Perayaan Hut Ke-72 RI Dan Arti Kemerdekaan Menurut Ipeh Alena

August 18, 2017



Arti Kemerdekaan



Berhubung masih ada semangat-semangat perayaan kemerdekaan, terutama di beberapa Rukun Tetangga atau Rukun Warga, perayaan Hari Kemerdekaan akan ditutup hari sabtu besok. Jadi, tulisan ini, saya anggap, masih bertemakan sesuatu yang tidak jauh-jauh dari kata MERDEKA. Nah, kali ini, kembali saya menulisk tulisan untuk kolaborasi dengan Nyai Dasimah (baca : Tri Astuti Utomo).


Mungkin tulisan ini, yang berisi secara keseluruhan adalah curhat dan hal random semata. Bisa mengakibatkan rasa bosan pada pembaca. Jadi, saya berikan peringatan sebelum mencapai paragraf selanjutnya. Biar ndak misuh-misuh gitu, hehehe. Sebelumnya, saya ingin kutip arti kata MERDEKA dari website kbbi.web.id.



merdeka/mer·de·ka/ /merdΓ©ka/ a 1 bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri; 2 tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3 tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa;






Kemerdekaan menurut Ipeh Alena itu....


Bebas Merdeka menentukan ingin menonton film yang bagaimana, genre apa, siapa bintang filmnya, siapa sutradaranya dan bioskop mana. Ada beberapa mungkin akan mengerutkan kening hanya karena saya menuliskan terkait kebebasan menonton film. Pasalnya, kondisi saat ini, tidak memungkinkan untuk seseorang mengambil langkah berbeda dari kebanyakan orang. Saya pernah dianggap aneh karena lebih nyaman nonton film di Blitz ketimbang di XXI. 

Meski ada sebagian yang mengatakan, "loh, itu kan pilihan dia, bebas aja lah ya." Tapi, tetap saja, ada yang bahkan mempermasalahkan ketika saya memilih nonton film yang tidak begitu populer disaat ada film yang sangat teramat populer, sampai-sampai dibuka 4 teater khusus menayangkan film yang sama. Jadi, ada beberapa orang yang masih menganggap sejalan dalam pilihan dan pemikiran adalah sesuatu yang NORMAL.

Kalau kata Vabyo di bukunya berjudul Joker, apa sih arti Normal? Apa iya masih disebut normal ketika berada di rumah sakit jiwa, kemudian dikelilingi orang gila, sementara Anda sendiri menganggap dirimu normal. Jujur saja orang gila itu akan menganggap Anda tidak normal. Karena, sejujurnya, ketika tidak melihat situasi atau kondisi, kata normal hanya sebuah keanehan belaka karena substansi kata normal sendiri masih terbilang banyak berpengaruh dengan situasi dan kondisi.

Tapi, bukan berarti ketika bebas menonton film apa dan dimana, dijadikan sebuah alasan untuk menonton film-film bajakan! SAY NO! Serius deh, mau sampai kapan enggan menghargai karya orang lain? Kalau suatu ketika, punya suatu karya entah itu receh banget atau jenius banget, kemudian dibajak/ditiru mentah-mentah, kemudian ngomel-ngomel. Sejujurnya, itu adalah sesuatu yang aneh. Seperti maling teriak maling.





Kemerdekaan menurut Ipeh Alena itu....


Bebas Merdeka mau baca buku apa, siapa penulisnya, apa genrenya, berbobot atau enggak dan mau beri nilai atau rating berapa di Goodreads. Harusnya semua pembaca buku juga punya kebebasan seperti ini. Beberapa orang pernah menyinggung, bagaimana bisa dikatakan merdeka kalau beropini saja banyak orang yang merasa takut? Bagi banyak pengguna Goodreads, ada beberapa yang bahkan mengalami secara langsung disemprot oleh seorang penulis hanya karena memberikan rating satu bintang untuk bukunya.

Padahal, pengalaman membaca setiap orang itu berbeda. Bisa saja dia merasa kecewa dengan pengemasa tokoh yang menye-menye atau si pembaca kecewa karena blurb dan isi dari buku sangat bertentangan sehingga membuat dia seperti membeli kucing di dalam karung. Sampai, kekecewaan lainnya terkait entah itu model font, kurangnya emosi yang digali dan segala macamnya. 

Sayangnya, banyak sekali penulis yang belum siap untuk dikritik apalagi dikasih bintang satu di Goodreads. Jangan salah, sosok penulis yang terkenal saja pernah loh menyindir beberapa pembaca yang menilai kurang puas dengan hasil karyanya. Itu penulis terkenal ya, yang dikasih penilaian kurang dengan pemaparan yang sangat jelas, masih enggak terima. Padahal pembaca tersebut tidak hanya sekadar memaki-maki tanpa arah dan tujuan, tapi menuliskannya dengan sangat sopan dan santun.

Belum lagi, sampai ada twitwor antara penulis dengan netizen, karena karyanya dinilai kurang berbobot. Duh, kalau MERDEKA berarti tidak boleh memberi penilaian terhadap karya seseorang, sangat sedih rasanya. Bahkan saya pribadi pernah loh merasa terbebani akibat bekerja sama dengan penerbit, kemudian karyanya yang saya baca kurang memuaskan, pada akhirnya saya membohongi diri sendiri dengan memberi penilaian yang kurang memuaskan.

Bahkan saya sampai menyimpan sendiri kritiknya, karena terikat dengan perjanjian dengan penerbitnya. Dari sini, saya tidak mendapati faedahnya lagi, saya tidak bisa bebas membaca buku dan memberi penilaian karena bekerja sama dengan penulis atau penerbit. Pada akhirnya, saya membatasi, bahkan sebelum bekerja sama, saya selalu memberi peringatan bahwa saya dibolehkan memberi kritik dan keberatan jika karya tersebut memang kurang 'oke' buat saya.





Kemerdekaan menurut Ipeh Alena itu....



Bebas Merdeka menentukan pilihan ketika berkelompok. Dalam hal ini berbeda pendapat di sebuah grup whatsapp. Sesungguhnya, pengertian mengutamakan kepentingan kelompok demi musyawarah mufakat, saat ini tidak lagi bisa dibedakan oleh banyak orang. Bahkan untuk hal-hal yang remeh temeh terkait selera pun, banyak orang yang akhirnya dimusuhi dan dibenci oleh mayoritas anggota grup hanya karena berbeda.

Seperti bisa diidentifikasi, sosok superior yang memegang peranan sehingga banyak anggota lainnya merasa 'tak enak' jika tidak mengi-iya-kan. Bahkan, jangan salah, bullying sampai perintah untuk membenci anggota lain di grup dilakukan secara serentak. Kalau sampai ada yang seolah 'menyerang' sang superior, maka anggota lain akan menggonggong dan berusaha membuat anggota tersebut meninggalkan grup dengan sendirinya.

Jangankan, terkesan menyerang, bahkan memberi peringatan ke sosok superior saja, bisa menjadi masalah. Padahal, peringatan tersebut berisi sesuatu yang baik. Misalnya, jangan menggunakan kata autis, karena itu kondisi untuk orang-orang yang diberi keistimewaan sama Tuhan. Bukan kata yang digunakan untuk melecehkan. Hal seperti itu saja bisa loh, dijadikan bahan gonggong-an untuk mengusir si anggota yang memberi peringatan agar keluar dari grup selamanya.

Sesungguhnya musyawarah untuk mufakat, dimana kepentingan seseorang itu disingkirkan terlebih dahulu, bukan dengan cara seperti itu dan dalam hal itu. Tapi, misalnya untuk hal-hal berfaedah seperti mengajak untuk tidak memberi panggung bari para buzzer black campaign. Karena semakin dibahas dan disindir, maka goal-nya tercapai. Atau ajakan untuk men-tren-kan kebiasaan jalan kaki, dimana mungkin ada yang merasa keberatan karena panas atau segala macamnya terlepas dari keterbatasan, namun disingkirkan keberatan tersebut demi tercapainya kata mufakat sehingga kampanye membangun kebiasaan jalan kaki bisa dicapai bersama.

Dan masih banyak hal yang bisa dicapai secara mufakat, tanpa menggadaikan kemerdekaan setiap anggota grup. Apalagi sampai digongong agar ikut serta menjadi gongong-ers demi mengagungkan sang superior. 



***



Sebenarnya masih banyak hal yang ingin saya tulis tentang arti kata merdeka. Tapi, saya menuliskan beberapa saja yang memang lebih sering saya alami secara langsung atau tidak. Kemerdekaan memang bukan berarti kebebasan tanpa batasan. Bukan. Kemerdekaan itu tetap memiliki batasan, dimana batasan yang digunakan sangat banyak, yaitu kesesuaian dengan norma Agama (masing-masing penganut), norma sosial, norma hukum sampa norma yang berkaitan dengan adat istiadat.


Apalagi, di masa seperti ini, dimana berpendapat apalagi beropini masih dikekang. Bukan lagi dikekang oleh pemerintah, tapi oleh netizen dan kelompok, yang nantinya akan menyerang orang yang berpendapat berbeda. Padahal di Pasal 19 sudah tertulis :

“Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat, dalam hal ini termasuk kebebasan mempunyai pendapat – pendapat dengan tidak mendapat gangguan dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan keterangan – keterangan dan pendapat – pendapat dengan cara apapun juga dan tidak memandang batas – batas”.


Serta dimuat juga di Pasal 20 :

Ayat  1: “Setiap orang mempunyai hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat.”
Ayat 2: “Tidak ada seorang juga pun dapat dipaksa memasuki salah satu perkumpulan.”



Jadi, sudah siapkah untuk menghargai pendapat orang lain? Saya? Insya allah siap belajar meski sulit, tapi semoga saya menjadi pribadi yang bisa menghargai pendapat dan hak orang lain tanpa merusak kebersamaan dalam masyarakat yang beragam ini.






Terima Kasih


PS : There's no hard feelings, no one to blame. Just two people who don't feel the same. ~ Wordwisdom

  • Share:

You Might Also Like

3 comments

  1. Suka lieur mba... Kl beda pendapat digrup whatapp πŸ˜†πŸ˜† drpd pusing nulisnya... Sudahlah... Diam aja πŸ˜“πŸ˜“

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, memang lebih aman dan bikin tentram ya, Mbak. Nanti berkoar sedikit dirusuhinnya sepanjang hidup :(

      Delete
  2. Kemudian saya segera merampungkan draft saya, hahahahahaha.

    Semoga kita termasuk menjadi jiwa-jiwa merdeka yang bekeadilan sosial~ (bahasa eike udah kek orang bener belum?, wkwkwkwk)

    ReplyDelete

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih