#Kamisan Big Brother is Watching you

“Mom, mengapa foto orang itu banyak tertempel dimana-mana?”

Perempuan dengan dress bunga-bunga kecil, warna dasar biru, rambut pirang disnggul, menuntun anaknya. Sebenarnya jika terlihat, dia seakan menyeret sang anak. Matanya masih menatap lurus ke arah jalan. 

“Sebentar lagi jam sebelas. Sesuai yang dikatakan Ayahmu, kita harus bergegas melewati perbatasan sebelum jam berdentang sebelas tiga puluh.” 


“Mom, aku sepertinya melihat monitor itu berkedip.” 

“Sssstt…Nak. Jaga ekspresi wajahmu. Kita tidak ingin berakhir dengan kemalangan, kan?” 

Sang anak mengikuti langkah sang Ibu yang tergesa. Beberapa kali hampir tersandung. Dia melihat-lihat dari matanya, poster seorang lelaki dengan wajah yang tidak dapat dilupakan, mata seakan terbelalak hampir copot dari tempatnya. 

“Sebentar lagi kita sampai di perbatasan. Tepat waktu saat jam berdentang sekali. Sebentar lagi kita bebas, sayang. Ayahmu berkata kita akan bertemu dengannya di perbatasan.” 

“Mom, aku seperti melihat ada gambar wajah di sana. Wajah orang itu.” 

“Tidak mungkin, sayang.” 

Baca Juga Alianovna Romanov

Dari sudut matanya, tumpukan monitor yang tertempel di dinding, menampilkan gambar yang tersusun rapi, hingga menampakkan wajah seorang lelaki yang sama dengan di poster. 

Mereka berdua sampai di perbatasan. Di ujung jalan, sang Ayah sudah menunggu dengan senyuman getir. Dalam hitungan, hingga tiga. Suara tembakan terdengar hingga menggema berkali-kali meski suasana sudah sunyi. Tidak ada tangisan atau teriakan. Sunyi. Hanya beberapa poster yang bergambar sosok wajah yang tertempel di beragam tempat, yang melayang-layang di atas ketiga orang yang tergeletak di atas jalan. Poster yang bertuliskan huruf kapital yang cukup besar untuk dilihat dari dekat : 


BIG BROTHER IS WATCHING YOU ! 

Comments

Instagram




domain murah