Ingatanku tentang perempuan tua

Kepada perempuan tua yang pernah duduk di depan teras rumah sambil termenung. Sudah setahun berlalu perpisahan kita. Kini tak lagi kutahu dimana jejakmu. Tapi ingatan akan dirimu, masih ada.
Sebut saja aku manusia tak mampu melepas kenangan. Karena, kenangan bersamamu terlalu berharga bagi hidupku, hingga aku hanya mampu berdoa pada Tuhan, agar tak dihapus kenangan ini.

Pada mulanya, tiba-tiba saja aku mendengar suara dari masa lalu. Tentang omelan seorang ibu pada sosok yang lebih tua darinya. Karena terlalu sering tidur, karena makan begitu banyak dan karena tidak cepat tanggap. Demikianlah, makanan sehari-hariku, mendengar Ibu paruh baya memarahi perempuan tua.

Pernah, aku mendengarnya sendiri, bahwa mereka mengatakan kalau kau gila, duhai Perempuan tua. Yang aku tahu, bahwa kau tak gila.

Mereka bilang kau gila, hanya karena tak mengerti bahasa Indonesia.
Mereka bilang kau gila, hanya karena kau sering menggerutu ketika sendirian.
Mereka bilang kau gila, hanya karena sering melamun.

Tapi, aku tahu kau tak gila, wahai perempuan tua. Karena aku pernah melihatmu, bergembira bermain bersama seorang anak berusia 1 tahun. Anak itu sekarang sudah beranjak besar, wahai perempuan tua. Anak tetangga yang sering kau awasi ketika bermain. Hanya anak itu memang, yang setia mengajakmu berbincang. Ah, aku tahu, apa kau rindu cucumu perempuan tua?

Mungkin, bagi orang lain, sebutan perempuan tua sedikit kasar? Tapi tidak bagiku. Karena perempuan adalah kumpulanku dan tua hanyalah sebuah usia yang menandakan berapa lama dia sudah hidup di dunia.

Perempuan tua ini menjadi sahaya, untuk adiknya sendiri. Hanya karena anak-anaknya di kampung tak mampu merawatnya. Mereka bilang, anak-anaknya miskin hingga tak bisa menampungnya. Betapa pilu rasanya.

Pada perempuan tua yang sering melamun di teras rumah. Aku melihat, bagaimana aku nanti ketika tua, bagaimana nanti aku diperlakukan dan bagaimana aku ingin dirawat nanti. Sesekali aku menangis, rasanya aku tak mampu sekuat perempuan tua itu. Jikalau hidupku harus mengemis pada orang lain. Atau harus tetap bekerja, menjadi budak pada adiknya sendiri. Aku tak pernah mampu membayangkannya.

Suatu ketika, perempuan tua pernah hilang. Sang adik, pemimpin rumah, kelabakan mencarimu. Padahal selama ini dia sering mengabaikanmu. Memarahimu. Bahkan tak pedulikanmu kala istrinya membentak dan memakimu. Untuk apa mencarinya? Padahal sang perempuan tua, bahkan didapati tidak terluka sedikit pun. Dan di kantungnya ada uang yang banyak. Perempuan tua bercerita, kalau dia habis diajak berkelana ke India.

Mereka kembali tertawa, dan menganggapmu gila.

Mungkin, aku cukup gila karena aku percaya padamu, perempuan tua. Aku tak percaya pada mereka yang mengatakan kau dibawa oleh bangsa Jin. Tidak. Tapi, aku percaya, jikalau Tuhan memang membawamu ke India. Dengan cara dan kebesaran Nya.

Tapi, perempuan tua. Aku memang hanya mampu berdiam diri sambil memperhatikanmu. Sesekali melempar senyum padamu. Atau menyapamu. Hanya itu, karena aku tak tahu, apakah aku bisa membantumu dalam hal lain? Kenyataannya aku hanya mampu berdoa untukmu. Semoga itu cukup.

Sudah setahun, tak terasa kita berpisah. Ramadhan mengingatkanku pada kisah ini. Pada cerita tentangmu yang aku saksikan. Karena, sebentar lagi, aku juga akan pergi dari tempat ini, wahai perempuan tua. Aku akan meninggalkan tempat kau menoreh kenangan, tempat aku mengabadikan kenangan.
Belum apa-apa airmataku sudah mengalir. Biarlah, sejenak aku ingin membiarkan dadaku yang sesak, lepas sebentar saja.

Aku tak tahu lagi dimana jejakmu. Semenjak kepindahanmu. Apakah kau masih hidup? Karena yang aku ingat kau sudah sangat renta. Apakah kau diberi makan? Apakah kau masih dimaki? Entahlah. Karena justru saat ini aku hanya mengingat, ketika mata kita berpapasan, ada anak sungai yang berkumpul di matamu. Terkadang kau sembunyikan tangismu.

Perempuan tua, ini memang hidup seperti ini. Bukan hidup yang tak adil, hanya manusia yang tak adil, tapi Tuhan Maha Adil.

Kau tahu, perempuan tua? Dalam hidupku aku sering menyaksikan kekerasan, kesakitan dan kesedihan. Tuhan berikan aku ini, agar aku mempelajarinya, mengambil hikmahnya, dan memahami bahwa aku tak pernah sendiri. Tuhan tengah mengajariku untuk bangkit ketika jatuh.

Dan aku pernah terjatuh tanpa tahu caranya bangkit. Pernah.
Hari ini, saat puasa terakhir tahun ini. Aku mengingatmu perempuan tua. Dengan sosokmu. Dengan senyummu. Juga dengan tangismu yang sunyi. Semoga Tuhan senantiasa menyayangimu. Mencintaimu. Dan mengasihimu. Wahai perempuan tua yang pernah kusaksikan menangis dalam kesendiriannya.
Setidaknya, aku hanya berharap. Agar kau merasa bahagia, pada hari raya tahun ini. Aku ingin melihat senyummu melalui udara pagi ini yang dingin. Bukankah hanya doa yang tak mengenal jarak, wahai perempuan tua ?

Comments

Instagram




domain murah