04 June, 2018

Beberapa Hal Yang Unik Dan Bikin Kangen Dari Kota Malang

Beberapa Hal Yang Unik Dan Bikin Kangen Dari Kota Malang



Kota Malang



Ipehalena.com - Pernahkah Anda menyukai sebuah tempat, yang bukan kota kelahiran atau kampung halaman Anda sendiri? Saya tengah merasakan rindu pada kampung halaman orang lain, iya, saya rindu dengan Kota Malang yang notabennya bukan kampung halaman saya. Sebagai orang yang lahir di Bekasi dan tumbuh dari kecil sampai remaja dan hingga saat ini masih terus tinggal di Bekasi. Merindukan Kota Malang mungkin bukan hal yang aneh, sepertinya. Berharap ada juga yang merasakan apa yang saya rasakan saat ini, hehe, biar ada temennya gitu loh maksudnya.

Merindukan tempat lain yang jarang dikunjungi atau baru beberapa kali dikunjungi, tentunya bukan hal yang aneh. Terutama jika berbicara masalah kenangan, kesan atau segala hal istimewa yang pernah tertinggal di tempat tersebut. Tidak jarang juga, merindukan sebuah tempat yang tak lagi mampu dijejaki mengingat kenangan buruk yang pernah terjadi, ah saya ini loh selalu terbayang-bayang cerita fiksi dari novel. Tapi, siapa tahu ada yang mengalami hal ini, saya tak bisa menjaminnya.

Kenangan, bagaimana pun sebagai sebuah jejak yang selalu mengikuti kemana langkah kita pergi. Jangan pernah berharap untuk kehilangan semua kenangan yang ada, meski terkadang itu adalah tipe yang ingin sekali kita lupa. Karena, sekali saja kita berharap setiap kenangan buruk terhapus, bisa jadi akan menyeret kenangan baik yang menyertai kenangan buruk tersebut. Sehingga, kita bak sehelai kain putih, tak memiliki kenangan yang berarti tak lagi memiliki ingatan. Serem kan ya jadinya.

Kota Malang


Hal yang selalu saya ingat, terutama menjelang banyak orang yang ramai-ramai mudik, adalah perjalanannya. Saya pernah menyeritakannya betapa perjalanan dengan menggunakan kereta api merupakan kebahagiaan yang sederhana buat saya. Karena itulah, saya bisa tiba-tiba teringat kembali rasa pegal yang menyertai. Harapan yang terus membuncah agar cepat tiba. Penantian yang tertinggal dari satu perhentian stasiun ke stasiun lainnya. Sampai ketika menjejakkan kaki ke tanah yang membawa rasa bahagia.


Kota Malang



Pasar Burung Martadinata Kota Malang



Kota Malang


Mengitari kota Malang di sekitaran jalan Martadinata, membuat saya kagum. Terutama di dekat daerah pasar burung yang ditumbuhi pohon-pohon tua yang membuat sinar mentari seolah menari dengan begitu indahnya. Pohon-pohon tersebut membuat hari menjadi lebih berbeda. Menjadi lebih indah seolah saya tak pernah melihat pemandangan yang sedemikian rupa. Memasuki wilayah pasar yang menjajakan beragam unggas hingga binatang lainnya, membuat saya merasa berbeda.


Kota Malang


Baiklah, saya tidak hendak membahas tentang hak asasi hewani. Bukan pula ingin membahas benar atau salah. Tapi, saya ingin menorehkan kenangan ke dalam sebuah tulisan. Ketika saya memasuki daerah tersebut, di bawah bayang-bayang pohon tua yang menjulang tinggi sekali. Melewati kerumunan orang-orang yang menjajakan jualan mereka dan orang yang ingin membeli. Barisan motor yang antri sepanjang jalan demi mendapat parkiran. Serta berpapasan dengan beberapa turis asing yang juga tengah menikmati pemandangan.

Siapa sangka, ketika saya melewati jembatan yang bercat merah, saya seolah memasuki dunia lain. Dunia yang berbeda namun sejajar dengan dunia yang saya tempati saat ini. Dunia yang menyajikan ragam warna dan suara namun juga menyisakan sunyi di beberapa tempatnya. Ah, semilir angin kala itu membuat saya tak mampu berkata-kata. Bahkan, sempat beberapa kali, saat melihat betapa indahnya pemandangan dari atas jembatan, mata saya berkaca-kaca karena rasa haru. Haru karena di balik hiruk pikuk dan keramaian ini, masih tersimpan keindahan yang alami. Rupa dari alam yang masih terjaga.

Kota Malang


Memasuki wilayah pasar, melewati tangga-tangga yang sedikit curam, jalanan yang sedikit miring serta gang-gang kecil yang hanya bisa dilewati dua orang. Saya menyapu seluruh tempat yang ada di sekitar saya, tidak inign melewati barang sedikit pun momen yang selalu coba saya rekam dalam ingatan. Mengelilingi kios demi kios, mencuri dengar obrolan pedagang dan pembeli yang berbincang tentang ikan-ikan. Memperhatikan beberapa pedagang yang tengah membersihkan kandang. Hingga menatap dengan rasa yang campur aduk, pada banyaknya binatang yang ada di tempat itu.

Lewat jalan yang berputar, saya melewati anak tangga lagi untuk menuju tempat semula. Melalui jalur yang berbeda tentunya. Kemudian, saya disapa dengan banyaknya kandang-kandang yang tengah bergantungan. Jejeran botol-botol. Yang kemudian membuat saya tersentak dan baru menyadari, kalau pasar ini rapi, tidak terlalu berantakan apalagi meninggalkan rasa jijik pada pengunjung. Belum lagi, beberapa rumah yang saya lewati, sempat tampak oleh mata saya, ada yang tengah membersihkan kandang binatang yang mereka jual. Namun, kotorannya dibuang ke tempat yang rapi.

Kota Malang


Entah, apakah tempat ini memang diisi oleh orang-orang yang senang menjaga kebersihan. Atau memang tempat ini diwajibkan oleh pemerintah setempat agar tetap bersih dan asri. Atau memang saat itu saja, ketika saya berkunjung, tempat ini tampak bersih dan rapi? Saya tidak tahu-menahu, kunjungan saya ke sana baru sekali. Tapi, saya sudah jatuh hati dengan pemandangan di sana.




Keragaman Itu Nyata Adanya



Kembali menapaki jalan raya yang cenderung ramai tapi tidak terlalu padat. Ditemani angin sepoi-sepoi yang membuat udara semakin sejuk. Saat saya berkunjung, cuaca sangat cerah, bahkan langit tampak biru sekali, tidak tampak gumpalan awan satu pun. Berjalan lurus dari arah Martadinata, saya melewati satu bangunan yang tampak tua, bangunan tersebut adalah sebuah Gereja. Saya tidak begitu tahu, gereja apakah itu. Tapi, yang pasti, bangunannya membuat saya seolah berkunjung ke negara lain, yaitu Italia.

Kota Malang


Berdasarkan ingatan saya, dari film-film Tom Hanks yang diangkat dari novel karya Dan Brown. Saya seolah diajak untuk berjalan-jalan berkeliling Roma. Dengan bangunan gereja yang usianya sudah ratusan tahun. Pengunjung-pengunjung yang datang sambil sesekali mengabadikan kenangan ke dalam sebuah foto. Pemandangan ini pun sempat saya lihat di depan pagar gereja, beberapa orang turis asing tengah mendengarkan seorang tour guide yang bercerita tentang gereja tersebut. Sayang sekali, saya tak bisa mencuri dengar.

Hal yang tidak kalah serunya, namun sangat sayang tidak dapat saya abadikan. Adalah ketika saya baru saja turun dari Bromo, melewati beberapa tempat yang saya tidak ketahui namanya. Karena selama perjalanan pulang saat itu, saya tertidur, akibatnya tidak banyak yang bisa saya lihat. Namun, ketika saya membuka mata saya, saya melihat patung Buddha (kalau saya tidak salah ingat atau tidak salah lihat) ketika mobil melintas, terletak di sebelah kiri saat kembali ke Kota Malang. Patung Buddha tersebut sangatlah besar, yang membuat saya sempat berdesis, “Wow”, seakan saya tengah mengunjungi Thailand. Dan patung inilah yang tak sempat saya abadikan, karena mobil melaju dengan kecepatan yang cukup kencang.

Di dekat hotel tempat saya menginap, ada alun-alun yang senantiasa ramai. Mau itu siang hari, sore hari sampai malam hari pun selalu ramai. Beberapa kali saya mendapati pengunjung yang tengah membaca buku. Ada juga yang berhenti hanya untuk duduk sejenak sambil menikmati semilir angin. Beberapa juga terlihat sedang asik mengobrol dengan kawannya. Di dekat alun-alun Merdeka Kota Malang inilah, saya melintas di depan sebuah Masjid yang megah. Bangunannya cukup unik dan tampak ramai karena sedang ada kajian. Sayangnya, saat itu saya tidak bisa masuk dan mendengarkan isi dari kajian tersebut, karena saya harus segera bergegas menuju tempat lain.

Kota Malang


Dari beberapa bangunan yang identik dengan tiga agama berbeda di Kota Malang ini. Saya seketika terpekur sejenak, betapa sayang rasanya ketika keragaman ini harus diganti dengan sesuatu yang sama. Betapa sayang ketika keragaman tersebut kemudian terkikis karena tidak adanya lagi rasa toleransi. Betapa sangat disayangkan, jika semua itu musnah, tinggal sisa-sisa peradaban yang tak lagi bisa dilestarikan jejaknya. Dalam lubuk hati saya yang paling dalam, berharap agar setiap mereka yang berada di Kota Malang, senantiasa menjaga rasa memiliki satu sama lain. Senantiasa menyayangi satu sama lain, tanpa harus memaksa agar sejalan dan satu langkah. Biarlah kita berbeda arah dan langkah, asalkan kita senantiasa mengulurkan tangan dan menebarkan cinta pada siapa saja yang kita temui.



***

Kota Malang


Rasanya tidak cukup jika kenangan ini saya tuliskan dalam satu tulisan. Padahal, ingin sekali saya menyeritakan banyak hal. Tentang pengalaman saya menggunakan kendaraan umum. Tentang makanannya, tentang camilannya, tentang beragamnya suku dan ras di Kota Malang. Dan tentang banyak hal yang sempat terekam dalam ingatan saya. Sepertinya, saya harus menuliskannya lagi di lain waktu. Entah itu esok hari, minggu depan, bulan depan, saya tak tahu. Tergantung seberapa rindu jemari saya ingin berkisah tentang Kota ini.


Adakah pembaca memiliki tempat yang selalu dikenang dan membuat Anda seolah tak pernah lelah menyeritakan kenangan yang pernah Anda alami selama menjejakkan kaki di tempat tersebut? Silakan ceritakan di kolom komentar.


Semoga ketika Anda berkunjung ke Malang, Anda bisa menyempatkan diri berkunjung ke tempat-tempat yang bukan objek wisata. Karena setiap sudutnya, Kota Malang, memiliki daya tarik tersendiri. [Ipeh Alena]

1 comment:

  1. Oh baru sekali dan jatuh cinta?
    Saya punya juga tuh Peh. Ada sebuah tempat yang baru pertama terus ada feel 'inilah aku' rasanya tempat itu mencerminkan kepribadian saya. Daerah yang ada gerejanya itu emang khas banget, di dekatnya ada es krim tempo doeloe lho.
    Oya, semoga nanti Ipeh bisa ke Malang sesering mungkin dan kita ketemuaaan. Ya Allah pengen.

    ReplyDelete

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih