Hari Ayah

Hari Ayah tahun ini, saya berpikir apakah akan menuliskan tentang sosok Bapak - demikian saya memanggilnya - atau tak perlu saya tulis dan tetap menjadi memori sepanjang masa yang hanya saya, Bapak, dan allah yang tahu? Tapi, ketika saya sadar, ada dua kali saya bercerita tentang Ibu saya, rasanya cocok juga kalau saya ceritakan beberapa hal tentang Bapak dan Saya.




Ada banyak hal yang sama dari saya dan bapak, salah satunya bentuk wajah. Bentuk wajah saya bulat dan lebar seperti bapak, sementara ibu saya bentuk wajahnya Oval. Kalau masalah hidung, saya sangat mirip dengan bapak, hidung mancung ke dalam-konon itu bahasa halus untuk menyebut hidung pesek. Kulit saya juga turunan dari Bapak, kuning - sawo - busuk. Entah warna apa itu, hehehe. Dari sekian banyaknya persamaan fisik antara saya dan bapak, ada lagi kesamaan lain, yaitu ketidak-pedulian pada nyanyian dari Ibu. Wakakakakakakakakak. Sudahlah, biar saya dan Bapak yang tahu.
Saya lahir sebagai anak pertama, empat bersaudara. Sejak saya duduk di bangku SMP, saya sudah dididik agar mengalah demi adik-adik saya. Dalam hal apapun. Apalagi masalah makanan, dengan hidup terbatas, makanan enak itu porsi saya lebih sedikit dibanding tiga adik saya. Mungkin, karena melihat saya ikhlas-ikhlas saja menjalani hidup (meski sebenarnya sering iri juga dengan adik-adik saya wakakakakak), pada suatu ketika Bapak pulang dari tempat kerjanya sambil membawa dua buah duren. Ingat, duren, kalau kurang suka buah ini, saya memahami kalau hal ini bukan sesuatu yang besar. Tapi, bagi saya dan bapak, duren adalah buah…..half of heaven wakakakakakakakakak. Biasanya, setiap pulang membawa makanan, bapak pasti diminta untuk berbagi pada semua anaknya. Tapi, sore itu berbeda. Bapak mengetuk pintu kamar saya, yang saat itu saya sedang membaca komik. Kemudian menyuruh saya ke teras depan rumah, dan mengajak saya menikmati duren berdua saja. Kami tidak berbincang saat menikmati buah duren, hingga ludes. Setelah selesai, barulah Bapak bilang, kalau saya tidak boleh menceritakan ini pada Ibu. Karena tidak ada duren tersisa. Jadilah, perut saya yang kenyang melonjak kegirangan. Kapan lagi saya makan duren satu buah utuh tanpa berbagi, wakakakakakakak.
Setiap saya sakit, percayalah, bukan Ibu saya yang mengkhawatirkan bahkan mengurus saya. Justru Bapak yang setia membuatkan bubur, menyiapkan apa-apa yang saya butuhkan setiap sakit. Meski, waktu itu pernah beberapa kali (sering sih) saya dirawat di rumah sakit, justru bapak yang datang membawakan obat alternatif agar bisa lekas sehat. Sementara menurut cerita Ibu, bapak itu bawel sekali meminta Ibu untuk bergegas agar bisa berangkat ke rumah sakit. Dan, dulu, bapak pernah malam-malam masuk ke kamar saya, ketika saya tidak bisa tidur karena panas. Satu yang saya minta, ingin dibuatkan roti di mangkuk yang direndam susu. Dan malam itu juga, bapak membuatkan saya roti rendam susu. *siap-siap mewek*
Dalam hal ilmu sosial atau politik, misalnya. Saya sering sekali sewaktu SMP menghabiskan malam hari Rabu untuk berbincang kisah sejarah yang baru dibahas oleh guru saya. Atau hari Kamis ketika SMA, jadwal belajar sejarah. Di teras rumah, sambil menemani bapak dengan puntung-puntung rokoknya (jujur untuk urusan ini saya sering bertengkar, perihal rokok), kami berbagi pemikiran tentang sejarah, tentang g30spki, tentang super semar. Dari Bapak juga, saya kemudian mendengar cerita tentang Kakek saya yang pernah bertemu dengan orang-orang penting saat itu.
Setelah beranjak dewasa (dibaca : tua) seperti saat ini. Kesamaan kami dalam hal hobi justru sering membawa kecurigaan. Wakakakakakakak, begini, bapak tahu saya suka sekali membaca buku. Bahkan sesekali beliau membelikan saya buku. Tapi, sering juga beliau komplen pada saya, perihal kiriman dari abang JNE yang isinya senantiasa Buku dan Buku. Sampai-sampai kalau lihat abang JNE beliau bilang, kalau bukunya dikembalikan saja, tempatnya (kamar saya) sudah tidak muat lagi. *hufff*
Tapi, saya juga begitu sama dengan Bapak. Waktu itu kesenangan Bapak mengumpulkan batu akik, sering membuat saya ngedumel, Batu lagi…batu lagi….apa sih gunanya? Begitulah saya sering berkomentar. Tapi oh tapi, bapak dengan santai, menunjukkan Batu baru yang sudah diasah. Sambil memamerkan pada saya,karena tahu, setelah ini pasti saya akan pasang wajah cemberut sambil berlalu pergi. Itu beberapa waktu lalu, belakangan bapak sedang hobi mengumpulkan sarang burung, hufftt kadang sih mau komplen bawaannya, wakakakakakakak.
Tapi, meski bagaimana juga, saya tidak pernah memiliki alasan untuk membenci atau marah berkepanjangan pada Bapak maupun Ibu. Entah kenapa, setiap kesal, Allah selalu mengingatkan saya pada suatu ketika, saat itu musim hujan dan Bapak memang rajin menjemput saya waktu SMA kelas 1, karena waktu itu saya masuk siang. Hujan yang sangat teramat lebat, bapak menyuruh saya untuk mengenakan jas hujan yang cuma satu. Agar baju seragam saya tidak basah. Sementara bapak tidak pakai jas hujan, menembus lebatnya serta dingin udara saat itu. Bagaimana mungkin saya bisa lupa? Setelah sampai di rumah, malamnya Bapak panas. Namun, keesokan harinya masih berusaha mencari nafkah. Tanpa menggerutu karena kehujanan dan tetap menjemput saya.
Atau, ketika bapak menjual handphone satu-satunya. Waktu itu, tidak semua orang punya handphone seperti saat ini. Bapak jual handphone hanya demi membelikan saya dan adik saya radio kecil, walkman kalau kata orang. Karena saat itu sedang boom-ing dan bapak merelakan handphone yang notabennya sangat penting.
Apalagi yang bisa membuat saya membenci atau marah berlama-lama pada Bapak? Kalau saya memiliki orang tua yang hebat seperti Bapak dan Ibu saya? Ah, keduanya tidak terganti. Dan ini selalu membuat saya bersyukurm meski Bapak dan ibu tidak sehebat bapak dan ibu orang lain sampai mendapat penghargaan dan sebagainya. Karena dari mereka, saya belajar mencintai dan menerima kekurangan.
Dan penerimaan ini saya lalui dengan proses yang panjang. Allahumagfirli waliwaalidaiya warhamhuma kammaa robbayaani soghiiroo. Aaamiiin allahumma amiiin.



Comments

Instagram




domain murah