Ketika Keasyikan Menulis Sedikit Pudar Dua Hal Ini Yang Sedang Saya Lakukan

Ketika Keasyikan Menulis Sedikit Pudar Dua Hal Ini Yang Sedang Saya Lakukan





Hallo,

Belakangan ini saya sedang merasa stuck setiap ingin menulis di blog. Padahal ide sudah banyak, kebetulan saya memang menuliskan beberapa ide untuk ditulis di sini. Tapi, sayangnya, dalam proses untuk menuangkannya ke dalam bentuk tulisan, rupanya memakan banyak waktu. Tampaknya saya tengah menghadapi satu kondisi dimana semangat untuk menulis sedang tidak baik. Kalau pun dipaksa, mungkin hanya tulisan berisi curhatan seperti ini.

Bukan lagi curhatan, tapi juga keluh-kesan yang mungkin tidak ada manfaatnya. Tapi, daripada saya terlalu terkurung dalam dogma bahwa blog saya ini tidak boleh berisi curahan hati atau segala macam keluh kesah yang berimbas pada ke-mandeg-an aktivitas menulis di blog. Akhirnya, saya memberanikan diri mengeluh dan menyurahkannya di sini.

Aktivitas saya sama seperti biasa, mencari sekarung nasi, berusaha untuk menjadikan waktu demi waktu berharga. Juga, membaca beberapa buku atau ebook demi mencapai target tahunan yang secara resmi saya pasang di Goodreads. Yaitu membaca 100 buku tahun ini. Cukup terengah-engah juga mengejarnya, apalagi kalau mengikuti rasa malas dan rasa enggan karena inginnya gegoleran saja di tempat tidur. Pasti akan tambah lama dan semakin lama untuk menyelesaikan satu buku.


Tengah Keasyikan Membaca


Sejauh ini, saya sudah membaca beberapa buku yang bagus seperti A List of Cage dan Not If I See You First. Memang, seharusnya saya membicarakan tentang buku di blog saya yang lain. Tapi, tak apalah, toh buku dan bacaan adalah hidup saya. Apalagi belakangan saya tengah gandrung, setiap hari kamis malam, menanti cerita dari akun @hantu_33 di twitter.

Awal mulanya, saya melihat kicauan beliau mampir ke beranda di twitter saya. Tak lama, rasa penasaran semakin menjadi-jadi. Apalagi caranya dia bercerita itu cukup menyenangkan. Semakin saya membacanya, semakin pula saya ketagihan jadinya. Seorang lelaki yang sering dipanggil Brii itu sering mengalami hal-hal yang berkaitan dengan dunia lain. Entah itu melihat sesuatu yang tak mampu dilihat orang biasa lainnya. Atau bercengkrama dengan makhluk tersebut.

Meski beberapa warganet mengatakan kalau akun Brii ini lebih baik daripada akun sejenisnya, yang kini sudah menjadi selebtwit, dimana cerita yang ditawarkan lebih banyak dari akunnya Brii. Selain dari intensitas cerita, ada juga beberapa hal yang membuat banyak warganet betah membaca ceritanya Brii, beliau sopan dan juga paham apa yang baik untuk disampaikan dan bagaimana menyampaikan sesuatu yang tidak baik.

Terlepas dari apakah cerita tersebut fiksi atau bukan. Adalah hal yang baik ketika penulisnya bisa menjabarkan dengan jelas bahwa hal tersebut apakah bisa dicontoh atau tidak. Apakah hal itu baik atau tidak. Dengan begitu, pembaca lainnya yang mungkin masih belum berusia dewasa, bisa mengambil pembelajaran dari apa yang ingin disampaikan oleh Brii.

Cerita yang paling saya sukai dan saya tunggu-tunggu adalah bagaimana kehidupan Brii selama ngekos di rumah teteh. Kemudian bagaimana pengalaman masa kecilnya dengan pemandangan dan pertemuan yang sering tidak dapat dilihat oleh orang biasa lainnya? Selain rumah teteh saya juga suka ketika Brii mengantar ayah seorang temannya. Yang kemudian mempertemukannya dengan hantu seorang Ibu dan anak perempuannya yang sudah meninggal karena kecelakaan.

Di cerita itulah saya justru menangis. Entahlah, menangis karena betapa perjuangan seorang Ibu yang tetap bekerja sambil mengasuh anaknya ini menjadi sebuah momen yang sangat mengharukan. Terlepas dari konten tersebut cerita horor atau bukan. Tapi, ketika penampakan mereka muncul, saya justru merasakan keharuan yang tak terbendung. Ah, saya lemah.


Adaptasi Mencari Spot Foto Terbaik


Di samping membaca, saya juga sedang membiasakan diri atau adaptasi dengan tempat tinggal saya yang baru ini. Beberapa kali saya merasa kesulitan mencari spot menarik untuk mengambil beberapa gambar. Karena saya masih belum mendapat tempat yang saya butuhkan, seperti cahaya yang cukup. Apalagi belakangan ini cuaca sering tidak menentu, terkadang panas menyengat terkadang juga hujan. Alhasil saya sering kesulitan mendapatkan foto dengan cahaya yang sesuai dengan keinginan.

Sebenarnya saya sudah ada beberapa perlengkapan pencahayaan dari lampu. Tapi, masih saya rasakan kurang, apalagi karena memang saya cenderung menyukai cahaya alami. Jadi, masih sibuk melihat tempat-tempat yang enak dan nyaman untuk sekadar merekam gambar.

Kebetulan saya juga tengah belajar mencari tahu, bagaimana kira-kira cara untuk konsisten mengikuti monthly photo challenge yang diadakan di salah satu akun. Kebetulan, saya seringnya bolong-bolong, atau hanya dapat beberapa hari saja setorannya. Padahal saya ingin juga mengikut tantangan tersebut sampai terakhir. Meski begitu, memang sepertinya saya juga masih belum mampu mengatur waktu dan juga mengelola ide untuk foto yang ingin saya tampilkan.


***

Lumayan juga, pemanasan untuk memulai kembali agar aktif menulis di blog ini. Kebetulan, trigger-nya justru usai mendapat surat elektronik berisi ajakan untuk ikut mengisi di salah satu platform menulis dengan iming-iming bayaran setiap mendapat jumlah pembaca yang cukup banyak. Mendapat uang dari menulis saat ini sudah cukup mudah, apalagi bagi beberapa orang yang tahu caranya. Tapi, menjadikan menulis sebagai sebuah momen yang menyenangkan, bagi saya saat ini semakin langka. Itulah kenapa saya ingin memulai kembali mencintai aktivitas menulis agar bisa kembali lagi ke dunia blogger. [Ipeh Alena]

4 comments:

  1. I feel you Mbak. Padahal bahaya banget. Mana aku baru-baru ini mulai ngeblog lagi.
    Btw, salam kenal ya.

    x

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga. Iya, bahaya yang parah. Bikin blog berlumut :D

      Delete

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup, Spam dan anonymous akan dihapus ya :)


Terima kasih

Powered by Blogger.