Orange Movie 2015

Orange Movie 2015


Orange Movie 2015 - Buat pecinta Manga, mungkin Orange karya Takano ini bukan sesuatu yang baru lagi ya? Tapi, bagi saya baru banget! Apalagi waktu pertama kali ngeliat manga ini di deretan new release di bookdepository. Saya sempat hampir membeli, tapi saya urungkan. Gara-gara saya mikir, KOMIK APAAN INI HARGANYA 200RBAN!! Saya mikir, kok komik dengan halaman cuma 20-an kok bisa mahal banget. Hufff!!!

TERNYATA I WAS WRONG!! Iya, harga 200rban itu berisi 384 halaman! Atulah ini mah worth enough lah ya. Tapi sayangnya, saya telat mencari tahu, justru setelah saya nonton film Orange lantas saya mencari tahu. Jadi, kalau dari bukunya sendiri terdiri dari 2 volume. Dan termasuk Complete Series satu bukunya. Maybe next year saya akan beli manga-nya.

Sekarang saya ingin sedikit bercerita tentang filmnya. Dimana untuk tahun ini, saya sudah menonton 2 Karya dari Jepang dengan tema Time Travel. Sebelumnya saya sempat mengulas Anime Erased yang juga mengangkat tema Time Travel demi menyelamatkan temannya yang diculik dan dibunuh. Film Orange juga sama, misinya untuk menyelamatkan nyawa sahabat mereka. Saya sempat flashback lagi, kira-kira Anime Anohana saya tonton tahun ini atau tahun sebelumnya.

Pun, Anime Anohana yang saya tonton, berkisah tentang release the pain. Bagaimana memaafkan diri sendiri setelah tragedi yang menimpa salah seorang sahabat mereka. Meski ada sedikit perbedaan antara Erased - Anohana - Orange. Untuk kisah Time Traveller anime Erased dan Orange masuk dalam kategori ini. Dan untuk tema memaafkan diri sendiri, melepaskan rasa sakit yang dibawa terus hingga bertahun-tahun, maka Orange dan Anohana yang masuk nominasinya.


Apa Yang Menjadi Penyebab Bunuh Diri?


Jujur saja, issue bunuh diri yang terjadi di Jepang bukan sesuatu hal yang baru lagi bagi saya. Terlebih ketika membaca biografi Akutagawa yang meninggal karena bunuh diri, kemudian dalam tulisan Daun-daun Bambu karya Yasunari Kawabata, beliau mengisahkan tentang sahabatnya yang merupakan seorang pendeta Zen, berulang kali melakukan percobaan bunuh diri.

Pun, Murakami pernah sedikit menyentuh bagian tentang kewarasan - meski bukan tentang bunuh diri - sehingga berlari membuatnya tetap waras demi menjaga keutuhan dan keseimbangan jiwanya. Pertanyaannya, semudah itukah orang memutuskan untuk bunuh diri? Saya dan kawan saya - Tri astuti utomo - sempat bertanya-tanya, apa sih yang menjadi penyebab, mudahnya seseorang bunuh diri?

Meski saya belum mendapatkan jawaban yang aktual, tapi ada beberapa hal yang kemudian mengganggu pikiran saya tentang bunuh diri ini...

Memang, keputusan bunuh diri itu seringnya memang berpengaruh pada kesehatan mental. Ini juga yang menjadi sebuah peringatan pada khalayak, tentang kesehatan mental yang masih dianggap tabu di banyak daerah. Misalnya, ada orang yang mengaku depresi atau stress berat, belum apa-apa sudah di judge jauh dari Tuhan, tidak kuat menghadapi kehidupan dan segala macam label yang bahkan bukannya membantu orang tersebut alih-alih memperparah kondisi jiwa mereka.


Ketika Kakeru Bercerita Pada Naho


Trust me, sudah terlalu banyak orang yang diberi sebuah tanda dari orang terdekat, tapi mereka bukan membantu justru memperburuk keadaan. Ini karena mental healthy masih menjadi momok yang tidak boleh dibicarakan. Seolah-olah manusia itu tidak boleh stress, depresi atau sedih. Lama-lama saya berpikir kalau manusia jaman sekarang sedang playing as a God.

Mengalami stress, depresi atau sedih adalah hal yang manusiawi. Kenapa? Karena memang kita didesain untuk merasakan hal-hal demikian. Pun, sebuah ayat al-quran tentang Dibalik Kesulitan Selalu Ada Kemudahan, ini bukan hanya sekadar janji. Tapi, sebagai motivasi untuk sesiapa saja yang tengah mengalami hal ini. Namun, semudah itukah?

Beberapa ustadz konvensional, yang sering muncul di televisi, menjelaskan betapa sulitnya ketika stress, depresi atau sedih untuk bisa membuka hati apalagi mendengarkan ceramah. Karena, pada dasarnya saat seseorang tengah mengalami keterpurukan, fokus mereka hanya satu yaitu pada diri mereka atau berandai-andai terkait apa yang hendak mereka lakukan. Dan ini hal yang lazim ditemui.

Dan satu yang harus dipahami adalah manusia itu didesain berbeda dengan manusia lainnya. Jadi, bisa saja ada orang yang terkena masalah A tetap bisa tertawa haha hihi, tapi ketika dihadapkan pada manusia lain, dengan masalah A yang sama, sosok tersebut langsung goyah. Ini bukan pertanda bahwa manusia pertama adalah yang terkuat. Ini keliru. Sangat keliru, toh orang yang kuat itu adalah orang yang dapat mengendalikan diri kala marah. Bukan yang masih bisa haha hehe ketika terpuruk.

Jadi, mari kita samakan dulu langkah kita tentang pemahaman ini. Bahwa manusia memiliki desain yang berbeda, dimana desain ini ada yang anugerah dari Allah, ada juga yang memang berpengaruh terhadap didikan masa kecil serta lingkungan sekitarnya. Nah, untuk itu, tolong dengan sangat tahan dulu persepsi Anda tentang orang yang tengah terpuruk.

Saya akan bercerita dari kisah Yasunari Kawabata tentang seorang pendeta Zen yang berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri. Dari cerita yang disampaikan oleh Kawabata, bahwa sang Pendeta memiliki banyak perenungan tentang hidup, tentang mengapa dia merasa asing dengan kehidupan yang tengah dijalani. Sampai, dia sendiri terasa bingung harus menempatkan diri di posisi seperti apa.

Lain halnya dengan Akutagawa yang bunuh diri akibat Mental illness yang memang diturunkan dari Ibunya - CMIIW. Dari sini bisa kita lihat baru ada dua faktor dari ribuan faktor yang menyebabkan seseorang memutuskan untuk bunuh diri. Sementara itu, ketika saya terakhir berbincang dengan kawan saya ini, terkait self defense seorang manusia, bahwa adalah hal yang sering terjadi atau istilahnya memang pola manusia demikian, untuk melindungi diri mereka dari ancaman luar.

Dengan cara menutup diri ketika mereka tengah terpuruk atau merasa depresi. Nah, pertahanan ini yang seringnya justru tidak mudah untuk digoyahkan. Bahkan perlu waktu dan proses yang tidak sebentar untuk seorang psikolog membantu pasiennya. Oleh karena itu, jika Anda bertemu dengan sosok yang tengah memberi pertanda untuk bunuh diri, pastikan Anda tidak salah bicara.

Karena itulah, kasus bunuh diri, tidak bisa sekadar dilabeli, jauh dari Tuhan saja, tapi juga semacam warning apakah ada sesuatu yang terjadi namun tidak disadari oleh orang sekelilingnya? Terkait trauma atau rasa takut? Bisa saja seorang anak mengalami Sexual abuse, dan takut menghadapinya, takut bercerita dan memilih bunuh diri. Ini adalah penyebab yang seringnya tidak langsung bisa ditangkap oleh orang sekitarnya.

Dan kisah orang-orang yang bisa bertahan dari keterpurukan, serta orang-orang yang akhirnya bunuh diri, mengajarkan saya pada satu yaitu EMPATI. Dengan TIDAK berucap sembarangan. Dengan berusaha membantu orang tersebut MESKI DENGAN DOA TAPI TULUS.


Penyesalan

Baiklah, kembali ke Film Orange, dimana banyak hal yang berkaitan dengan PENYESALAN yang menjadi motivasi para tokoh mengambil keputusan. Bagaimana pada akhirnya, Naho dan Sawa, mendapat surat dari diri mereka sendiri di 10 tahun mendatang. Sebuah surat yang berisikan tentang peringatan agar membantu dan menolong sahabat baru mereka, Kakeru.


Naho Sedang Membuka Surat


Mereka berdua menyatakan menyesal, mengapa tidak dapat membantu Kakeru mengalami masa-masa sulitnya di sekolah. Apalagi, karena Ibunya memutuskan untuk bunuh diri karena sakit yang dideritanya. Hingga membuat Kakeru menjadi anak yang bahkan tidak dapat berbahagia sepenuhnya.

Surat dari masa depan inilah yang menjadi acuan Naho untuk menjadi sosok yang mau membantu orang lain yang sedang membutuhkan. Tidak hanya sekadar menjadi penonton, tapi ikut serta dalam kehidupannya. Membuat Naho menjadi berbeda tak lagi pasif.

Lembar demi lembar surat tersebut, menceritakan hal yang benar-benar sama seperti yang dialaminya hari itu. Namun, disertai dengan permintaan agar persahabatan mereka di masa depan tidak selalu dirundung rasa bersalah dan penyesalan akibat kepergian Kakeru.

Kakeru sendiri memutuskan untuk membiarkan dirinya tertabrak sebuah mobil, karena memendam rasa bersalah pada Ibunya. Di hari sebelumnya, mereka bertengkar hebat, hingga mereka berdua belum lagi berbincang sampai kemudian Ibunya meninggal dunia. Inilah yang membawa Kakeru pada kesedihan yang berlarut. Terlebih dia hanya memiliki sang Ibu yang menjadi sosok yang disayanginya.

Saya kemudian teringat dengan salah satu pesan dari Tom Ellard, If a story has no moral then it's not really a story. ~ Tom Ellard. Di sinilah letak pesan moral yang begitu dalam dari cerita tentang masa sekolah. Betapa manusia memang terkadang membutuhkan waktu untuk memaafkan diri sendiri, serta membawa penyesalan dalam kehidupannya agar tidak terus menerus terpuruk setiap waktu.

Selain itu, Tom Ellard juga mengatakan, bahwa kita bisa mencontoh atau menjadikan apa yang terjadi dalam film menjadi satu pelajaran berharga. Betul, pembelajaran tentang manusia tetap butuh orang lain, manusia tetap butuh waktu untuk -bahkan- memaafkan dirinya sendiri, dan juga manusia tetap harus memiliki tujuan untuk hidup.

Film Orange

Kenapa Orange? Karena ini menggambarkan satu keadaan langit ketika senja menjelang. Di satu bukit yang tidak jauh dari tempat mereka. Dimana mereka bisa melihat golden time, waktu saat langit berubah menjadi orange keemasan. Ini adalah janji mereka untuk menyaksikan pemandangan tersebut seusai sekolah.


Langit kuning keemasan tapi serupa orange warnanya


Film ini juga mengisahkan tentang persahabatan anak-anak sekolah. Yang selalu membuat saya sumringah dan kembali tersenyum-senyum dengan kisah masa sekolah. Dimana, mereka semua berjanji untuk saling menyayangi satu sama lain, saling berusaha menjaga satu sama lain.

Dan kebersamaan mereka, terus terjaga hingga semua telah dewasa.

Film ini termasuk ringan, karena tokoh-tokohnya memang anak-anak sekolah. Tapi, jangan salah, entah kenapa ketika menonton film ini, air mata saya deras sekali. Benar-benar akting mereka bagus dan satu lagi, saya juga dibuat gregetan!! Terutama ketika Naho yang sedikit lamban ini, tidak segera mengatakan sesuatu pada Kakeru, saya sempat teriak-teriak sendiri aahahahahahaha. Demi apa, nonton film kayak gini sayanya kaya nonton pertandingan sepak bola.

Kesan saya pada film atau anime atau komik Jepang, mereka selalu membawa pesan yang mendalam dalam setiap cerita. Bukan hanya sekadar cerita tanpa makna. Tapi, mengajak pembacanya untuk ikut merenung dalam setiap adegan atau peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokohnya.

**

Sejauh ini, saya memang senang menonton film atau anime atau serial. Tapi, yang saya tulis ulasannya di blog saya, hanya beberapa, tidak semua. Saya pilih yang memang bersinggungan dengan kehidupan. Karena, saya berharap tulisan saya ini bisa dibaca oleh orang yang sedang membutuhkan. Oleh orang yang mau belajar untuk berempati dengan orang lain.

Karena itulah, saya menuliskan ini, karena saya punya tujuan. Saya ingin agar setidaknya, bertambah jumlah orang yang mau memberi toleransi pada orang lain, bertambah jumlah orang yang bisa mengurangi beban derita orang lain, meski itu hanya sekadar senyum, sapa dan doa.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat, meski hanya sebuah ulasan film. Dan mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan di atas.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya.

Comments

  1. Ipeeh...
    Aku mau bilang kalo dunia itu sudah tidak sama lag seperti jaman kita dulu dibesarkan.

    Maka untuk menumbuhkan rasa empati, butuh effort yang lebih besar.


    Bismillah,
    Semoga Allah menguatkan dari keluarga-keluarga karena itu kehidupan sosial terkecil.


    Aku bisa paham kl mereka ingin bunuh diri. Tekanan yang begitu kuat dari lingkungan gak kondusif.


    Jepang.
    Semua orang bersaing.
    Entah bagaimana caranya. Baik dan buruk seakan bias demi mencapai sesuatu.


    *merinding.
    **komenku nyambung gak..?
    Soalnya pas baca ini kebayang nya hidup bersaing di Jepang aja gittu..

    ReplyDelete
  2. Wah, saya belum sempat nonton film jepang satu ini nih, yaitu Orange. Dan membaca ulasan ini membuat saya memutuskan untuk nonton Orange di malam tahun baru bersama keluarga kecil saya. Terima kasih ya kak ipeh karena secara langsung telah mengingatkan saya untuk menyiapkan tisu di kala nonton Orange. Okeship. :)

    ReplyDelete
  3. Aku juga, entah kenapa kalau nonton film tentang masa-masa sekolah, bawaannya selalu deg-deg-an. Masa yang ingin diulang untuk mengasah kemampuan sosial, tapi sekarang terasa ngga mungkin karena ngga ada waktu yang kembali lagi

    ReplyDelete
  4. makin banyaaak pilihan ya untuk serial yang bisa ditonton :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih

Instagram




domain murah