#BahagiadiRumah Banyak Manfaatnya

May 31, 2016

"Tak perlu takut pada masa lalumu dan jangan khawatirkan masa depanmu. Fokuskan masa sekarangmu dan maksimalkan hari ini untuk taat pada Allah." 


Apa perihal yang membuat saya menjadikan kalimat di atas menjadi pembuka tulisan saya? Ini tentunya ada kaitannya dengan kehidupan, saya pribadi, namun bukan kisah yang akan menceritakan keseluruhan tanpa batasan. Saya hanya ingin bercerita tentang pengalaman saya dan apa saja yang saya dapat semenjak berhenti bekerja, kemudian memutuskan untuk menetap di rumah.




Keputusan itu datang tiba-tiba, bahkan saya belum bisa yakin 100% ketika harus meng-iya-kan untuk berhenti bekerja di saat saya berada di posisi yang saya impikan. Siapa pun pasti punya kebanggaan jika berhasil mewujudkan impian yang sudah lama dipendam, namun, ternyata saya harus mengambil keputusan resign, segera. Karena sesuatu yang urgent.


Kalau melihat ke belakang, pada masa lalu, ketika saya masih dilanda ragu tentang masa depan saya ketika tak lagi bekerja. Justru sering membuat saya tersenyum lebar. Karena, pada akhirnya saya tetap bisa #Bahagiadirumah. Tidak terjadi segala kekhawatiran yang dahulu pernah menyergap saya. Bahkan, kini saya tetap aktif dengan ragam kegiatan yang tidak kalah seru dan justru mendatangkan banyak manfaat bagi diri saya dan kehidupan saya.


1. Masih Aktif Tanpa Meninggalkan Rumah


Menjadi freelancer memang enak, saya bisa lebih banyak waktu untuk bisa dioptimalkan di rumah. Tidak bingung harus berangkat pagi-pagi agar tidak kena macet. Belum lagi, saya bisa membuat sendiri jadwal kerja saya, agar tidak mengganggu aktivitas lain.


Selain itu, saya merasakan sendiri. Semenjak saya tidak lagi bekerja, keinginan saya untuk mengelola blog dengan serius bisa terwujud. Ini terlihat dari jejak tulisan saya pada postingan terdahulu yang isinya 'hanya sekadar', kini saya lebih memikirkan 'seberapa besar manfaat' dari tulisan yang saya tayangkan di blog.


2. Bisa Lebih Fokus Beribadah


Inilah yang benar-benar saya rasakan sekali manfaatnya. Semenjak saya merasakan sendiri kondisi untuk tetap di rumah, saya bahkan bisa banyak melakukan hal yang berkaitan dengan ibadah. Kalau dahulu, waktu dhuha saya habiskan di perjalanan karena macet, kemudian sampai di kantor ternyata tidak mencukupi waktu untuk solat dhuha.


Sekarang, saya malah memiliki waktu yang sangat luang, sehingga tidak lagi terburu-buru dalam beribadah. Tidak bingung antara makan siang dulu atau solat Zuhur dulu, karena waktunya sedikit, sementara jadwal meeting sudah menanti. Dan, kejadian seperti ketika Bulan Puasa saat masih bekerja dulu, saya habiskan waktu Magrib di dalam Bis karena macet.


Segala hal di atas, qodarullah wamasyaafaala. Sudah menjadi ketetapan yang sangat baik untuk saya. Kalau ditanya apakah menyesal dulu pernah merasa khawatir tentang ' masa setelah resign ', saya jawab tidak. Karena saat itu saya masih proses adaptasi. Dan tetap bersyukur karena adanya rasa khawatir itu justru membuat saya yakin, bahwa tidak perlu mengkhawatirkan masa depan jika saya optimalkan masa sekarang.



3. Terhindar Dari Banyak Hal Yang Sia-sia


Tunggu dulu, sebelum nyinyir atau berpikir negatif, sebaiknya baca dulu kenapa saya menuliskan hal demikian.

Kesia-siaan di sini seperti menunda waktu solat (seperti yang saya ceritakan di poin nomor dua), jarang sekali saya bersegera untuk solat tepat waktu. Bahkan, seringnya ketika azan berkumandang saya masih asyik di depan laptop mengerjakan pekerjaan. 


Selain itu, kesia-siaan yang saya rasakan berkurang, yaitu kebiasaan ghibah dan mencaci orang lain. Bukan berarti ketika saya sudah di rumah kemudian saya sempurna tidak berghibah dan berhenti mencaci. Tapi, kadarnya sudah berkurang, dan kurangnya sangat banyak sekali. Karena saat ini, saya jarang keluar rumah dan ini membuat kadar saya menanam kesia-siaan bisa dikurangi. Tapi, sisanya masih ada, doakan saja supaya Allah memberi kemudahan pada saya supaya bisa berhenti melakukan hal yang sia-sia.


Terhindar dari fitnah. Ini yang sangat besar sekali saya rasakan. Fitnah ini seperti ketika saya harus ada dinas pergi ke luar kota dengan orang yang bukan mahrom saya. Atau ketika saya meeting dengan klien yang bukan mahrom, kemudian ada orang lain yang melihatnya justru salah paham. Ini yang sering membuat saya kurang nyaman. Meski saya yakin, ada banyak ukhti fillah di luar sana yang lebih profesional ketika harus berhadapan dengan kondisi ini.

Hanya saja, saya sering diliputi rasa kurang nyaman ketika harus sering bersama lelaki yang bukan mahrom saya, allahummagfirlana. Jadi, ini saya rasakan betul manfaatnya dan semakin membuat saya Bahagia Di Rumah.


4. Dimudahkan Dalam Menuntut Ilmu


Jika dulu ketika saya masih bekerja, hari Sabtu dan Minggu akan saya gunakan untuk 'ngendon' di rumah dan menghabiskan waktu untuk tidur. Seperti Beruang sedang hibernasi, bahkan saya pernah dan beberapa kali saat libur bekerja tidur sepanjang hari dan hanya bangun untuk buang hajat juga solat dan makan. Selebihnya, tidur lagi.


Nah, semenjak saya resign dan memutuskan untuk di rumah, saya malah bisa memanfaatkan waktu Sabtu dan Minggu untuk menimba ilmu yang bermanfaat. Misalnya, datang ke acara tentang mengoptimalkan blog atau mengasah tulisan agar semakin baik. Jadi semakin banyak yang bisa saya dapatkan meski hari libur, tak hanya sekadar tidur.


Atau, saat dulu bekerja, saya bahkan tidak pernah sama sekali datang ke acara kajian islam, kecuali ketika bulan Ramadan dan mendengarkan kultum di televisi atau di radio. Setelahnya? Hari-hari saya dipenuhi hal-hal duniawi. Karena saya lebih condong untuk bekerja atau istirahat di rumah dibandingkan datang ke acara kajian islami. Meski saya juga yakin, banyak ukhti fillah yang masih bisa datang ke acara kajian islam meski sibuk bekerja, tidak seperti saya. Sekarang? Allhamdulillah, allah maha pengasih dan maha penyayang, saya diberi kemudahan untuk menuntut ilmu melalui kajian ilmiah islami.


5. Menjadi Fokus Saat Menghadapi Masalah

Lagi dan lagi, ini yang saya rasakan. Karena saya cenderung 'menghindari' multitasking, sehingga saya sering kebingungan serta kewalahan ketika dihadapi masalah keluarga dan masalah di tempat bekerja secara bersamaan. Tidak jarang saya sering stress dan tidak bisa sigap dalam menangani masalah yang saya hadapi.

Kini, saya justru bisa fokus ketika ada masalah yang menghadang. Tidak lagi kebingungan, meski tetap ada beberapa waktu merasa 'keteteran' tapi masih bisa diatasi dengan cepat. Lebih baik kesigapan saya daripada ketika saya bekerja dahulu.


o00o

Meski begitu, saya tahu, banyak di luar sana selain saya, yang masih bisa mengoptimalkan kehidupan masa kininya dengan tetap bekerja, tetap mengurus rumah tangga dengan baik serta tetap optimal ibadahnya. Dan tetap berbahagia dengan kondisi mereka. Tanpa banyak alasan seperti saya. Kalau ditanya kenapa saya tidak bisa seperti mereka?


Saya akan menjawab, qodarullah wamasyaafaala. Ini sudah ketentuan dan ketetapan dari Allah. Manfaat yang saya rasakan di atas merupakan bukti bahwa kekhawatiran saya tidak berguna. Bukti bahwa saya diberi kebaikan dengan jalan berhenti bekerja dan bisa Bahagia Di Rumah.

Semua ini saya rasakan justru semakin mengingatkan bahwa saya juga tak lagi muda. Ketika semua keresahan saya memudar, saya menyadari bahwa usia saya sudah 28 tahun, mungkin ini yang dikatakan oleh kawan saya, terkadang dewasa itu sejalan dengan usia. Karena saya merasakan betul, bahwa saya berbeda dari saya yang dahulu. 

Berbicara tentang angka 28, saya teringat "Novaversary", sebuah tabloid yang dahulu sering dibeli oleh Ibu saya sudah menginjak usia yang sama dengan saya. Betul, Ibu saya juga senang membaca. Dan yang sering saya ingat, beliau selalu menggunting salah satu lembar yang berisi masakan, kemudian dijadikan kliping. Sampai saat ini masih ada, loh klipingnya. Tidak heran kalau sampai saat ini, terkadang saya masih mengintip tulisan-tulisan di portal Tabloid Nova, karena saya melakukan hal yang sama seperti ibu saya. Membuat kliping resep masakan, meski bedanya, saya membuat klipingnya di media penyimpanan, bukan dengan digunting dan dijadikan buku resep pribadi.


Kesimpulan


Kisah di atas murni pengalaman dari apa yang saya rasakan. Bukan untuk memojokkan perorangan atau memberi penilaian pada orang lain. Karena, saya yakin Allah sudah menempatkan semua makhlukNya di posisi yang terbaik. Jika merasa tidak nyaman pada posisi tersebut, mintalah pada Allah yang terbaik. Karena, ketika saya dihadapi keharusan untuk resign pun, hal itu bukan posisi yang membuat saya nyaman, pada mulanya. Tapi, bukti yang Allah tunjukkan, membuat saya bersyukur dan berusaha mengoptimalkan.


Buat ummahat dan ukhti fillah yang masih berjuang untuk pekerjaannya, semoga Allah memberikan keberkahan dan ridhoNya sehingga apa yang diupayakan menjadi manfaat. Dan semoga tetap berbahagia dimana pun berada, karena bahagia itu, Alhamdulillah 'ala kulli hal.


Semoga tulisan saya ini memiliki hal yang bermanfaat. Jika tidak, semoga Allah mengampuni kita semua. Aamiin allahumma aamiin.


Punya cerita tentang kerabat, teman atau Anda sendiri tentang menghadapi keputusan yang berat? Mau berbagi? Silakan berbagi di kolom komentar. Terima kasih :)


  • Share:

You Might Also Like

27 comments

  1. Jadi pengen nulis tentang pekerjaan juga di blog, ternyata usia kita gak beda jauh mbak hehehe. Semuanya ada hikmahnya ya mbak Ipeh eh mbak Indah

    ReplyDelete
  2. Hihihih, hayooo ga beda jauhnya seberapa banyak ya Tis. :p

    ReplyDelete
  3. Mba ipeeeh.. Kita seumuran loh.. Haghag..
    Salut dengan keputusan mba yang resign dan menjadi freelancer. Buat sebagian orang kan susah banget ya mba..
    Kalau saya dulu resign karena nikah, padahal mah pengennya kerja aja.
    Eeeh, sekarang udah betah di rumah sama Ahza, tapi dituntut untuk kerja. Hehe..
    Semoga kita selalu diberi yg terbaik ya mba :)

    Ealah ini kenapa jadi curhat. Wakakak

    ReplyDelete
  4. Waa...Ibu Jerapah, toss kalau begitu. Ternyata sesama tren uang 500 kertas yaa hihi.

    itu dia mba, mengambil keputusan untuk resign juga hal yang berat ya. Sama halnya dengan memutuskan kerja padahal pengen di rumah :)

    ReplyDelete
  5. Supeeeerrr sekaliii Ipeeeeh.. Kangeeen iihh, ketemuaan laaah yuuuuk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Omaygat...olala beibeh...seleb mampir ke blog akuh..wkwkwk...ayoo La, ketemuan sekalian ajarin gue casciscus bahasa jerman.

      Delete
  6. Iyes, dirumah itu dengan bantuan internet tetep bisa aktif dan produktif. Syaa #bahagiadirumah :)

    ReplyDelete
  7. Tul betul...kebiasaan ghibah harus dikurangi niy. Aduuh, masih kebiasaan hiks. Mulai mengontrol mulut ah. Thanks udah ngingetin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, Mba Levi, mumpung mau Ramadan ya :)

      Delete
  8. Waah keren, berani banget Mbak Ipeh memutuskan berhenti :)
    Ternyata manfaatnya luar biasa juga ya, bisa menikmatinya pula ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, itu juga awalnya berat, Mba. Dan allhamdulillah diberi banyak hal baik jadi ga khawatir lagi.

      Delete
  9. Kalau sudah bahagia dirumah, apa masih perlu mencari kebahagian di luar rumah? Kalau sudah bagaia dirumah sudah lebih dari cukup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Intinya sebenarnya adalah rasa syukur, dimana pun berada seharusnya tetap bahagia, apalagi kalau masih bisa bernapas, harus lebih bahagia :)

      Delete
  10. bahagia berada di rumah = ungkapan rasa syukur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba, bersyukur all the way :)

      Delete
  11. bahagia di rumah benar sekali mba Ipeh alena, makasih sudah diingatkan., selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki

    ReplyDelete
    Replies
    1. Allhamdulillah semoga sama2 saling mengingatkan ya Mba

      Delete
  12. kelima hal itulah yg bikin saya pengin punya istri yg setia jadi ibu rumah tangga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya allah diijabah oleh Allah...

      Delete
  13. keren mba berani resign di saat lagi di posisi impian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu juga penuh kekhawatiran kok mba. Banyak hal yang bikin parno juga :D

      Delete
  14. Saya belum pernah kerja di luar sih mbak. Ini sambilan nyusun skripsi sambilan kerja online aja. Walaupun porsi ngeskripsinya cuma sepersekian persen..wkwkwkwk..

    Tapi sama ibu udah diwanti-wanti kelar kuliah mesti daftar pns. Duh....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuih, tapi dirimu hebat mba. Sudah punya bisnis online :)

      Semoga sukses ya

      Delete
  15. weekday juga bis amemanfaatkan waktu untk menuntut ilmu kan :)

    ReplyDelete

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih