Lion Movie (2016) : Missing Children in India




Lion Movie



Lebih dari 80.000 anak-anak hilang di India setiap tahunnya. Dilansir dari National Human Rights Commision, ada sekitar 11.000 anak-anak yang tidak terlacak. Kasus anak hilang ini tidak hanya anak-anak yang tersesat di jalan atau di keramaian kemudian tidak tahu caranya untuk pulang. Tapi juga anak-anak yang diculik entah itu oleh keluarga dekat atau orang yang bukan keluarga mereka, anak-anak yang kabur karena permasalahan keluarga atau karena bolos sekolah.

Dengan kondisi seperti ini memberikan sebuah dampak atau trauma bagi anak-anak yang mengalaminya. Ada yang berjuang keras untuk bisa kembali ke rumah, ada pula yang akhirnya pasrah menjalani kehidupan mereka karena tak mampu berbuat apa-apa lagi. Namun, jika anak-anak tersebut sempat dibawa oleh pihak Dinas Sosial, beberapa ada yang bisa dikatakan beruntung seperti Saroo. Yaitu mendapat kesempatan di adopsi.

Meski anak-anak yang diadopsi sebenarnya mengalami masa-masa yang berat. Mereka akan sering mempertanyakan siapa dirinya, darimana dia berasal dan segala macam bentuk pencarian eksistensi diri melalui penelusuran yang mereka dapat seadanya. Terlebih jika keluarga yang mengadopsi memiliki perbedaan yang terlalu tampak. Sehingga terkadang akan menjadi lebih sulit bagi mereka untuk beradaptasi.

Kisah ini merupakan kisah nyata yang dialami seorang anak yang pernah tersesat di tahun 1986. Dimana seorang anak bernama Saroo, terjebak di dalam kereta yang tidak tahu hendak membawanya kemana. Hingga kemudian dia turun di stasiun di kota besar, Kolkata. Sebuah kota besar yang mayoritas penduduknya menggunakan bahasa Bengali. Sementara Saroo hanya bisa menggunakan bahasa India. Dan kisahnya dikemas dalam sebuah film yang sangat apik dan mengharukan.


Lion Movie
Source : Google image


Informasi Singkat Tentang Film


Judul : Lion (2016) || Sutradara : Garth Davis || Aktor : Sunny Pawar (Saroo Kecil), Abhishek Bharate (Guddu), Priyanka Bose (Ibunya Saroo), Nicole Kidman (Ibu Angkat Saroo), Dev Patel (Saroo).  Diangkat dari Buku : A Long Way Home karya Saroo Brierley.



Anak-anak di Jalanan dan Kejahatan Yang Mengincar Mereka


Setelah Saroo sampai di stasiun yang sangat ramai, di kota Kolkata. Dia sempat bertanya-tanya bagaimana cara kembali ke rumah namun dengan bahasa seadanya. Seorang bocah lelaki yang bahkan belum bisa berbicara banyak hal, di tengah orang-orang dengan bahasa berbeda. Pastinya berat untuknya.

Dan malam itu, ketika dia duduk di lorong stasiun, saat semua penumpang kereta sudah sepi. Di situlah, Saroo harus menghadapi kumpulan lelaki yang menyeret banyak anak jalanan lainnya dengan paksa. Saat itu saya langsung terbayang anak-anak yang dieksploitasi, dijual bebas serta hal lain yang menyeramkan. Sementara Saroo berupaya meloloskan diri hingga dia masuk ke sebuah tempat. Sebut saja kuil atau tempat berdoa, di sana dia bisa dengan nyamannya tidur.


Lion Movie
Source : Google image


Tapi, dia masih terus berusaha untuk bisa pulang ke rumah dan ketemu kakaknya - Guddu. Hingga beberapa bulan kemudian dia masih tersesat, kemudian melalui pertemuan-pertemuan dengan seorang perempuan yang tampak baik hati namun ternyata berniat jahat. Terus menjadi pemungut sampah, mengais apa saja yang bisa mendatangkan makanan baginya.

Kemudian berkumpul dengan tuna wisma lainnya di bawah jembata. Di sinilah dia ditemui oleh seseorang yang kemudian membawanya ke kantor polisi. Setelah itu dia dikumpulkan di sebuah tempat, menyerupai sel penjara namun dengan daya tampung yang besar. Di sana mereka diberi makan, pendidikan dan dimandikan.

Banyak sekali anak-anak yang ditampung di tempat itu. Ada yang kemudian bisa keluar namun entah untuk dijadikan apa, karena tampak seperti dijadikan bisnis oleh pengurus tempat tersebut. Dan suatu hari, Saroo mendapat sebuah pertolongan dengan bentuk yang berbeda. Dia akan segera pulang ke rumah, yang jauh dan berbeda dari yang Ia bayangkan.


Kondisi Anak Adopsi Dan Ibu Yang Kehilangan Anaknya


Saya pernah membaca sebuah buku berjudul A Message From An Unknown Chinese Mother yang ditulis oleh Xin Ran. Berisi kisah-kisah perempuan yang harus menerima kenyataan berpisah dengan anak-anak mereka. Entah karena tuntutan keluarga atau karena anak-anak mereka menghilang tanpa mereka tahu dimana keberadaannya lagi.

Pada sebuah acara di radio yang dibawakan oleh Xin Ran, banyak sekali para Ibu yang mencurahkan seluruh hati mereka melalui surat. Sebuah surat datang pada Xin Ran disertai sebuah puisi tentang kerinduan seorang Ibu pada anaknya. Mereka bahkan harus menerima kenyataan bahwa mereka tak lagi mampu mengetahui dimana anak mereka.

Kebanyakan dari anak-anak di China, pun berangkat ke luar negeri untuk bersama orang tua yang mengadopsi mereka, salah satunya seorang keluarga dari Australia yang sempat berkirim surat pada Xin Ran mengenai anak ‘China’ mereka yang mempertanyakan dimana ibu mereka.

Sama seperti Saroo dalam film ini, yang mempertanyakan siapa dirinya melalui kulit, ras dan perbedaan yang signifikan pada orang tua dan lingkungan mereka. Adalah hal yang wajar ketika manusia mencari tahu eksistensi diri mereka melalui keluarga. Karena keluarga merupakan orang-orang terkasih yang terdekat dengan mereka dimana mereka bisa mengenal diri mereka melalui keluarga.

Kepedihan ini juga yang sebenarnya membuat saya merasakan bagaimana ‘harapan’ dari Ibu kandungnya Saroo terus disemai setiap harinya. Bisa saja dengan keyakinan yang terkadang bersemi kadang juga gugur karena waktu terus berjalan tanpa pernah bisa melihat pertanda, kemana anaknya pergi? Dimana keberadaannya?


Lion Movie
Source : Google image


Pembelajaran Dari Sebuah Kisah Nyata


Bekal apa yang sudah Anda berikan bagi anak-anak atau keponakan atau bahkan anak didik atau justru adik Anda? Apakah sudah siap mental mereka jika berhadapan dengan kondisi terburuk, semisalnya tersesat di keramaian? Melalui film ini saya berpikir sejenak tentang kesiapan anak-anak, saya membayangkan diri saya sewaktu saya kecil, bahkan saya sendiri mungkin tidak akan seberani Saroo untuk berusaha mempertahankan diri dan lepas dari kejahatan.


Sesuai dengan pertanyaan yang dilempar oleh kawan saya narablog jejakjuli.com terkait “makna yang saya ambil dari film ini”, Anda juga bisa menyimak makna yang ditangkap oleh teman saya yang lain empunya blog ayowaca.com. Inilah beberapa makna yang saya tangkap dan pembelajaran yang saya ingin bagikan pada pembaca artikel ini.

Lion Movie
Source : Google image



Pembelajaran Berharga Dari Sebuah Film Untuk Anak-Remaja Yang Kita Sayangi



1. Pentingnya Mereka Mengetahui Nama Orang Tua Asli Mereka


Tidak banyak anak-anak yang tahu nama orang tua mereka. Terkadang hanya dikenalkan dengan nama panggilan atau hanya sekadar nama ‘Papa dan Mama’ saja. Dari pengalaman Saroo yang bahkan tidak mengetahui nama Ibunya selain ‘Ammi’ ini membuat saya tersadar agar anak-anak, ketika mereka sudah mampur berbicara dengan lancar, sebaiknya dikenalkan dengan nama asli orang tua mereka.


2. Beri Mereka Pemahaman Kemana Harus Lapor Ketika Tersesat


Jika tersesat di keramaian atau justru ketika mereka berakhir di tempat-tempat yang sepi dan tidak banyak orang yang lewat. Beri mereka informasi atau pemahaman, kemana mereka bisa melapor, ke satpam, kantor polisi atau tempat lain? Agar ketika kondisi itu mereka alami, mereka tidak perlu kebingungan dan bisa fokus untuk menjaga diri mereka dan menuju tempat untuk melapor.

Sementara di film ini, Saroo yang kebingungan karena bahasa di Kolkata berbeda dengan bahasa sehari-harinya. Sehingga banyak orang juga yang tidak paham dengan apa yang dia ucapkan ketika dia meminta tiket untuk pulang ke rumahnya. Dia menyebutnya Ganestley padahal nama tempatnya adalah Ganesh Talai.


3. Berikan Informasi Tentang Orang-orang Dengan Niat Jahat


Tidak masalah untuk mengajarkan mereka atau memberitahu pada anak-anak, bahwa lebih seringnya mereka akan menemui orang dengan niat jahat yang berperilaku baik. Bagaimana cara mereka membedakannya dan bagaimana sikap mereka seharusnya ketika berhadapan dengan situasi dan kondisi seperti ini.

Seperti Saroo, ketika dia melihat sesuatu yang tidak sesuai, kemudian dia melarikan diri dari seorang perempuan yang sangat baik hati, memberinya makan, minum dan memandikannya. Namun, siapa sangka kalau dia memiliki niat jahat?


4. Ajari Anak-anak Menghapal Alamat Tempat Tinggal Mereka

Jika kemungkinan untuk menghapal secara utuh alamat rumah, ada baiknya mungkin mengajari mereka mengingat nama daerah yang lebih spesifik agar pihak berwenang dapat membantu mereka. Seperti pada poin sebelumnya, ketika Saroo salah mengeja nama tempat tinggalnya, sehingga pihak kepolisian bingung mencari dimana rumahnya karena tidak terdapat dalam peta.


5. Beritahu Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Memberikan Informasi Pribadi

Anak-anak bukan kertas kosong, ini pernah saya baca di sebuah buku yang ditulis oleh mas Bukik. Buku yang berjudul sama, Anak Bukan Kertas Kosong. Dimana dijelaskan, bahwa meski mereka tampak polos dan kita berpikir ‘mereka hanya anak-anak’, faktanya mereka terlahir bukan seperti lembar kertas yang kosong. Mereka memiliki bakat dan kemampuan yang sudah didesain sedemikian rupa sesuai dengan usia dan pertumbuhan mereka.

Jadi, jangan khawatir jika berpikiran bahwa mereka tidak akan mampu membedakan waktu yang tepat. Karena kita tidak pernah tahu, bahwa mereka mampu belajar untuk membedakan kepada siapa informasi tersebut bisa dibagikan. Bahkan di dalam film ini, Saroo yang sudah dewasa pun menjelaskan pada Ibu Angkatnya. Bahwa dia bukan selembar kertas yang kosong, dia memiliki kenangan dan masa lalu yang senantiasa menghantuinya sepanjang kehidupan.



***


Saya sering mengamati dan senang mempelajari setiap pengalaman yang dibagikan oleh orang lain. Sebuah pengalaman nyata yang membuat saya berpikir lagi dan lagi untuk saya jadikan pembelajaran yang bermakna. Seperti ketika saya menonton film Lion, saya memaknai sebuah keberadaan dan kehadiran dalam diri saya, dimana saya belajar untuk memahami eksistensi saya di dunia ini melalui figur seorang ayah dan ibu.

Setidaknya pun banyak anak-anak yang mencari jati diri mereka melalui keluarga terdekat. Dari film ini saya pun melihat, bahwasannya wajar jika seorang anak yang tak mengenal salah seorang dari orang tua mereka kemudian menanyakan keberadaan mereka. Karena pun tak mudah bagi mereka untuk menjalani kehidupan dengan pertanyaan terbesar yang tersemat dalam kepala mereka.

Pembaca sudah menonton film ini? Apa kesan yang Anda tangkap dan terkenang usai menonton film ini? Apakah ada yang Anda sesali usai menonton film ini? Atau justru Anda teringat sesuatu usai menonton? Silakan berbagi melalui kolom komentar.

Dan terima kasih bagi pengunjung yang sudah membaca serta memberikan komentarnya di sini.

Comments

  1. Gua jadi mikir, apa sebaiknua anak2 dibekali kartu nama supaya ketika terjadi hal2 yg ga diinginkan, dia cukup menunjukan kartu nama ke pihak berwenang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh, ide bagus itu. Sepertinya bagus membekali anak dengan kartu nama orang tuanya.

      Delete
  2. Uniknya manusia, apa yang ditonton sama, dan ternyata selalu ada sudut pandang yang berbeda dalam menilai sesuatunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ia mbak, kami di keluarga sering tuh. Film yang kami tonton sama tetapi ternyata setiap orang punya sudut pandnag masing-masing

      Delete
  3. jadi inget film India yg fenomenal SlumDog itu ya mbak, anak-anak miskin dijual dijadikan budak, hiks miris banyak bgt anak-anak hilang.. Ya Allah lindungilah anak-anak kami dari segala kejahatan

    ReplyDelete
  4. Katanya film ini sedih banget dan berasal dari kisah nyata. Aku kalau nonton pasti nangis :(

    ReplyDelete
  5. Wah terima kasih infonya. Dengan penyampain yang baik dan disisipkan dengan ilmu di belakangnya 👍

    ReplyDelete
  6. ipeh alenaaa, kenapa nyebut dev patelnya dikit amat *eh
    Ane belum nonton film ini mbak nya. Baru liat trailernya 5 kali (ups)
    And it was so sad. Baru aja tahu sih ni film pas beberapa minggu lalu.
    Nanti mau dimasukkan list.
    Learning pointnya cakep Peh. Beberapa hal malah gak terpikir buatku

    ReplyDelete
  7. penasaran jadinya review mba Ipeh dan aku jadi kebuka iya yah apa yang uda aku ajarin sbg ortu?bahkan yg terbilang sepele spt nama ortu saja tnyata penting saat berada dlm kondisi yg dialami Saroo.
    Aku pgn nonton beneran apalagi based on true story :) syukaaa

    ReplyDelete
  8. Dan aku lgs pengen nyari filmnyaaa :D. Baca reviewmu udh lgs sukaaak mba, apalagi ada nicole kidman main di sini???! Kalo ada tante nicole mah, pasti fimnya beneran bagus :). Biasanya aku nangis sih kalo nonton film sedih gini.. Apalagi based on true story.. Kalo ketemu novelnya aku jg mau belinya...

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih




domain murah