Stonehearst Asylum

“We’re all mad,” 
“Some are simply not mad enough to admit it.” ~~ dr. Lamb

Stonehearst Asylum, film yang dirilis tahun 2014 ini berhasil membuat saya jatuh cinta. Ini bukan film yang lucu atau menghibur, bukan juga film yang bisa menitikkan air mata karena terharu. Tapi, film misteri yang membuat jantung saya berdebar, bukan karena kehadiran sosok hantu, karena bukan genre horor. Namun, pada teka-teki yang seperti puzzle yang membuat saya menebak-nebak apa dan bagaimana kelanjutannya.





Film ini diangkat dari salah satu tulisan karya penulis besar yang saya sukai bernama , Edgar Poe. Sosok Poe yang juga setia pada sastra dengan mengangkat sisi misteri pada sebuah kisah. Jadi, jangan salah kalau menganggap sastra hanya berkaitan pada unsur-unsur sejarah saja. Tapi, juga pada ‘apa’ yang menjadi objek dalam cerita tersebut. Dan memang, penafsiran sastra masih belum bisa dipersempit, kalau yang pernah saya dengar dari diskusi di Asian Literary Festival. Baiklah, intermezonya saya sudahi.
Film ini sudah pernah saya ulas sedikit di ; 'Rumah Sakit Jiwa Stonehearst’ . Yang membuat saya sangat menyukai film ini adalah
1. Pelajaran akan sebuah prasangka
Dalam film ini, penonton tidak hanya dipermainkan dengan tebakan yang meleset, tapi juga, tanpa secara langsung 'menyadarkan’ bahwa terkadang dalam kehidupan nyata, manusia sering berprasangka, entah itu prasangka buruk atau prasangka yang dianggap baik namun nyatanya, hasilnya berlawanan. Di sini, diajarkan juga bahwa melihat secara keseluruhan, memberi penilaian secara mendalam dan melihat lebih teliti sebelum menghasilkan prasangka merupakan sebuah proses yang tidak boleh dilewatkan.
Dan pesan moral ini yang membuat saya menganggap bahwa film misteri bukan sekedar menakut-nakuti atau memberi ketegangan saja, tapi ada juga yang disampaikan, kalau mau melihat dan berpikir kembali.
2. Sebuah definisi Waras dan Tidak Waras
Kita akan menganggap bahwa air laut itu asin, karena kita tidak tinggal di dalam laut. Tapi, bagi ikan-ikan laut, rasa airnya tidak asin, tapi menyegarkan dan membuat mereka hidup. Hal ini juga berlaku pada kehidupan yang senantiasa mengelompokkan segala sesuatu berdasarkan definisinya.
Gila, orang menganggap bahwa makhluk berkaki dua yang kehilangan kesadarannya adalah orang Gila. Terkadang definisi ini berubah ketika melihat makhluk yang disebut manusia, memiliki ide yang sangat kreatif. Atau saat melihat manusia lain sedang melakukan hal yang menurut mereka berada di luar jangkauan rasionalismenya, mereka-mereka itu akan dipanggil gila.
Tapi, dalam film ini, orang-orang yang disebut gila, justru memberi kesembuhan untuk orang gila yang lain, kemudian menganggap gila para dokter dan suster yang merawat mereka karena menggunakan metode 'gila’ yang membuat mereka tersiksa. Jadi, siapa yang gila sebenarnya ???
3. Denial menjadi bagian sifat manusia
Siapa yang mau mengaku kalau dirinya ini makhluk yang denial? Atau bisa kita sederhanakan sebagai manusia yang menolak kenyataan yang ada.
Dalam film, denial diwujudkan menjadi sebuah unacceptable condition yang dianggap oleh dokter yang bertugas pada para pasien yang ternyata bisa menyembuhkan pasien lain. Tidak menerima masukan, tidak menerima hasil yang nyata karena menganggap tidak sesuai prosedur. Tidak sesuai dengan teori yang seharusnya, padahal bukti nyata sudah ada di depan mata.
Denial, pada salah satu tokohnya yaitu dokter Lamb, yang memungkiri masa lalunya. Siapa sih manusia yang tidak memiliki masa lalu yang buruk? Bedanya ada manusia yang menerima kemudian move on dan dijadikan pelajaran, ada pula manusia seperti dokter Lamb ini yang justru menolak kejadian buruk itu sebagai masa lalunya.
Padahal kunci dari move on atau bisa keep moving forward itu adalah 'nrimo’, menerima apa yang ada pada diri sendiri dan menerima masa lalu.
Itulah kenapa, dokter Lamb yang pada satu waktu, mulai menyadari keberadaan masa lalunya kemudian berucap, yang ucapannya saya kutip di pembuka tulisan ini. Sebuah bentuk penerimaan akan 'kegilaan’ yang menjadi prasangka dokter Lamb pada dirinya sendiri.
Nah loh, jadi maksudnya gimana gitu? Hehehe, dokter Lamb ini, mengajarkan saya untuk mengenal diri saya sendiri. Kalau belajar filsafat pemula pasti selalu ditanya 'siapa saya?’ Atau dosen filsafat bertanya 'siapa kamu?’ Sebuah pertanyaan yang akan membawa kita pada eksistensi kita di dunia. Menarik sekali bagi saya film ini. Apalagi twistnya yang unpredictable, membuat ketegangan selama film berlangsung, terbayar lunas dan puasssss.

“Postingan ini diikutsertakan dalam Evrinasp Second Giveaway: What Movie are You?”










Comments




domain murah