20 August, 2018

Hal Menarik Yang Terjadi Di Bulan Agustus 2018

Hal Menarik Yang Terjadi Di Bulan Agustus 2018



https://www.ipehalena.com/2018/08/hal-menarik-di-bulan-agustus-2018.html



Bagi saya pribadi, bulan Agustus tahun 2018 ini adalah bulan yang paling mengharukan. Bagaimana tidak? Di bulan ini, ada hari kemerdekaan Indonesia, yang mana tentunya dirayakan oleh semua masyarakat Indonesia di seluruh penjuru dunia. Hal ini saya rasakan, bukan karena saya memilih presiden ini dan itu, sih. Karena seingat saya, saat pemilihan umum beberapa tahun lalu, saya termasuk orang yang tidak datang dan tidak menggunakan hak pilih saya. Kenapakah? Kalau tidak salah ingat, saat itu saya tengah sakit. 

Lagipula, saya termasuk salah satu penduduk di Indonesia, yang tidak terlalu mengagungkan satu orang. Karena saya orangnya cepat bosan, jadi kalau mau ngefans harus dengan banyak orang. Seperti ngefans dengan Stephen King dan Bernard Batubara. Atau di lain kesempatan ngefans dengan Ji Chang Wook dan Lee Min Ho. Pun dengan presiden, saya tidak pernah ngefans yang berlama-lama, siapa pun presidennya, ya sudah saya lihat apakah ada kebaikan yang bisa saya ingat selama usia saya?

Ingatan saya saat Presiden Soeharto adalah hari libur sekolah yang panjang, sistem sekolah dengan menggunakan nama Caturwulan dan ujian Ebtanas. Kemudian B.J Habibie, yang saya ingat adalah masa periode yang singkat namun bisa menyelamatkan Indonesia dari krisis moneter parah. Bagi saya, beliau termasuk yang tidak neko-neko. Dilanjut dengan Gus Dur rahimahallah, saya sangat ingat keragaman dalam beragama ini terasa sangat damai. Beliau presiden yang tidak peduli dengan label yang ditudingkan kepadanya saat mengucapkan hari raya seluruh umat beragama. Saat Ibu Megawati memimpin, saya ingat dengan kondisi dimana ternyata presiden perempuan itu mungkin dan tidak jadi soal selama mampu. Terus hingga kepemimpinan Pak SBY, dimana yang saya ingat adalah KPK yang sering tayang di televisi. Kenapa saya ingat? Karena sebelum tahu dengan singkatan KPK yang formal saya mengenal singkatan ini sebagai kepanjangan dari Kopok. Dan hingga presiden Joko Widodo, dimana yang saya ingat adalah jalur mudik yang sudah ditata sedemikian rupa sampai lihat video jalur selatan yang ternyata cantik sekali pemandangannya.

Saat menulis ini, saya sempat bertanya, kira-kira komentar julid yang seperti apa dan bagaimana yang akan dilontarkan para warganet? Begitulah, pencapaian warganet Indonesia, bukan karena siapa presidennya, sih. Karena kesadaran diri, kesehatan mental dan pemahaman diri setiap orang tidak dipengaruhi oleh siapa presidennya. Walaupun mungkin saja percuma saya menuliskan kalimat di atas, tapi siapa tahu masih bisa bermanfaat bagi segelintir orang yang membutuhkan.


Baiklah, saya tinggalkan racauan yang terlalu melelahkan kalau diteruskan. Sekarang saya ingin langsung menuju hal-hal yang membuat saya mengharu-biru selama bulan Agustus ini. Ada yang mengharu-biru tapi ada juga yang membuat jengkel-jengkel-bahagia, gitu.



pramuka


1. Hari Pramuka



Semasa sekolah, saat pertama kali mengenal dunia sekolah, hal yang membuat saya senang itu adalah Hari Sabtu. Kenapa? Karena, dulu saat saya masih sekolah dasar, hari Sabtu adalah hari dimana saya mengenakan seragam Pramuka dan pulang sekolah bisa mengikuti kegiatan pramuka. Yang saya suka itu secara keseluruhan, dari mulai kegiatan baris-berbaris, menulis lagu-lagu yang cuma ada saat kegiatan Pramuka.


Untuk lagunya, saya masih ingat dulu ada lagu, “Cipela cipetong hau hau hong, cipela cipetong hau kariye…” Eh, ini serius enggak tahu itu lagu apa tapi ngikut aja saya mah. Dan tentunya kegiatan yang mengasah kreativitas seperti membuat yel-yel, menghapal Tri Satya sampai belajar menggunakan Semapur.

Di bulan Agustus, tanggal 14 tepatnya, merupakan hari Pramuka. Kemarin, saya seperti tertarik kembali ke masa-masa sekolah di SDN Bojong Rawa Lumbu jembatan 13. Duh, dulu itu sekolahnya sebelas-dua-belas seperti sekolahnya Lintang di Laskar Pelangi. Cuma, kelebihannya, kami semua mengenakan seragam. Tapi, percaya enggak, kalau dulu di kelas saya waktu masih kelas 3 SD, ada seorang anak yang usianya bertahun-tahun di atas kami. Tapi, karena dia baru bisa sekolah di usia yang sudah tidak lagi muda, akhirnya bedanya jauh banget! Saya masih ingat, namanya Abdul Rojak.

Yang saya ingat juga adalah pengalaman pertama mengikuti kegiatan Kemping di halaman belakang sekolah. Karena tempat saya sekolah dulu itu tempatnya di kampung, otomatis, sekolahannya memiliki halaman belakang yang sangat luas. Sampai bisa dijadikan tempat untuk kemping dari kelas 3 sampai kelas 6. Memori yang tidak pernah saya lupakan dari kegiatan itu adalah kejadian horor sampai kenangan saya pertama kali mencuci beras dan memasak nasi.

Karena teman-teman saya mayoritas adalah anak-anak kampung. Mereka yang notabennya dari kelas 1 SD bahkan sudah bisa memasak nasi, ini membuat saya merasa bangga. Kebanggaan ini juga mengilhami nama Ipeh Alena, dimana nama Ipeh ini memiliki kesan ‘ndeso’ atau Kampungan. Sementara Alena tampak seperti kota atau modern. Jadi, saya adalah anak kampung yang bangga dengan pengalaman saya bersama orang-orang kampung namun tidak menutup diri dari kemajuan dan perkembangan zaman. Ah, terlalu memuji diri sendiri saya, ya.

Lanjut, tentang Hari Pramuka. Ada beberapa yang ingin sekali saya pertanyakan pada setiap sekolah di Bekasi. Ada dua sekolah, yang memang sudah saya perhatikan tampak aneh. Yang menaikkan level anak-anak SD dimana seharusnya mereka masih level SIAGA, tiba-tiba langsung diangkat menjadi Penggalang. Padahal untuk pangkat SIAGA ini juga dibedakan dari TKU yang mereka terima melalui usaha. 

Masih ingat film UP dari disney? Bagaimana Russel berusaha menolong si Kakek hanya untuk mendapatkan penghargaan. Kalau di Pramuka Indonesia namanya SKU. Dulu, untuk mendapatkan SKU, kami harus melakukan banyak hal sesuai dengan TKU. Seperti memiliki keahlian untuk menghapal Dwi Satya, Dwi Darma, Tri Satya sampai Dasa Darma. Seingat saya waktu itu masih siaga cukup mengingat Dwi Satya dan Tri Satya. Terus, berpakaian yang rapi, semua pelengkap seperti tambang, ikat pinggang sampai topi dan peluit serta pisau harus dikenakan. Kemudian dilihat dari kecakapan saat berada di regu, apakah mau menolong atau pasif.

Nah, dari semua kegiatan yang dilakukan, barulah kami mendapat SKU yang nantinya bisa dipasang di baju. Dan TIDAK SEMUA anak bisa dengan mudah menjahitnya. Tidak asal. Lah, sekarang ini justru anak-anak yang jarang mengikuti Pramuka bahkan kegiatannya juga di beberapa sekolah tidak begitu tampak. Tiba-tiba mereka sudah diminta untuk menjahit SKU di pakaian tanpa melalui tes keahlian lebih dulu.

Ini membuat saya bertanya-tanya kemudian. Ada tidak sih, basis ahli PRAMUKA di Bekasi? Yang menangani masalah dasar dan hal dasar yang harus dilakukan saat kegiatan Pramuka? Yang menjelaskan apa dan bagaimana pemahaman dari Dwi Satya, Dwi Darma, Tri Satya sampai Dasa Darma? Yang memiliki Pembina Pramuka tersertifikat sehingga tidak asal main comot sana sini. Bahkan, beberapa Pembina Pramuka yang pernah melatih di sebuah sekolah yang pernah saya amati, ini sangat TIDAK KOMPETEN dalam melatih baris-berbaris yang notabennya adalah hal dasar dalam kegiatan Pramuka.

Saya jadi ragu untuk merekomendasikan kegiatan Pramuka ini kepada dedek-dedek unyu, karena saya melihat pembina Paskibra lebih serius dalam menangani setiap peraturan yang sudah sejak dahulu ada. Sedih saya jadinya, kasihan Lord Baden Powell susah-susah membuat Pramuka dan setiap filosofinya tapi tidak diwarisi dengan baik kepada setiap generasi.



merdeka


2. Hari Kemerdekaan Indonesia



Siapa yang tidak menanti hari yang sangat istimewa ini? Kalau dulu, saat saya masih kecil, saya selalu menanti tanggal 17 Agustus karena ingin ikutan lomba! Lomba yang memang cuma ada di tanggal spesial ini. Baik itu lomba kelereng, makan kerupuk sampai balap karung dan panjat pinang. Semuanya masih kekal dalam ingatan saya. Sayangnya, perayaan Hari Kemerdekaan kemarin, saya tidak berdaya, hanya bisa mendekam di rumah karena sedang tidak enak badan.

Tapi, saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang sering saya lakukan sejak saya sekolah. Menonton upacara pengibaran bendera Merah Putih di Istana Negara. Rasanya tuh ada rasa haru-biru. Meski dulu saya paling ogah jika disuruh ikut ekstrakurikurer Paskibra. Karena, dulu melihat kakak-kakak seniornya bertampang galak, jadilah saya tak kuasa untuk mengikutinya, ahahahahahaha alasan saja saya nih.

Upacara Hari Kemerdekaan kemarin, saya benar-benar baru menyaksikan prosesi Kirab Bendera. Entah kenapa tahun yang lalu saya tidak melihat prosesi ini. Sampai saya kira, prosesi Kirab baru dilakukan tahun ini yang ternyata sudah beberapa kali dilakukan. Huhuhuhuhu, kemana saja sih saya?

Setiap menyaksikan upacara di Istana Negara, saya selalu berkata dalam hati, “kapan ya bisa mengikuti upcara di sana. Duduk di kursi yang khusus itu.” Sebenarnya kesempatan itu pernah datang satu kali dalam hidup saya. Namun, kalau kesempatan ada tapi izin itu belum turun, rasanya sama saja seperti Allah masih belum mengizinkan. Itu saja, sehingga saya masih memendam keinginan ini sampai detik ini.



Asian Games


3. Opening Ceremony Asian Games 2018



Woah…. Siapa di sini yang masih terbawa euforia pesta pembukaan Asian Games tanggal 18 kemarin? Kalau saya, jangan ditanya. Sampai saya ulang-ulang, terutama bagian tarian dari Aceh, kemudian saat para atlit masuk satu persatu dari negara-negara berbeda. Wajah dan ekspresi mereka itu juga sama antusiasnya seperti saya! Ya ampun, pastinya mereka merasa “WAH” juga kali, ya.

Apalagi saat di televisi diputar kembali bagaimana semaraknya Asian Games tahun 1962, saat itu bahkan Bung Karno melakukan pembangunan besar-besaran. Mengingat pesta pembukaan Asian Games, saya juga tidak menutup telinga dari sekitar. Tentu ada banyak orang yang komentarnya sudah bisa ketebak, salah satunya orang yang ada di dekat saya yang membuat saya cuma bisa tertawa dan menjelaskan dengan sabar.

Memang, menghadapi perbedaan politik pada masa sekarang itu lebih sulit. Karena harus memiliki kesabaran yang ekstar. Sementara saya tumbuh di zaman ketika politik itu harus satu dan kalau berbeda tentu akan mendapat kecaman dan hal-hal yang tidak diinginkan. Suasana saat itu seragam, pilihan partai juga tidak banyak. Apalagi pilihan presiden, tidak ada lagi selain beliau yang di-pertuan-selama-lebih-dari-10-tahun.

Ada lagi yang membuat saya mengharu-biru, saat beberapa Atlit Indonesia yang pernah mengharumkan nama Indonesia juga ikut hadir. Terutama saat saya melihat sendiri salah satu dari 3 Srikandi, Ibu Lenny, yang membuat mata saya sontak tidak bisa ditahan lagi air matanya. Huhuhuhuhu, itulah kenapa saya ikhlas mengulang-ulang dari bagian Pak Jokowi naik motor gede. Yang kemudian dibahas pula masalah stunt-man-nya. Sungguh, kalau orang sudah membenci sesuatu atau seseorang, akan sulit bagi mereka melihat kebaikan.

Padahal mayoritas yang membenci itu mengaku muslim, yang notabennya dalam Alquran pula dijelaskan bahwa Jangan Membenci Sesuatu Secara Berlebihan Karena Bisa Jadi Itu Baik Untukmu Dan Jangan Menyukai Sesuatu Secara Berlebihan Karena Sama Bisa Jadi Tidak Baik. Sayangnya, mereka banyak yang tidak memahami arti dari ayat tersebut. Sudahlah, saya cukup menertawakan dari sisi tribun, hehehe. Malas berdebat hal yang tidak akan pernah kunjung selesai, karena yang diperdebatkan bukan esensinya tapi EGO-nya.


Klik gambar untuk membaca tulisan


4. Hari Diskon Buku Nasional



Enggak sih, tapi setiap hari Kemerdekaan, beberapa toko buku seketika menawarkan diskonan yang otomatis membuat saya jengkel-jengkel-bahagia. Kenapa jengkel? Karena tentunya ini adalah momen paling kalap yang membuat saya kembali harus berpikir ulang. Apalagi sebentar lagi Big Bad Wolf akan kembali diadakan di Surabaya, duh, semakin membuat hati saya menjerit. Ada enggak sih yang bisa nanem pohon uang? Wkwkwkwkwkw, ini sih suara hati penimbun Buku. Eh tapi sekarang saya lebih sering menimbun Ebook, terutama kalau diskonan di Kindle, hehe.

Sementara saya tengah menjerit-jerit, banyak pula teman yang mengingatkan, bahwa sebentar lagi pun akan ada Harbolnas yang tentunya bisa membuat jantung berdebar kencang bak gadis yang ingin bertemu lelaki pujaannya. Sungguh, hidup ini penuh dengan hal-hal yang sudah bisa diduga namun ternyata masih mendatangkan debaran yang berbeda, eeaa.



***

Tentunya, bulan Agustus tahun ini, saya semakin banyak belajar. Belajar untuk merdeka dari kebodohan, belajar untuk memerdekakan diri sendiri agar bahagia dengan cara yang sederhana, belajar juga untuk mencari makna dari hidup ini. [Ipeh Alena]


Kalau Anda, apa yang paling berkesan di Bulan Agustus 2018 ini? Silakan berbagi di kolom komentar.



3 comments:

  1. Hari Diskon Buku. Hari Kemerdekaan itu membawa banyak diskon, tapi nggak bikin rekening meredeka,ya? Hahaha.

    ReplyDelete
  2. Hm, saya penasaran dengan cerita horor Ipeh saat kemping hehehe.

    SAya punya banyak pengalaman tak terlupakan di bulan Agustus, Peh. Sebagian sudah saya tuliskan sebagai kisah 17-an. Seru, nano-nano rasanya. Judulnya Kisah 17-an: dari Assessment, Keranjang Bolong, Hingga Kuburan. Berkenan mampir? ^_^

    ReplyDelete
  3. Saya juga gak figuritas or tokohisme gitu orangnya. Bulan agustus nggak bisa ngeblog, akutu lagi berat amat hidupnya :( :P
    Yang opening ceremony itu berkesan buat saya (yang nontonnya telat) berhari-hari setelahnya masih nonton di youtube

    ReplyDelete

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih