mengubek-ubek cara agar terindeks langsung di google. Ternyata, memang tidak banyak yang bisa langsung terdeteksi. Beruntungnya, sebelum Tumblr diblokir, saya sudah memindahkan tulisan-tulisan ke blog baru.

Kembali Ke Habitat Asli



Aha, iya serius ini. Saya kembali menggunakan Blogspot karena merasa lebih nyaman. Setelah bergonta-ganti platform, meski pernah mencoba Wix tapi saya tidak terlalu lama dan tidak terlalu aktif menggunakannya, akhirnya saya kembali menjadi pengguna Blogspot.

Kelebihannya tentu saya tidak perlu berpikir masalah biaya hosting untui file blog saya. Kemudian saya tinggal menggunakan saja, meski beberapa hal masih dituntut untuk menggunakan kode yang disematkan sendiri.  Akunnya terhubung dengan semua aplikasi yang menggunakan nama yang sama. Meski tetap memang ada kekurangan dan kelebihan di banding Wordpress.

Saya pernah menggunakan Wodpress. Tapi kemudian saya pindahkan lagi ke blogspot. Karena sudah merasa nyama  di sini. Kalau tidak ada hambatan, mungkin saya tidak akan berpindah ke lain hati. Cukup diseriusi saja agar tidak kelamaan hiatus-nya.

Walau bagaimana pun, saya semakin sadar. Mau dimana pun tempatnya. Saya memang senang menulis. Mau itu menulis di caption Instagram atau dimana saja. Tetap menarik buat saya.


menulis


Kesimpulan


Buat saya, dimana pun tempat atau wadah Anda untuk menulis. Sebenarnya tidak menjadi masalah. Masalahnya adalah seberapa besarkah manfaat yang kita sebar dari tulisan tersebut? Bagi Anda yang masih bingung dalam menentukan ingin menulis dimana. Banyak yang merasa nyaman dengan platform Wordpress. Karena editor WP di handphone tetap menyediakan banyak fitur yang hampir sama dengan versi websitenya. Sementara untuk blogspot, masih sangat terbatas.

Saya sendiri lebih sering menggunakan editor blogspot di browser. Karena memang masih terbatas fungsi fiturnya kalau menggunakan aplikasi di handphone. Jadi, saya serahkan pada Anda, yang penting menulislah untuk kebermanfaatan bukan untuk menyebarkan berita bohong dan kebodohan.





Kalau Anda, ada platform menulis lainnya yang membuat Anda betah? Silakan berbagi di kolom komentar.

3 comments:

  1. Kalau saya dari awal belajar blogging itu pake wordpress. Jadi lebih terbiasa di wordpress daripada di blogspot. :D

    ReplyDelete
  2. nggak pernah frenster-an, multiply ama tumblr itu cuma kebutuhan lomba saat itu, blog pertama di wordpress dan sampe sekarang masih jatuh hati ama wp. Sekarang masih suka bawa notebook kemana-mana (buku catetan maksudnya bukan sodaranya laptop)

    ReplyDelete
  3. Aku pernah menulis di friendster, trus akun ditutup dan ke-alay-anku pun ilang. Nulis di wordpress pun juga begitu. Fiksi di sana terhapus sudah. Tetap balik lagi ke blogspot lebih nyaman kalau aku

    ReplyDelete

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup, Spam dan anonymous akan dihapus ya :)


Terima kasih

Powered by Blogger.