Mencintai apa yang tak disukai

Terkadang ketika dalam hidup tidak menyukai sesuatu, pada akhirnya justru kehidupan itu sendiri menghadirkan rasa suka pada sesuatu itu hingga membuat penasaran. ~ Ipeh Alena  


Sama seperti saya, yang sebelumnya sangat-sangat malas berada di dapur. Bahkan memiliki semboyan, “Kalau bisa langsung makan, untuk apa belajar masak?”. Sampai-sampai Ibu menggelengkan kepala setiap kali saya diminta untuk membantu memasak, menggoreng, membuat kue dan segala hal yang berkaitan dengan dapur, pasti akan saya jawab dengan penolakan. Duh, semoga Allah mengampuni saya.
Tapi, ketika kemudian tahun demi tahun sudah terlewati, pada suatu ketika dalam kehidupan justru Tuhan meletakkan rasa suka saya pada salah satu proses yang terjadi di dapur, dan membuat saya justru betah berlama-lama di dapur, bukankah ini sebuah anugerah?
Tepatnya bulan Ramadhan tahun ini, saya lebih sering berkreasi di dapur, penasaran ingin memasak apa untuk berbuka. Penasaran ingin mencoba membuat makanan apa dan bagaimana resepnya. Percayalah, saya bahkan sudah ‘nongkrong’ di dapur sambil memandang kulkas melihat bahan yang tersedia, mengintip ke bilik tempat penyimpanan bahan makanan, siapa tahu ada yang bisa saya kreasikan. Kemudian mencari-cari resep yang sesuai dengan bahan yang sudah ada di rumah.
Mau tahu saya sudah ngendon di dapur sejak jam berapa? Jam 2 siang !! Bayangkan, saat orang lain biasanya sedang menikmati ibadah tidur, saya justru sudah bersemangat ingin membuat apa, ingin memasak apa. Padahal, kalau diingat, rasanya tidak mungkin saya mau berada di dapur seperti saat ini. Itulah kenapa saya menyebutkan ‘a give’, special for me from God. 


Mungkin ada yang membayangkan kalau dapur di rumah saya ini luas. Kenyataannya bahkan meja makan saja tidak ada. Sehingga saya memanfaatkan mesin cuci sebagai alas untuk mengaduk bahan, atau membuat es krim. Apalagi kalau membuat es krim ini, memang hanya sebentar dalam prosesnya, tapi pembekuannya itu yang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, sehigga saya ‘nyolong’ start, dari ibu-ibu lain, dengan memasak lebih cepat dimulainya.
Setiap hari selalu saja ada ide yang mampir, ingin membuat ini, ingin membuat itu. Tapi, kalau akhirnya sedang mentok dan ingin menyajikan sajian yang cepat, karena misalnya saya terlalu banyak kegiatan lain sehingga tidak sempat memasak. Akhirnya, saya putuskan untuk membuat hidangan yang tetap ada banyak sayuran, namun tidak hanya sayuran tapi juga ada protein hewani.

Menghabiskan waktu di dapur justru tidak membuat puasa saya batal. Allhamdulillah, saya teringat dengan pesan dari seorang penceramah ketika memasuki awal Ramadhan. Bagaiman ketika menghabiskan waktu di tempat mana saja, dengan menyertai zikir atau salawat, insya allah apa yang dikerjakan berkah.
Ini saya ikuti dan saya terapkan. Dan allhamdulillah, selama Ramadhan masakan saya tidak ada yang tidak enak, semuanya enak (iyalah kan laper :D). Dan tentunya membuat saya puas dan semakin rajin serta semangat untuk berada di dapur tanpa embel-embel merengut seperti dulu.
Dan, beginilah saya, yang seperti orang lainnya yang jatuh cinta pada sesuatu. Hingga betah menghabiskan waktu bersama sesuatu yang dicintainya ini. Ibaratnya anak-anak, saya sedang memiliki ‘mainan baru’ selama Ramadhan ini. Dan pastinya sangat berkesan sekali sampai-sampai saya memiliki segudang ide setiap harinya. Tapi, belum berani untuk share resep atau apapun, masih belum percaya diri. Hehehehe :).

Comments




domain murah