Hari Kartini Dan Pemaknaan Pada Sebuah Perjuangan


Hari Kartini


Setiap tanggal 21 April, setiap tahunnya, Hari Kartini digelar di seluruh Indonesia. Dari festival mengenakan pakaian adat yang biasanya diadakan oleh sekolah-sekolah, sampai membagikan kutipan-kutipan populer dari sosok R.A Kartini. Juga, kini banyak yang mengemas sebuah pemaknaan Hari Kartini dengan menyorot para perempuan di Indonesia yang cocok sebagai figur Kartini Masa Kini.


Pertanyaannya Adalah…..


Hehe…ini bukan kuis atau giveaway, tapi sesuatu yang pernah terbesit dalam kepala saya suatu ketika. Sebuah tanda tanya besar yang sama dengan pertanyaan yang diajukan oleh Mas Eko, “Demi apa coba anak-anak ini didandani tiap 21 April? Tapi ditanya siapa Kartini mereka tidak paham, apalagi perjuangannya.


Hari Kartini


Baiklah, saya yang dulu bukan yang sekarang, juga tidak mengenal kartini meski di sekolah sayamembaca rentetan aksi perjuangannya, hasilnya sampai kutipan Habis Gelap Terbitlah Terang. Saya tahu, sampai bagaimana penampilan R.A Kartini juga saya tahu. Tapi, saya masih belum paham dan mengenalnya dengan lebih baik, dalam artian ‘seberapa besar sih perjuangannya berefek sampai saat ini? Terutama pada saya?’.

Jadi, saya paham kalau banyak anak masa kini - bukan masa gitu - yang tidak atau saya katakan belum mengenal banyak pahlawan dan bagaimana perjuangan mereka, usaha mereka, proses berpikir dan proses mereka bangkit, belum dirasakan atau berimbas dalam kehidupan mereka. Karena, memang tokoh-tokoh pejuang lebih banyak dibahas biasa saja dalam buku sejarah.


Hingga Kemudian Saya Mengenalnya…

Sebelum berkenalan dengan R.A Kartini, saya berkenalan dulu dengan seorang lelaki yang selalu dipuji banyak orang karena kelihaiannya dalam menulis. Namanya Pramoedya Ananta, dimana saya suka dengan jejak tulisan yang dia abadikan sehingga saya bisa membacanya dan menelusuri masa lampau melalui tulisannya.

Hari Kartini


Dan dari sebuah buku berjudul, ‘Panggil Aku Kartini Saja’ saya kemudian berkenalan ‘secara langsung’ melalui satu pertanyaan terbesar yang terbesit dalam benak Pram, “bagaimana kondisi kejiwaan Kartini?” Sungguh, saya sempat terbelalak dengan pertanyaan ini, bagaimana mungkin di era yang sudah modern tapi masih ada orang yang mau peduli dengan kondisi kejiwaan seorang tokoh nasional? Walaupun karya Pram telah hidup sejak lama, tapi tetap masih hidup sampai sekarang, itu kan sama saja dengan pertanyaan yang juga menarik perhatian banyak orang, ya kan? Saya anggap demikian.

Mulailah lembar demi lembar saya nikmati tulisan Pram. Berkenalan dengan Kartini, yang ternyata membuat saya justru menangis. Ada banyak hal yang bisa saya katakan, proses yang menjadikan saya mampu bersyukur dengan apapun yang saat ini saya alami. Inilah yang saya maksud, sebuah imbas perjuangan dari seorang perempuan dalam mengisi kehidupannya dengan sesuatu yang bermanfaat. Karena perjuangan Kartini inilah saya pun merasa beruntung, meski dalam kondisi yang tidak mudah.



Hal Apa Yang Membuat Saya Merasakan Imbas Sosok Kartini?


Saya bukan orang yang serta-merta memuja sosok tokoh pejuang sementara saya kenal dengan beliau saja tidak, tapi saya berusaha untuk menghargai meski terkadang saya tidak begitu mengerti ‘dengan apa saya menghargai perjuangan mereka?’ Doa? Seperti ketika mengheningkan cipta? Insya allah, iya. Semoga Allah merahmati semua pejuang yang membantu Indonesia merdeka.

Namun, lebih dari itu, saya ingin juga ikut jejak tokoh pejuang ini. Saya ingin menghargai setiap detik kehidupan saya, dengan sesuatu yang bermanfaat dengan tetap menjadi diri sendiri dan memegang teguh apa yang saya yakini.

Sudah bukan rahasia yang umum bahwa Kartini menulis surat dan banyak tulisan-tulisannya yang bahkan disimpan di museum sampai yang hilang jejaknya, di sebuah tempat yang terbatas. Kebebasan pada masa itu masih dipertanyakan, karena kaum perempuan jarang dibolehkan ke luar rumah. Pingit, demikian mereka menyebutnya. Begitu pula dalam gambaran yang disajikan oleh Pram, betapa Kartini senantiasa bertanya-tanya, dunia seperti apa yang ada di balik pagar yang membatasi pandangnya selama ini?

Disinilah saya sadar, Kartini tidak mengeluh meski harus berada di rumah. Meski ruang geraknya diperketat, meski dia tak dapat bebas berkelana, menjejakkan kaki di banyak tempat. DIA TIDAK MENGELUH alih-alih dia berusaha untuk mencari hal lain demi melampiaskan apa yang bercokol dalam kepalanya. Terutama, ketika dia kemudian berbincang dengan para abdi dalem yang bekerja di rumahnya. Dia bertanya banyak hal, meski saat itu antara majikan dengan abdi dalem terbentang jarak yang sungguh luas agar para abdi dalem tidak bisa semena-mena berbincang dengan majikan mereka.

Melalui pemikirannya yang kritis, Kartini kemudian menyampaikan keluh kesahnya, melalui sebuah tulisan. Iya dia menulis, dengan menggunakan kertas dan pena, bukan papan ketik seperti saat ini. Dia menuliskan keresahan hatinya, dia curhat!! Curahan hati tentang kondisi ketidak-adilan yang dia terima selama ini. DIA MENULISKAN KERESAHANNYA DAN PEMIKIRANNYA tentang segala hal yang ada di sekelilingnya. Dan satu lagi yang membuat saya akhirnya tak ingin berhenti menulis di blog ini. DIA TETAP MENULIS MESKI DIPINGIT.

Iya, bentuk perjuangannya inilah yang memengaruhi saya. Ketika saya mengalami keterbatasan entah dalam beragam hal, saya tidak ingin menjadikannya sebagai masalah utama. Era modern dimana saya hidup saat ini, memungkinkan saya mendapatkan banyak informasi tanpa harus menjejak ke luar rumah. Meski banyak cibiran datang, tentang betapa tidak bersyukurnya orang-orang yang terus berada di rumah, saya kembali teringat pada Kartini. Dia menuruti perintah, dia menikmati masa pingitannya tanpa terbebani, DIA MENYADARI EKSISTENSINYA sebagai wanita di jaman itu, serta dia tetap berusaha.


...begitu banyak mengandung simbolik dalam bahasa yang tidak dapat dipahami oleh orang biasa. Dan ini pula lagi, orang Jawa menangkap buku-bukunya secara harfiah dan karenanya pabila tidak, semua maka banyak di antara nilai-nilainya yang praktis menjadi mubazir.

Dalam moral Jawa, misalnya, ada dipujikan mengurangi makan dan tidur sebagai jalan ke arah kesejahteraan kehidupan fana dan baqa.

Pikiran-pikiran indah yang menjadi dasar tulisan-tulisan tersebut luputlah bagi massa pembaca.

Maka orang pun berpuasa, berlapar diri, berjaga dan berkhayal sedemikian rupa, sedang gagasan bagus itu teregelincir daripadanya. Tidak makan, minum atau tidur menjadi tujuan hidup dan dengan jalan menderita (ikhtiar, penguasaan diri dan pembatasan diri) akan mendapatkan kebahagiaan!

Dan demikianlah orang berbuat dalam banyak hal lagi. 

(Nota Kartini tertanggal Jepara, Januari 1903)



Sosok perempuan ini, gemar membaca. Dari Kartini-lah saya akhirnya mau membaca Max Haveelar, meski sampai saat ini masih belum tamat. Ah, apalah daya saya yang bahkan tidak mampu menampung tulisan-tulisan karya Multatuli ini. Tapi, saya bahagia, karena dengan begitu apa yang saya perjuangkan - dengan menyisihkan waktu demi membaca - bukan hal yang sia-sia. Meski saya sering mendapat cemooh, betapa saya terlalu menganggur hingga bisa membaca buku setiap harinya, tapi saya tahu sosok Kartini pun tak luput dari cemooh.

Karena pemikirannya ini, Kartini pernah dianggap terlalu ke-Belanda-Belanda-an. Karena dirinya meninggalkan pemikiran sastra feodal yang pada masa itu tidak bisa dan tidak boleh dibaca oleh orang-orang dari kasta Sudra dan Paria. Dia mempelajari banyak hal, mengkritisi banyak hal, melalui buku-buku sastra. Pada akhirnya, ini menjadi semacam BUKTI bahwa membaca memiliki peranan menstimulasi pikiran dan kinerja otak, hingga mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran yang relevan dengan kondisi yang dialami oleh lingkungan sekitar.


Kartini Tetap Ber-Empati Dengan Keterbatasan

Banyak orang berbondong-bondong berteriak tidak empati pada orang lain, sementara mereka menyakiti kaum mereka sendiri. Menindas, mencaci bahkan menyakiti secara terang-terangan, kemudian berteriak bahwa mereka adalah orang yang paling berempati. Sungguh! Saya tidak melihat adanya ketidak-empati-an dalam diri Kartini. Terlebih ketika dia menjalani masa bebas dari pingitan, kemudian dirinya banyak mengunjungi rumah-rumah rakyat tanpa diketahui banyak orang.

Cukup para rakyat jelata itu yang menjadi saksi tanpa harus dipublikasi secara massal. Kebaikan ini berdasar pada sifat ‘keibuannya’ yang tidak tahan melihat penderitaan orang-orang di sekitarnya. Membantu sesama sesuai kadarnya, inilah pembelajaran paling berharga yang saya dapat dari sosoknya. Tentang bagaimana seorang manusia mampu menggandeng tangan manusia lain dan bersama-sama memperjuangkan kehidupan mereka. Bukan dengan menjatuhkan mereka hanya untuk tampak lebih tinggi.



Tidak, sejauh yang kuketahui riwayat Saija dan Adinda telah masuk dalam masa lalu. Memang benar kadang Rakyat menderita lapar, tetapi ini sama sekali bukan kesalahan pembesar-pembesarnya. Bukankah mereka ini tidak dapat bertanggung jawab terhadap lamanya hujan yang tiada juga tiba, yang justru dibutuhkan orang kecil buat menyiram sawah ladangnya? Ataukah pembesar-pembesar itu juga dapat menolak air yang terlalu banyak, yang dicurahkan langit ke sawah mereka? 

(Surat 12 Januari 1900 kepada Estelle Zeehandelaar)



Tak pentinglah agama atau ras apa orang itu, jiwa besar tetaplah jiwa besar, watak yang mulia adalah tetap watak mulia. Anak-anak Allah orang dapatkan dalam setiap agama, pada setiap ras.

Aku telah bawa Quo Vadis? Dan aku kagumi serta cintai pahlawan-pahlawan kepercayaan itu, yang dalam penderitaan yang paling pahit pun masih dapat bersyukur dan beriman pada Yang Maha Tinggi, masih mengajarkan kebesaranNya dalam nyanyian yang indah. Aku turut menderita bersama mereka, serta ikut bersorak dengan kemenangan mereka.

(Surat 5 Juni 1903, kepada Dr. N. Adriani)




Sebuah Akhir Dari Tulisan Ini…


Pada akhirnya, bukanlah salah para anak-anak di era seperti ini. Mereka tidak mengenal sosok Kartini karena terbatasnya peran sejarah dalam kehidupan bahkan sekolah-sekolah. Pelajaran sejarah masih kurang cukup untuk menggali siapa sebenarnya sosok Kartini. Namun, perkenankanlah mereka membaca karya-karya para sastrawan yang menuliskan tentang Kartini. Izinkan mereka membaca setiap buku yang pernah ditolak keberadaannya pada masanya. Bimbing mereka untuk mengenal bukan hanya sekadar nama, tapi APA YANG MEREKA PERJUANGKAN serta BAGAIMANA PROSES perjuangan itulah yang nantinya akan membekas dalam ingatan mereka.

Surat-surat panjang kartini yang banyak serta tak banyak pula yang terselamatkan, masih bisa dinikmati dan dibaca. Bahwa, kejiwaan Kartini itu sehat, dia memiliki mental yang sehat, melalui bentuk penerimaan dalam kehidupannya. Betapa pun beratnya kehidupan dan beban yang dipanggul olehnya, tak menjadikan Kartini lupa untuk terus bersyukur.

Baik Kartini maupun Pram, keduanya memiliki kesamaan yang membuat saya terus memperjuangkan apa yang saya sukai ini. Keduanya suka membaca dan keduanya tetap menulis di masa-masa berat dalam hidup mereka, dalam kondisi keterbatasan yang tidak pernah membuat mereka mengeluh. Mereka hanya mengeluhkan ketidak-adilan yang semakin merajalela di negeri ini.


Selamat hari Kartini, selamat memperjuangkan kehidupan, selamat berkarya dan tetaplah bangga menjadi diri kita sendiri ~

Comments

  1. Pengen banget baca bukunya Pram tentang Kartini, belum nemu bukunya..

    ReplyDelete
  2. Super banget, Mbak. Dan jadi malu karena ternyata posting ini dipantik oleh status gaje bin galau saya di Facebook gegara liat anak-anak SD dan TK sudah antri untuk dirias sejak jam 4 pagi di rumah mertua (langganan perias kartinian). Betul banget, selain didandanin lalu upacara dan diajak keliling-keliling kampung, mustinya anak-anak itu juga diberi tahu apa saja yang sudah dilakukan RA Kartini sepanjang hidupnya, dan apa efek positifnya bagi kehidupan anak-anak itu sekarang. Memperingati memang perlu, tapi memahami dan meneladani perjuangan seorang pahlawan menurut saya jauh lebih penting.

    ReplyDelete
  3. syuper sekalih mba :) dan dari tulisan ini saya penasaran sama bukunya bang Pram yang Kartini ^^

    ReplyDelete
  4. bagus banget mbak tulisannya dan fotonya juga keren banget.... selamat hari kartini...

    ReplyDelete
  5. Dulu aku jadiin Kartini jadi judul proposal untuk ngelamar S2 jurusan gender study, dan diterima.. sayang ngga dilanjutin S2nya gegara dulu fokus punya anak... Menurut saya, harusnya tdk hanya hari kartini yang diperingati, tapi banyak hari2 pahlawan yg harus diperingati agar jasa2 mereka juga tak terlupakan :D
    Buat urusan anak2 yg kartinian pake baju daerah, ngga papa jg sih.. karena kl dah gede jadi punya memori sendiri :D

    ReplyDelete
  6. Terima kasih banyak sudah berbagi tentang Kartini. Saya jadi lebih tau dari informasi yang mba tuliskan di artikel ini.

    ReplyDelete
  7. Buku-buku pramoedya ini bagus2 ya isinya, tapi saya belum pernah membaca yang kartun begini :)
    Terimakasih sudah sharing ya mak.

    ReplyDelete
  8. tambah wawasan nich tentang R.A, Kartini. rencananya mau ngajakin anak2 mengenal Kartini melalui filmnya yang baru saja dirilis. tapi sayang belum sempat.

    ReplyDelete
  9. Aku ngajak anak nonton film KArtini agar anak juga makin banyak tahu tentang perjuangan Kartini, mba

    ReplyDelete
  10. Aku terus terang ga pernah ngerayain ataupun dandan sedemikian rupa kl hari kartini...

    Tp menurutku seharusnya ga cm kartini yg punya satu hari khusus, tapi pahlawan lain jg...

    Tp yg bkin penasaran, knp ga ada hari Soekarno ya? #eh #apasih hehehe...

    ReplyDelete
  11. Kadang ngebayangin, kalo aku hidup di masa itu bakal kuat seperti ibu kartini ga ya..

    Di kantorku tiap tgl 21 april jg selalu ngadain acara kartinian. Dan aku slalunya cuti di tgl itu :D. Males foto2nya looh..

    ReplyDelete
  12. artikelnya keceeeeee....

    betul mbak, anak2 itu gak pernah tahu kenapa dia didandani setiap tgl 21 april
    kalau di tanya ya krn memperingati hari kartini
    untuk pemahaman lebih mendalam tdk pernah ditanamkan

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih




domain murah