Kenapa Harus Membaca Dan Menulis? Apakah Keduanya Penting Di Era Serba Digital Seperti Saat Ini?

September 06, 2017

Kenapa Harus Membaca Dan Menulis? Apakah Keduanya Penting Di Era Serba Digital Seperti Saat Ini?


Membaca dan menulis



Seperti yang sudah diketahui, membaca dan menulis merupakan dua aktivitas yang tidak bisa dipisahkan. Terlebih, saat ini, anak-anak yang ingin masuk ke sekolah dasar pun tidak hanya harus mampu membaca dan menulis, tapi juga berhitung. Namun, kali ini saya ingin sedikit saja menuliskan tentang seberapa penting kemampuan membaca dan menulis itu?

Baik membaca dan menulis, keduanya bagi saya merupakan kemampuan dasar yang sudah sepatutnya dimiliki banyak orang. Saya masih mengingat sebuah gerakan yang pernah digaungkan, yaitu pemberantasan buta huruf. Ini demi terwujudnya masyarakat yang mampu membaca dan menulis. Apalagi, belakangan juga tengah marak gerakan literasi untuk mewujudkan generasi muda yang gemar membaca.

Dalam kehidupan nyata, baik membaca dan menulis, merupakan aktivitas yang tidak pernah terlepas dari kegiatan harian manusia. Semisalnya saya ambil contoh kegiatan di Bank, baik pekerja maupun nasabah, kemampuan membaca tetap harus dimiliki seperti membaca formulir yang harus diisi nasabah. Atau membaca prosedur bagi para pekerja saat berhadapan dengan nasabah. Demikian juga menulis, meski saat ini teknologi sudah sedemikian maju, menulis formulir tetap dibutuhkan.


Selain kegiatan yang terjadi di Bank. Indonesia yang memiliki keberagaman baik suku, adat dan agama pun menuntut agar masyarakatnya bisa membaca. Untuk apa? Dalam hal beragama, yang saya tahu sebagai muslim saya harus bisa membaca baik itu huruf kapital maupun abjad arab. Kemampuan membaca baik huruf kapital maupun huruf abjad ditujukan agar umat muslim mampu membaca kitab Al-Quran.

Namun, bukan saja bagi umat Muslim. Bahkan umat nasrani dan protestan pun mereka dituntut untuk bisa membaca, agar mampu membaca isi dalam kita injil. Atau umat beragama lainnya yang tetap dituntut untuk bisa membaca. Sehingga inilah yang saya maksudkan bahwasannya membaca itu termasuk basic skill.

Tanpa kemampuan menulis, maka ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan berkembang. Karena, banyak penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari abad 18 atau 19 ditemukan dalam bentuk tulisan. Sehingga, generasi berikutnya bisa mengembangkan penelitian tersebut karena mampu membaca. Menulis catatan untuk perkembangan ilmu pengetahuan pun menjadikan kemampuan ini juga sebagai basic skill yang harus dimiliki banyak orang. Karena dengan begitu segala ilmu yang penting untuk diketahui dapat diwariskan secara turun temurun sebagai pengetahuan dan penelitian yang berharga.


Bagaimana jika banyak orang yang mampu membaca tapi tidak memahami bacaan? Saya pernah menuliskan tentang ragam manfaat membaca juga tipe-tipe membaca. Biasanya tipe membaca ini memang ditujukan untuk hal-hal tertentu. Tapi, jika tidak memahami bacaan, ini merupakan permasalahan yang kerap terjadi.


Sebagai contoh, saya pernah membaca sebuah status di Facebook yang cukup panjang dan detil. Namun, karena kemampuan pemahaman setiap orang berbeda ditambah maraknya orang-orang yang membaca dengan cepat tanpa teliti. Pada akhirnya, komentar di status tersebut banyak berisi konten yang bahkan sudah dijelaskan dengan detil di status tersebut. Di sinilah letak kekurangan membaca cepat, terlebih jika memang fungsi membaca tersebut ingin memberikan umpan balik atau hipotesa atau justru analisa.

Kenapa saya memberikan contoh kasus status di Facebook? Karena sejujurnya, hal seperti ini sering saya dapati di beranda Facebook saya. Sebuah keadaan yang miris, menurut saya, karena bahkan membaca cepat juga membutuhkan teknik yang tidak instan. Bahkan butuh waktu yang cukup lama dalam berproses bagi beberapa orang yang mampu membaca cepat namun tetap memahami isi bagian atau wacana atau topik yang disampaikan.

Kasus-kasus seperti status di Facebook ini hanya sebagian kecil dari banyaknya kasus masyarakat yang memilih membaca cepat atau hanya membaca judul dan mengabaikan isi secara keseluruhan. Dengan dalih tidak memiliki waktu untuk membaca secara detil atau membaca dengan teknik reading for a gists. Sehingga kasus seperti ini cukup sering terulang dan juga pernah terjadi di banyak tempat. Seperti blogger yang cukup jengkel dengan komentar pengunjung yang menanyakan sesuatu yang bahkan sudah dijelaskan dengan sangat rinci pada tulisannya. Dan contoh lainnya yang sebenarnya masih banyak terjadi.

Selain kemampuan membaca yang kurang baik, kemampuan memahami bacaan juga memiliki pengaruh yang besar. Hal yang membuat saya terkejut adalah ketika saya tengah mencari jawaban dengan kata kunci Analyze Book di Pinterest. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Kenapa? Karena banyak para pendidik dari luar negeri yang membagikan bahan ajar mereka di tempat ini. Uniknya, bahan ajar ini banyak ditujukan untuk anak-anak yang duduk di sekolah dasar.

Bisa dilihat dari banyaknya gambar modul Close Reading yang mengajarkan anak agar mampu menganalisa sebuah bacaan melalui kertas pembantu. Dimana isinya antara lain membantu anak untuk mengetahui maksud dan tujuan sebuah tulisan. Kemudian mereka diminta juga untuk mencari hubungan antara bacaan dengan realita yang ada di sekeliling mereka. Sampai menganalisa kemampuan mereka terhadap bacaan.





Tidak heran jika saya sering membaca tulisan di Newyork Times, tentang buku-buku klasik yang kemudian diakui oleh para penulisnya, merupakan buku-buku yang wajib mereka baca ketika mereka duduk di sekolah dasar. Bukan hal yang baru ketika anak usia sekolah dasar sudah diminta untuk membaca Oliver Twist karangan Charles Dickens, kemudian membuat essay tentang buku tersebut. Dari sinilah, terlihat bagaimana masyarakat yang gemar membaca dan dididik sejak dini untuk memahami bacaan, memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda. Baik kecerdasan emosi maupun kecerdasan intelektual.

Manfaat membaca tentunya sudah banyak yang mengetahui. Meski tidak menutup kemungkinan bahwa ilmu pengetahuan yang kita dapat bisa juga bersumber dari sebuah video entah itu rekaman dokumenter atau video apa saja yang terkait penelitian. Namun, kegiatan menulis dan membaca tetap dilakukan, semisalnya untuk mencatat hal penting yang ingin dijadikan referensi. Atau membaca alih teks yang ada pada video atau rekaman tersebut.

Karena membaca dan menulis menjadi dua hal yang sangat rekat hubungannya. Juga sebagai salah satu kemampuan dasar bagi manusia dalam kehidupan, maka sudah waktunya pendidikan saat ini tidak hanya memberantas buta huruf. Tapi juga mengajarkan generasi penerus untuk memahami bacaan dan membantu mereka menganalisa bacaan. Dengan begitu diharapkan, nantinya Indonesia bisa menjadi negara yang tidak lagi menjadikan orang lain yang membaca di tempat umum sebagai orang yang aneh lagi. Namun, sebagai kegiatan yang umum dan baik untuk dilakukan.

Bagi pembaca artikel ini, yang ingin belajar menganalisa bacaan juga menulis ulasan terkait buku, artikel atau bahkan paper, bisa mencari ragam idenya dan juga gambar-gambar yang dapat membantu dengan kata kunci Analyze Book atau kata kunci Close Reading. Semoga artikel ini bisa bermanfaat. [Ipeh Alena]



"Tulisan ini diikutkan dalam Postingan Tematik (PosTem) Blogger Muslimah Indonesia
#PostinganTematik #BloggerMuslimahIndonesia

  • Share:

You Might Also Like

29 comments

  1. Benar sekali, Mbak. Kini orang sering membaca tanpa memahaminya terlebih dulu..lalu buru-buru menyimpulkan. Ini fatal jika ternyata apa yang dia simpulkan ternyata tak sejalan dengan apa yang dituliskan..
    Ulasan yang bagus ini, Mbak!
    Saya jadi ingat, kalimat penutup iklan olshop, dll..Budayakan membaca baru bertanya..Karena sering, meski sudah dijelaskan panjang lebar di tulisan, eh di komentar ada yang nanya hal yang sudah ada jawabannya..kwkwkw..benar-benar kebiasaan nggak mau baca dengan teliti:D

    ReplyDelete
  2. yup.. kembali diingatkan akan keterkaitan membaca dengan menulis.

    ReplyDelete
  3. iya, kita akui minta baca bangsa kita masih rendah.. termasuk memahami bacaan juga agak lemot.. moga ke depan makin banyak generasi kita yang gemar baca

    ReplyDelete
  4. Selain kemampuan membaca yang kurang baik, kemampuan memahami bacaan juga memiliki pengaruh yang besar. <<<--- Ini noted banget. Mencerna apa yang kita baca dengan sebaik-baiknya.

    ReplyDelete
  5. Sangat bermanfaat mba artikelnya.

    ReplyDelete
  6. Kadang saya juga masih suka baca cepat aja mbak saat ada tulisan di medsos. Tapi jarang ikutan komentar sih, cuma ingin tau saja pemikiran dari orang lain itu seperti apa. Yah, koreksi juga buat diri sendiri nih

    ReplyDelete
  7. Semoga kita bisa menjadi bagian penyebar virus membaca dan menulis ^^

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah nambah ilmu tentang analyze book dan close reading. Cakep mbak, tulisannya. Terima kasih sudah berbagi ini :)

    ReplyDelete
  9. Reminder banget buat aku yang masih sering menyempatkan diri untuk membaca update status di media sosial, daripada membaca buku :(
    Terimakasih sharing ilmunya, mbak :)

    ReplyDelete
  10. Aku pribadi harus lebih banyak membaca buku nih mba. Tulisan tulisan di medsos satu sisi menggoda untuk dibaca sih mba :(

    ReplyDelete
  11. Semoga suatu hari nanti pemandangan orang-orang asik bermesraan dengan gadgetnya akan berganti dengan buku di tangan.

    ReplyDelete
  12. jadi pingin nambah wawasan soal ulas mengulas bacaan...makasih infonya tentang book analizer dan close reading

    ReplyDelete
  13. Beberapa waktu lalu, kepala sekolah anakku (SMP) mengatakan bahwa anak-anak sekarang susah untuk menganalisa bacaan. Ini karena kebiasaan membaca pesan-pesan singkat. Ini juga PR buat orang tua. Di era digital seperti ini inginnya serba praktis.
    Apalagi aku sering ngobrol dengan ibu-ibu di sekolah yang pada umumnya mereka itu nggak suka baca.(sedih).

    ReplyDelete
  14. Membaca dan menulis memang seperti couple yang susah untuk dipisahkan ya Mba.. Karena tanpa membaca isa ajdi tulisan yang kita buat kurang berbobot :D. trims artikelnya

    ReplyDelete
  15. Membaca itu seharusnya diikuti dengan memahami dan menarik makna. Kalau cuma baca aja, ya, nggak komplit. Makanya sekarang banyak yang suka salah paham, salah tafsir. Thanks pencerahannya.

    ReplyDelete
  16. Jaman aku dulu dari SD sudah diwajibkan membaca buku dan merangkumnya. Aku lihat adikku yang terpaut 15 tahun sama aku juga ada anak pegawai di rumah aku yang saat ini masih SD kok enggak pernah disuruh membaca buku dan merangkum lagi ya? Rasanya sangat disayangkan, mereka jadi enggak paham isi buku pelajaran.
    Baru minggu lalu, anak SD yang di rumah aku minta diajari karena katanya enggak ngerti. Aku tanya di buku sudah dibaca belum teorinya, dia malah enggak ngerti kalau di buku itu ada teorinya. Duhhh kok miris ya, Mbak.

    ReplyDelete
  17. orang bisa menulis karena membaca, noted. Jadi emang nyambung yaa... aku sering baca dengan blogwalking random. Malah dapat macem-macem ilmu.
    btw mba, adsensenya difilter please. aku kena zonk nih iklannya >,<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir, maaf mba Helena tapi adsense iklannya sudah saya filter sejak awal.

      Delete
  18. Membaca dan menulis memang satu paket. Jadi ingat, saat keponakan (katanya) pengen jadi penulis tapi gak suka membaca. Dikiranya menulis itu hanya sekadar pencat pencet tombol keyboard. Duh...

    ReplyDelete
  19. Membaca dan menulis itu memang saling berkaitan dan membutuhkan satu sama lain, kalau dalam pelajaran IPA namanya Simbiosis Mutualisme

    ReplyDelete
  20. Anak-anak di luar negeri kereeen yaa, kecilnya sudah diajarkan cinta membaca. Makasih mba nice post :)

    ReplyDelete
  21. Untuk menjadi penulis yg baik hrs mnjadi pmbaca yg baik. Tulisannya sngat bermnfaat

    ReplyDelete
  22. Ah, jadi ingat ustadzah saya, Mbak. Beliau pernah bilang, jangan merasa senang dulu kalau udah menyelesaikan bacaaan. Cek lagi, bacaannya itu menghasilkan pemahaman atau belum?? Jleb banget itu, hehe... Makasih Mbak, tulisannya mengingatkan saya lagi biar jadi pembaca yang mampu menangkap pesan penulisnya... ;)

    ReplyDelete
  23. Superfast reading d fb itu kadang suka bikin berantem hehe. Tengku info ttg analyze book sama close reading. Saya jadi kepo 😁

    ReplyDelete
  24. Terima kasih banyak Mbak. Aku jadi lebih memahami bahwa selain bagaimana harus suka buku, membiasakan untuk membaca, juga perlu memahami isi tulisan, pun sesederhana di status facebook ya. APalagi kalau hanya scroll dan membaca yang terlihat saja

    ReplyDelete
  25. Tepat sangat. Jangan cuma suka baca aja, etapi terus begitu ditanya tak bisa menjelaskan sebab kurang paham isinya. Hi hi, kadang aku ya begini. Trims Mba Ipeh, soal ragam membaca itu penting bgt jg untuk diketahui ya.. ^^

    ReplyDelete
  26. Bener Mba, miris banget kalo ada yang baca judul lalu share dan ternyata isinya hoax. membaca pun butuh ilmu ya :)

    ReplyDelete
  27. Saya juga suka ngintip buat ide bahan ajar di Pinterest mbak. Ternyata dari kelas dasar materi ajarnya sudah benar2 terarah. Jadi dari kecil sudah diajarkan kritis apalagi saat membaca. Keren banget.

    ReplyDelete
  28. Kalau sering baca biasanya lebih mudah memahami bacaan. Tapi entah kenapa kemampuan baca sy menurun sejak nikah ... jd jarang baca buku huhuhu

    ReplyDelete

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih