Lelaki berseragam biru

August 07, 2015

Pernah menonton 50 first date ?
Film yang sudah lama ditayangkan di layar lebar. Tidak. Saat ini saya tidak sedang ingin membahas filmnya. Hanya saja, ada seseorang yang membuat saya mengingat film tersebut.
Bukan tentang cinta, atau bisa jadi tentang cinta. Karena sebenarnya saya sendiri belum tahu akan membahas tentang cinta juga atau tidak. Lagipula saya tidak sedang ingin membahas. Hanya ingin menulis saja.

Kalau dalam film tersebut, terdapat sebuah sindrom bernama Goldfield Syndrome, yang merupakan gabungan antara alzheimer dan amnesia. Tapi, ini fiktif.

Kalau lelaki yang ingin saya tuliskan ini, tidak fiktif.

Setahun yang lalu, ketika saya pulang dari sebuah tempat dengan berjalan kaki, saya berpapasan dengan lelaki yang mengenakan seragam bengkel berwarna biru, dengan rambut gondrong dan acak-acakan. Tidak ada yang istimewa, sudah tentu, dari lelaki tersebut. Dia sedang mengendarai motor yang suaranya seperti besi di tarik dan mengenai aspal. Sesekali, motornya mogok atau dia berhenti dan mengecek bagian motornya.

Itu hari pertama saya bertemu. Entah kenapa saya mengingatnya lagi, di pertemuan kedua.

Dengan setelan yang masih sama, mengendarai motor yang sama dan ekspresi wajah serta kerusakan motor yang sama.
Semua sama, tidak ada beda. Sama sekali.
Bahkan tatapan matanya sama, sementara orang di sekitarnya seakan tak peduli.
Pertemuan berikutnya membuat saya bertanya dan menganalisa sendiri. Terkadang saya bertanya, trauma apa yang dia hadapi hingga seperti ini? Atau saya menganalisa bahwa dia bahkan tidak lagi mengenal waktu dan hari. Yang dia tahu, hari ini adalah hari kemarin dan esok tetap sama tidak ada yang berganti.

Saya belum berani untuk mendekat dan bertanya…. Bisa-bisa saya merusak seseorang hanya karena ego saya yang ingin tahu dengan banyak hal.

Itulah sosok lelaki, yang hari demi harinya tidak bergerak. Tetap di tempat. Dia terbangun dengan suasana hati yang sama, dengan impian yang sama. Hidupnya seolah berhenti di tempat. Tapi dia masih menyongsong matahari.
Dia bukan orang gila. Bukan.

Dia juga tidak mengganggu, tidak mengejar anak-anak, apalagi bertelanjang seperti orang kebanyakan.
Dia hanya mengendarai motornya. Menuju jalan besar. Bahkan dia tahu kapan harus berbelok, kapan memberi sen, kapan dia harus berhenti. Dia sama sekali tidak mengganggu jalannya lalu lintas.
Dari situ aku tahu, dia tidak gila. Hanya saja tak mengenal waktu dan hari. Putaran hidupnya sudah berhenti, tapi dia masih menyongsong matahari.
Berhenti dalam pengertian. Tak lagi dia mengenal hari senin sampai minggu. Yang dia tahu hanya satu hari. Yaitu hari dimana dia menyapa matahari. Menjadi bagian dengan keramaian di pasar pagi. Menjadi suara bising kala siang hari.
Kini saya telah terbiasa. Tempat baru ini membuat saya bisa melihatnya setiap hari. Lelaki berseragam biru, senantiasa lewat di depan rumah. Tak ada yang menegur, saya juga. Karena takut akan mengganggu siklus yang sudah berjalan begitu lama.

Saya hanya penonton. Yang berdoa agar Allah menyayanginya.


  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih