17 April, 2018

Suddenly Mom : Pengalaman Menjadi Ibu Dadakan

Suddenly Mom : Pengalaman Menjadi Ibu Dadakan




Dalam hidup saya, ada masa dimana saya diberi kepercayaan untuk menjadi seorang ‘Ibu’ bagi anak yang bukan lahir dari rahim saya. Meski begitu, mereka senantiasa memanggil saya dengan panggilan yang membuat hari-hari saya kembali berwarna.

Suddenly Mom, bukan sesuatu yang mudah. Apalagi kalau anak yang diasuh sudah mengenal dengan baik rasa nyaman dari sosok Ibu kandungnya. Sulit pastinya untuk membuat mereka bisa tenang berada di sisi ‘Ibu’ yang lain. Kalau sudah begini, jangan ditanya. Anak yang tadinya anteng bisa tantrum seketika.

Tidak terkecuali bagi anak-anak lain yang bahkan usianya sudah bukan balita. Namanya beradaptasi dan proses ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan tidak cepat. Pastinya, porsi sabar yang ekstra harus disediakan. Juga harus rela ketika pekerjaan terbengkalai, urusan update kanal sosial sampai update blog harus disingkirkan. Semua demi berjalannya proses adaptasi yang baik dan sukses.

Kali ini saya ingin merangkum beberapa hal yang saya dan para ‘Suddenly Mom’ lainnya rasakan selama proses adaptasi dengan anak-anak mereka. Semoga bisa bermanfaat. Siapa tahu pembaca merasakan hal yang sama.


Kenalkan Siapa Kita Dan Bagaimana Kondisinya



Ini hal yang penting sekali. Saya dan beberapa Ibu lain yang mengalami keadaan yang sama ketika dipercaya menjadi ‘Ibu Dadakan’ pun sepakat untuk memberitahu kepada mereka kondisi aslinya. Karena akan sangat disayangkan jika mereka tidak tahu menahu siapa orangtua mereka yang sebenarnya dan siapa ‘kita’ bagi mereka.

Pun ada beberapa hal yang perlu diketahui, seperti usia anak yang tepat untuk diajak berbincang masalah identitas ini. Ada beberapa yang sepakat untuk memberitahu saat usia mereka sudah SD. Tapi ada juga yang sepakat memberi tahu saat mereka sudah bisa diajak komunikasi.

Kapanpun dan bagaimana pun, Anda lebih tahu kondisinya, jadi pastikan suasananya sedang enak dan nyaman sehingga saat membuka topik seperti ini tidak akan membuat mereka terkejut.


Beri Mereka Waktu Untuk Menerima



Ada beberapa anak yang masih tetap menolak menjadikan ‘kita’ sebagai ‘Ibu’ mereka dan kerap mengatakan ‘Ibu’-nya hanya satu. Tak mengapa, Anda hanya perlu memberi mereka waktu. Bahkan orang dewasa pun butuh waktu yang lama saat harus berhadapan dengan kondisi : memanggil wanita lain sebagai Ibu (another mom). Apalagi anak-anak, pastinya butuh cara yang lembut dan halus.

Waktu, dalam hal ini, tidak terbatas. Bisa memakan waktu sebulan, dua bulan atau bahkan bisa tahunan. Yang jelas, tetaplah sediakan porsi sabar agar Anda tidak menyerah secepat mungkin. Karena kita manusia tentu memiliki rasa bosan dan jenuh sehingga kerap dijadikan alasan untuk berhenti berusaha.

Jangan paksakan mereka untuk mengakui dan langsung meminta mereka untuk menjadikan Anda sebagai ‘Ibu’ mereka. Justru ini akan membuat mereka sedih. Ada baiknya untuk menjelaskan dengan hal yang mudah seperti : “Ibunya adek ada dua, Ibu yang ini dan Ibu yang itu.” Atau pakai cara lain yang tidak membuat dia harus melupakan Ibu mereka.

Siapalah yang mau, harus melupakan Ibu yang mengandung mereka. Tentu akan sangat menyedihkan, pastinya.


suddenly mom


Beri Kabar Pada Orangtua Kandungnya



Semisalnya, kondisinya adalah dititipi sementara dan orangtua kandung mereka masih ada. Sebaiknya untuk terus memberikan kabar tentang kondisi sang anak. Jangan sampai mereka ketinggalan berita sehari-hari sang anak. Siapa sih yang enggak kepengen tetap up to date dengan keseharian sang anak, ya kan?

Namun, jika kondisinya tidak memungkinkan, semisalnya orangtuanya sudah meninggal. Sehingga akan sulit untuk menjalin komunikasi langsung. Ajarkan sang anak untuk berkomunikasi melalui doa yang dipanjatkan pada Tuhan. Sesekali ajak mereka untuk berkunjung ke makam orangtua kandungnya. Agar tetap ada rasa memiliki dalam diri mereka.

Bagaimana jika kondisinya kedua orangtuanya bercerai? Tetap juga memberi kabar pada orangtua kandungnya. Dengan memberi mereka kabar melalui video atau voice call pada momen-momen berharga mereka. Untuk memastikan bahwa anak-anak ini tetap istimewa di hati dua ‘Ibu’.


Ketahui Kebiasaan Mereka Dan Apa Yang Tidak Mereka Sukai




Jika memungkinkan, tanyakan pada orang-orang terdekat mereka. Apa yang disukai dan yang tidak disukai. Seperti makanan apa yang mereka sukai, apakah ada makanan atau minuman atau obat-obatan yang bisa menyebabkan alergi serta hal-hal yang mereka sukai.

Dengan mengetahui hal-hal seperti itu bisa memberi kemudahan bagi Anda dalam proses adaptasi. Apalagi kalau si anak memiliki kebiasaan khusus, seperti kalau tidur harus pakai bantal tertentu atau apakah ada boneka yang harus selalu dibawa atau enggak?

Hal seperti ini memang harus ditanyakan jika kondisinya memungkinkan. Kalau tidak, mau tidak mau Anda harus mencari tahu sendiri. Ini proses yang menantang sekaligus membahagiakan kalau sukses. Tentunya akan jadi pengalaman yang membahagiakan.


***


Dalam proses pengenalan pastinya akan menemui hal-hal yang sulit. Dimana hal ini bisa membuat kesabaran seolah habis. Energi dan pikiran terkuras banyak. Sampai mood berubah-ubah. Itulah sebabnya untuk tetap memperhatikan diri dan kondisi emosi Anda saat melalui proses adaptasi ini.

Hal-hal ini yang sering terjadi :


  • Susah tidur karena si anak kerap menangis atau tantrum di malam hari.
  • Stress karena sang anak melakukan GTM (Gerakan Tutup Mulut atau enggak mau makan).
  • Bingung ketika sang anak menangis tapi Anda enggak paham apa yang diinginkan sang anak.
  • Stress karena rumah yang awalnya bersih dan rapi, seketika seperti kapal pecah.
  • Ikut nangis saat sang anak tak bisa berhenti nangis.


Apapun kondisi dan kesulitan yang dihadapi. Sebenarnya juga dihadapi oleh banyak para ‘Ibu Dadakan’ lainnya. Jangan berhenti mencoba dan berikan banyak waktu untuk berusaha pada diri kita.

Beberapa hal di atas merupakan hal yang saya ambil dari pengalaman sendiri dan juga pengalaman Ibu-ibu lain yang saya temui. Jangan khawatir, meski tidak melahirkan mereka, atas izin Tuhan, mereka akan tetap menyayangi dan mengasihi kita selama kita menyayangi dan mengasihi mereka.

Anda memiliki pengalaman menjadi ‘Ibu Dadakan’? Entah itu mengurus keponakan atau menjadi Ibu bagi anak yang membutuhkan. Silakan berbagi di kolom komentar jika berkenan. Siapa tahu bisa menjadi penyemangat bagi mereka yang membutuhkan. [Ipeh Alena]

1 comment:

  1. sering sih, ngasuh ponakan..tapi ponakan sudah besar2 bukan balita jd bukan masalah :)

    ReplyDelete

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih