30 Hari Mencari Cinta

June 04, 2015

Ada satu scene dalam film Indonesia berjudul 30 Hari Mencari Cinta. Dimana scene itu berlokasi di sebuah restoran. Dua orang berbeda gender, satu lelaki tampan, bersih dan rupawan. Dengan perempuan tinggi semampai, rambut lurus dan kulit putih. 


Mereka makan malam berdua, romantis sekali. Perbincangan mereka hangat, karena beberapa hari sebelumnya, minggu-minggu sebelumnya, mereka sudah pernah jalan bersama. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak memiliki keinginan mengenal lebih dekat. 



Sedari tadi sang perempuan sudah mengajukan pernyataan ingin berbicara serius. Tentang status yang ingin dia kejar, juga tentang hati yang sudah berkarat sendirian. Tapi, berkali-kali Lelaki tampan itu mengalihkan pembicaraan. 


Perempuan berambut panjang, dikenal sabar dan juga lembut. Dia berusaha memahami, meski sedikit sulit karena dia juga dikenal lamban dalam berpikir. Tapi, rasa dalam dadanya membuat dia sedikit menggertak. Dia ingin Lelaki di hadapannya mendengarkan apa yang ingin dia sampaikan. 


Selesai. Bukan, bukan tulisan saya. Tapi, perempuan cantik itu sudah selesai mengutarakan isi di hatinya. Kini, giliran Lelaki tampan yang berbicara. Wajahnya serius, tapi tatapannya bersalah. Sekali lagi, dia berusaha menguasai diri sebelum menjelaskan pada Perempuan ini. 

Baca Juga "Pengalaman Drama Kehidupan"

“Aaa…ku…gay…” 

“Apa!!” 


Itu adalah scene terbaik dalam film 30 Hari Mencari Cinta. Dimana Vino G. Bastian yang berusaha memanggil Oline, yang keluar dari restoran dengan hati yang patah. Scene terbaik karena saat itu lagu Sheila On Seven diputar. 


Aku tak percaya lagi… Dengan apa yang kau beri… aku terdampar di sini… Tersudut menunggu mati…. 


Sambil suara Duta yang menyayat hati bernyanyi, sementara Olin berjalan dengan wajah kosong, kecewa dan patah hati. Ini adegan paling sempurna dibanding kedua temannya Gwen dan saya lupa namanya, diperankan oleh Dina Olivia. 


Apalagi saat lengkingan Duta berteriak.. 


Aaakuuu puuulaaang….. Tanpaa dendamm…. kuterima kekalahankuuuuu 



Seketika dada saya seakan bisa memahami betapa dalam liriknya dan betapa sial sekali Upi sang sutradara mengemas scene ini hingga masih membekas di hati saya. 



Aaakuuui puullaaang… Taanpaaaa dendammmm….. 




  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih