Manusia dan Semut

Malu…aku malu… Pada semut merahh…. Yang berbaris di dinding…. Menatapku curiga…. Seakan penuh tanyaa.. Sedang apa di situ….. 


Sebuah dendang lawas yang pernah dilantunkan oleh almarhum Chrisye, sudah pasti banyak yang masih mengingat. Ini kebanggaan bagi kami, kerajaan semut. 


Source : Google Image
Manusia berpikir mereka bisa mengusir kami hanya dengan menggambar menggunakan kapur ajaib. Mereka pikir, kami tak akan datang lagi, setelah manusia menjebak kami dalam lingkarang kapur. 

Mereka hanya mengira, karena pada akhirnya. Tetap kami yang menang. 

Kamilah, makhluk yang dilabeli sebagai makhluk terkuat. Kamilah, kerajaan semut, yang pernah menjadi saksi kepergian seorang Nabi. Kamilah, para semut, yang dianggap remeh karena kami kecil, namun kami bahkan dibuatkan filmnya oleh Hollywood. 

Manusia berpikir, mereka sudah menang melawan kami. 

Tanpa kami, kerajaan semut. Mereka tidak akan belajar untuk berbagi dan merelakan. Tak akan memahami bagaimana melindungi apa yang harus dilindungi. 

Mereka hanya berpikir bahwa kami mengganggu. 

Padahal, kami para semut, hanya meminta sedikit. Tapi karena manusia itu serakah. Tak dibaginya kami tempat untuk membangun kerajaan. 

Baca Juga "Kamisan - Hujan"

Suatu kali, kami kesal dengan manusia. Kami membuat mereka takjub pada kami. Dengan membiarkan bungkus Mie tetap rapat tertutup, namun isi di dalamnya sudah habis. Iya, mereka hanya mendapat udara dan bumbu. Bukankah hidup juga bisa terasa lezat dengan bumbu mie instan ??? 

Atau suatu ketika, banyak prajurit kami mati tenggelam dalam botol sirup. Mereka pikir bahwa prajurit kami bodoh. Tidak! Itu hanya sebuah peringatan, bahwa kami tidak pergi. Kami masih ada, diantara baju manusia, buku-buku mereka atau sepatu mereka. Kami masih ada. 

Manusia berpikir, mereka sudah hebat, ketika mengusir kami dengan sebuah gambar dari kapur khusus. 


Mereka hanya mengira….sejauh ini. Karena kami akan terus selalu ada. 



Comments

Instagram




domain murah