Di sebuah tempat

“Batik ini masih bisa dipakai, Buk. Sekalian ke rumah Pak Guntur.”

Sepagian ini, tetangga di RT 4 sudah sibuk. Pembagian tugas sudah terlaksana dengan baik dan rapi. Siapa yang mendapat giliran menjaga parkiran, siapa yang mendapat giliran menjadi keamanan. Dan siapa saja yang akan menjadi among tamu.

Pesta pernikahan, selalu menyiratkan kebahagiaan. Tidak boleh terputus sepertinya. Hanya satu waktu saja, kala azan berkumandang, sang penyanyi yang geboy itu berhenti melantunkan lagu.
Pakaian yang dikenakan semua sama. Harus bagus. Harus rapi. Ada yang mentereng. Ada yang sederhana. Semua berbahagia dan bergembira.

Kini, tiba pada bagian lain. Di tempat berdekatan. Hanya berbeda jarak sedikit saja. Sebuah acara juga hendak digelar. Berbeda dengan yang terjadi sebelumnya, saat janur kuning yang berkibar. Di tempat yang baru menggelar acara ini, hanya memasang bendera kuning.

Mengumandangkan dari pengeras suara di Mesjid Jami’.
“Innalillahi wainnailaihi rojiuun.”

Begitu terdengarnya. Begitu cara tetangga di RT 1 mengundang orang datang ke acaranya yang diadakan sama jam dan hari dengan tetangga di RT 4.

Selain itu, di tempat Pak Raya, RT 1, tidak ada pergelaran musik. Cukup dari tetangga saja suara musik masih terdengar. Yang kini dikumandangkan dalam rumah tersebut, yaitu suara-suara berdengung orang yang berdoa. Tubuh lunglai almarhum pak Raya digotong ke Mesjid terdekat. Diiringi suara tahlil dari orang - orang yang menggendongnya. Disertai juga suara musik dangdut dari RT 4. Mungkin mereka berharap dapat memberi penghiburan terakhir untuk almarhum.
“Buk, bajunya ndak usah ganti. Pakai ini saja ke rumah Pak Raya.”
Tidak perlu repot-repot. Di rumah Pak Raya tidak dikhususkan untuk mengenakan pakaian yang bagus dan cemerlang. Cukup mengucapkan kalimat yang bisa menyejukkan hati istri dan anak-anaknya. Itu adalah hadiah terbaik untuk mereka. Tidak ada among tamu, apalagi penerima tamu. Namun, tetap saja, semua tamu yang hadir disuguhi minuman seadanya. Tidak sempat masak. Lagipula, para tamu sudah kenyang usai makan di rumah Pak Guntur.
Di rumah Pak Guntur, wajah kedua mempelai yang merupakan anak dan mantunya, berseri cerah. Bersolek dengan tampan dan cantik.

Di rumah Pak Raya, Bu Raya cukup memerlukan banyak tissu dan minyak angin. Beberapa kali, kakinya lunglai tak dapat berdiri tegak.
Suara musik dangdut masih berkumandang. Beradu dengan suara Tahlil dari para tamu yang datang.
Setelahnya, acara di rumah Pak Raya, diakhiri dengan suara sirine mobil ambulan. Yang membawanya ke tempat dimana dia akan ditanya dan diinterview, terkait siapa Tuhannya dan siapa Nabinya.
Di rumah Pak Guntur, makanan berlimpah. Semua ceria dan bahagia. Tak perlu ditanya, kedua mempelai pengantin sudah tak sabar menyambut malam pertama mereka.

Sama seperti pak Raya. Yang malam pertamanya juga berbeda.

Comments




domain murah