Secangkir Cerita Dari Seorang Penyamun Kata




Kali ini saya ingin bercerita tentang banyak hal. Cerita yang mungkin bisa membuat pembaca bosan, karena cerita ini tentang saya dan kehidupan saya. Namun, saya tetap ingin berbagi, siapa tahu ada yang juga merasakan hal yang sama seperti saya. 

Sedari kecil saya ini memang bukan tipe perempuan yang menonjol. Saya terbiasa bekerja di belakang layar, seperti bekerja kelompok membuat pentas seni, saya pasti yang kebagian jatah pemeran pembantu yang juga selalu menjadi orang yang menulis jalan cerita untuk pentas tersebut. Sebutlah saya si Tukang Karang, karena memang jago sekali saya mengarang cerita. Sampai dahulu, cerita saya ke teman saya, yang mengatakan kalau saya pernah dibawa ke kerajaan putri malu dipercayai sampai saya duduk di kelas 6 SD.

Dasar si Tukang Ngarang, meski sering mengarang cerita, saya ini termasuk anak bapak saya yang kurang pandai berbohong. Karena memang ajaibnya, Bapak saya ini selalu tahu kalau saya ini bohong. Sampai suatu ketika Bapak berbicara pada saya, "kamu tuh anak Bapak yang paling ketawan kalau lagi bohong." Ini dilemparkan ketika saya bohong tidak sedang 'backstreet' dengan seorang lelaki. Ahahahaha, memang, karena dahulu anak-anak Bapak dan Ibu sangat-sangat dilarang berpacaran, jadi terkadang saya ngumpet-ngumpet kalau sedang dekat dengan lelaki, meski masih tahap PDKT.

Demikian juga si tukang ngarang ini ketika beranjak dewasa. Di tempat bekerja, saya juga sering menjadi 'bayangan' di antara teman-teman saya. Misalnya saya yang bantu teman dalam handle IT Desk atau pekerjaan lain yang bukan job desc saya. Tapi, orang lain tahunya kalau itu yang mengerjakan bukan saya, tapi teman saya yang lain. Apakah saya merasa sedih? Tidak, justru saya beruntung, karena memang saya lebih nyaman untuk bekerja tanpa diketahui.



Menjadi Bayangan


Apakah pembaca pernah membaca buku A Little Girl karya Louisa May Alcott? Kalau pernah, saya sering merasakan diri saya seperti Beth. Dimana pun saya berada. Kehadiran saya memang pelengkap, tapi ketidak-beradaan saya tidak mengurangi apa-apa. Dan itu tidak membuat saya sedih, sungguh. Ini memang tabiat saya yang seringnya malu untuk menunjukkan kualitas diri saya, sampai keluarga besar menganggap saya ini lumayan 'bodoh' karena setiap berkumpul keluarga saya jarang menunjukkan bahwa saya seorang yang ini dan itu.

Menjadi 'tak tampak' seringnya membuat saya merasa nyaman. Sampai suatu ketika saya pernah menghadiri suatu acara blogger, kebetulan tidak ada yang mengenal saya, sehingga saya santai saja. Datang, kemudian menulis sedikit untuk liputan, foto-foto setelah itu pulang. Dan, ketika saya membagikan foto tentang kegiatan tersebut, banyak yang menanyakan apakah saya memang benar-benar datang di acara tersebut?

Hehehe, menjadi shadow memang sering dikatakan bukan pilihan yang tepat. Karena membuat si shadow ini sering kurang percaya diri. Dan memang benar, saya sering tidak menyadari potensi saya sebelumnya. Hingga ketika usia saya beranjak 26 tahun, ketika saya dipertemukan oleh Allah dengan orang-orang yang membantu saya melihat potensi saya. Sejak saat itulah saya berusaha untuk yakin bahwa memang saya diberi anugerah ini dan itu serta skill ini dan itu.


Saya Dan Teknologi


Saya bukan seorang perempuan yang sangat buta dengan teknologi, karena saya dahulu pernah kuliah di jurusan IT. Saya bahkan pernah jatuh cinta dengan bahasa pemrograman .Net. Dan ketika bekerja saya membuat satu web aplikasi untuk perusahaan menggunakan asp.net. Belum lagi, namanya IT pasti dituntut untuk bisa ini dan itu, memang bukan hal yang mudah. Tapi, dari pekerjaan yang memiliki banyak tuntutan dari banyak pihak inilah saya juga banyak belajar. Entah kenapa, saya termasuk pembelajar dimana kalau saya menemukan error pada satu hal, justru di situlah saya bisa bekerja dengan baik. Kalau belum menemukan error, saya akan seperti musafir yang terjebak di padang pasir tanpa siapa pun bisa diajak berbicara.

Tapi, pertanyaannya apakah itu berarti saya tahu banyak hal? Semuanya? Saya jawab TIDAK! Karena saya bukan Allah yang Maha Tahu. Dan saya akan tanpa sungkan mengatakan, "maaf saya kurang tahu" kalau saya memang tidak tahu, atau hanya tahu meski sedikit. Karena saya kurang percaya diri kalau saya mengetahui sesuatu hanya sedikit kemudian saya berikan informasi yang sedikit itu pada orang lain. Dan, seringnya ini menjadi boomerang bagi saya, karena setelahnya banyak orang yang akan mengatakan bahwa saya tidak layak untuk ditanya karena saya ini tidak tahu apa-apa.

Memang lucu hidup ini, serius. Tapi, pengalaman bertemu dengan orang-orang yang demikian inilah membuat saya merasa kaya. Saya tidak terkejut lagi dengan keberadaan mereka, dan bahkan saya bisa belajar untuk bersikap, tetap optimis dengan diri saya meski seringnya dianggap remahan batu bata.

Dan yang membuat saya bersyukur, karena bisa paham dengan teknologi, saya senantiasa bisa mendampingi Mamah atau Ibu atau Bapak atau terkadang Tante-tante saya di Surabaya, ketika mereka butuh pendamping yang mengajarkan cara menggunakan smartphone yang benar. Hehehe, inilah kelebihan saya.


Senang Mengajar


Padahal dahulu kala, saya termasuk orang yang sangat sulit sekali menjelaskan sesuatu pada orang lain. Sekarang juga sih, tapi entah kenapa saya tetap nekat untuk mengajarkan sedikit demi sedikit apa yang saya tahu pada orang lain. Dimana kapasitas sedikit ini tidak sangat-sangat sedikit atau levelnya lumayan sehingga saya percaya diri untuk membagikan ilmu saya pada orang lain. Apalagi saya termasuk orang yang butuh menjelaskan dengan cara praktek, saya lemah kalau disuruh mengajarkan sesuatu dengan cara menjelaskan teori, karena seringnya malah saya yang kebingungan mau ngapain 😀 hehehe.

Seperti yang tadi saya tuliskan, saya sering menjadi pendamping yang mengajari para Ibu-ibu yang kurang paham dengan smartphone mereka. Banyak yang mengatakan kalau saya ini sabar sekali membantu mereka untuk mengerti cara kirim WA, cara menggunakan phonebook, cara menelpon sampai cara menggunakan kamera. 

Kegiatan kecil inilah yang membuat saya bersyukur karena Allah telah memberi kesempatan pada saya untuk bisa mendapat ilmu yang akhirnya memicu saya untuk terus bisa bermanfaat meski sedikit. Meski tidak begitu berarti bagi peradaban sejarah manusia. Tapi, sedikit inilah yang membuat saya lebih baik daripada tidak sama sekali.

Dan, kesempatan itu datang. Ketika saya tidak pernah bermimpi akan mengajar anak-anak SD. Karena saya paham dengan diri saya, yang kurang begitu luwes mengajar anak SD. Bisa dibuktikan kalau saya dimintai tolong sama Ibu saya mengajar ngaji anak-anak kecil di lingkungan rumah Ibu. Saya akan dengan cepat angkat tangan atau memilih anak yang mau saja ajari. Hehehe, serius deh, saya ini sudah sering menyerah ketika pertama kali mereka mengucap salam kemudian duduk manis di depan teras. Padahal  mereka tidak nakal loh, hanya terkadang ekspektasi saya yang sering membuat saya mundur.


Guru Ekskur


Demikianlah kemudian saya mengajar di sebuah SD. Bukan guru tetap, hanya guru ekstrakurikuler biasa. Yang mana pekerjaan ini direkomendasikan oleh Mba Wylvera (jazakillah khoiron katsiron Mba), dan sebagai perantaranya ini Mamanya Pascal (jazakillah mba yang ternyata tetangaan sama saya :D). Mengawali tantangan ini sempat membuat saya ingin mundur di minggu kedua ketika saya mengajar. Saya tidak bohong, saya ingin mundur. Kenapa? 

Bukan karena saya mengajar anak SD. Tapi, saya merasa tidak punya prestasi apa-apa di bidang yang saat ini saya geluti. Saya masih memandang diri saya bahwa, kalau saya sudah memenangi sebuah perlombaan barulah saya menganggap bahwa saya mampu. Ini memang standardisasi yang sangat salah, yang saya tanamkan pada diri saya. Karena sampai detik ini justru saya tidak pernah memenangkan lomba apa-apa, kecuali giveaway sih hehe. Dan inilah yang menjadi 'perusak' pemikiran saya, hingga saya berniat untuk mundur.

Belum lagi, banyak sekali, sangat banyak orang yang meremehkan saya karena memang tidak punya prestasi plus foto-foto yang saya miliki tidak bagus seperti ekspektasi mereka. Sampai ada salah satu rekan kerja di sekolah, mempertanyakan kenapa bisa sih perempuan yang tampak tak memiliki kualitas dijadikan pengajar. Bagaimana reaksi saya menghadapi hal demikian? NANGIS. Hahahahaha, saya tidak bohong kalau saya nangis sambil mikir.

Saya berpikir bagaimana caranya saya bisa membuktikan bahwa Allah yang memberi jalan ini, bahwa Allah tidak pernah salah memilih dan memberikan apa-apa untuk saya. Dan kesempatan inilah akhirnya saya berusaha untuk mewujudkan satu saja visi saya dalam mengajar Ekskur di SD.

SAYA INGIN ANAK-ANAK TERBIASA MENGGUNAKAN KAMERA TANPA RASA TAKUT. 

Iya, saya guru ekskur fotografi di sekolah tersebut. Sudah banyak yang meragukan karena foto di instagram saya jelek-jelek. Bahkan yang lebih berkualitas dari saya banyak sekali. Tapi, kenapa saya yang dipilih? Karena Allah punya rencana untuk saya. Dan inilah visi saya, ketika pertama kali saya bertemu dengan anak-anak yang jumlahnya sekitar 30. Sampai saya harus berteriak-teriak menjelaskan segala hal tentang kamera dan teknik memoto.

Jujur, saya tidak menggunakan ilmu fotografi seperti teori-teori pada umumnya. Tidak. Kenapa? Karena mereka masih SD, banyak yang bahkan untuk mematikan flash di kamera mereka, mereka takut. Kenapa? Karena orang tua mereka juga belum bisa memberi kepercayaan pada mereka untuk memegang kamera. Inilah tujuan saya mengajar, agar anak-anak terbiasa dengan kamera, terbiasa berhati-hati membawa dan menggunakan kamera mereka apa pun merknya. Sampai belajar dari hal yang sederhana, cara mengambil foto agar tidak blur.


Awal mula saya mengajar, banyak sekali anak-anak yang saking takutnya mengenakan kamera, foto mereka blur semua. Atau bahkan ada yang sama sekali kebingungan cara menyalakan kameranya, sampai berteriak histeris mengatakan kalau kameranya mati. Tapi, ada juga memang yang membawa kamera DSLR, mengambil foto dengan mode manual dan pandai mengatur ISO, aperture sampai shutter speed, hanya satu orang. Ketika saya tanyakan padanya apakah orang tuanya mengajarkan padanya, jawabannya IYA.

Jadi, bisa diterka bagaimana seorang anak mendapat keahlian, salah satunya dari rasa percaya orang tua pada anak tersebut. Inilah tugas saya, untuk mengingatkan mereka kalau membawa kamera harus ekstra hati-hati. Jangan sampai terbentuk benda keras, jatuh atau kebasahan. Meski mereka memiliki rasa takut ketika menggunakan kamera, percayalah, pembaca mungkin akan tersenyum-senyum ketika mereka dengan bangganya mengalungi kamera mereka ketika turun dari ruang kelasnya. Ini pemandangan yang sering membuat saya tersenyum lebar.

Dan yang membuat saya bahagia, ketika mendengar mereka banyak bercerita. Saya tidak bohong, seringnya anak-anak ini bercerita banyak hal. Dari mulai ketika mereka jalan-jalan, atau saat mereka mengambil foto di rumah. Terkadang mereka malu, tapi saya yakini bahwa semua foto itu bagus, tinggal bagaimana kita belajar untuk terus memperbaiki agar foto-foto tersebut semakin bagus dan terus menerus hingga benar-benar bagus. Tapi sering juga mereka mendatangi saya untuk bertanya, kira-kira harga kamera berapa, merk kamera yang bagus apa sampai beli dimana.

Saya tersenyum setiap mendengar pertanyaan tersebut. Karena itu berarti mereka sudah menaruh rasa percaya mereka pada saya. Mereka berani berbagi cerita pada saya. Sampai ketika kemarin saya langsung bertemu dengan orang tua murid yang tengah menunggu anaknya yang sedang ekskur, saya dihampiri oleh beliau dan berbincang tentang kamera milik mereka yang rusak karena kecemplung ke laut. Terus kami berbincang dan saya sarankan untuk belanja ketika hari-hari menjelang diskon agar mendapat harga yang lumayan murah, misalnya menjelang harbolnas 2016 ini yang akan diadakan tanggal 11 november nanti biasanya banyak penawaran diskon dan harga khusus untuk kamera terbaru.

Menjadi seorang yang sering dipertanyakan kemampuannya apa dan bagaimana, memang bukan hal yang mudah untuk saya lalui. Tapi, seiring berjalannya waktu, semakin sering saya bertemu dengan orang-orang tersebut, semakin saya kuat untuk terus bertahan dalam segala situasi, bahkan yang membuat saya terkadang goyah sekali pun. Di sinilah saya bersyukur dipertemukan dengan mereka-mereka yang mempertanyakan dan mereka-mereka yang percaya.


Karena Motto Saya Itu Love To Learn


Betul, saya senang mempelajari banyak hal. Tidak ragu untuk belajar dari nol kalau memang ilmu tersebut saya butuhkan. Tidak mengapa saya belajar lagi dari orang-orang yang mau berbagi ilmunya meski sedikit. Seperti mendatangi majelis ilmu dimana saya bisa mendapat banyak hal bermanfaat. Atau membaca buku-buku yang bertengger di rak buku, karena memang ini merupakan hal yang saya sukai.

Tidak jarang juga, tulisan saya yang biasa saja ini dicaci maki, tapi mengutip dari moto hidup Vabyo, "Dicaci dan dimaki akan berkarya sampai mati." Inilah yang sering menjadi penyemangat saya kala lelah menyerang. Namanya hidup, kita akan terus bertemu dengan orang-orang yang meragukan kita, dengan orang yang menganggap kita lebih rendah dan segala macamnya. Tapi, yaa ini hidup, karena saya justru belajar banyak hal dari kejadian tersebut.

Itulah Yang Membuat Kita Berbeda

Sama seperti saat ini saya terus berusaha untuk belajar agar tulisan saya bagus, agar pembaca tidak bosan. Serta belajar agar saya bisa bisa ini dan itu, tapi terus saya pelajari agar saya bisa upgrade diri saya ke level yang lebih tinggi dari saat ini. Karena bagi saya, Hidup Ini Tentang Seberapa Banyak Ilmu Yang Bermanfaat Yang Kita Pelajari Dan Kita Bagikan.


Dan Saya Akan Tetap Semangat Berbagi


Betul, saya akan terus semangat untuk berbagi hal-hal yang saya ketahui. Itulah kenapa membuat saya semangat untuk belajar lagi dan lagi. Agar saya bisa berbagi dengan lengkap tanpa setengah-setengah berbagi ilmu yang saya terima. Seperti suatu ketika saya dipercaya berbagi kisah tentang ngeblog, yang mana padahal track record saya sebagai blogger masih cetek. Belum ada apa-apanya dibanding blogger lain, tapi Allah yang memberi saya kesempatan tersebut.

Agar saya bersemangat terus dalam menulis dan berbagi. Agar saya percaya, bahwa manusia dilahirkan dengan kebaikan dan keburukan, dengan kelemahan dan kelebihan sendiri-sendiri. Dari kepercayaan banyak orang kepada saya inilah, saya senantiasa berusaha untuk bersyukur dan memberikan yang terbaik pada mereka yang memercayai saya.

Sungguh sedih bilamana saya berusaha hanya setengah-setengah. Jadi, inilah usaha saya setiap hari, beusaha menggali lagi dan lagi. Apalagi saya termasuk slow learner, dimana saya tidak bisa dengan mudah belajar dengan metode ATM tanpa melalui proses panjaaaang sekali yang mana seringnya tidak tampak progressnya.


Slow Learner Yang Senang Belajar


Ketika ada banyak orang yang mengatakan, "yaelah Peh tinggal elu ikutin aja cara review orang itu, gampang." Ketika itulah saya hanya bisa tersenyum. Karena apa? Karena saya slow learner. Saya butuh banyak waktu untuk mencerna, saya butuh banyak praktek untuk memahami serta saya butuh banyak tambahan ilmu pendukung untuk benar-benar paham apa yang tengah saya pelajari.

Betul, saya mengawali belajar menulis ulasan dari banyak buku. Saya belajar dari buku satu ke buku yang lainnya, karena saya masih belum juga paham. Jika suatu kali saya dipuji karena tulisan ulasan saya bagus, saya tersenyum karena saya bisa seperti ini dengan melalui proses yang lama dan panjang. Saya butuh waktu tidak bisa hanya sehari atau dua hari atau tiga hari. Tidak, bahkan saya butuh sebulan, dua bulan, tiga bulan dan mungkin setahun untuk memahami.

Tapi, memahami diri saya yang slow learner ini tidak membuat saya malu. Justru ini mempermudah saya, ketika harus mempelajari sesuatu. Saya sudah tahu harus bagaimana, agar saya bisa paham atau bahkan menjadi master dalam bidang tersebut. Karena kekurangan inilah saya jadi memiliki kelebihan, yaitu bisa mengenal diri saya agar lebih baik.

***

Dari pengalaman baik dan buruk, manusia mempelajari banyak hal. Melalui proses jatuh dan bangun, manusia belajar untuk bertahan. Lewat caci maki dan pujian, manusia belajar untuk terus berpikiran positif. Dan inilah saya, seorang slow learner yang gemar mempelajari banyak hal, meski seringnya lebih nyaman menjadi shadow. Tapi, inilah saya dan bangga menjadi diri saya.

Mohon maaf kalau cerita curahan ini sangat panjang, semoga pembaca yang tengah merasakan atau pernah merasakan apa yang saya alami bisa terus bersemangat, karena you are never walk alone. Saya berada di samping kalian yang tengah merasakan hal yang sama. Membisikkan satu kata, bahwa kita mampu menghadapi kehidupan dengan wajah menengadah dan senyum ramah menghiasi wajah. Karena kita mampu :).

Sudahkah pembaca berterima kasih dan menyapa diri sendiri melalui rasa syukur kepada Allah yang Maha Kuasa? Jangan lupa bahagia 😃.


Terima Kasih














Comments

  1. Membaca ini seperti cerminan diri sendiri, ya karena di belakang layar itu seru. Wah, sebentar lagi harbolnas, mari belanja hehe

    ReplyDelete
  2. ah... kenapa aku jadi fokus ke tulisan kata sederhana yang dihigh lightnya ya: harbolnas 2016... huhuhuuhu... pingin

    ReplyDelete
  3. jadi yg betul itu ekskur ya, kok kebayakan nyebutnya ekskul <-- ini saya sih

    ReplyDelete
  4. semangaaaatttt mba.
    sama kayak saya soal yang dateng ke event, saya cenderung lebih nyaman sendiri tanpa diketahui orang. krn saya sebenernya itu kaku orangnya kalo ketemu orang. mau nyapa tapi kok dia lagi dikerubungin blogger lain misalnya, duh jadi gak enak, yasudahlah saya sendiri aja. gak sakit hati gak gimana2, biasa aja, krn emang saya begitu orangnya.

    ReplyDelete
  5. Ipeeeehhhh :')
    Merasa sangat beruntung bisa kenal sama Ipeh di circle kecil yang membuat kita nyaman berinteraksi. Iyes, #GengIjoek. Banyak banget ilmu yang aku dapet dari Ipeh. Jazakillah khayran katsiran ya, Ipeh sayang.

    Dan seperti yang Ipeh bilang bahwa Allah nggak mungkin salah pilih, makan begitu juga dengan pertemuan kita. Meski masih sebatas dunia maya.
    Duh, kok aku mrebes mili :'). Moga2 bisa ketemu ya Peh suatu saat nanti. Terus semangat menebar ilmu dan manfaat bagi orang lain, karena itulah hakikat hidup: Khairannas anfaahum linnas :).

    ReplyDelete
  6. Kak Ipeh, aku malah ngerasain banget kalo kak Ipeh itu ilmunya banyak, manajemen waktunya oke pula, plus ga pelit ilmu *saluuut maksimal
    Semoga someday kita bisa ketemuan di dunia nyata ya kak. ^^

    ReplyDelete
  7. Berasa koq kalo Ipeh senang mengajar. Kalo ngasih penjelasan di grup kita, rinci banget. Dan semua pertanyaan diladeni dengan sabar. Waah ternyata Ipeh dulu di IT kuliah ya. Bidang yang pernah hampir saya geluti, Peh. Dulu itu di sini kan belum ada IT. Teman2 saya banyak yang belok ke IT, termasuk suami saya juga, dari Elektro belok ke IT. Untungnya gak jadi karena lama setelah itu saya sadari kalo saya gak betah dengan bahasa pemrograman. Kalo ketemu error, rasanya pengen buru2 say good bye sama si error hehehe.

    ReplyDelete
  8. Mba ipehhh...semangattt terus mba! Allah Never sleeps..terus berusaha dan do your best ya mba..seneng baca tulisannya..saya pun pernah mengalami rasanya menjadi bayangan loh mba..tapi terjadi karena orang-orang lebih memberi perhatian dan kasih sayang ke sepupu saya yang memang dari keluarga berada..saya nggak pernah dianggep gitu..*lah curhat..tapi, itu justru jadi pemecut saya untuk bikin mama papa saya bangga..alhamdulillah mereka bangga, terutama karena saya mendapat beasiswa ke australia

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih

Instagram




domain murah