Kisah Bambu yang teguh

Kisah Bambu yang teguh Wahai Bambu, sudahlah, menyerah sajalah engkau. Agar tak letih lelaki tua itu menggoyang-goyangkan tubuhmu.


Tidak!! Tidak akan pernah kugoyangkan tubuh ini. Akar-akarku kuat melebihi tekad sang lelaki tua itu. Biar…biarlah duhai angin, aku masih ingin di sini.

2 tahun….

Bambu!! Tak elok jika kau masih begitu angkuh berdiri di sana. Tak elok kau biarkan lelaki tua itu menggoyang-goyangkan engkau.

Angin…sudahlah, mengapa tak kau bepergian saja mengelilingi dunia dan ceritakan tekadku ini.

4 tahun….
Bambu !! Apa lagi yang kau pertahankan? Hah? Begitu besar usaha mereka untuk memindahkanmu!

Kau tahu angin? Dahulu, nenek moyang mereka menanamku. Memulai kehidupanku dari bibit. Mendoakanku agar kelak aku akan terus tumbuh beserta keluargaku yang lainnya. Menjadi dinding bagi rumah-rumah mereka. Menjadi tiang bagi surau-surau mereka. Menjadi penyangga bagi bendera yang harus dikibarkan. Aku tumbuh dan memberi manfaat sesuai doa para nenek moyang. Aku hidup terus dan terus tumbuh. Pada batangku, berjejer keluargaku yang berusia panjang. Tuhan yang mengabulkan doa nenek moyang mereka. Kini, mengapa aku disingkirkan? Sementara Tuhan belum mengizinkan aku mati?
10 tahun…..

Bambu….apalagi yang kau tunggu ? Kau tampak sudah rapuh.

Angin…aku masih kuat berjejak. Akarku menggenggam bumi dengan erat. Bahkan lebih banyak anak-anak bermain di dekatku. Banyak ibu-ibu meminta tubuhku untuk tiang-tiang jemuran. Anak-anak mereka yang sudah besar, meminta tubuhku untuk Pramuka, katanya. Apalagi yang tidak aku syukuri, duhai Angin? Pergilah, lakukan tugasmu saja.
15 tahun….

Duhai angin….semalam aku bermimpi. Tuhan hendak panggil aku hari ini. Mungkin kita akan melewatkan hari demi hari yang berbeda. Aku tak lagi di sini dan kau mungkin akan bertemu dengan tumbuhan lain.

Ah, Bambu, betapa aku sangat mengenalmu. Keras, kokoh dan teguh. Tak mungkin tak kurindukan hari-hari sebelum semua ini berbeda. Aku akan ceritakan kisahmu, sebagai tanda terima kasihku karena telah menjadi temanmu.
Pukul 09.00, sekumpulan pohon bambu rubuh. Diterjang mobil-mobil besar berbahan besi, mengeruk hingga akarnya. Menumbangkan tubuh sang bambu, rohnya telah kembali pada Sang Maha Kuasa.



Comments




domain murah