22 November, 2017

Pengalaman Menggunakan Handphone Xiaomi Mi Note Bamboo

Pengalaman Menggunakan Handphone Xiaomi Mi Note Bamboo



Xiaomi Mi Note Bamboo



Belakangan ini, saya memang mulai membiasakan diri menggunakan foto hasil jepretan saya untuk kepentingan blog post. Perlengkapan yang saya gunakan untuk memotret juga bukan kamera DSLR, tapi menggunakan kamera handphone Xiaomi Mi Note Bamboo. Pertama kali membeli handphone ini, justru karena direkomendasikan oleh pemilik toko. Dia bilang, ini harganya murah. Dan memang benar, harganya jauh lebih murah dan sesuai dengan budget di kantong.

Kali ini, saya hanya ingin menyeritakan pengalaman saya menggunakan handphone Xiaomi Mi Note Bamboo yang menjadi handphone favorit saya. Jika dibanding dengan beberapa merk handphone yang sudah saya gunakan, memang Xiaomi tidak bisa membuat saya langsung merasa nyaman begitu saja. Justru karena kejernihan dari kameranya yang membuat bertahan menggunakan handphone ini.

Selama menggunakan handphone ini, banyak orang yang tidak percaya, kalau foto-foto macro yang saya unggah di Instagram merupakan hasil dari jepretan handphone Xiaomi. Beberapa menganggap justru saya menggunakan kamera DSLR. Walaupun bohong kalau dibilang saya tidak GR, karena berarti hasil jepretannya jernih ((KARENA KAMERA HANDPHONENYA SIH)). 

Beberapa waktu yang lalu saya sebenarnya sudah menuliskan Hal Apa Saja Yang Harus Diperhatikan Sebelum Masuk Ke Dunia Makro Fotografi. Salah satunya yaitu kesiapan lensa. Itu yang penting. Alat utama yang menjadi senjata bagi gerilyawan dan gerilyawati macro photography dengan menggunakan handphone. 

Pada kesempatan kali ini, saya tidak akan menjelaskan detail spesifikasi handphone yang saya gunakan. Karena bisa ditemui di beberapa situs lain atau di situs resmi Xiaomi. Jadi, saya hanya ingin bercerita pengalaman saya secara sederhana, apa saja kenangan yang saya rasakan selama menggunakan handphone ini.



Kepincut Harga Murah


Waktu beli handphone ini, saya kepincut dengan harganya yang murah. Untuk ukuran handphone dengan kamera 13 MP, termasuk murah sih. Waktu itu saya membelinya sekitar 2jutaan. Kalau dibanding dengan handphone merk lain yang terkenal, dimana kemampuan kameranya masih di bawahnya, namun memang sudah bisa expand memory. Tapi, bagi saya harganya masih terlampau tinggi.

Setelah resmi memiliki handphone ini, saya sempat terkejut karena memang benar-benar masih kosongan. Beberapa aplikasi yang biasanya selalu sudah tersedia di handphone seperti  Whatsapp, Facebok atau bahkan Youtube. Di handphone yang saya beli ini, sama sekali tidak ada. Alhasil saya harus memasang ulang satu persatu aplikasi yang saya butuhkan. 

Beruntungnya saya sudah mengenal aplikasi Share-It yang mempermudah transfer aplikasi, jadi saya tidak perlu mengunduh terlebih dahulu dari playstore. Lebih menghemat waktu sih alasannya. Selain itu, ada beberapa kendala yang saya alami namun tidak kunjung saya perbaiki karena malas. Yaitu, ketika saya hendak mengganti tema untuk handphone, eh tiba-tiba ada pesan eror. Dimana penggantian tema apapun tidak bisa, justru mendatangkan eror yang bisa membuat emosi meledak.



Ketika Pertama Kali Memotret Di Dalam Ruangan



Sewaktu menghadapi hal-hal yang membuat emosi jiwa dan raga, apalagi erornya ini membuat saya semakin enggak habis pikir. Karena, meski sudah diupdate operating systemnya, tetap saja menampilkan pesan eror. Akhirnya saya menyerah, bukan pasrah. 

Tapi, saya masih belum mau melepas handphone ini karena pengalaman saat harus memotret di dalam ruangan yang minim cahaya. Ketika hasilnya justru tetap bagus, apalagi memiliki sensor pengatur cahaya yang bisa dinaik-kan atau diturun-kan di layarnya. Ini membantu sekali, sehingga hasil fotonya masih tampak bagus.

Bakat Bukan Takdir


Dari pengalaman inilah akhirnya saya bersabar menghadapi kekurangan dari OSnya. Karena saya berpikir, toh hasil kameranya lumayan. Dimana pada waktu itu saya masih sering ketinggalan momen yang pas untuk memotret di pagi atau sore hari. Akhirnya harus pasrah memotret di ruangan yang minim cahaya. Apalagi saat itu saya juga masih belum mengenal cara membuat studio mini dadakan.



Hasil Tampak Jernih Saat Memotret Di Luar Ruangan



Tentunya, semua kamera juga kalau mendapat cahaya yang cukup akan menampakkan hasil yang jernih. Iya, kan? Tapi, tetap saja saya merasa WAH ketika melihat hasilnya yang saat di-zoom-in tidak buram. Apalagi karena penentuan fokusnya manual, bisa dipilih sendiri ingin difokuskan kemana sensornya.

Meski memang ada beberapa pengguna Xiaomi yang kurang menyadari fokus sensor di layarnya. Sayang sekali, apalagi kalau mereka kemudian berkomentar kalau hasil fotonya burem alias tidak fokus, itu karena mereka belum tahu letak fokus sensor yang ada di layarnya. Memang sih, bisa diatur fokusnya menjadi otomatis. Tapi, seringnya yang terjadi seperti itu.

Selain jernih saat memotret di luar ruangan, juga tetap jernih meski berada di dalam ruangan yang mendapat cahaya langsung dari sumber cahaya. Dalam hal ini jendela di kamar depan rumah saya. Ini menjadi studio mini tempat saya mencoba-coba memotret. Dari awal yang masih awam sekali memotret, sampai akhirnya paham bagaimana cara yang baik dan benar.





Walaupun masih belum naik level, masih disini-sini saja. Tapi, saya tetap bahagia, setidaknya ada perkembangan yang lebih baik dari sebelumnya. Bisa dilihat dari beberapa postingan di blog ini yang rata-rata sudah menggunakan foto yang saya jepret sendiri ditambah editing dengan snapsheed.



Belajar Optimasi Memotret Dengan Handphone



Akhirnya setelah mendapat ilmu tentang fotografi saat Kelas Blogger Angkatan Ke-6. Saya mengetahui banyak hal terutama posisi mengambil gambar. Seperti posisi tangan sampai bagaimana menentukan objek dengan teknik Rule of Thirds. Allhamdulillah, ilmunya sangat bermanfaat sekali. Karena sesudahnya saya sedikit demi sedikit mulai bisa mempraktekannya.

Objek pertama saya yang menjadi bahan percobaan tidak lain tidak bukan adalah BUKU. Betul, jika dilihat di blog saya bacaanipeh.web.id. Tentu akan melihat perubahan kualitas foto dari sebelumnya. Itu hasil saya berproses yang membuat saya bangga karena bisa melihat hasil yang membuat saya bersyukur. Meski belum mahir betul, karena itulah saya masih sering berusaha belajar teknik motret.

Bagaimana posisi memegang kamera handphone yang benar? Kalau dari saran Kang Dudi, memegang kamera baik handphone maupun DSLR, sebaiknya kedua tangan kita bertumpu pada badan. Ini agar menghindari kondisi kamera terguncang saat memotret. Kalau di DSLR memang ada teknologi stabilizer juga bisa diatur speed-nya, sehingga hasilnya tetap bagus.

Nah, kalau di kamera handphone, tentunya guncangan sedikit bisa membuat hasilnya kurang bagus. Itulah kenapa posisi memegang kamera atau handphone itu sangat penting untuk diperhatikan. Jangan sampai asal-asalan, karena bisa memengaruhi hasilnya. Ini saya sematkan sedikit informasi cara memegang kamera atau handphone. Saya sering menggunakan posisi siku yang bertumpu pada tubuh.


How to hold a camera





Asyik Eksplorasi Dunia Fotografi Makro


Belakangan, setelah mengenal sedikit tentang keseruan dunia Macro Photography. Akhirnya saya merasa benar-benar sayang untuk melepas handphone ini. Meski keribetan yang saya hadapi bertambah banyak, salah satunya karena memang memory di handphone cepat penuh, alhasil saya harus menggunakan handphone lain untuk kepentingan pekerjaan.






Tapi, tetap enggan untuk melepas handphone ini. Apalagi ketika praktek langsung serta melihat hasil dari kamera handphone dengan paduan lensbong, membuat saya semakin sayang untuk melepasnya. Sampai saat ini masih belum mendapat ganti yang PAS kalau masalah kualitas kamera. 

Perlu diketahui juga, setiap kamera handphone Xiaomi rata-rata sekarang memang hanya 13 MP, tapi kualitas gambar tidak hanya ditentukan dari resolusinya tapi fungsi lainnya. Sehingga kalau dilihat sendiri di hashtag #XiaomiPhotographyIndonesia bisa tampak perbedaan hasil gambarnya. 



Kemudian, dari apa yang saya alami sendiri, kalau memory handphone sudah mulai penuh dan hanya menyisakan kurang dari 1 giga. Biasanya kualitas dari gambarnya juga ikut menuru. Ini dari pengalaman saya sendiri loh. Itulah kenapa saya akhirnya memutuskan untuk mengususkan Xiaomi ini untuk memotret dan membaca E-book saja. Sehingga kapasitas di handphone masih besar sekitar 4 giga. Demi hasil poto yang bagus.

Ini juga kalau kondisinya memang masih berlebih sehingga bisa menggunakan dua gadget. Kalau tidak, diusahakan saja untuk meminimalkan penggunaan aplikasi seperti aplikasi facebook bisa dibuka dengan menggunakan browser di handphone. Atau bagaimana caranya terserah Anda, disesuaikan saja dengan kebutuhan.


***

Overall saya memberikan rating 5/5, meski terdapat beberapa kekurangan dalam penggunaan handphone Xiaomi ini. Karena sudah menjadi handphone favorit yang setia menemani dan mendukung pekerjaan saya. Apalagi kalau saat harus reportase dan memotret situasi di sekitar tempat acara. Tentunya handphone ini sangat membantu sekali. [Ipeh Alena


No comments:

Post a Comment

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih