Menghidupkan masa lampau

Ada kerai bambu yang menyaring sinar mentari saat pagi datang. Lonceng kecil berdenting pelan ketika angin memainkannya.

Tempat ini….membuatnya bisa mendengar suaranya sendiri. Meski tanpa menggerakkan bibir, meski kerongkongannya kering.

Bagi orang lain, ini pagi yang sama. Bangun dalam keadaan super sibuk. Bagi ibu-ibu yang sudah memiliki anak. Mereka sudah tentu tengah berkutat di dapur menyiapkan sarapan serta makanan untuk bekal.
Tapi, baginya, setiap pagi selalu berbeda. Ada saja kilas balik dari canda tawa sosok mungil yang selalu di dengarnya. Dari balik jendela, dari atas sepeda roda tiga, atau dari dekat kolam.

Suara air yang mengucur, kini membuat kebisingan tersendiri seusai kicau burung bernyanyi.

Dirinya menatap lama-lama kolam yang tak lagi berpenghuni. Katanya, enam ikan sudah pergi meninggalkan kolam tanpa jejak. Ditemukan mengambang setiap pagi. Entah apa yang membuat mereka tak bertahan.

Sama seperti setahun silam. Kala bidadari kecilnya meminta tinggal dengan saudarinya. Katanya, “di sana adek bisa punya papa dan mama. Kan kalau di sini cuma punya mama. Boleh ya ma…”

Begitu polos pintanya. Begitu sederhana keinginannya. Sementara untuk mewujudkan itu semua membutuhkan waktu.
Semua mendadak begitu berat ketika lelaki itu pergi untuk selamanya. Hanya meninggalkan makanan untuk hari itu saja. Bersyukur, masih ada sisa makanan dari malam tahlilan. Tapi setelahnya? Ia harus berjuang sendiri. Hingga akhirnya sepi membunuhnya.
Berdiam diri, kaku. Menikmati pagi tanpa suara. Kemudian menghalau sore di penghujungnya.
Begitu terus. Namun ia tak pernah sendiri. Ada bayang masa lalu yang menghidupkan segalanya kembali. Seakan semua tetap seperti sedia kala.


Comments




domain murah