#kamisan Flashdisk

Aku terbangun dengan tubuh yang terasa sakit. Kakiku hampir tidak bisa digerakkan, walaupun harus aku akui, dengan tenaga yang semakin menipis seperti saat ini, rasanya mustahil aku bisa menggerakkannya. Mataku masih belum terbiasa dengan gelap, benar-benar tanpa cahaya, pekat. Napasku membaui sesuatu yang aneh, seperti bau besi, amis dan sengit. Tapi, otakku bahkan tak bisa menampilkan gambaran seperti apa bau ini yang seakan-akan bisa aku kenali, jika saja aku tidak sedang dalam kondisi seperti ini.
Baru saja rasanya aku bisa meloloskan diri dari mobil Van putih milik si tua bangka itu. Hanya saja, entah dia melakukan apa padaku, hingga rasanya mataku tak bisa kubuka.
Seminggu sebelum hal ini terjadi padaku, karena khawatir dengan kondisi si Tua Bangka yang menurut pendapat tetangga sudah sering sakit-sakitan. Juga, sering terdengar bunyi berdebam yang keras, sehingga mereka mengkhawatirkan si Tua Bangka yang Bangsat itu. Demi dia, aku memasang kamera CCTV. Tapi, baru saja beberapa jam kamera yang aku sembunyikan itu merekam kesehariannya yang tampak normal. Baru saja beberapa jam, aku bahkan bisa melihatnya dengan menahan rasa mual dan tak henti-hentinya ingin mengenyahkan kamera itu dari rumah si Tua Bangka.

Bagaimana mungkin aku bisa lupa, di dapurnya, dia memukul kepala seorang nenek tua, kemudian dengan pisau dapur untuk memotong daging, dia memotong tubuh si Nenek dengan sangat lihai. Aku tidak bisa menyaksikan lagi, tidak tahu apa yang terjadi karena aku langsung merasa sakit kepala. Aku memilih untuk duduk di dekat jendela, berharap si Tua Bangka tidak mengetahui apa yang telah aku lakukan pada rumahnya, memasang kamera CCTV.
Semalaman tubuhku meriang, ketakutan. Rasanya seperti bisa mendengar jejak langkah di depan pintu kamarku. Mataku menolak untuk kututup. Sungguh, ini siksaan yang lebih berat dari sekedar meliput berita di area pertikaian. Kesunyian yang mencekam membuat perutku mulas dan terasa melilit. Aku bisa mencium bau darah, bisa merasakan kehadirannya, seakan Tua Bangka itu ada di dalam rumahku saat ini. 
Aku tahu, ini bukan hal yang mudah. Tapi, setelah semalaman aku tidak bisa tertidur, ini waktunya aku berbuat sesuatu. Aku memilih untuk memindahkan hasil rekaman yang kejam itu, ke dalam Flashdisk, kemudian aku akan bertemu dengan Robert, pengacaraku serta Jessica, Psikiater yang telah berteman lama denganku. Aku sudah menghubungi keduanya pagi ini. 
Zzzztt……
Aneh, kamera CCTV yang awalnya menampilkan rekaman di dapur milik Tua Bangka, tiba-tiba menghilang. Tidak ada gambar apa pun, selain bintik-bintik yang menumpuk di layar televisi kecilku ini. Jantungku berdebar kencang, keringatku mengalir di pelipis, di leherku dan kurasakan perutku kembali menegang dan terasa melilit lagi. Aku harus bergegas. Entah kenapa instingku mengatakan aku harus bergegas.
Di luar, seperti biasa, tidak begitu ramai. Ini perumahan Black Meadow yang asri dan sunyi, Aku mencintai tempat ini, tidak begitu ribut seperti apartementku di New York. Down Town, begitu mereka menyebut Black Meadow ini. Namun, hari ini, rasanya aku membutuhkan orang yang benar-benar melewati depan rumahku untuk sekedar menyapa. Setidaknya memastikan bahwa aku tidak benar-benar sendiri di tempat ini.
Sudah bsepuluh menit aku menunggu ada yang keluar dari rumah, agar mereka bisa membantuku jika terjadi sesuatu. Aku bisa memastikan bahwa instingku selalu benar, tidak pernah salah. Sama seperti ketika insting ini mengatakan bahwa Veronica, istri yang baru aku nikahi selama dua bulan, berselingkuh dengan tetangga kami. Atau sama seperti ketika insting ini menyelamatkanku dari bom bunuh diri di Kota. Dan, saat ini, aku sudah tahu bahwa aku sedang dalam bahaya.
Bagus! Ada yang melewati depan rumahku, seorang lelaki setengah baya yang aku tahu tinggal beberapa blok dari rumahku. Aku bisa melarikan diri dengan mobil, berjalan cepat masuk ke dalam mobil kemudian menemui kedua sahabatku yang akan membantuku dan memberikanku perlindungan. Baik, tapi… sudah beberapa menit aku mencari kunciku, sementara lelaki setengah baya itu sudah tak terlihat lagi dari kaca jendela. Tanganku gemetar hebat, berkali-kali aku memeriksa kantong celana, memastikan Flashdisk masih berada di tempatnya.
Aku menemukannya. Tepat berada di atas meja makan. Walaupun rasanya sedari pagi tadi aku belum menyentuh ruang makan, tapi aku yakin, tidak ada penyusup di rumahku. Tempat ini masih aman, tapi aku harus bergegas. Tak ada waktu lagi, aku juga tak bisa menunggu hingga ada orang lain lagi yang akan lewat. Baik, aku harus cepat. 
Pintu rumah terbuka, aku sudah siap dalam hitungan ketiga untuk mencapai mobil. 
Satu…
Dua… Napasku memburu.
Tiga…
BRUK!
Saat membuka mata, aku berada di sebuah mobil tua, tubuhku terikat, kaki dan tangan serta mulutku. Di belakang kemudi, dari balik punggungnya, aku bisa tahu siapa dia. Tua Bangka Sialan! Aku berusaha mengendurkan ikatan yang sangat kencang ini. Tubuhku meliuk-liuk, yakin bahwa aku bisa melepaskan ikatannya.
“Tenanglah, Boy. Aku tidak akan menyakitimu.”
Suaranya santai, terdengar seakan habis memenangkan lotre. Tapi, aku sadar, aku dalam bahaya. Dan usahaku untuk melepaskan ikatan, gagal. Mobil yang dahulu pernah menyimpan kenangan bersama Ibuku dan si Tua Bangka, saat kami berjalan-jalan piknik ke sebuah danau, membuatku mual mengingatnya.
Van putih berhenti, si Tua Bangka turun dari mobil dan berjalan santai ke arah pintu belakang. Aku mengintipnya dari jendela luar, berharap ada orang lain yang akan menemukanku. Sialnya, handphoneku tidak ada di kantong celana.
“Kamu tahu, sedikit suntikan akan membuatmu tenang. Dan kau tidak akan merasakan sakit sama sekali.”
Saat itu, aku tidak tahu bagaimana caranya. Sama sekali tidak tahu, seakan ada energi ajaib menelusup dalam darahku. Kutendang wajahnya, sementara jarum suntik masih menempel di pahaku. Aku biarkan tubuhku meliuk-liuk hingga terjatuh dari dalam mobil. Tempat yang luas dan sepi. Sementara si Tua Bangka masih pingsan dekat dengan posisiku saat ini. Tapi, kakiku masih terikat, aku harus melepaskan tali ini agar bisa kabur secepatnya.
Aku berguling-guling menuju sisi paling ujung jalan setapak yang sepi, di sana ada tiang pembatas jalan. Di sana juga aku mencoba melepaskan sepatuku dengan harapan talinya akan melonggar. Tidak jauh dari tempatku ada pembatas jalan menggunakan kawat, otakku bisa membayangkan rasanya melepaskan ikatan. Tapi, sialnya, si Tua Bangka Bajingan itu sudah bergerak. Tidak ada waktu lagi, aku harus bergegas. 
Dia sudah bangun, kemudian membawa sesuatu dari dalam mobil. Sebuah pemukul bisbol. Aku terus menggerakkan kakiku yang sudah sedikit longgar agar talinya bisa, setidaknya melepaskan satu kakiku saja. Aku tahu sudah akan selesai, tali itu tinggal melewati batas akhir di pergelangan saja, aku bisa mencium bau kebebasan. Tapi…..


NB : Tulisan ini tidak ada kelanjutannya, saya bukan penulis yang baik. Karena memang akhirnya kondisi kembali lagi ke awal. Ciaooobellaaaa

Comments




domain murah