Pengalaman Menggunakan Kacamata Lensa Photocromatic

Pengalaman Menggunakan Kacamata Lensa Photocromatic




Kacamata Lensa Photocromatic



Ada yang kenal dengan lensa photocromatic? Jadi, lensa ini sering dikenal dengan lensa photogray atau transition yang digunakan untuk lensa kacamata. Namun, istilah photocromatic sebenarnya lebih tepat karena mengacu pada perubahan molekul yang terdapat di dalam lensa sehingga mampu membuat lensa berubah warna cerah ketika cahaya yang didapat sedikit dan berubah menjadi gelap ketika cahaya yang didapat terang. Bahkan, bisa tampak seperti abu-abu jika jumlah cahaya yang masuk tidak terlalu besar.

Kacamata dengan lensa photocromatic ini saya masih saya gunakan hingga saat ini, setelah kacamata yang lama tak lagi bisa berfungsi dengan baik sehingga menyebabkan vertigo saya kambuh. Jadi, ceritanya saat itu saya ke dokter untuk menyampaikan keluhan kesehatan saya dimana penyakit vertigo saya tak kunjung sembuh. Olahraga, diet makanan bersantan hingga tidur tepat waktu, sudah saya lakukan. Tapi, penyakit vertigo saya tetap tidak kunjung sembuh.

Alhasil sang dokter menanyakan kepada saya, kapan terakhir kali saya mengecek mata saya? Mengingat saya memang pengguna kacamata yang aktif, dalam artian kalau tidak memakai kacamata, maka penglihatan saya akan sangat terganggu. Setelah saya mencoba mengingat-ingat kembali, sepertinya sudah lama saya tidak mengecek kesehatan mata saya. Jadilah beberapa hari kemudian, saya berkunjung ke dokter mata untuk memeriksa mata saya.

Menurut dokter yang menangani penyakit vertigo saya sebelumnya, beliau memprediksikan bahwa ada kemungkinan pengaruh mata minus dan penggunaan lensa kacamata yang kurang tepat bisa merangsang penyakit vertigo ini. Ternyata, setelah dicek oleh dokter mata, apa yang diprediksikan oleh dokter sebelumnya memang benar, ternyata minus saya bertambah. Karena itu saya harus mengganti lensa kacamata saya.

Tapi, jangan ditanya apakah saya hanya mengganti lensa atau tidak? Karena pada kenyataannya saya bukan sekadar mengganti lensa, tapi juga mengganti frame kacamata, ahahahahaha. Atulah, sayang kalau enggak diganti, karena mupeng dengan kacamata warna orange yang ada di etalase optik. Oiya, saya memang mendapat rekomendasi tempat optik yang bagus dari kakak saya. Jadi, cukup membawa resep dokter mata terkait jumlah minus mata kanan dan kiri saya, tanpa harus mengantri untuk dicek lagi.

Waktu saya selesai memilih frame, saya ditawari lensa photocromatic ini dengan harga yang beda sedikit saja dari harga tanpa lensa photocromatic. Akhirnya saya pikir, hanya beda sedikit tapi bisa dapat lensa transition, kenapa enggak saya terima? Dan setelah selesai, saya sempat mengalami kenorakan yang sungguh alay sekali, ahahaha. Kacamata saya lepas dan saya bandingkan di dalam ruangan dan di luar ruangan yang saat itu sedang panas terik.

Nah, selama menggunakan kacamata dengan lensa photocromatic ini, saya mengalami beberapa hal yang setelah lewat momennya justru membuat saya tertawa terbahak-bahak. Meski waktu mengalami hal tersebut saya berada di posisi yang kebingungan bahkan sampai ketakutan, bagaimana ceritanya? Disimak ya, sampai habis.


Teriakan Lantang Di Pos Penjaga



Hari itu saya harus menghadiri sebuah acara di kawasan Yon Armed bekasi, konon lokasinya dekat dengan curug parigi. Tapi, karena saya belum pernah menjelajah ke tempat tersebut jadilah saya menyempatkan diri untuk berangkat lebih cepat. Saya harus sudah tiba sekitar pukul 12 siang, sementara saya sudah berangkat sejak pukul 9.30 pagi. Ini untuk mengantisipasi saya kesasar dan kemacetan, apalagi karena wilayah tersebut memang dikenal rawan macet karena berbarengan dengan truk besar dan mobil sebesar transformer lewat daerah tersebut.

Siapa sangka, saya justru datang lebih cepat dari jadual yang diharuskan. Saya sudah tiba di dekat lokasi sekitar pukul 11 siang. Namun, saya masih belum menemukan kawasan Yon Armed tersebut. Berkat bantuan Google Maps, saya tidak kesasar dan dihindari dari kemacetan yang bisa membuat jantung berdebar karena dipepet oleh dua transformer adalah hal yang biasa di daerah ini.

Sesampainya di depan kawasan Yon Armed, saya melirik ke pos penjaga, tidak tampak oleh saya dua penjaga yang ternyata duduk di balik dinding. Otomatis, saya langsung saja masuk ke kawasan dan melalui pos penjaga tanpa melirik kanan dan kiri lagi. Mau tahu apa yang terjadi? Saya diteriaki dengan sangat kencang dan lantang, "Mbak..Mbak...Lapor dulu kalo mau masuk!"

Bapak abri yang sedang menjaga pos di balik dinding yang tidak terlihat oleh saya itu, membuat jantung saya berdebar, kaki saya gemetar seolah saya baru saja dijatuhi hukuman mati. Dengan suara berlogat daerah sumatera dan suara yang super lantang, dia meminta saya untuk kembali ke pos penjaga. Kemudian terjadilah percakapan yang membuat saya lemas tak berdaya.

Bapak Abri (B) : "Besok kalau mau masuk ke kawasan harus lapor terlebih dahulu."
Saya (S) : "Baik, pak," saat itu tubuh saya sudah teramat gemetar dan hampir menangis.
B : "Itu kacamata....."
S : Seketika mencopot kacamata sambil tergugup mengucap, "iiyaa...pak.. ini kacamata..kacamata pak." sambil menyodorkannya ke Bapak Abri.
B : "Saya kan cuma nanya itu kacamata hitam atau bukan? Pakai saja. Silakan, lokasinya di sana."

Mungkin percakapan ini tampak sekilas dan singkat, tapi sesungguhnya apa yang saya rasakan itu seolah saya tengah diinterogasi selama sebulan. Makjreng!!! Saya ketakutan banget, meski ketika saya pikir-pikir lagi, Bapak Abri itu memang benar, saya yang salah kenapa selonong boy aja! Hehehe. Apalagi ini efek dari lensa photocromatic yang saya kenakan dimana tampak seperti kacamata hitam. Wajar kalau beliau menanyakannya pada saya.

Kejadian ini selalu membuat saya tak henti-hentinya menertawai diri sendiri. Terutama dengan kegugupan dan ketakutan yang saya bangun sendiri. Duh, padahal itu Bapak Abri cuma nanya baik-baik, memang logat dan cara bicaranya saja yang memang lantang, jadilah saya merasa seperti dimarahi padahal beliau cuma bertanya :D.

Setelah kejadian ini, saya kapok kalau melihat pos jaga terlihat tampak kosong. Saya akan meluangkan waktu untuk berhenti dan turun dari kendaraan demi memastikan benar kosong atau tidak, cukup menakutkan juga kalau sampai diteriaki lagi, hehehe.



Tatapan Mata Yang Sangat Serius



Siang yang panas terik di hari Sabtu, saya mengendarai motor di tengah kemacetan. Bagi saya mengendarai motor di wilayah Bekasi itu memilki keuntungan yang banyak. Salah satunya, saya bisa meliuk-liuk masuk ke gang demi gang di perkampungan, terkadang kalau beruntung bisa melewati jalanan kecil yang menembus persawahan di wilayah kabupaten Bekasi. Itulah kenapa saya masih betah kemana-mana mengendarai motor.

Di tengah kemacetan yang memang sering terjadi, dimana polisi cepek yang mengatur kendaraan di perempatan sering mendahulukan mobil yang memberi uang. Alhasil, antrian kendaraan bisa sangat panjang hingga mencapai pabrik Suzuki di dekat kalimalang. Karena panas terik, otomatis kacamata saya ini tampak seperti kacamata hitam.

Saat melaju sedikit demi sedikit, saya merasa beruntung karena bisa berhenti di bawah pohon yang lumayan teduh. Sehingga kacamata saya perlahan mulai berkurang warna kehitamannya sehingga tampak sedikit abu-abu. Meski perubahan warna ini tidak seketika tapi sedikit demi sedikit, namun kalau memperhatikan dengan seksama, tentulah akan sangat tampak perbedaannya.

Demikian juga dengan teriakan yang saya dengar tidak jauh dari motor saya, "Mak, itu kacamatanya bisa berubah masa." Betul, sumber suara tersebut berasal dari seorang anak SD yang memang sejak tadi saya perhatikan memang mengedarkan pandangannya ke pengendara motor di sekitarnya. Ternyata, dia memperhatikan kacamata saya, sambil menunjuk ke arah saya dan melapor ke Ibunya. Otomatis saya melempar senyum ke arah sang Ibu yang kemudian menyuruh anaknya diam.


***


Dua pengalaman saya tersebut memang kerap terjadi, terutama perihal diperhatikan orang hingga mendapat tatapan aneh. Tidak jarang bahkan ada yang berbisik-bisik tapi hingga tertangkap oleh telinga saya tentang keanehan saya mengenakan kacamata hitam saat berjalan kaki. Memang, jadinya lumayan risih karena masih banyak orang yang belum terbiasa dengan keberadaan lensa photocromatic ini, meski sebenarnya sudah lama eksis di dunia per-kacamata-an.

Saat saya masih kecil dulu, saya pun masih mengingat mendiang Pakde saya memiliki kacamata yang persis seperti yang saya gunakan, dimana bisa tampak abu-abu atau gelap saat terkena sinar cahaya yang lumayan kuat. Dan bisa menjadi bening ketika sinar matahari yang didapat jumlahnya sedikit. Sehingga saya tidak begitu heran dengan keajaiban lensa kacamata yang bahkan saya baru tahu setelah saya memilikinya sendiri.

Walaupun sering terasa risih karena ditatap dengan pandangan aneh, tapi tidak sedikit saya mengalami momen yang lucu hingga membuat saya tertawa kalau mengingatnya.

Bagaimana dengan Anda, ada pengalaman lucu apa yang pernah dialami, dimana saat mengingatnya kembali selalu mendatangkan tawa yang tiada berakhir? Silakan berbagi di kolom komentar. Terima kasih juga sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. [Ipeh Alena]

2 comments:

  1. Dan akhirnya kepo dengan Kacamata Lensa Photocromatic, ohh... ternyata bisa berubah.
    Pantesss tu anak ngomongnya gitu.
    Sumpah, baru tahu. Lucu juga sih tu reaksi ipeh ke si bapak. Dia kan cuma nanya bukan razia. Ealah, kapan ketawa? Kayaknya saya gampang banget deh ketawa
    Oya, baru2 juga Ibu saya kena vertigo dan akhirnya ikut terapi. Akhir2 ini baru selesai terapi. Semoga Ipeh dan juga ibu saya nggak pernah ngalami lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin allahumma aamiin, semoga mba Lidha juga sehat selalu yaa :*

      Delete

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup, Spam dan anonymous akan dihapus ya :)


Terima kasih

Powered by Blogger.