Jalan-jalan Naik Kereta Api Sambil Menikmati Pemandangan Adalah Kebahagiaan Yang Sederhana


Jalan-jalan Naik Kereta Api Sambil Menikmati Pemandangan Adalah Kebahagiaan Yang Sederhana



Kereta Api Jayabaya




Belakangan ini, saya sering terbangun dari tidur karena bermimpi berada dalam perjalanan menggunakan kereta api. Mungkin, efek kelamaan kurang piknik akhirnya saat sebelum puasa kemarin pergi rekreasi ke Malang masih terasa sampai sekarang bagaimana lelahnya selama di perjalanan tapi sekaligus menyenangkan. Apalagi perjalanan kemarin benar-benar lumayan lama, karena beberapa kali mengunjungi Jawa Timur seringnya hanya sebentar, sekitar dua atau tiga hari saja itu pun tidak sempat berkeliling.


Sebelum berangkat ke Malang, saya sempat ditanya ingin menggunakan pesawat atau kereta api? Saya yang memang menyukai perjalanan panjang sambil memperhatikan suasana sekeliling saya, terutama kalau tidak sedang dalam kondisi darurat, lebih memilih kereta api atau menggunakan kendaraan roda empat. Tapi, karena tujuannya kali ini Malang dan ingin berlibur, agar tidak terlalu kelelahan saya pun memilih menggunakan kereta api.


Begini, waktu pertama kali menggunakan kereta api saat saya masih SMP, pulang dari kampungnya Ibu saya di Batang. Waktu itu kereta api masih belum sebagus saat ini, sekitar tahun 2002, kereta api yang kami naiki sekeluarga masih belum tersedia fasilitas pendingin ruangan bahkan kamar mandinya tidak menyediakan air. Jadi, setiap ingin pipis harus rela mengurangi jatah persediaan air minum. Hanya itu yang saya ingat karena selebihnya saya lebih mengingat betapa tersiksanya saya selama perjalanan menuju Bekasi menahan sakit akibat perut terasa melilit.


Setelahnya saya menggunakan kereta api lagi saat hendak mengunjungi Bojonegoro, tempat kelahiran Papah rahimahullah dan Mamah. Pertama kali bagi saya menggunakan layanan kereta api eksekutif yang membuat saya sangat norak sekali. Bagaimana tidak norak? Saat melihat isi di dalam gerbongnya sampai merasakan nyamannya kursi di kereta, membuat saya merasa antusias. Apalagi, bagi saya yang tidak punya kampung halaman karena terlahir dan besar di Bekasi, bisa melakukan perjalanan ke kampung orang lain itu sungguh menyenangkan.


Bersama dengan para pemudik lainnya, saya merasakan aura yang berbeda. Ada semangat dan wajah berseri yang tersirat dari wajah penumpang lainnya. Saya senang memperhatikan tingkah, ekspresi dan kegiatan orang-orang yang ada di sekeliling saya. Apalagi kalau aktivitas mereka mengeluarkan energi positif yang bisa membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Selain itu, memandang ke luar jendela saat kereta api melaju, membawa saya pada pemikiran-pemikiran yang terus bercokol dan memenuhi otak saya. Tapi, pikiran ini jenis yang membuat saya merasa senang dan nyaman.

Kereta Api Jayabaya



Saat kemarin bepergian ke Malang, saya membawa serta adik saya yang notabennya baru dua kali menggunakan kereta api. Selama ini dia pergi ke luar Bekasi selalu menggunakan motor, jadi saat melakukan perjalanan dengan kereta api kemarin, banyak hal yang cukup lucu untuk diingat. Apalagi sepanjang perjalanan kami akhirnya berbagi cerita tentang pengalaman menggunakan kereta api, juga berbagi hal-hal unik yang membuat perjalanan selama 13 jam 50 menit, tidak lagi terasa lama.




Nasi Rames Di Kereta Api Jayabaya




Berangkat dari stasiun Pasar Senen pukul satu siang, kami sudah membawa bekal untuk makan siang. Dengan pemikiran takut nanti makanannya basi selama perjalanan akhirnya kami sepakat untuk membeli makan malam di layanan restorasi kereta. Beberapa tahun sebelumnya, setelah PT. KAI melakukan gebrakan besar-besaran dengan merombak tampilan dan layanan kereta api ekonomi, saya yang waktu itu hendak menuju ke Surabaya turut merasakannya.


Seperti fasilitas pendingin ruangan yang saat saya masih SMP masih belum ada. Sampai layanan restorasi dimana menyediakan makanan beraneka ragam dan juga makanan siap saji dengan rasa yang enak. Karena itu, kemarin kami juga memutuskan untuk mencicipi kembali masakan ala restorasi Kereta Api Jayabaya. Menu saat itu adalah Nasi Rames yang dibungkus dengan menggunakan kotak makan transparan dimana bisa digunakan kembali dan bahannya ramah untuk microwave.


Ketika kami bersantap bersama, tibalah waktunya mengulang kembali ingatan masa lampau. Saat restorasi hanya tersedia untuk kereta non ekonomi saja. Karena kereta ekonomi dahulu kala sudah penuh dengan pedagang yang menjajakan dagangannya. Oiya, saya masih mengalaminya sebelum perombakan besar-besaran di PT K.A.I. Nah, kala itu ingatan yang terlintas adalah rasa makanan restorasi yang tidak enak sama sekali. Dingin, tidak ada rasa dan mahal.


Ingatan itu justru membuat kami merasa ‘WAH’ karena harga nasi rames yang dijajakan oleh pihak restorasi ini cukup lumayan, masih terbilang masuk akal harganya, apalagi rasanya juga enak, disajikan dalam keadaan hangan dan tempat makanan yang bahannya berkualitas. Bagi saya, ini lebih manusiawi, tidak sekadar mematok harga yang tidak logis.

Kereta Api Jayabaya





Kebersihan Kereta Api Jayabaya Ekonomi




Faktanya, saya justru baru merasakan bagaimana kebersihan kereta api ini sangat dijaga usai perubahan sistem, dimana ditandai dengan harga tiket kereta ekonomi yang sangat murah, kondisi gerbong yang memilili pendingin udara hingga kebersihan gerbong, baik tempat duduk, sarung kursi dan jendela hingga lantai gerbong.


Yang membuat saya tercengang waktu itu, saat berangkat ke Surabaya dengan menggunakan K.A Kertajaya, petugas kebersihannya setiap beberapa jam sekali pasti lewat dengan membawa sapu dan plastik besar. Memastikan lantai gerbong bersih dari sampah meski saat itu masih banyak penumpang yang dengan santainya mengotori lantai tanpa merasa bersalah. Sehingga saya jadi merasa tidak tega dengan petugas kebersihannya.


Syukurlah, saat saya naik kereta Jayabaya, kebanyakan penumpang justru berusaha ikut menjaga kebersihan gerbong. Pikiran saya saat membandingkan pengalaman sebelumnya adalah saat itu edukasi tentang membuat sampah pada kantong plastik tersendiri agar tidak mengotori gerbong, belum disosialisasikan dengan baik. Apalagi, belakangan ini banyak warganet yang menyerukan untuk menjaga kebersihan di tengah maraknya pemberitaan yang sedang tren. Jadi, jangan lupa untuk sebarkan terus berita baik, ya. Agar tercipta perubahan sedikit demi sedikit.


Berbicara masalah kebersihan lantai gerbongnya, ternyata toilet setiap gerbong pun dicek rutin. Dari mulai persediaan airnya, aliran udaranya hingga kelayakan toiletnya yang akan digunakan. Nah, saya kemarin sempat bingung, saat berangkat ke Malang toilet di gerbong ini jenis toilet jongkok. Tapi, saat pulang, bisa berbeda jadi toilet duduk. Padahal keretanya sama : Jayabaya. Hehe.


Oiya, bagi kalian yang terbiasa bepergian dengan kereta api atau justru baru ingin menggunakan kereta api, tolong perlu diingat ya. Kalau ingin menggunakan toilet itu saat kereta sedang melaju. Ada pengumumannya di pintu toilet.


Mengenai toilet, saya teringat saat pulang dari Malang, dimana ini pertama kalinya saya menjejak di kota Malang, saya pulang ke Bekasi menggunakan kereta api Majapahit dimana memakan waktu lebih lama yaitu sekitar 15 jam. Kondisi saat itu harga tiket masih murah, pendingin udara juga sudah ada, tapi masih belum ditingkatkan seperti saat ini. Saya lupa saat itu sampai di stasiun mana, air di toilet mendadak kecil, petugas restorasi juga sudah mulai jarang ke gerbong tempat saya. Perasaan saya saat itu tidak enak.


Benar saja, sampai di Cikampek persediaan air habis. Air di toilet, ya. Akhirnya harus menggunakan air mineral. Belum lagi petugas restorasi yang biasanya lewat beberapa kali, ini tidak tampak batang hidungnya. Usut punya usut persediaan dagangan mereka : LUDES, habis dibeli penumpang. Sampai air mineral pun tak bersisa. Akhirnya, karena kereta Majapahit ini tidak berhenti di stasiun Bekasi, mau tak mau saya berhenti di stasiun terakhir. Dan sampai di sana, rasanya sudah lemas karena kehausan. Ini pengalaman yang kalau diingat-ingat kembali, rasanya tuh lucu!


Nah, kemarin kereta Jayabaya berbeda. Baru sampai di stasiun Semarang Poncol, kereta berhenti cukup lama. Saya pikir kenapa, ternyata sedang mengisi persediaan air! Jadi, sampai di Malang pun toilet dalam keadaan siap pakai. Bahkan stok makanan pun berlimpah. Ternyata pelayanannya sudah lumayan.



Kereta Api Jayabaya




Perjalanan Pulang Lebih Lama Mencapai 15 Jam Dengan Jayabaya




Ini kisah yang berbeda. Baru saya alami di awal bulan Mei 2018 ini. Waktu perkiraan sampai di Pasar Senen itu sekitar pukul satu dini hari. Saat berangkat dengan Jayabaya kemarin ke Malang, sampainya tepat waktu. Pukul tiga pagi tepat. Namun, ternyata perjalanan pulang bisa memakan waktu yang sangat lama, kenapa?


Sebelum saya ceritakan pengalaman saya. Saya sempat teringat dengan komentar orang yang kelamaan di kereta dari Purwokerto hingga memakan waktu 10 jam. Hihi, tenang bro, kita sama.


Begini, kalau saat itu kondisi yang saya sadari adalah kereta berhenti sangat lama di daerah Cikarang, sebelum stasiun Cikarang. Kenapa saya bisa tahu itu daerah Cikarang? Pertama saya pakai aplikasi Google Map. Kedua, waktu saya pulang dari Bojonegoro setahun yang lalu pun berhenti cukup lama di daerah ini. Usut punya usut, ternyata relnya ada yang patah!


Saat kami tahu pun, banyak teknisi yang sedang memperbaiki rel dengan mengelas-nya. Jadilah waktu kami tiba di Bekasi sekitar jam tiga dini hari. Tapi, saya selalu bingung kenapa tempatnya sama? Berita simpang siur menyebutkan tempat itu rawan sama orang iseng. Ah, saya sendiri belum tahu kebenarannya, tapi karena memang ada gangguan, menurut saya tidak mengapa. Apalagi gangguannya bukan disengaja oleh pihak K.A.I.




***



Ah, menulis catatan ini membuat saya jadi ingin kembali ke Malang atau berkunjung ke Bojonegoro
dengan menggunakan kereta api. Karena, perasaan saat menunggu keretanya datang itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bak menanti kereta kuda yang ditunggangi oleh pangeran tampan sambil berharap yang datang bukan kereta kuda hantu yang tak menapak tanah, hehe.


Teruntuk Anda yang hendak menggunakan kereta api sebagai transportasi untuk mudik nanti. Pastikan Anda selalu siap kantong plastik, agar bisa membuang sampahnya di kantong tersebut, jadi saat petugas kebersihan lewat, Anda bisa membuangnya ke plastik sampah besar. Usahakan untuk selalu menjaga kebersihan baik itu di lantai gerbong maupun di toilet.


Ini cerita saya yang membuat puasa saya hari ke-9 mendadak ingin kembali piknik, kalau Anda apakah punya pengalaman seru saat menggunakan transportasi kereta api? [IPEH ALENA]

3 comments:

  1. Setuju banget! Kalo kereta api sih, Masih menjadi transportasi umum yang paling favorit. Sayangnya, dari tempat tinggalku stasiunnya jauh. Hehe. Tapi sekalipun ada kesempatan untuk bepergian dgn kereta api, pasti milihnya ya kereta api.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga saja suatu saat nanti ada stasiun terdekat dengan tempat tinggalmu :)

      All hail kereta api :D

      Delete
  2. kalau keretanya menyenangkan gini, perjalanan jauh meskipun agak membosankan tapi tetap nyaman ya...

    ReplyDelete

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup, Spam dan anonymous akan dihapus ya :)


Terima kasih

Powered by Blogger.