Hari Film Nasional 2016

Hari Film Nasional 2016 – Tepat hari ini (30 Maret 2016) diperingati sebagai hari film nasional. Konon, meski Film Indonesia sudah mulai ada sejak jaman penjajahan Belanda. Tapi, justru tanggal 30 Maret dipilih karena kondisi Indonesia sudah merdeka dan tak lagi berada di bawah penjajahan. Dan, tanggal tersebut bertepatan dengan hari pertama pengambilan gambar film Long March of Siliwangi yang disutradarai oleh Usmar Ismail (source : bintang.com).

Berbicara film, saya sebagai seorang yang memang lebih menyukai menonton film ketimbang sinetron, kembali mengingat film nasional apa saja yang membuat saya senantiasa terkenang dan teringat. Terlebih, kalau diingat lagi, saya baru benar-benar paham dan mengetahui bioskop itu seperti apa yaitu pada tahun 2004 – ketika saya duduk di kelas 2 SMA. Lama ya? Hehe, iya karena ketika AADC diputar pertama kali dan sempat heboh, saat itu saya masih duduk di bangku SMP. Dan belum mendapat izin untuk menonton bioskop.

Saya akan mengenang sedikit, 5 film Indonesia yang selalu saya ingat karena ada kisah dibaliknya yang tak lekang oleh waktu. 


1. Eifel I’m In Love 


Eifel I'm in love
Source : Google



Film yang disutradarai oleh Nasri Chepy ini saya tonton pertama kali di bioskop BTC (Bekasi Trade Center), dan memang itu pertama kali juga sejak saya menginjak remaja, memasuki bioskop bersama sepupu-sepupu saya. Ada rasa bahagia dan bangga ketika mengantongi izin untuk bisa menonton di bioskop. Apalagi, sebenarnya karena memang saat itu belum boleh banget, tapi karena keluarga besar mendukung saya agar boleh nonton di bioskop meski dari pihak Ibu, masih melarang.

Kenapa saya selalu mengingat film ini? Karena ketika nonton film ini, seingat saya itu masih masa libur setelah lebaran dimana banyak sekali orang yang mengantri untuk menonton film Eifel I’m in love. Namanya ABG ya, ketika nonton ini fokusnya ke Samuel Rizal yang uhum – cool – banget. Apalagi waktu itu saya masih gemar nonton basket dan masih jatuh cinta sama cowok-cowok yang suka main basket (sekarang sudah tobat kok, soalnya milihnya mamas Lee Min Ho :D).

Kisah seorang anak bernama Tita yang apa-apa banyak dilarang oleh Ibunya, ini alasan kenapa saya selalu mengingat film ini, karena saya hampir mirip dengan Tita – bedanya saya enggak lagi dijodohin dengan cowok ganteng sekelas sammy – yang banyak sekali mendapat larangan dengan alasan belum cukup umur. Tayang sekitar bulan November tahun 2003, dan saya masih duduk di kelas 2 SMA.

Baca Juga "Indonesian Mom Blogger"

Dengan gelora ala remaja, saya selalu membayangkan, duh kalau saya pacaran maunya dapet yang kayak Sammy :D. Lucu dan yang selalu saya ingat adalah Shandy Aulia, yang entah kenapa buat saya, kesan manjanya benar-benar masuk pada peran ini. Apalagi sahabatnya yang bawel banget, plus juga kehadiran cewek dominan di sekolah, yang mana hal seperti ini selalu saya temui. Tapi, saya mah enggak terkenal di sekolah, jadi enggak ada yang kenal saya :D.


2. 30 Hari Mencari Cinta 

30 Hari Mencari Cinta
Source : Google

Berbeda dengan sebelumnya, saya menonton film ini bersama 5 sahabat saya. Berbekal jaket untuk menutupi seragam, karena jadwal menontonnya pas banget setelah pulang sekolah. Saya masih ingat sewaktu menonton ini, kami bersama ke-5 sahabat saya berangan-angan bagaimana kalau nanti ketika kuliah ingin ‘ngekos‘ bareng. Saat menonton film ini, yang saya ambil dari pergaulan orang dewasa, bahwa berpegangan teguh pada prinsip tidak akan membuat rugi. Film yang disutradarai oleh Upi Avianto, yang selalu saya sukai pastinya juga Soundtracknya. Iya dong, jaman-jamannya Sheila on 7 masih menjadi band favorit saya (sampai sekarang).

Belum lagi dari sisi cerita yang selalu dibalut dengan komedi. Melihat Dina Olivia yang membuat saya sampai saat ini selalu suka dengan akting yang dia perankan. Juga Nirina Zubir yang saya pikir hanya bisa nge-VJ, tapi ternyata bisa akting juga dan sangat kental dengan ke-oon-annya. Hal yang selalu saya ingat dari film ini adalah momen ketika Dina Olivia sedang ngedate dengan cowok yang romantis sekali, tapi ternyata jeng...jeng......seorang sales produk MLM. Huwaaa, kocak juga karena memang saat itu sedang booming banget produk MLM tersebut.

Kemudian karakter Vino yang benar-benar bikin twist dari film ini tidak ketebak sama sekali. Bagaimana akhirnya, lagu Sheila on 7 yang berjudul Aku pulang, benar-benar cocok sekali dengan momen ketika Olin pulang dengan hati yang patah.


3. Mengejar Matahari 

Mengejar Matahari
Source : Google


Saya menonton film ini tidak secara langsung di bioskop, tapi dari DVD original yang saya beli ketika kuliah. Jadi bisa dikatakan agak sedikit terlambat waktunya. Namun, selalu saya ingat, tentang 4 cowok kece yang bersahabat dengan karakter yang sangat-sangat berbeda. Meski, ya begitu deh, ujug-ujug berebutan cewek, tapi bagian ini tidak begitu saya jadikan fokus. Tapi, ketika awal mula film ini diputar, suara Winky menjadi narasi awal.

Kehidupan itu bukan dimulai dari awal kita lahir ke dunia, tapi dimulai saat kita membuka mata pagi hari.  

Kurang lebih seperti itu quote yang saya ingat, karena saya belum mengecek ulang persisnya seperti apa. Tapi, saya selalu setuju, apalagi saya selalu merasa takjub dengan suasana di pagi hari, entah itu sama atau sedikit saja berbeda dari hari kemarin. Tapi, saya selalu merasa WAH dengan suasana di pagi hari. Berbeda mungkin, dengan beberapa teman saya yang selalu mencintai kondisi saat senja tiba. Sudah pasti, kalau berbicara film saya tidak akan luput juga akan mengikut sertakan soundtracknya. Kebetulan lagu yang menjadi ost film ini dinyanyikan oleh Ari Lasso berjudul mengejar matahari.

Dan moment yang selalu saya ingat yaitu saat Fauzi Baadila merentangkan tangannya, ketika mereka berempat sambil berlarian di jalan gang kecil, menyongsong matahari. Rasanya ada kesan bebas, kesan menyapa pagi dengan semangat, juga kesan menikmati hidup tanpa perlu neko-neko. Film yang disutradarai oleh Rudy soedjarwo ini selalu menjadi favorit saya, entah kenapa banyak hal tentang hidup yang diceritakan di sini. Apalagi scene berantem yang ternyata mereka benar-benar berantem demi mendapat akting yang memuaskan.


4. Catatan Akhir Sekolah 

Catatan Akhir Sekolah
Source : Google

Nah, ini film yang sangat-sangat cocok dan sesuai dengan kondisi saya pada waktu itu. Saya masih duduk di kelas 3 SMA, sedang dalam masa-masanya memikirkan masa depan, mau apa dan bagaimana setelah ini. Kemudian, film yang disutradarai oleh Hanung, membuat saya merasa terdorong untuk menikmati proses menjelang dewasa. Apalagi, waktu saya kelas 3 SMA, masa dimana pemerintah membuat peraturan Ujian Nasional dengan nilai kelulusan minimal 4 sekian, waktu itu. Berat, karena ini adalah program baru buat kami yang saat itu masih belum siap dengan sistem yang tiba-tiba saja disodorkan pada kami sebagai siswa.


Singkatnya, film yang menceritakan tiga sahabat dalam menikmati moment terakhir sebelum mereka menjadi anak kuliahan, membuat saya meniru mereka. Dengan menikmati masa sekolah yang terakhir. Lucunya, setelah nonton film ini, saya benar-benar menikmati momen Upacara setiap hari Senin. Padahal sebelumnya, saya hanya sekadar melakukan rutinitas, tidak benar-benar menikmati. Dan yang ada di kepala saya waktu itu adalah,

Suatu saat nanti, ketika aku tak lagi bisa berdiri di tengah lapangan ini. Atau ketika teman-temanku tak lagi seperti mereka saat ini. Aku akan mengingat, saat mentari jatuh menerpa wajahku, saat semilir angin membelai pipiku. Ketika pembina upacara berbicara, aku bisa memanggil ulang, ingatan terakhir tentang mereka. Ada siapa saja di sampingku saat itu. Ada udara yang akan benar-benar berbeda yang akan aku hirup, dan ada kehidupan yang berbeda yang akan aku jalani. Aku menikmati ini. 


Sounds mellow ya, tapi sungguh, karena saya menjadi rajin untuk merekam semua hal yang terjadi selama masa-masa terakhir saya menjadi anak SMA dalam buku diary, tidak ada yang tertinggal hari demi hari. Karena saya berprinsip dan prinsip itu saya pegang selalu, “nikmati hari ini untuk hari esok.“ Jadi, kalau ditanya apakah saya sering merasa rindu ingin kembali ke masa SMA? Saya katakan, tidak terlalu. Ya, saya sedikit rindu dengan masa itu, tapi saya sudah benar-benar diberi waktu dan menikmati waktu itu dengan baik, sehingga tak ada lagi penyesalan hingga ingin kembali lagi. Karena saya tahu, yang paling jauh dari manusia itu adalah masa lalu.


5. Denias 

Denias
Source : Google

Kalau dilihat sekilas, tema film ini memang hampir mirip dengan Laskar Pelangi. Tapi, film ini yang membuat saya mencintai pemandangan tanah Papua yang masih benar – benar alami. Tak diragukan lagi alasan kenapa Film ini mendapat penghargaan best photograph, karena setiap angle yang terlihat dari layar film benar-benar mewakili keindahan tanah Papua.

Yang saya ingat dari film ini adalah ketika Denias pertama kali belajar tentang Indonesia. “Ini Endonesa papa. Endonesa!“ Begitulah tuturnya dengan logat Papua, menunjukkan peta Indonesia yang ditempel di dinding rumah mereka. Betapa banyak orang yang juga tak mengenal Indonesia, tapi mereka mencintainya dengan tulus. Menjaga bumi Indonesia dengan baik.

Kalau menonton film ini, entah kenapa saya selalu berderai air mata, meski sudah beberapa kali menonton filmnya. Karena, kisah perjuangan mereka yang ingin sekolah, kisah Denias yang mencari Maleo dan banyak hal lainnya yang membuat saya tersentuh. Meski Denias akhirnya menjadi anak yang sukses. Ada juga satu hal yang membuat saya sedikit ngilu, yaitu tradisi di Papua ketika Ibunya Denias meninggal dunia.



Itulah lima film nasional yang selalu saya sukai sepanjang masa. Entah karena pesan moral dari film tersebut, atau justru dari pengalaman saya pribadi ketika menonton. Semua itu menjadi sebuah jejak kenangan yang membuat saya mengingat, “I have been there.” Meski rasanya tulisan saya kali ini sedikit terlalu berputar-putar karena kondisi kesehatan kembali drop, tapi semoga apa yang ingin saya tulis bisa tersampaikan dengan baik, meski sedikit belibet :).



Comments

  1. AADC juga bagus mba alena.:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, setuju AADC bagus. Tapi saat itu saya nontonnya justru pas udah kuliah :D

      Delete
  2. sakit apa? hope you will get well soon. Gimana kl siap2 ntn My Stupid Boss... biar bisa ngakak sepanjang ntn ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasa mba, sakit orang udik hehe...kena ujan sedikit langsung meriang. Hayookk mau lah nonton MSB ...segera cek bioskop terdekat 😂😂😂

      Delete
  3. Nonton Denias masih bisa berurai air mata meski sudah nonton bbrp kali? Wah kapan2 saya harus nonton ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mba nonton...bagus loh. Apalagi kita disajikan pemandangan asli Papua yg sungguh keren sekali

      Delete
  4. aku nonton semua kecuali yg catatan akhir sekolah blm pernah nonton hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe...CAS itu Abege banget mba :D filmnya

      Delete
  5. Saya belum pernah nonton kelima film itu :)) Tapi film Indonesia sekarang memang bagus-bagus ya. Nggak sabar nunggu AADC2 dan Sabtu Bersama Bapak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sabtu bersama bapak, penasaran juga sayanya

      Delete
  6. jadi bernostalgia baca artikel ini, heheh

    ReplyDelete
  7. Saya suka banget film Denias..keren ceritanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tosss... mba Ida, selalu inget dengan adegan peta indonesia di tempel di dinding :D

      Delete
  8. Kayaknya saya baru nonton yg eifel i'm in love doang dari ke lima film ini. Aduuh...kemana aja ya saya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. HEhe, ga kemana2 mba Levina, tonton aja yuk, biar bisa ngobrolin bareng :D

      Delete
  9. Saya juga suka neh ke 5 film ini, apalagi eifel im in love yg mengingatkan saya dengan masa SMA.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serasa muda jadinya saya ini, teh. :D

      Delete
  10. Aku nunggu AADC nih, rencananya mau nonton gak? kita nonton bareng yuk mau ga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo!! Mau dong, paling banter aku nonton di blitz hehehe :D, kabar2in yaa mba

      Delete
  11. Filmnya remaja semua ya? Aku belum pernah nonton semua itu. Maafkan aku :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mak :( biar jadi muda lagi gitu hehe

      Delete
  12. Paling suka film-filmnya Hanung Bramantyo yang suka menyentil.. dikemas apik dengan genre romantis, komedi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebentar lagi ada film besutan Hanung tentang Maluku loh mba

      Delete
  13. Catatan akhir sekolah belum nonton :D etapi yang saya suka juga itu Pintu Terlarang hehehe kereeen, sama Laskar Pelangi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Laskar Pelangi iya sukaa juga. Tapi nontonnya duluan Denias :D

      Delete
  14. Duuuh Danias itu film yang sesuatu banget dari lainnya. Bikin mewek. :(

    ReplyDelete
  15. Film yang benar - benar sangat inspiratif. Ulasannya sangat menarik. Senang sekali dapat berkunjung ke laman web yang satu ini. Ayo kita upgrade ilmu internet marketing, SEO dan berbagai macam optimasi sosial media pelejit omset. Langsung saja kunjungi laman web kami ya. Ada kelas online nya juga lho. Terimakasih ^_^

    ReplyDelete
  16. Waah, baca ini dan lihat foto-fotonya, serasa diajak nostalgia nih, hehe.
    Postingannya asyik nih teh.
    Salam kenal ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga....terima kasih udah mampir

      Delete
  17. film 30 hari mencari cinta jadi ingat waktu itu jamannya esempe ngikutin alur ceritanya mencari cinta dalam waktu 30 hari wkwkwkkw *masaabegeanehdanlabil*

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih

Instagram




domain murah