#Review Ryunosuke Akutagawa


Review Ryunosuke Akutagawa - Bagi pembaca buku-buku literasi dari penulis-penulis Jepang, mungkin nama beliau tidak asing lagi. Salah satu buku karya beliau yang pernah saya baca berjudul “Lukisan Neraka”, pada 29 September kemarin di grup Whatsapp Klub Buku Indonesia dalam rubrik #SelasaTokoh Ryunosuke Akutagawa diperkenalkan. Yang mengenalkannya adalah Fahziani, seorang perempuan yang sering membaca buku-buku keren. Saya akan menuliskan ulasan yang ditulis langsung oleh kakak Fahziani, yuk berkenalan dengan Akutagawa.
Ryunosuke Akutagawa lahir pada 1 Maret 1892 di Irifunecho, sebuah daerah yang kemudian dikenal dengan sebutan Borough Kyobayasi, di Tokyo. Ia adalah bungsu dari tiga bersaudara, buah pernikahan Niihara Toshizo dengan istri pertamanya, Fuku. Dari kedua kakak yang semuanya perempuan, hanya anak kedua, Hisa, yang bertahan hidup. Sedangkan saudaranya, Hatsu, meninggal akibat meningtitis sekitar setahun sebelum Ryunosuke lahir. Toshizi orang biasa, sementara Fuku, berasal dari keluarga ksatria yang mendominasi masyarakat Jepang selama berabad-abad. Sejak pengambil-alihan kekuasaan, hak istimewa samurai di bawah Shogun telah dicabut. Banyak diantara mereka yang dipaksa menduduki jabatan atau pekerjaan yang dianggap di bawah martabat: mereka tergabung dalam wajib militer, sebagai polisi atau berdagang.
Namun mereka tetap membangun kelas yang berbeda dan memiliki kebanggaan tinggi atas nenek moyang mereka. Keluarga Fuku, yaitu keluarga Akutagawa, memandang rendah Toshizi sebagai seorang yang arogan.
Fuku adalah wanita yang ramping, lembut dan melambangkan kecantikan. Temperamen Fuku sangat berbeda dengan suaminya, dan bagi dia sangat sulit hidup bersama suaminya itu. Tetapi, tidak hanya berbeda, sifatnya yang pendiam merupakan penjagaan diri secara emosional atas kepribadiannya yang menderita skizofrenia, kemunduran yang disebabkan dua peristiwa: Kematian Hatsu dan kelahiran Ryunosuke. Kematian anak perempuan pertamanya merupakan pukulan bagi Fuku yang harus ia tanggung sendiri. Pengaruhnya, ia makin memburuk karena terus menyalahkan diri sendiri. Ia merasa yakin bahwa meningtitis yang menyebabkan kematian anak itu dimulai sejak demam yang dideritanya ketika keduanya keluar bersama pada suatu hari.
Beberapa bulan sejak kematian Hatsu, Fuku hamil lagi. Kehamilannya kali ini menjadi sumber kekhawatirannya yang mendalam. Alasannya sedikit janggal, karena kelahirannya akan terjadi pada tahun 1892, dalam usianya yang ke 33 tahun dan suaminya 42 tahun. Seorang wanita berusia 33 tahun dan lelaki berusia 42 tahun, dalam kepercayaan masyarakat saat itu dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya dan menjadi saat-saat kurang menguntungkan untuk kelahiran seorang anak. Orang tua Ryunosuke pun sangat berhati-hati tiap kali mengambil tindakan agar terhindar dari nasib buruk.
Setelah Ryunosuke lahir, mereka secara formal “membuang”-nya. Ryunosuke diasuh Matsumura Senjiro beberapa waktu, kemudian diterima kembali dalam keluarga. Meski ia pernah menjadi anak yang terlantar, keadaan yang tidak menguntungkan karena kelahirannya, setelah itu dapat kembali dinetralkan. Beberapa bulan setelah kelahiran Ryunosuke, Ibunya terserang schizophrenic yang tidak dapat disembuhkan, meski ia bertahan hidup selama sepuluh tahun kemudian. 
Ryunosuke hanya mengetahui ibunya setelah ia menderita sakit, pada th 1926 ia pernah menulis cerita tentang ibunya.
Kegilaan Ibu Ryunosuke dan ketakutan yang mungkin ia miliki karena keturunan, terus menerus menyiksa Ryunosuke selama hidupnya. Keturunan yang buruk menjadi salah satu objek satirnya yang ia tulis dalam Kappa. Karena Fuku tidak lagi mampu merawat anak-anaknya, Ryunosuke diasuh kakak laki-laki Fuku, Akutagawa Michiaki dan Istrinya Tomo, yang tidak memiliki anak. Ia tumbuh sebagai anak Michiaki, namun baru secara formal diadopsi keluarga Akutagawa pada tahun 1904, dua tahun setelah Ibunya meninggal. Keluarga itu menyukai sastra, namun sastra pada masa Edo hampir seperti sastra Jepang yang baru diciptakan oleh beberapa penuls seperti Tsubouchi Shoyo dan Futabatei Shimei, yang sangat terpengaruh pada sastra Eropa. Pada 1917, Ryunosuke menulis “Aku selalu menemukan materi untuk cerita-ceritaku dari buku-buku kuno. Akhirnya banyak orang yang mengira bahwa aku mengisi waktuku dengan mencari rasa ingin tahu seperti halnya para amatir tua di tempat barang-barang kuno. Tapi tidak. Sebagai hasil dari pendidikan gaya kuno yang kuterima sejak kecil, aku selalu membaca buku-buku yang sekarang ini jarang dibaca.
Kegemaran mereka mempelajari seni amat berarti bagi Ryunosuke, seorang pemuda yang baru merintis karir di bidang sastra, karena itu ia tidak menemui hambatan dan tentangan dari keluarganya. Tidak hanya kecintaan pada sastra saja, tapi selera Ryunosuke pada hal-hal yang mengerikan dan aneh pada masa kecil juga memengaruhi tulisan-tulisannya. Kusazoshi yang menjadi bahan bacaan pertamanya banyak dipenuhi gambar-gambar hantu dan monster menyeramkan. Ketika duduk di bangku SD lah pertama kali kreativitas sastranya mulai tampak. Ketika berumur sekitar sepuluh tahun, ia bersama teman-teman sekelas mulai memproduksi majalah kecil yang mereka sebarkan di antara keluarga dan teman. Selain menulis cerita pendek dan puisi, Ryunosuke juga menggambar di sampul depan dan beberapa ilustrasi.

Pada September 1910, Ryunosuke lulus SMP, karena hasil ujiannya sangat bagus, ia diterima tanpa tes di SMA, di mana ia mengambil konsentrasi Sastra Inggris. Ketika Ryunosuke memasuki SMA, ia memiliki selera terhadap ‘fiksi yang terlalu menyolok’ dari Wilde dan Gautier. Selera yang membuka, ia pikir, sebagian dari sifat alaminya, namun juga menjadi akibat dari keletihannya terhadap karya-karya para naturalis. 
Ketertarikan Ryunosuke terhadap keanehan dan supranatural mulai tumbuh, bahkan lebih kuat. Pada 1912, ia mulai menulis pada catatannya tentang cerita-cerita hantu yang ia kumpulkan dari teman-teman dan kerabat atau yang ia dapatkan di buku-buku.
Pada Juli 1913, pada usia 21 tahun, Ryunosuke lulus dari SMA; dan pada bulan September ia masuk di Jurusan Sastra Inggris di Universitas Kekaisaran Tokyo.
Pada Februari 1914, Ryunosuke, bersama teman-temannya menghidupkan kembali majalah sastra periodik Shinshicho. Pada isu pertama yang ditulis Ryunosuke, dengan nama samaran Yanaigawa Ryunosuke, sebuah karya terjemahan Balthasa-nya Anatole France, dan pada April sebuah terjemahan dari bagian The Celtic Twilight-nya Yeats, yang diawali dengan The Eaters of Precious Stones. Pada bulan Mei ia menulis fiksi asli pertamanya untuk diterbitkan, yaitu sebuah cerita pendek berjudul Ronen.
Pada 1915, dua ceritanya telah diterima untuk diterbitkan dalam majalah tersebut, Yaitu Teikoku Bungaku: Hyottoko yang terbit Mei dan Rashomon yang dimuat pada November. Rashomon ditulis berdasarkan dua cerita rakyat dalam antologi abad kesebelas Konjaku Monogatari dan merupakan cerita pertama Ryunosuke yang diambil dari berbagai sumber.
Pada awal 1916. lima orang anggota kelompok Shinshicho diantaranya Ryunosuke menerbitkan karya terjemahan bersama tentang biografi Romain Rolland-nya Tolstoy. Mereka memanfaatkan proses kerja ini untuk menghidupkan kembali Shinshicho, kemudian ia menulis cerita yang membuatnya menjadi perhatian dunia sastra: Hana.
Dalam karya fiksi, Ryunosuke membatasi diri hampir secara eksklusif pada cerita pendek. Ia menulis dua novel panjang, namun tidak pernah selesai. Hanya tiga atau empat karya fiksinya yang panjangnya melebihi Kappa, selain itu ia hanya menulis beberapa halaman saja. Secara umum, cerita-cerita Ryunosuke dibagi menjadi dua kategori utama: Rekishimono atau cerita 'sejarah’ dan Yakukichimono atau cerita-cerita autobiografi. Karakter tulisan Ryunosuke lebih pada ke-saling-terkait-an. Gaya yang berkembang saat itu adalah novel konvensional dengan sudut pandang orang pertama, yang masih turunan Naturalisme.
Ryunosuke menghindari ketidakjelasan ini, namun dalam masa akhir hidupnya, karena kondisi mental yang makin memburuk, ia makin terobsesi dengan kesedihannya sendiri dan akhirnya dengan khayalan dan halusinasi yang menyerang dalam bulan-bulan sebelum kematiannya. Tujuan Ryunosuke dalam membuat cerita-cerita pada masa lalu adalah untuk memberikan jarak antara pembaca dan kejadian-kejadian aneh yang ia gambarkan. Ryunosuke menulis Hana dan Rashomon sebagai suatu usaha untuk meredakan tekanan yang ia derita sejak akhir menyedihkan dari hubungan cintanya yang pertama. ini semua karena ia ingin menulis tentang sesuatu sejauh mungkin dan sebahagia mungkin, sebab itu ia membaca Konjaku Monogatari, sebuah koleksi cerita popular yang sangat kasar, untuk dijadikan sebagai materi ceritanya.

Meskipun Ryunosuke sering menulis cepat, ia adalah seorang penulis yang bergaya eksak; cerita-ceritanya dibuat dengan bagus dan berbahasa tinggi. Ia percaya bahwa tujuan tertinggi dari seni ialah kesempurnaan bentuk. Konsep tentang seni ini muncul dari pandangan pesimisnya terhadap kehidupan manusia. Ia menganggap hidup sebagai hubungan yang buruk dan hina. Hidup hanya dapat mencapai semacam keindahan ketika dihaluskan dan dihiasi seni. Ia tidak mengamati orang-orang yang melintasi jalanan untuk memahami hidup, namun lebih, ia mencoba memahami hidup melalui buku untuk mengamati orang-orang yang melintasi jalan.
Majalah-majalah sastra mulai mencari tulisan Ryunosuka. ia memperoleh bayarannya yang pertama untuk cerita yang diterbitkan pada Mei 1916. Selama 1916 ia menerbitkan selusin atau lebih cerita, dan pada akhir tahun telah memapankan dirinya sebagai salah satu pendatang baru yang paling cemerlang dalam kancah kesusastraan. 
Pada tahun 1918, Ryunosuke melangsungkan pernikahannya dengan Fumi, perempuan yang sudah dikenalnya sejak kanak-kanak.
Ryunosuke telah dengan empati menyatakan dalam surat lamaran pada Fumi, bahwa hanya ada satu alasan mengapa ia ingin menikahi Fumi: Ia mencintai Fumi dan telah menunggu sekian lama. Ia menulis bahwa ia tidak ingin menikah seperti yang dilakukan oleh laki-laki lain, hanya demi kesenangan dan kenyamanan hidup.
Maret 1918, Ryunosuke menjalin kontrak dengan perusahaan Surat Kabar Osaka Mainichi, yang ia setujui dengan bayaran lima puluh yen perbulan dan tidak menulis untuk surat kabar lain. Selain bayaran bulanan, Ryunosuke menerima bayaran biasa untuk cerita-cerita yang terbit di surat kabar, dan ia juga bebas menulis untuk majalah-majalah; namun sampai saat itu ia merasa tidak dapat hidup hanya sekadar mengandalkan pena. Baru pada Maret 1919 ia menjadi pegawai penuh waktu pada surat kabar dengan bayaran 130 yen perbulan.
Saat itu ia telah mencapai puncak karir. Dalam kurun waktu 3 tahun antara waktu pernikahannya pada 1918 dan kunjungannya ke China pada 1921 mungkin adalah waktu yang paling membahagiakan dan paling menyenangkan dalam hidupnya. Pada januari 1919 kumpulan ceritanya yang ketiga, Kairaishi, diterbitkan, dan pada Agustus kempulan cerita pertamanya, Rashomon, dicetak ulang, Kumcer keempatnya, Kagedoro, diterbitkan pada januari 1920 dan kumcer yang kelima, Yarai No Hana diterbitkan Maret 1921.
Pada saat itu, Ryunosuke mulai membuat gambar-gambar kappa yang menghiasi banyak buku yang ditulis tentang dirinya. Kappa, menurut cerita rakyat jepang, merupakan makhluk bersisik yang berukuran seperti anak kecil, wajahnya seperti harimau dan memiliki paruh yang runcing. Kappa hidup di sungai-sungai dan menyeret binatang-binatang dan anak-anak kecil yang ceroboh hingga mati. Sepanjang lekukan di atas kepalanya penuh dengan air. Kappa juga dapat hidup di daratan.
Ryunosuke, seperti yang kita tahu, telah lebih awal mmengenal makhluk sejenis hantu atau jin dan semua jenis makhluk yang mengerikan, namun kegemarannya melukis kappa ini telah memiliki signifikansi yang lebih menakutkan. Ini merupakan karakter lukisan para penderita schizophrenia yang penuh dengan figur-figur mistis, burung-burung aneh, bentuk-bentuk manusia dan hewan aneh yang tidak serasi.
Dari informasi tentang pernyataan mental dari tulisannya sendiri dan dari tulisan orang yang mengenalnya, seorang psikiater, dr. Shiozaki Toshio, mengambil kesimpulan yang meyakinkan, diantaranya adalah keyakinan bahwa seperti Ibunya, Ryunosuke adalah pribadi yang schizoid.
Pada Maret 1921, Ryunosuke dikirim ke China oleh Osaka Mainichi sebagai 'pengamat asing’. perjalanannya menjadi titik balik dalam hidupnya, ia meninggalkan Tokyo pada 19 Maret namun menderita sakit dalam perjalanan kereta api menuju Osaka dan akhirnya baru sampai di Moji pada 28 Maret. Ia tiba di Shanghai pada 30 Maret dan langsung dibawa ke rumah sakit dan harus tinggal selama tiga minggu, ia didiagnosis menderita radang selaput dada yang kering.Kesehatannya tak pernah membaik hingga kembali ke Jepang 4 bulan kemudian.
Selama tahun-tahun berikutnya, karya-karyanya mengalami perubahan besar. Pada awalnya ia selalu obyektif dan seorang pengamat yang ironis; namun sekarang menjadi lebih fokus pada kehidupan dalam dirinya, dan tulisannya menjadi lebih autobiografis. Pada januari dan februari 1926 ia tinggal di Yugawara, tempat terapi kesehatannya. Insomia yang dideritanya sangat buruk dan ketakutan akan kegilaannya menjadi semacam gangguan. Ia hidup dalam keadaan kegelisahan yang konstan. Itu semua menjadikannya semakin buruk karena kenyataan bahwa ia tidak ingin berbicara tentang hal ini kepada orang lain, terlebih ketakutannya akan dimasukkan dalam rumah sakit jiwa.
Sebelum Akhir 1926, pikiran-pikiran tentang bunuh diri telah ada di dalam kepalanya, namun baru pada musim panas tahun berikutnya ia melakukan hal tersebut. Selama setahun terakhir dalam hidupnya, ia menunjukkan banyak gejala schizophrenia: ia menunjukkan khayalan tentang surat-surat, tentang penyiksaan, dan halusinasi pendengaran, ia mulai percaya bahwa tindakannya telah dikuasai oleh suatu di luar dirinya. Ia selalu memaksa agar kamarnya digelapkan meskipun siang hari, dan ia pun mencoba membatasi kedatangan dan kepergiannya dalam kegelapan.

Ryunosuke hanya dapat melampiaskan kegelisahannya dengan obat-obatan. Kadang-kadang ia mengkonsumi obat tidur tidak hanya untuk membunuh insomnianya, tapi juga untuk menghilangkan rasa takut. Pada akhir 1926 ia juga mengkonsumsi opium. Pada Februari 1927, Ryunosuke mulai menulis Kappa, ia berkarya dengan cepat: keseluruhan cerita ditulis dalam waktu kurang dari dua minggu, dan diterbitkan dalam edisi maret majalah Kaizo.

Pada bulan April ia menulis “Ini merupakan kesengsaraan yang tidak dapat dideskripsikan untuk hidup dengan menanggung perasaan seperti ini. Tidak adakah orang yang dengan tenang akan mencekikku ketika aku tidur?" Dan pagi-pagi sekali pada tanggal 24 Juli ia menenangkan diri. Saat itu mempersiapkan diri untuk tidur sekitar pukul setengah dua, istrinya terbangun dan berbicara padanya. Ia mengatakan bahwa ia baru saja menelan obat tidurnya. Ia tertidur sambil membaca sebuah kitab suci. Ketika istrinya terbangun sekitar pukul enam, ia telah meninggal. 
Dalam salah satu surat-surat yang ia tinggalkan, ia sebutkan alasan tindakan bunuh dirinya adalah ”kegelisahan yang tidak jelas tentang masa depan.“ Ia meninggal pada usia 35 tahun. Pada tahun 1935, namanya diabadikan untuk hadiah sastra Penghargaan Akutagawa. Penghargaan Akutagawa adalah hadiah sastra yang diberikan kepada penulis pendatang baru atau penulis yang belum dikenal dalam dunia penulisan sastra di Jepang. Pemberian hadiah disponsori oleh Perkumpulan Promosi Kesusastraan Jepang (Nihon Bungaku ShinkĂ… Kai). 
Ryunosuke adalah salah satu dari 'penderita skizofrenia muda yang cerdas yang memiliki kesadaran perubahan dari dalam dirinya akan rasa sakit yang sedang terjadi’ dan mungkin berhak untuk merasa takut bahwa mereka akan menjadi gila, dan berusaha untuk bunuh diri.

Setelah membaca sedikit tentang Akutagawa, tidak heran ketika dia melukiskan gambaran pada cerita pendek Lukisan Neraka, saya menangkap ada sesuatu dalam dirinya. Terutama pada tulisan pendek lainnya dalam kumpulan tulisan beliau, ada seperti renungan dan bagaimana kehidupanya, kebingungannya yang memang kalau tidak dinikmati, pembaca akan sulit untuk memahami. Tapi, di dunia ini terkadang ada banyak hal yang tak perlu dipahami, cukup dinikmati, diketahui keberadaannya serta diresapi dengan sungguh-sungguh. Sekarang saya paham, kenapa beliau begitu diapresiasi hingga namanya diabadikan, alasan terakhir menjadi penjelasan yang sangat rasional, dan juga jawaban yang memuaskan, sosok yang berjibaku dengan dirinya sendiri dan apa yang dihadapi, apa lagi yang bisa menghalanginya menjadi sosok yang tidak keren ini? 
Kalau penasaran, baca saja karya-karya beliau, dan rasakan bagaimana tulisannya bisa membuat kalian melihat dunia dan segala sesuatunya dari sisi lain. 
Terima kasih sudah menyimak tulisan, dan terima kasih untuk kak Fahziani.

See ya!



Comments

Post a Comment

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih




domain murah