[Ulasan] Film Perfume

“He is no man, He is an angel.” 


Seorang lelaki, yang memiliki ambisi, dibebaskan dari hukuman hanya karena dia memiliki sesuatu. Semacam aura dari kepolosan terhadapat kejahatan.

Feromon, istilah ini baru saya ingat kembali setelah membahas bersama seorang maestro per-film-an. Dan Feromon ini yang menjadi daya tarik seorang Jeane Baptist. Ya, mungkin ada yang pernah menonton film Perfume dan kembali teringat setelah membaca namanya. Sebuah film yang diangkat dari novel paling best of the best.

Tapi, saya hanya ingin sedikit bercerita saja, bukan melalui novel. Tapi dari film layar lebar. Jadi, kemungkinan ada banyak perbedaan yang akan ditemui. 


1. Indra penciuman yang berbeda


Jean Baptist memang sudah berbeda sejak lahir. Dia sudah bisa mencium bau dari tempat dia dilahirkan, yaitu pasar ikan. Betul, dia lahir di pasar ikan. Di tempat itu, bayi jean, sudah bisa mengetahui seperti apa bau-bau yang masuk ke dalam hidungnya.

Sensitifitasnya terhadap bau memang bisa dikatakan terlalu tinggi. Hingga kalau dilihat dari film, saat sang anjing juga bisa mengendus feromon dari sang majikan, menguak fakta bahwa Jean memiliki kemampuan penciuman seperti binatang, dalam hal ini anjing.

Anjing sendiri, memang lebih mampu dalam menemukan banyak hal melalui penciumannya. Sama seperti anjing pelacak, misalnya.

Nah, dari penciumannya inilah dia yang kemampuan berbicaranya terlambat, mengenal banyak hal dari sekelilingnya. Bau-bauan dari alam, seperti dari rumput, bunga, batu yang basah, ikan, kodok, dan segalanya. Sampai saat usianya beranjak remaja, saat sudah mengenal macam-macam bau, dia bahkan bisa meng-ekstrak-bau tikus dan makanan apa yang ada di dalam perutnya.

Baca Juga "Anak perempuan dan Berlat"

2. Anak yang aneh dan keterasingan


Di panti asuh, sejak dia masih bayi. Anak-anak di sana sudah mengetahui ada yang tidak beres padanya. Ada aura yang membuat mereka sebagai anak-anak ketakutan pada bayi yang berada di keranjangnya. Namun, mereka harus dan wajib patuh pada Madam pengasuh.

Ketika mulai bisa berjalan dan kesulitan berbicara, Jean yang bahkan bisa mencium gelas, kaca dan segala benda yang tampaknya tidak memiliki bebauan, namun bagi Jean mereka semua memiliki bau masing-masing. Sebagai ciri khas yang membuatnya belajar. Dan sebagian anak-anak panti asuhan sering mengganggunya.

Sebenarnya bukan mereka yang mengasingkan Jean. Tapi Jean yang membuat anak-anak itu menyingkir dari kehidupannya. Mereka sangat takut berdekatan dengan Jean. Naluri sebagai anak-anak.



3. Masa remaja dan perbudakan


Madam pengasuh di panti sudah memikirkan dan memutuskan untuk menjual Jean. Karena dia harus memiliki uang dan tidak ada lagi tempat yang bisa menampungnya. Sehingga Jean di jual di pasar dan dibeli oleh seorang penjual kulit.

Jean, seorang pemuda yang sangat telaten, pekerja keras, bahkan tampaknya dia tidak pernah mengeluh sama sekali. Atau merasa kelelahan. Pekerjaannya menguliti binatang, kemudian kulit itu nantinya di jual ke berbagai tempat.

Karena ketekunan dan kerja kerasnya, majikan Jean mengajak dia, untuk pertama kalinya pergi ke kota.
Jean awalnya adalah seorang lelaki yang tidak pemilih dalam menikmati aroma di sekitarnya.


4. Perjalanan di Kota

Bersama sang majikan, membawa kulit-kulit itu untuk di jual ke pelanggan mereka, Jean mulai bisa mencium aroma yang berbeda. Dia bahkan bisa mencium dan mendeteksi aroma dari kejauhan.
Di Kota, Jean untuk pertama kalinya juga menghirup wewangian dari parfum. Dia merasa takjub dengan wewangian. Namun, ada satu aroma yang membuatnya tak hanya takjub, tapi juga menjadi ambisi.
Ketika berpapasan dengan seorang perempuan di pasar, Jean menghirup sesuatu yang berbeda. Dia bisa membayangkan aroma tertentu dari bagian tertentu. Feromon, aroma khas wanita, yang menjadi daya tarik bagi indra penciuman Jean.



5. Para wanita dan Feromon 

Ambisinya itulah yang menuntun Jean menemukan tempat perempuan yang membuat Jean akan selalu teringat hingga akhir hayatnya. Perempuan yang mengenalkannya pada sebuah hasrat untuk memiliki.
Ketidak sengajaan Jean membungkam perempuan itu, membuatnya akhirnya terbunuh. Dan pertama kalinya Jean justru mencoba untuk menghirup dalam-dalam dan mencoba membuatnya abadi. 

Dan pertemuannya dengan seorang pemilik toko parfum yang mengajarkannya untuk belajar meng-ekstrak wangi-wangian parfum. Pertemuannya dengan seorang pelacur, yang juga membuatnya merasa harus membunuh, karena wanita itu menolak melakukan apa yang ingin dilakukan oleh Jean. Serta pertemuan demi pertemuan yang membawanya pada rangkaian percobaan demi satu ambisi, mengabadikan feromon yang membuatnya bahagia.


Saat menjelang akhir film, ada satu adegan dimana Jean dinyatakan tidak bersalah. Kalau dilihat lagi, memang tampaknya dia tak bersalah lantaran menebarkan bau feromon dari perempuan-perempuan yang telah dibunuhnya. Tapi, saat kembali lagi pada film awal, ada banyak hal yang membuatnya terlihat sangat berambisi. 

Jean seperti diketahui terlahir di pasar ikan. Menjadi anak yang tidak diinginkan, alih-alih merasakan kasih sayang dan dekapan dari Ibunya. Dia justru di dekap oleh bau-bau amis dan kematian di pasar itu.
Belum lagi, Jean harus berjuang kala menghadapi penghinaan, penolakan serta kekerasan yang diterimanya dari dia sejak kecil. 

Namun, pembunuhan pertamanya, bukan berarti dia tidak menyesal. Yang dia tahu hanya agar wangi khas itu menjadi miliknya. Di film, sang aktor memerankan bagaimana sedihnya dia namun tetap adiksi pada aroma itu. Sangat dramatis membuat sebuah penjelasan yang dihasilkan dari rasa kasihan. 

Aroma yang dia jadikan sebuah ilusi untuk menjadi miliknya, merupakan bentuk keinginannya mendapat sebuah kasih sayang dari seorang Ibu. Di mana saat bayi, merupakan hal yang alamiah mereka akan nyaman mencium bau ibu mereka sendiri. Bukan hanya bayi manusia, bahkan bayi hewan juga seperti itu. Dan itulah alasan kenapa Jean akhirnya menginginkan aroma itu berada di dekatnya selamanya.



Film yang di sutradarai oleh Twyke menggunakan alur mundur di mana film di mulai dengan tokoh Jean yang dijatuhi hukuman serta masyarakat yang bersorak meminta keadilan. Dan narator, membawa kisah ceritanya mundur dari awal kelahirannya. Latar cerita Perfume ini terjadi saat abad ke 18 di Paris. Kemiskinan yang melanda tempat itu, yang merupakan tempat terluas di eropa. Banyak sesama penduduk Paris yang menjadi budak. Bukan hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak. Penghukuman dari label orang-orang di sekitar, menjadikan Ibu dari Jean di hukum gantung. Karena salah satu orang di pasar meneriakinya ‘pembunuh’. 

Namun, hukum sempat direkayasa demi menenangkan warga pada ketakutan mereka. Di mana mereka mendapat surat sebuah laporan pengakuan dari seorang pembunuh. Padahal, itu adalah laporan yang palsu dan dibuat-buat. Konspirasi dari penegak hukum diciptakan agar masyarakat tak lagi resah. Namun, tetap saja, Jean masih mengincar satu lagi aroma yang belum dia miliki. 
  
Banyak orang mengatakan bahwa film ini seram dan menakutkan. Karena penonton dibawa berimajinasi bagaimana sosok Jean yang innocent bisa membunuh banyak wanita demi feromon mereka. Namun, justru dalam film ini hal yang paling kejam adalah saat Jean dihukum. Bukan saat Jean membunuh. Bahkan, saat dia melakukan teknik untuk mengabadikan feromon itu, terlihat biasa saja. Tidak semenakutkan itu. Tidak ada adegan yang akan membuat penonton merasa depresi saat melihatnya. Jean tidak menyakiti korbannya sama sekali. Hanya saja, caranya memang sangat salah, tapi kalau diibaratkan bahwa perilaku Jean merupakan simbol timbal balik dari perilaku orang-orang di sekitarnya. 

Comments

Instagram




domain murah