Faktor Genetika Penyakit Diabetes

June 15, 2016

Faktor Genetika Penyakit Diabetes



Faktor Genetika Penyakit Diabetes. Menjadi seorang anak yang memiliki riwayat turunan Diabetes, bukan hal yang mudah. Terutama, alasan mendiang Nenek saya (rahimahallah) meninggal, akibat Diabetes. Belum lagi, Bapak dan Ibu saya, keduanya juga menderita penyakit yang sama. Jadi, sangat besar kemungkinan saya juga terkena penyakit seperti ini. Bukan hanya saya, tapi juga ketiga adik saya, memiliki bakat turunan Diabetes.

Tidak bisa dipungkiri, rasa khawatir kerap menyambangi saya, terlebih berat badan saya yang terbilang obesitas ini. Setiap kali berkumpul di acara keluarga besar dari Bapak, keluhan semua sepupu atau Om saya, sama. Yaitu mengeluhkan ketika tekanan Gula dalam Darah mereka sedang naik. Sering mengakibatkan otak melemah, tidak bisa berpikir. Bahkan Om saya, kalau sudah tinggi kadar Gulanya, pasti kesulitan untuk melihat. Karena glukoma, sehingga menghalangi jarak pandang si penderita.

Berbeda dengan Om saya, Ibu saya sendiri, yang konon bahkan tidak memiliki riwayat Diabetes turunan, setiap kali kadar Gulanya tinggi, pernah sampai tidak bisa pulang ke rumah. Apa sebabnya? Beliau seperti orang kebingungan, tidak tahu arah kanan atau kiri, jadi bisa seketika blank. Mengerikan? Betul. Saya sendiri sering ditegur oleh tetangga karena pernah menemui Ibu saya pulang jalan kaki, padahal jarak yang ditempuh sangat jauh. Ketika ditanya, Ibu menjawab, tidak tahu kenapa.

Lain Ibu, lain juga Bapak. Meski bapak menderita penyakit Diabetes, yang menjadi keluhan bapak Cuma satu, setiap luka baik itu luka kering atau luka karena kecelakaan, membutuhkan waktu yang sangat lama sekali untuk sembuh. Apalagi, tulangnya sudah mulai sering terasa ngilu paska terjatuh dari motor. Sama seperti Om saya, Bapak juga sering terganggu karena glukoma, jadi jarak pandangnya terbatas setiap kali tekanan Gula dalam darahnya tinggi.

Dikelilingi oleh orang-orang yang saya sayangi dengan riwayat penyakit bermacam-macam, seperti Mamah saya yang survivor kanker (Baca Juga "Perjalanan Dadakan"), kemudian Ibu dan Bapak saya yang terkena penyakit Diabetes, membuat saya semakin waspada dengan kesehatan tubuh. Apalagi, dengan kondisi tubuh obesitas seperti saya ini, sudah barang tentu banyak orang yang mengingatkan untuk menurunkan berat badan dan menjaga pola hidup agar seimbang.


Kalau saya flashback kembali, kemudian melihat bagaimana pola dari Gula darah yang tinggi, saya berusaha untuk menarik benang merah dari beberapa gejala yang bisa saya amati secara langsung. Namun, mungkin gejala ini sifatnya berbeda-beda dengan penderita lain.



Faktor Genetika Penyakit Diabetes
source : blog.muipr.com


1.    Genetik


Seperti yang sudah saya ceritakan, kalau kasus yang terjadi pada Bapak dan Om saya, faktor keturunan plus juga karena gaya hidup yang tidak sesuai. Karena, ada juga Om saya yang lain, tidak terkena dampak dari Diabetes ini, karena hidupnya tidak begitu banyak makan, berat badan seimbang dan banyak melakukan aktivitas.

Jadi faktor genetik ini semacam trigger yang bisa menjadi penguat terkena penyakit. Itulah sebabnya, ketika mempelajari hal ini, saya berusaha mengimbangi asupan serta seberapa banyak aktivitas yang saya lakukan. Apalagi berat badan saya yang tidak normal, ini bisa menjadi alasan kuat sebagai trigger penyakit Diabetes.


2.    Kehamilan



Nah, berbeda dengan Ibu saya. Padahal Ibu saya tidak memiliki riwayat Diabetes dari garis keturunannya, tapi kenapa bisa terkena penyakit ini? Berawal ketika Ibu tengah hamil anak ke-3, yaitu adik saya yang laki-laki (satu-satunya anak lelaki). Kondisi tubuh Ibu saat itu seperti biasa orang yang sedang hamil. Tapi, beliau mengalami satu keadaan yang membuatnya tak nyaman, yaitu gatal-gatal pada seluruh tubuh.


Sebenarnya ketika terjadi gatal-gatal pada seluruh tubuh demikian, harusnya memang diperiksa langsung ke dokter. Namun, ketika periksa ke puskesmas ternyata dianggap sebagai gatal-gatal alergi selama hamil. Padahal itu adalah tanda-tanda timbulnya gejala penyakit Diabetes. Tidak ada yang tahu menahu, hanya bekas menghitam karena gatal yang timbul sebagai jejak gejala Diabetes.


Lantas, kenapa seorang Ibu Hamil bisa menderita penyakit Diabetes? Alasan dari dokter yang saat itu mendengarkan kronologis riwayat kesehatan Ibu, mengatakan bisa saja terjadi akibat pikiran dan juga jumlah asupan serta berat badan.



3.    Stress



Ini kenyataan, bahwa tekanan pikiran yang bisa mengakibatkan stress, juga bisa menyebabkan munculnya penyakit Diabetes. Tidak sekali atau dua kali saya menemukan kasus serupa, yaitu munculnya penyakit akibat Stress. Ibu saya juga demikian, saat kehamilan adik saya, tingkat stress Ibu sangat tinggi, karena kondisi krisis moneter waktu itu, membuat Ibu tidak bisa mengendalikan tekanan pikirannya.

Oleh karena itu, saya berusaha untuk berhati-hati menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Berusaha untuk ‘legowo’ pada banyak hal, tidak memikirkan hal-hal sepele seakan masalah besar dan berusaha untuk benar-benar ‘sadar’ akan kapasitas pikiran dan tubuh.

Karena, baik Bapak maupun Ibu saya, keduanya memiliki trigger yang berbeda. Bapak saya lebih sering mengalami kenaikan tekanan gula akibat makanan manis. Sementara Ibu saya, mau puasa berhari-hari, diet segala macam makanan, sampai rutin minum obat, kalau sudah  menghadapi Stress, tetap saja tidak bisa dihindari tekanan gulanya pun meningkat.



Melalui tiga hal di atas, saya semakin berusaha untuk mencoba menyeimbangkan gaya hidup saya. Apalagi saya termasuk yang malas olahraga, jadi saya coba untuk mengakalinya dengan jalan kaki. Betul, saya kalau ke warung, ke swalayan atau ke tempat yang saya harus kunjungi pasti jalan kaki. Karena saya sadar betul, kalau jalan kaki minimal otot saya bergerak sehingga menambah aktivitas tubuh.

Kalau sedang tidak puasa, bahkan saya sering bersepeda, meski dengan sepeda ontel tua yang tidak akan dilirik orang. Tapi, bersepeda membuat saya rileks, bisa menghirup udara segar dan juga mendapat inspirasi selama bersepeda. Tidak lupa saya juga harus sering medical check up agar bisa terdeteksi lebih awal jikalau ada penyakit yang tidak disadari. Mudahnya, saya tinggal berangkat ke In Harmony Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang mumpuni sebagai tindakan pencegahan, apalagi di sana mendukung pengobatan holistik, jadi tidak khawatir.




Selanjutnya, saya ingin berbagi juga, gejala yang merupakan tanda-tanda penyakit Diabetes. Kalau gejala ini saya dengar melalui sepupu-sepupu saya yang terkena penyakit Diabetes. Bisa sama atau juga berbeda, tapi rata-rata setiap mendengar cerita mereka, kesimpulan yang saya dapat gejalanya hampir sama.



·         Mengalami penurunan berat badan drastis


Baik sepupu saya, Bapak, Ibu atau Om saya, mereka semua memang mengalami kemerosotan berat badan yang benar-benar drastic. Kalau mau tahu, sekarang tubuh Bapak saya seperti mengecil, bahkan ketika itu saya sempat ketakutan karena Bapak dan Ibu saya tiba-tiba sangat kurus sekali, seperti terkena penyakit berat. Dan penurunan berat badan ini terlihat tanpa sebab, tiba-tiba saja turun drastis, kemudian sering merasa lemas.


·         Tidak Bisa tidur malam hari


Karena sering buang air kecil setiap kali hendak tidur, sampai-sampai Bapak saya mengeluh dan memutuskan untuk menemani petugas keamanan ronda malam. Ini serius, karena memang mereka kesulitan untuk tidur di malam hari. Barulah ketika menjelang pagi, rasa kantuk datang dan bisa tidur. Tapi, justru ini yang menyebabkan tubuh semakin tidak sehat, yaitu tidur menjelang pagi.

Kakak sepupu saya pun demikian, dia kerap mengeluh karena tidak bisa tidur di malam hari, dari gejala tersebut kemudian Bapak memintanya untuk memeriksa kadar gula dalam darahnya. Ternyata hasilnya positif terkena penyakit Diabetes. Karena sudah diketahui sejak dini, sehingga kakak Sepupu saya bisa menjaga keseimbangan kadar gula dalam darahnya dengan melakukan banyak diet.


oo00oo


Jujur, rasanya sedih karena saya dikelilingi orang-orang yang menderita sakit yang lumayan berat. Karena bagaimana pun, pastinya kehidupan yang sehat akan selalu menjadi dambaan setiap orang. Apalagi penyakit Diabetes ini, meski bisa dibantu dengan meminum obat secara rutin, tapi tetap juga menimbulkan komplikasi pada organ lainnya. Seperti Ibu saya yang akhirnya ginjalnya tak kuat karena harus mengkonsumsi rutin obat Diabetesnya. Akhirnya beliau memilih untuk melakukan pengobatan herbal agar organ lainnya tidak terkena imbas dari obat-obatan.

Selain menjaga pola makan, dan mengubah gaya hidup. Pastinya, berdoa juga tidak boleh terlewat, bersyukur serta menikmati apa saja yang ada. Bahkan teman-teman saya sampai menggeleng-gelengkan kepala karena ternyata saya benar-benar dikelilingi penderita penyakit yang dialami oleh orang-orang yang saya cintai. Tapi, bagi saya ini merupakan sebuah pembelajaran dan peringatan dini akan “Sehat Sebelum Sakit“, agar saya sendiri terus menerus berupaya untuk menerapkan gaya hidup yang sehat.

Dan memiliki keluarga dengan riwayat sakit berbeda-beda, membuat saya yakin bahwa Allah mendatangkan penyakit disertai dengan Obatnya. Serta, penyakit merupakan satu cara agar dosa-dosa kita diampuni selama menjalani kehidupan dengan sabar dan ikhlas. Sama seperti Mamah yang bisa melewati masa-masa kritis karena kanker, itu juga merupakan anugerah. Pun penyakit Bapak dan Ibu, bagi saya itu adalah pemberian yang harus diterima dengan kesabaran dan keikhlasan.





Sehat memang mahal, karena untuk menjalani gaya hidup sehat, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pembaca ingin berbagi kisah yang mungkin sama seperti saya? Atau ingin berbagi tips gaya hidup sehat yang murah meriah? Silakan berbagi melalui kolom komentar. Terima kasih J

  • Share:

You Might Also Like

18 comments

  1. mamaku juga diabet kasian liatnya kudu makan sering porsi dikit diusia sekarang
    aku juga jadi jaga kesehatan karena g pengen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, Mbak. Jaga makan itu paling penting ya, saya juga mulai mengurangi makanan yang manis2, meski harus berpisah dari teh manis. Tapi, demi kesehatan ya.

      Delete
  2. Ipar2ku 2 org diabetes. Itu mmg menurun dr orang tua mrk.
    Salah satu ponakanku smp diet ketat menghindari diabet.
    Dan mmg keliatannya beda antara yg diet sm yg enggak.
    Krn ternyata diabet nih gak kenal usia sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba Ophi, sekarang ini tidak mengenal usia, jadi bener2 harus ekstra hati2 juga dalam menjaga kesehatan.

      Terima kasih atas kunjungannya

      Delete
  3. Diabetes memang menakutkan kalau tidak bisa menyiasatinya.. Di rumah, dari keturunan papaku alm, banyak saudara yang terkena diabetes. Memang perlu disiplin makanan dan olahraga teratur untuk melawannya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah mba, masih menjadi momok terutama bagi saya yang memang sudah memiliki history seperti itu. Dan ini bener-bener mendorong untuk menyegerakan diet sama olahraga mba.


      Terima kasih atas kunjungannya

      Delete
  4. Baru tahu kalau diabetes juga bisa timbul karena kehamilan. Apa mungkin sebelumnya punya riwayat juga yak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama kehamilan kalau asupannya berlebihan bisa memicu. Tapi, kalau kasus Ibu saya, pemicunya selain karena makanan juga karena tingkat stress yang tinggi. Gitu, Mbak :)

      Delete
  5. sekarang diabetes menyerang krn gaya hidup dan pola makan mbak
    jadi mmg kita hrs serius mengatur pola makan kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba, gaya hidup dan pola makan yang terlalu berlebihan ternyata mudah sekali menjadi pemicu diabet ya :)

      Delete
  6. Kehamilan bisa nyebabin diabet baru tahu saya mba serem jadinya mesti hidup sehat kalau gitu hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau semasa kehamilannya tidak dijaga asupannya maka bisa jadi pemicu, mba :)

      Delete
  7. Mamaku diabets mba ipeh dan saya kasian liat mama saya :( efeknya sih adalah saya rajin yoga sama renang, bukan buat bentuk badan tp biar sy gak diabetes. dan dari makananpun saya jarang banget pilih makanan atau minuman dengan pemanis buatan. Sehat selalu utk ortu kita ya mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget ya Mon, rasanya ga tega gitu liat kondisi mereka, jadi kitanya yang kudu jaga2 kesehatan ya

      Terima kasih atas kunjungannya

      Delete
  8. Alm. Ayah saya dulu diabetes. Makan nasi pun harus ditakar, kadang hanya makan kentang :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Innalillahi :( bener banget Mba, malah kalau Ibu saya tetap ga nasi dan ga kentang, cukup beberapa sayur dan buah, itu juga terbatas karena ada asam urat juga.


      Terima kasih atas kunjungannya

      Delete
  9. kayaknya diabetes bukan cuma karena obesitas deh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang bukan obesitas saja, coba dicek lagi, banyak hal loh yang bisa jadi pemicunya :)


      Terima kasih atas kunjungannya

      Delete

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih