Sebuah Komitmen

October 07, 2015

Sebuah Komitmen - Suatu ketika saya merasa sangat kebingungan dengan ide yang menumpuk dalam kepala saya. Semua ide berkaitan dengan apa-apa yang ingin saya capai dalam jangka panjang. Ide tanpa aksi akan menjadi tak berjejak, tak akan menjadi apa-apa, ibarat membayangkan kue yang lezat namun tidak dieksekusi untuk menjadikan kue itu benar-benar nyata dan dapat dinikmati. Begitulah, belakangan saya bertanya-tanya, apakah tumpukan impian, ide dan cita-cita ini masih harus bersemayam lama-lama dalam kepala saya atau justru harus saya istirahatkan dulu sejenak?


sebuah komitmen

Karena tampaknya otak saya mulai lelah. Kordinasi antara kenyataan dan impian mulai bentrok. Ada sesuatu yang salah di sini. Ada yang kurang benar letak posisinya.
Dan, bagaimana pun. Sebuah janji tidak akan dapat terwujud tanpa adanya usaha untuk memenuhi janji tersebut hingga ditepati. Bisa dikatakan, perlu ikut campur satu hal bernama komitmen dalam menepati janji. Janji ini sesuatu yang membutuhkan kegiatan yang kontinyu, tidak instan dan bukan sekejap. Dan jujur, saya acungkan jempol, angkat topi dan membungkuk untuk menghargai dan memberi tepuk tangan meriah bagi mereka-mereka yang bisa berkomitmen dengan apa-apa yang mereka kerjakan dalam hal kebaikan.
Misalnya saja, komitmen untuk terus berolahraga, bahkan belakangan ini saya hanya bisa menghabiskan waktu berjalan kaki sebentar saja, tidak lama, untuk bisa menikmati udara segar. Tapi, saya rasa ini bukan olahraga seperti yang saya pikirkan. Sesungguhnya saya masih menginginkan waktu yang luang untuk olahraga yang benar-benar cukup. Baik itu cukup waktunya juga cukup porsinya.
Atau mereka yang komitmen untuk terus menjadi blogger yang memiliki postingan dan tema terjadwal. Ini bukan hal yang mudah, menepati apa-apa yang sudah direncanakan. Memutar otak untuk mengumpan kreativitas agar bisa melihat celah sekecil apapun yang kemudian dibentuk menjadi tulisan sesuai tema. Bukankah ini sangat menarik? Rutinitas yang kontinyu tersebut, membuat saya tercengang, karena sejujurnya sampai detik ini, saya belum bisa berkomitmen melakukan hal tersebut. Masih belum sempurna, meski tidak ada yang sempurna kecuali Allah ta'ala.
Kemudian, apa yang membuat saya resah ini. Yang kemudian membuat saya berpikir kurang dan kurang, menjadi sebuah tanda. Tanda agar saya berhenti sejenak, menikmati hidup dan berpikir. Ternyata, di luar dari apa-apa yang ingin saya capai dalam jangka waktu pendek dan panjang, membuat saya lupa. Bahwa saya telah berkomitmen dalam banyak hal yang lain. Komitmen saya salah satunya, agar meluangkan waktu untuk bisa membaca, kemudian meluangkan waktu untuk berbagi melalui tulisan saya mengenai review buku-buku yang pernah saya baca. Juga, rutinitas seperti belajar membuat kue yang ternyata merupakan salah satu komitmen yang tanpa saya sadar sudah saya bangun. Demi mengurangi jajan di luar. Hal-hal kecil, selalu tampak tak terlihat. Namun ianya bisa membuat segalanya menjadi besar.
Saya teringat dengan satu lagu yang senantiasa menemani saya kalau-kalau saya terlalu berambisi. Lirik ini dari lagu Padi berjudul Sang Penghibur
Bukankah hidup ada perhentian Tak harus kencang terus berlari Kuhelakan nafas panjang Tuk siap berlari kembali Melangkahkan kaki Menuju cahaya
Familiar dengan lagunya? Iya, karena sempat Hits beberapa waktu yang lalu. Setidaknya saya tahu, sudah saatnya saya meluangkan waktu, bersyukur dengan apa-apa yang sudah saya lakukan. Berbincang dan berakrab-akrab dengan diri sendiri. Dan bersyukur…bersyukur dan bersyukur. Meskipun tampaknya saya terlihat bukan apa-apa, tapi segala yang telah menjadi apa-apa, selalu memulai langkahnya dari belum menjadi apa-apa. Ribet ya? Begitulah….tak begitu ribet kalau ditelaah pelan-pelan. Hehe….
Untuk kamu yang juga tengah limbung dan lelah. Duduk sejenak kawan, nikmati hidup. Berbincanglah pada Yang Maha Esa tentang apa saja. Kehidupan kita tak akan lengkap tanpa Ridho dariNya. Santai saja, pengorbanan dan perjuanganmu tak akan sia-sia kawan, selama itu dalam kebaikan. Mungkin hasilnya tak kau lihat sekarang, mungkin nanti, dua tahun atau tiga tahun atau kapan saja, biarkan Yang Maha Kuasa yang menentukan segalanya.
Duduk di sini kawan, nikmati sepertiga malam dengan merasakan dirimu, hidungmu menghirup udara, rasakan kawan, paru-parumu penuh dengan udara. Rasakan juga kawan, betapa lelah yang membuat bahumu berat, perlahan-lahan ringan seakan terbang. Dan bibirmu, mengulas senyum yang datang dari hatimu. Dan berbisik…
YAA ALLAH YAA RABB…ALLHAMDULILLAH.




  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih