[Pengalaman] Tentang Drama kehidupan

Terkadang untuk menempatkan diri di posisi yang sesuai, membutuhkan sebuah usaha yang keras. Sama seperti kenyataan bahwasannya, di dunia ini, ketika sudah memiliki rumah atau menyewa rumah di lingkungan perumahan / kontrakan / perkampungan, yang pasti bukan apartemen. Sudah hal yang lumrah jika dihadapkan pada satu permasalahan. Yaitu, tetangga. Entah itu tetangga dengan status single, janda, bekeluarga atau apa saja. Yang pasti, banyak yang sudah mengalami dan merasakannya. Tergantung seberapa sensitif seseorang itu.
Dalam hidup, yang diibaratkan panggung sandiwara, tidak heran jika ada sebuah drama dalam kehidupan. Pasalnya, banyak juga yang menganggap jika ada seseorang yang tengah menghadapi sesuatu kemudian sedikit berlebihan, akan dicap lebay atau mungkin cari perhatian, selebihnya ada juga yang tidak memberikan panggung atau perhatian sedikit pun.
Di sini, saya hanya ingin berbagi tentang kisah selama bulan Mei kemarin, kisah yang terjadi selama sebulan yang rasanya terlalu penuh karena banyak kejadian yang akhirnya mempertemukan saya dengan seorang wanita yang saya kagumi luar biasa, karena sikapnya.

Dalam sebuah rumah, ada keributan, ada teriakan kencang yang kalau terdengar dari luar rumah tidak begitu kencang. Hanya saja, pasti kalau pintu itu terbuka, suara teriakan, tangisan dan caci maki akan terdengar sangat kencang dan menghebohkan. Di situ ada kumpulan ibu-ibu dan bapak-bapak, ada yang akan berangkat kerja, ada yang tengah duduk santai ada yang ingin mengantar anak, semua tengah beraktivitas seperti biasa. Mendegar pertengkaran tetangga mereka, kira-kira apa yang akan dikatakan oleh kumpulan bapak dan ibu di dekat rumah itu?
Sebelumnya, saya mencoba drama ini di sebuah grup bernama Klub Buku Indonesia, pancingan saya membuahkan hasil, ada yang cuek, ada yang tidak memberikan panggung, ada yang mengatakan caper, ada pula yang tidak diragukan lagi menganggap itu berlebihan. Lucu juga, karena memang saya sedang iseng saja, ingin tahu bagaimana drama itu dipandang oleh mereka jika terjadi dalam kehidupan nyata? Saya di sini bukan dalam posisi menjudge, bukan, tapi hanya berbagi, seandainya suatu saat akan mengalami hal seperti ini, akan berbuat apa? Karena pada detik ini, ketika saya menulis ini, saya bahkan kalau ditanya, akan menjawab : Tidak tahu ! Iya, karena saya belum mengerti dan paham apa yang harus saya lakukan.
Baiklah, kembali lagi pada kejadian di sebuah rumah yang terjadi keributan. Beberapa ibu-ibu ada yang mengatakan kalau, „Mereka sih udah biasa ribut, udah biarin aja, nanti juga selesai sendiri.“ Ada juga yang mengatakan, „Biarin aja, yang penting kita ga digangu, Cuma diganggu suara aja.“ Demikian pula tidak terkecuali dengan sepasang suami istri yang memutuskan untuk tidak mempedulikan tetangga mereka. Tapi, ada sepasang, hanya sepasang suami istri yang tidak memiliki reaksi apa-apa.
Kemudian, jika suatu ketika, di siang hari yang cerah, kemudian ada seorang ibu, janda, memiliki seorang anak yang juga janda, anaknya itu memiliki anak satu. Mereka bertengkar hebat karena si anaknya si ibu ini, hampir saja membunuh anaknya karena dianggap sang anak ini nakal. Ribut di siang hari, beberapa tetangga ada yang masuk ke rumah, ada yang berteriak menghentikan mereka berdua, ada juga yang nonton sambil bisik-bisik. Tapi ada satu orang ibu yang diam, melihat tapi mulutnya komat-kamit. 
Sebenarnya ada banyak yang terjadi, banyak ! Begitu kalau kata iklan di televisi. Tapi, kira-kira baiknya berada di posisi manakah, jika terjadi hal demikian? Sementara melerai orang yang bertengkar itu bukan perkara mudah. Sangat tidak mudah, karena bisa jadi kita terluka atau bahkan meninggal. Tapi, apakah pantas ketika ada orang yang berkelahi apalagi hampir membunuh, kemudian kita diam saja kemudian menonton? Atau jangan-jangan dalam hati kita sempat terbesit, „ih, drama banget deh. Biasa aja kali!“
Bagaimana pun sikap yang dipilih sebenarnya itu adalah hak mereka. Saya sendiri cenderung menghindari konflik, karena takut. Tapi, semenjak pertemuan saya dengan salah satu ibu yang selalu hadir pada setiap konflik, dia sosok yang pendiam ketika ada konflik, namun pertolongannya membuat saya tercengang.
Ibu itu hanya diam dari kejauhan ketika ada konflik. Dia tidak mendekat, tidak juga menjauh, tidak juga berkomentar terhadap apa yang terjadi. Tapi, jika ada anak kecil di dekat area konflik atau anak kecil itu menjadi korban, dia akan menolong terlebih dahulu si anak. Selebihnya, dia menunggu, hingga dua orang atau lebih itu yang tengah bertengkar sedikit mereda. Meski memang butuh kesabaran. Kemudian, mau tahu apa yang dilakukan ibu itu? Dia tidak melerai, apalagi menasihati, tidak. Dia hanya pulang ke rumah, mengambil air mineral dalam kemasan gelas, kemudian memberikannya pada mereka yang tengah berkonflik. Sebelum diberikan, sepanjang perjalanan dari rumah sampai ke daerah konflik, dia selalu bersalawat dan membaca alfatihah. Katanya, dia tidak lagi menghitung berapa kali dia membaca surat al-fatihah tersebut.
Apakah yang dilakukannya menghasilkan suatu perubahan? Sebenarnya iya, meski tidak banyak. Karena tetap saja, dua orang atau lebih, yang tengah konflik, yang tengah emosi, sulit untuk diredakan kecuali mereka mengambil air wudhu dan beristigfar. Tapi, apa yang dilakukan ibu itu sudah benar, sangat benar. Ketika mereka tengah emosi dan sedikit menurun, dia memberikan air putih untuk kedua orang atau lebih itu, otomatis, ada perubahan posisi dari mereka.
Kalau dari ilmu yang pernah saya dapat dari pelajaran Agama Islam, jikalau marah sambil berdiri, maka duduklah. Jika sambil duduk, maka berbaringlah. Jika sambil berbaring juga masih dalam kondisi marah, berwudhulah.
Nah, karena si ibu tadi memberikan air putih, otomatis mereka yang tengah berdiri sambil meluapkan emosi, posisi mereka berubah menjadi duduk. Sambil minum, perhatian mereka sedikit teralih. Meski tidak menyelesaikan. Tapi apa yang dilakukannya adalah hal kecil, namun akibatnya sungguh besar.
Sementara yang lainnya berusaha untuk tidak peduli, karena mereka sendiri adalah manusia. Yang masih harus banyak belajar, seperti saya. Belajar memposisikan diri ketika ada sebuah konflik di dekat kami.
Pertemuan dengan Ibu inilah saya merasa ingin sekali mengetahui, apakah ini terjadi secara luas di kondisi dan tempat lain? Sepertinya iya, sehingga rasanya kemajuan zaman telah mengikis sedikit demi sedikit sensitivitas dari manusia. Itu tidak salah, karena dalam Al-Quran sendiri memang sudah ditegaskan, bagaimana gambaran hari akhir, bagaimana kondisi manusia, dan seperti apa suasana yang akan dihadapi.
Ini hanya sebuah kisah dari bulan Mei yang begitu berwarna. Saya juga menuliskan ini, sebagai cara untuk menyembuhkan trauma, karena dari kecil saya kerap tidak jauh dari sebuah konflik, sebuah kekerasan dalam rumah tangga. Ini adalah cara saya untuk memulihkan, meredakan apa yang telah terjadi di sekitar saya. Tapi, selain itu, ini juga mungkin untuk sedikit sebuah berita yang semoga saja, bisa memberi sedikit saja informasi, jikalau ini terjadi juga di sekitar Anda.
Ya, walaupun saya masih sangat tidak professional dalam hal apa pun, siapalah saya, hanya manusia lemah yang tak berdaya tanpa pertolongan Allah. Tapi, semoga ini tidak menjadi sebuah ‘war’ tapi menjadi sebuah pertimbangan untuk hari esok yang lebih baik. Insya allah.

NB : Kebetulan mau puasa, jadi rasanya tulisan saya sedikit solehah sekali. Tak apalah, beri saja saya sedikit kesempatan untuk menjadi solehah, hehehehehe.

Comments

Instagram




domain murah