Pengalaman Menggunakan Google Map Dan Cara Menghindari Jalur Alternatif

Pengalaman Menggunakan Google Map Dan Cara Menghindari Jalur Alternatif


Google Maps Apps



Tanggal 4 Maret kemarin saya mengunjungi Tasikmalaya, sebuah tempat yang sangat jarang saya kunjungi dan baru sekitar tiga kali saya melewati tempat ini. Namun, hari itu saya benar-benar harus mengunjungi rumah seorang kawan yang telah meninggal dunia, innalillahi wainnailaihirojiun. Kabar tersebut datang pada malam hari, di grup alumni. Beberapa yang sudah menyempatkan diri untuk datang ke rumah beliau menyeritakan perihal penyakitnya.

Sore itu setelah membeli makan malam untuk anak dan istrinya, dia mengeluh sakit di dadanya. Hingga dia merasa sesak napas. Ketika dibawa ke klinik terdekat, petugas di sana merekomendasikan untuk membawanya langsung ke rumah sakit dengan alasan alat yang tersedia di klinik tersebut sangat minim. Dalam perjalanan menuju rumah sakit menggunakan kendaraan online, tubuhnya tidak lama mulai terasa dingin, ini menurut penuturan dari sang Istri. Dan ketika sampai di rumah sakit, beliau dinyatakan sudah meninggal dunia.

Bagi yang berpikir kenapa klinik tersebut merekomendasikan rumah sakit? Begini, di beberapa tempat di Cibitung memang banyak klinik yang tersedia. Namun, klinik tersebut pun tidak selengkap dan sebagus yang dibayangkan. Bahkan masih ada beberapa tempat yang dekat dengan klinik yang kalau dilihat saat malam hari tampak seperti berhantu. Saya tidak berlebihan, tapi ini kenyataan. Jarak menuju rumah sakit pun harus melalui perjalanan yang tidak begitu lama tapi tidak juga dekat. Apalagi kalau tinggalnya di perkampungan yang harus melewati jalan kecil, tentunya lumayan sulit jadinya.

Sekitar pukul 10 malam, jenazah yang telah dimandikan oleh para warga sekitar kemudian dibawa menuju Tasikmalaya. Kampung halaman beliau dimana akan dimakamkan di pemakaman keluarga. Beberapa kawan yang sudah mampir ke rumahnya malam itu, mengabarkan bahwa mereka tidak bisa mengantar jenazah ke Tasikmalaya, jadi hanya ambulance dan istri serta beberapa anggota keluarga yang ikut serta. Malam itu kegalauan menghampiri sambil berpikir kira-kira besok takziyah atau tidak. Apalagi sudah dipastikan, rumah kontrakannya di Cibitung kosong, jadi mau tidak mau saya harus berangkat ke Tasikmalaya.


Akhirnya Keputusan Untuk Berangkat Sudah Bulat



Pukul 9 pagi, saya akhirnya berangkat bersama Pak Jendral. Keputusan ini sebenarnya tidak gampang mengingat esoknya hari senin dan dedek unyu cimit-cimit ada jadual Ulangan Tengah Semester. Tapi, demi kebaikan bersama apalagi saya juga mengenal beliau, rasanya sayang kalau saya tidak menyempatkan untuk mengunjungi rumah keluarganya. Mengingat dimana Pak Jendral juga pernah menginap di rumah orangtuanya beliau beberapa tahun yang lalu. Karena alasan itu pula akhirnya keputusan yang berat ini akhirnya menjadi alasan kami berangkat pagi itu.

Kalau ditanya terus bagaimana dengan dedek unyu cimit-cimit? Tenang, selama perjalanan saya memintanya untuk tidur dan tidur. Kalau berhenti sebentar saya memintanya untuk membaca sedikit demi sedikit mata pelajaran yang akan diuji esok harinya. Bahkan esok harinya dia bangun dalam keadaan bugar tanpa mengeluh kelelahan sedikit pun.

Baiklah, selama perjalanan menuju Tasikmalaya, tepatnya di kelurahan Sariwangi, saya bergantung pada Google Maps. Mengingat saya ini buta jalan apalagi daerah tersebut memang sama sekali tidak saya tahu. Kalau dari estimasi di Google Maps, membutuhkan waktu 7 jam untuk sampai ke tempat. Saat itu beberapa kali Google Maps memberikan informasi untuk melewati jalur alternatif kalimalang, meski sebenarnya kondisi jalan di Tol tidak begitu macet. Hanya padat merayap.



Melewati Jalur Nagrek Dan Malangbong Yang Mendebarkan



Cuaca cukup mendung saat kendaraan memasuki wilayah Garut. Sementara papan penunjuk jalan masih meminta kami untuk mengikut jalanan yang lurus dan sedikit berkelok. Google Maps membantu kami melewati beberapa jalur yang memiliki belokan yang tajam, sehingga saya bisa memberikan informasi apakah belokannya cukup tajam atau tidak, kapan harus belok dan kapan harus lurus.

Malangbong


Dengan bergantung pada aplikasi ini, saya masih belum sadar dan berpikir positif, mungkin jalur normal sedang macet sehingga kami direkomendasikan melalui jalur alternatif. Banyak orang yang sudah tahu, bahwa jalur ini memang sering digunakan bagi para pemudik yang hendak menuju Jawa Tengah. Jalan yang saya maksud ini adalah melewati sawah, ladang dengan kondisi hujan cukup deras dan jalanan yang kami lewati ini hanya untuk satu mobil dan satu motor.

Beberapa ranting pohon tumbang tepat sebelum kami melewatinya, allhamdulillah beberapa pohon juga ada yang tumbang setelah mobil kami sudah cukup jauh lewat dari tempat tersebut. Memang, hujan saat itu cukup deras dan anginnya kencang. Sampai-sampai jarak pandang kami tidak begitu jauh, kalau ada orang lewat pun tidak terlihat. Apalagi ditambah yang melewati jalan itu hanya mobil kami, tidak ada mobil lain di depan apalagi di belakang.




Lucunya, pada aplikasi Google Map ini, jalan yang kami lewati tersebut masih tertulis Unknown Road. Sampai saya berpikir, apakah ini dunia paralel? Apakah saya melewati dunia lain yang mirip dengan dunia yang saya tempati? Ahahahaha, efek kebanyakan nonton film dunia paralel akhirnya saya berpikir demikian sambil tertawa ngenes. Masalahnya, bahkan pom bensin pun tak tampak, apalagi rumah warga yang hanya sesekali saja saya lihat, itupun jaraknya cukup jauh.

Bagi pemudik atau pengendara lain yang sudah cukup mengenal daerah ini, mungkin akan bertanya-tanya, kenapa enggak lewat jalur itu dan itu? Demikianlah kalau bergantung pada aplikasi peta online. Ketika belokan yang diinformasikan terlewat mau enggak mau akan direkomendasikan ke jalan yang lebih jauh lagi, ahahahahha. Saat itu pikiran kami hanya satu : Yang Penting Bisa Nyampe Dengan Selamat.

Kami sampai di desa Sariwangi sekitar pukul 16.30, dimana hujan rintik dan awan mendung masih menggelayut. Mobil kami parkir tepat di Bank BRI Sariwangi dan harus berjalan lagi menuju rumahnya yang ternyata melalui jalan yang sempit sampai melewati pinggir kolam. Saya berpikir, ini kalau jenazahnya dibawa ke rumah, bagaimana bawanya? Ternyata, jenazah langsung dibawa ke pemakaman keluarga yang lokasinya masih harus naik lagi dan berada di tengah hutan. Demikian cerita Ibunda dari mendiang kawan kami ini.

Bahkan saat mobil ambulance sampai di tempat, sang Ibu hanya melihat sekilas dan tidak sanggup lagi untuk menatapnya berlama-lama dan meminta untuk segera dimakamkan. Allhamdulillah, proses berjalan sangat lancar. Mengingat mendiang kawan kami ini memang sangat menyayangi Ibunya, patuh dan tidak pernah neko-neko jika diminta sang Ibu untuk begini dan begitu. Bahkan cukup santun jika berbicara dengan Ibunya. Semua proses dari memandikan jenazah hingga keberangkatan mobil menuju Tasikmalaya berjalan lancar. Dan jenazah sudah selesai dimakamkan sekitar pukul 6 pagi.

Meski tidak bisa melihat langsung proses pemakamannya. Kami masih beruntung bisa bertemu dengan keluarga yang saat itu masih berkumpul. Tampak sangat jelas mata sembab sang Ibu yang masih tidak percaya dengan berita kepergian anaknya ini. Kami cukup menahan diri agar tidak ikut menangis agar beliau tidak kelelahan akibat kesedihannya itu. Rumah yang beberapa tahun yang lalu, mungkin sekitar delapan atau tujuh tahun yang lalu, masih berupa triplek. Kini sudah lebih bagus dan lebih luas. Pengorbanan mendiang kawan kami ini untuk membahagiakan Ibunya memang saya acungi jempol.

Kami tidak bisa berlama-lama di rumah Ibu dari mendiang, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 dengan perkiraan bahwa kami harus bergegas agar sampai di Bekasi tidak terlambat. Sebelum pulang, adik ipar mendiang memberikan arahan yang cukup jelas agar kami tak melewati jalur alternatif dan melewati jalur utama. Saat itu hujan masih terus menemani perjalanan kami turun menuju jalur utama.


Benefits Google Maps


Kelaparan Dan Mampir Ke Bakso Gejrot Yang Fenomenal



Sebelumnya, kami melihat plank bertuliskan Bakso Gejrot saat hendak menuju desa Sariwangi. Seketika kami sepakat untuk harus mampir ke tempat tersebut, setidaknya biar bisa mencicipi kuliner di tempat yang kami lewati ini. Demikianlah ketika kami hendak pulang, memaksa diri untuk mampir ke Bakso Gejrot yang usut punya usut ternyata sedang ngehietz, ini baru saya ketahui setelah sampai di rumah dan bertukar cerita dengan adik saya.

Tidak menyesal rasanya setelah mencicipi satu mangkok bakso Istigfar. Kenapa bisa sampai Istigfar? Karena ternyata satu mangkok itu berisi satu bakso berukuran lumayan cukup besar! Itulah kenapa bakso ini disebut bakso Istigfar karena saat melihatnya pun saya sampai berdecak, "Astagfirullah, ini bakso gede amat!"

Untuk rasa kuahnya, saya acungi jempol, karena rasanya memang segar. Cocok disantap selagi hujan rintik dan udara dingin di luar. Untuk rasa baksonya sendiri pun memang enak jadi seperti pasangan yang saling melengkapi satu sama lain, sehingga rasanya benar-benar sesuai dengan ekspektasi saya. Apalagi saat itu lapar sudah melanda kami.

Beberapa pengunjung ada yang sempat berceloteh, mengomentari betapa tumbennya tempat ini tidak begitu ramai. Karena biasanya, di hari lain pun selalu ramai hingga tidak bisa dapat tempat duduk. Allhamdulillah, malam itu kami bisa makan tanpa harus dihujani tatapan "Buruan kek makannya" dari pengunjung lain.

Bagi Anda yang hendak mengunjungi Bakso Gejrot di Tasikmalaya ini, prosedur pembeliannya adalah memesan di meja kasir dan langsung membayarnya di tempat. Jadi, jangan harap bisa langsung duduk dan memesan dari tempat duduk karena beberapa orang yang melakukan hal tersebut justru tidak dilayani oleh pegawainya dan diminta untuk tetap memesannya di meja kasir.

Bakso gejrot


Untuk masalah harga, masih terbilang sebanding dengan porsinya. Apalagi ukuran bakso dan rasa daging yang benar-benar terasa di lidah membuat saya setuju dengan harganya. Tidak mahal tapi juga tidak murah, karena kalau murah saya justru curiga "daging apa yang dipakai sampai bisa murah begitu?" hehehehe.



Perjalanan Pulang Yang Membuat Kantuk Hilang Seketika



Kami memasuki wilayah Nagrek sekitar pukul sembilan malam. Mata saya otomatis terasa berat karena efek lelah selama perjalanan. Namun, saat memasuki wilayah yang ternyata tengah mati lampu sehingga gelap gulita ini. Membuat kantuk saya seketika hilang! Bagaimana enggak hilang kantuk saya, kalau jalanan yang kami lihat hanya bisa tampak sebatas lampu sorot mobil.

Bahkan beberapa kali kami terkejut karena ada pejalan kaki yang hendak menyebrang atau kendaraan bermotor yang tidak berlampu, ini cukup mengerikan mengingat sebelah kanan kami ada jurang menganga. Sungguh perjalanan pulang kali itu cukup menegangkan. Sampai-sampai di satu titik, karena saya kembali bergantung pada Google Maps - tentunya yang sudah saya atur agar tidak direkomendasikan untuk melalui jalan alternatif lagi, saya bingung membedakan apakah ini belokan ke arah kanan atau kiri. Benar-benar tidak terlihat.

Bersyukur masih ada marka jalan - garis-garis yang glow in the dark yang dipasang di badan pohon - yang menuntun kami bahwa jalanan tersebut berkelok atau lurus. Di belakang kami tidak tampak mobil, sementara jarak dengan mobil di depan kami ini cukup jauh. Ini terlihat dari lampu belakang yang tampak samar.

Uniknya, beberapa mobil ada banyak yang mengekor di belakang truk yang membawa banyak sekali ayam di belakangnya. Awalnya saya bingung, kenapa mereka mengekor terus di belakang truk? Hingga saat mobil kami benar-benar sendiri saya baru sadar, kalau mengekor di belakang truk, kemungkinan untuk mengetahui jalan yang gelap gulita tidak ada penerangan sama sekali ini lebih mudah. Pantas saja, beberapa mobil bahkan mengimbangi kecepatan truk yang enggak main-main ngebutnya. Saya seperti tengah olahraga jantung karena bisa tiba-tiba berkelok tajam atau jalanan tiba-tiba turun tanpa kami bisa prediksi.

Tiba saatnya kami memasuki jalan tol, sambil menyempatkan diri untuk berhenti beberapa kali. Perhentian yang cukup lama justru di rest area sekitar wilayah Karawang, saya tidak hapal di Kilometer berapa. Itu pun karena kondisi jalan padat bahkan cenderung tidak bergerak sementara jam di tangan saya menunjukkan sekitar pukul 2 pagi. Mata kami sudah terlalu berat, terutama Pak Jendral yang menyupir, saya pun harus mampu menahan kantuk karena saya harus memastikan agar Pak Jendral tidak tertidur saat menyetir. Seperti Co-Pilot saja, harus memastikan agar Pilot tidak mengantuk.

Akhirnya, saat melihat kendaraan tidak terlampau padat seperti sebelumnya, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Ternyata ada truk yang mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan kemacetan panjang terjadi. Sampai di rumah, sudah hampir setengah empat dan sebentar lagi azan subuh berkumandang. Otomatis, kami menunggu azan terlebih dahulu baru istirahat sebentar. Setelahnya kami harus kembali beraktivitas. Kalau ditanya, "apa enggak ngantuk dan capek?" Jawabannya, Iya! Ngantuk dan capek, tapi mau bagaimana lagi? Pekerjaan tetap harus dikerjakan agar gajian enggak telat, hehehehe.


Perjalanan Dan Rasa Syukur 



Saya teringat dengan tulisan mba Lidha Maul di blognya bulirjeruk.com bertajuk rasa syukur selama traveling. Betapa banyak hal-hal kecil yang bisa membuat kita menjadi tidak bersyukur akan kondisi selama perjalanan. Demikian dengan saya, ini kali pertama saya bercerita mengenai perjalanan saya. Begini, saya sudah beberapa kali mengunjungi Surabaya dan Bojonegoro, juga sudah beberapa kali mengunjungi Magelang dan Jogjakarta.

Tapi, perjalanan saya ini tidak pernah diniatkan untuk traveling, pasti ada sesuatu yang memang harus kami lakukan sehingga rela untuk menempuh jarak yang lumayan jauh. Semisalnya saat Lebaran beberapa tahun yang lalu, saya dan kakak-kakak saya serta Pak Jendral harus mau bermacet-macet ria saat bulan puasa demi bisa sampai ke Surabaya. Saat itu, kondisi Mamah baru saja melewati krisisnya yang pertama. Sehingga kami memaksakan diri untuk menemui beliau di Surabaya.

Pun beberapa kali saya sempat ke Bojonegoro, tapi itu tadi, tidak pernah diniatkan untuk sekadar mampir dan berjalan-jalan. Tapi ada hal-hal lain yang membuat kami akhirnya bisa sampai ke sana. Pertama kali saya menjejakkan kaki di Bojonegoro adalah saat perayaan Natal sebelum Eyang Putri meninggal. Kemudian berkunjung lagi saat Eyang Putri meninggal dan kembali lagi saat Bude kami meninggal.

Juga ketika kami sekeluarga bersama Mamah yang waktu itu masih sangat sehat, berkunjung ke Magelang untuk menghadiri pernikahan sepupu kami. Selalu ada acara atau hajat yang harus kami tunaikan saat melakukan perjalanan. Saya bahkan jarang sekali melakukan traveling untuk bertamasya atau sekadar piknik. Tapi, justru inilah yang membuat saya berpikir dan berpikir.

Mungkin ini jatah yang Allah berikan kepada saya. Bisa berjalan-jalan dengan satu tujuan yang jelas. Bisa menghabiskan waktu di luar kota Bekasi. Meski tidak bisa berkunjung ke banyak tempat apalagi mengunjungi teman seperti para traveler lain. Tapi, ini yang membuat saya selalu teringat agar tidak lupa bersyukur. Bersyukur meski tampak sedikit, karena ini mungkin tujuan kenapa Allah memberikan kesempatan untuk saya dengan bentuk yang seperti ini.

Ini tulisan saya yang pertama sepertinya, merekam perjalanan saya ke beberapa tempat di luar Bekasi. Semoga saja, di lain kesempatan saya bisa berkelakar kembali tentang perjalanan ini.



Tips Agar Aplikasi Peta Google Maps Tidak Mengarahkan Kita Ke Jalur Alternatif



Biar Anda tidak mengalami apa yang saya alami, sampai harus melewati pematangan sawah, ladang hingga menembus rimbunan pohon tanpa bisa melihat Indomaret apalagi Alfamart dan Pom Bensin. Ini beberapa hal yang harus dipastikan sebelum berangkat. Ini dikhususkan bagi Anda yang memang ingin menghindari jalan Alternatif, ya. Kalau memang justru berharap bisa melalui jalur alternatif agar bisa sampai lebih cepat, sebaiknya tidak perlu diikuti langkah ini.


1. Buka Aplikasi Google Maps di gawai Anda.

2. Ketik lokasi tujuan Anda.

Google Maps


3. Klik Direction dan pastikan Anda memilih mode Driving pada ikon yang terletak di bawah kotak tujuan.

Google Maps
Ikon Mobil Untuk Mode Driving


4. Klik Option atau ikon tiga titik, kemudian pilih Route Options.

Google Maps


5. Silakan dicek kotak Avoid Highway jika ingin menghindari jalur alternatif atau Avoid Tolls jika tidak ingin lewat jalan tol.

Google Maps


6. Jangan lupa klik Done setelah selesai mengatur ulang Aplikasi Peta Anda.



Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi pembaca, terimakasih sudah berkenan mampir ke blog ini dan membacanya. [Ipeh Alena]

4 comments:

  1. Wahahah, aku pun sering mengandalkan google maps kl pergi ke tempat yg blm pernah dikunjungi mbak.. Aku ikut ngakak pas baca dunia paralel, jgn2 emg iya ya😂😂😂
    Kok supir2 mbil yg ngekor ke truk ayam cerdas ya.. Hhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pun kalau diinget-inget lagi, sering ngakak sendiri karena ketakutan yang nggak logis :D

      Delete
  2. Baca ini, aku jadi ingat pernah mau staycation di Trawas. Kami biasanya ke sana dg keluarga, dan kami ngga memegang kemudi. Jd selama dijalan, banyak tidurnya. Tiba2, suamiku ngajak brgkt hanya kami dan anak2. Andalan, pakai Goole Map. Lha kok dilewatkan jalur alternatif yg nanjak pol sdgkn mobil kami tipe city car. Wkwkw.. ternyata mmg settingannya yg belom diperbaiki kaya gini.

    ReplyDelete
  3. Google Maps memang selalu jadi andalan aku juga mbak. Ingat banget pernah punya pengalaman yang sama dengan mbak Ipeh saat kami sekeluarga mengantar si teteh ART pulang ke rumahnya di Subang. Karena ke-sotoy-an mas suami, kami nyasar lah ke daerah Jonggol. Kami nggak berhenti tertawa karena emang absurd aja karena waktu itu ada sinetron yang lagi ngehits dengan lagu:

    "bapak mana bapak mana.... di Jonggol"

    Nggak nyangka kalau kami beneran sampai di Jonggol. Hahahaha. Akhirnya kami menemukan jalan yang benar dan sampai dengan selamat di tujuan.

    Oya nambahin lagi mbak, di Google Maps juga ada fitur history dan favourite jadi kita bisa menyimpan jalur perjalanan yang pernah kita tempuh. Jadi next time ke lokasi yang sama kita tinggal buka history yang tersimpan ini.

    ReplyDelete

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup, Spam dan anonymous akan dihapus ya :)


Terima kasih

Powered by Blogger.