Konformitas dalam kehidupan

September 22, 2015

Konformitas dalam kehidupanDalam sebuah film berjudul Perfume, pada awal mula kisah tentang Jean Baptist yang dilahirkan di pasar, kemudian suaranya yang baru saja lahir terdengar pembeli lain, yang menuding sang Ibu membuang anaknya. Tudingan itu membuat sang Ibu dihukum gantung, sementara faktanya, si Ibu yang baru melahirkan itu hanya tidak mau Jean Baptist bayi terlihat oleh orang lain. Dia tidak membuangnya sama sekali. Sebuah hukuman yang dijalankan berdasarkan tuduhan dari orang lain yang tidak dicek terlebih dahulu kebenarannya. Orang-orang yang ikut meneriakkan tuduhan pada Ibunya Jean inilah yang termasuk dalam konformitas. Apa itu konformitas?


Pada kenyataannya, banyak orang yang ngikut pendapat orang lain demi ‘menyelamatkan’ diri dia sendiri. ~ Miftahul Jannah (Mahasiswi, Anggota KBI paling setia).
Konformitas

Pada kesempatan #SabtuBerbagi 4 April beberapa bulan yang lalu, kakak Iyas, berbagi tentang tren ini untuk memberi pemahaman seberapa besar pengaruh konformitas ini dalam kehidupan. Sedikit saya kutip dari penjelasan kakak Iyas aka Tri Astuti Utomo (beliau mahasiswi Psikolog yang statusnya sedang bekerja di sebuah perusahaan).
“Percobaan konformitas Asch” adalah sebuah percobaan yang diadakan oleh Solomon Aschpada tahun 1951 untuk melihat sejauh mana kekuatan konformitas dalam suatu kelompok terhadap individu. Seorang partisipan beserta beberapa aktor yang berpura-pura menjadi partisipan dikumpulkan dalam satu ruangan. Partisipan diberitahu bahwa mereka akan ikut serta dalam sebuah test psikologis terhadap penilaian visual. Mereka diperlihatkan sejumlah kartu bergambar garis dan disuru memilih dari pilihan jawaban garis mana yang panjangnya sama. Partisipan menjawab setiap soal secara verbalsehingga jawaban dari setiap orang dapat diketahui oleh semuanya. Posisi partispan yang sebenarnya dengan sengaja diatur agar ia berada dalam urutan hampir terakir, sehingga para aktor bisa menjawab lebih dulu. Pada beberapa kesempatan semua partisipan yang adalah aktor dengan sengaja menjawab memilih jawaban yang salah. Soal yang diberikan mudah dan jawabannya sangat jelas namun sebanyak 37 dari total 50 partisipan mengikuti jawaban dominan yang salah. Ketika para partisipan diwawancara selepas percobaan, sebagian besar dari mereka mengaku tidak percaya pada jawaban dominan namun tetap menjawab salah karena takut dianggap aneh atau dicemooh. Sedangkan sebagian kecil dari mereka berkata kalau mereka benar-benar mengira bahwa jawaban partisipan aktor adalah benar.
Ada beberapa pengertian konformitas :
-Menurut Deutch dan Gerrard, konformitas adalah kecenderungan perubahan persepsi, opini, dan perilaku agar sama dengan kelompok.
-Menurut Baron dan Byrne, konformitas adalah bentuk penyesuaian terhadap kelompok sosial karena adanya tuntutan dari kelompok sosial untuk menyesuaikan, meskipun tuntutan itu tidak bersifat terbuka.
-Menurut Fuhrman, konformitas adalah kecenderungan untuk melakukan atau menerima standar norma yg dimiliki kelompok.
Satu kondisi yang dikhususkan agar bisa menentukan apakah sesuatu itu termasuk konformitas atau bukan : “Asch menemukan dalam penelitiannya bahwa sebenarnya subjek mengalami tekanan yg cukup besar meskipun tekanan tersebut tidak terlihat. Asch juga menyatakan bahwa tekanan kelompok akan membuat individu konformistis terhadap norma kelompok.“
Nah ada satu variabel yang ditemukan dalam diri seseorang yang mengidap ‚tren konformitas‘ yaitu rasa tertekan yang bisa terlihat atau tidak. Oya, konformitas ini nggak cuman muncul dalam perilaku individu sebagai akibat adanya tuntutan yang tampak aja ya, tapi ada juga konformitas yang manifestasinya diinternalisasikan oleh individu sehingga ngbuat gak cuman perilakunya aja yg nunjukin kesepakatan dalam kelompok, tapi juga pikiran, perasaan, dan sikapnya pun sepakat dengan kelompoknya.  ~ Tri astuti utomo
Ternyata Konformitas ini juga memiliki beberapa tipe, yaitu
1. Compliance atau simple compliance, ini tipe yang kalau di luar kelompoknya berusaha untuk mempertahankan pendapatnya, tapi kalau sudah masuk ke kelompoknya dia akan setuju dengan pendapat kelompok dan mengesampingkan pendapat dia sendiri.
2. Acceptance, ini tipe yang benar-benar ‚manut‘ dan menyamakan diri dengan kelompoknya, baik dia berada di luar atau di dalam kelompok.   
3. Identification, tipe yang meniru perilaku individu lain yang dianggap penting dengan maksud untuk mempertahankan hubungannya.
Ada salah satu pertanyaan saat diskusi berlangsung, apakah konformitas ini sama dengan adaptasi ?
Jawabannya : BEDA. Dalam konformitas ada yang di distorsi, yaitu perspektif, landasan hidup, prinsip hidup orang tersebut. Sementara dalam adaptasi, tidak ada yang dikesampingkan, prinsip serta sudut pandang orang tersebut masih tetap sama, hanya saja berusaha menyesuaikan dengan kondisi yang ada.
Kemudian, faktor apa saja yang mempengaruhi dalam konformitas:
1. Faktor personal, faktor yang bersumber dari dalam diri dan melekat pada pribadi individu. Ini maksudnya, individu yang cenderung merasa enggak nyaman dengan posisinya, punya keinginan yang tinggi untuk diterima di tengah-tengah kelompok. Mereka jarang ngedapetin social support dalam kelompok yg nyebabin turunnya self-esteem. Faktor personal ini juga ngeliputin usia, tingkat pendidikan, dan pengetahuan diri yak.
2. Faktor situasional, ini ada dua karakteristik, yaitu karakteristik kelompok dan karakteristik tugas.  
·         Karakteristik Kelompok: terjadi kalo ada ketidakbulatan suara dalam kelompok.
·         Kararakteristik Tugas: ini tingkat kesulitan dan apresiasi dari kelompok yak maksudnya.
Menurut penelitian, subjek yang tunduk terhadap tuntutan kelompok antara lain memiliki kondisi sebagai berikut:
-          Distorsi persepsi, subjek dengan kondisi seperti ini bener2 tunduk dan patuh dgn kelompok, tanpa menyadari kalau persepsi mereka telah diselewengkan secara sengaja oleh mayaoritas kelompok.

-          Distorsi penilaian, subjek merasa kurang yakin dengan penilaian sendiri dan adanya kecenderungan perasaan untuk mengikuti kelompok

-          Distorsi tindakan, subjek tunduk dgn kemauan kelompok karena merasa adanya desakan agar tidak berbeda dengan kelompok

Menjadi anti-konformitas atau konformitas itu bukan tentang mana yang benar dan mana yang salah. ~ Nia Fajriyani, admin KBI.

Jangan hanya karena kita pernah ngelakuin konformitas trus nanyain kejiwaan ya gaes… jangan langsung mikir kalo sering konformitis trus mikir gak sehat psikisnya…. ~ Tri Astuti Utomo
Kesimpulan dari kakak Iyas : Mau jadi konformitis atau anti konformitas, itu situasional. Asal jangan bohong sama diri sendiri aja kalo kita pernah melakukan keduanya. Gak salah kok jadi konfirmitis, ada masanya pasti.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih