#BeraniLebih : Semua penulis bisa menulis

“Kenapa tidak disebut penulis saja?”
“Itu ide yang baik. Bisa disebut begitu. Tapi ‘kan Pak Carik di kelurahan itu juga penulis, karena kerjanya menulis. Penerima pasien di puskesmas itu juga penulis, anak-anak sekolah juga penulis, agen SDSB itu juga penulis.”

— Arswendo Atmowiloto (Novel AUK, hal 47)




Sederhana saja, saya pernah juga bermimpi untuk menjadi penulis. Diterbitkan bukunya, kemudian dikenal. Dari impian sederhana inilah, saya pernah berjuang menulis dan menulis, kalau ditotal jumlah novel yang sudah benar-benar selesai dan berjumlah seratus halaman lebih ada sekitar delapan atau Sembilan. Salah satunya pernah masuk ke dalam sebuah penerbit. Sudah menandatangani surat kontrak, namun berhenti di tengah jalan.

Alasannya mudah, penerbit ingin novel tersebut memiliki situasi ‘galau’ yang menyayat. Sementara saya sudah bosan dengan cerita yang itu-itu lagi, tentang ‘galau’ yang senantiasa masih menjadi tren. Saya ingin membuat sesuatu yang baru, memang benar untuk menjadi egois pada prinsip sering mendapatkan sebuah kata ketidak-setujuan. Begitulah setelah akhirnya morat-marit, hingga berlama-lama sementara saya sendiri sudah lelah, karena tidak bisa memutuskan untuk menjadikan tokoh ini seakut apa ‘galau’ nya. Akhirnya, kami- yaitu pihak penerbit dan saya sebagai penulis – memutuskan untuk membatalkan kontrak perjanjian.
Apakah saya menyerah begitu saja? Justru saya semakin bersemangat untuk menulis, tidak ada beban sama sekali. Karena bagi saya, kalau pun saya menulis tentang kegalauan, setidaknya itu bukan sesuatu yang dibuat-buat, biasanya kegalauan terhadap pilihan hidup yang sama-sama menentukan. Tapi, bukan sesuatu yang dibuat-buat hingga meracuni orang lain dengan kegalauan yang sama. Saya sendiri merindukan sebuah karya yang tidak melulu tentang remaja galau karena pacar. Rindu saya pada kisah remaja yang berpetualang atau anak-anak yang bermain di lapangan. Seperti itu.
Karena saya tidak menyerah, saya terus mengikuti beberapa proyek pribadi atas hasil ide teman-teman saya. Dimulai dari menulis rutin seminggu sekali, sampai dwi mingguan. Saya jalani, dengan harapan ini adalah komitmen saya dalam menulis. Saya merasa #BeraniLebih dalam hal komitmen menulis, dengan pembuktian seperti menulis review buku, mengadakan blog challenge, serta berusaha tetap menulis di blog lain yang saya ikuti.
Sering juga saya mengikuti beberapa Giveaway untuk melatih saya agar #BeraniLebih untuk menampilkan karya tulis saya. Tidak ada kerja keras yang tidak menghasilkan, itu yang saya yakini. Jadi, ketika saya juga akihrnya kembali mengikuti lomba menulis novel, kemudian karya saya sempat masuk nominasi meski tidak lolos, itu menjadikan saya lebih berharga. Karena, bagi saya, jika hanya cerita tentang kegalauan, tentang cinta yang begitu-begitu saja, sungguh mungkin banyak yang akan mencapai titik kejenuhan sehingga bisa jadi buku-buku tidak lagi akan dilirik.
Jadi, apa yang masih saya lakukan ini, sederhana saja. #BeraniLebih dalam komitmen menulis, sesuatu yang bermanfaat. Belakangan saya juga berpikir untuk menulis hal-hal yang diperlukan oleh orang lain, jadi tidak hanya sekedar absurditas. Sebegitu sederhana pilihan saya dalam hal menulis, karena tanpa menulis rasanya saya juga tidak dapat bermain dengan kata dan mencipta. Tidak dapat merekam jejak dalam dunia tulis menulis, karena membaca saja terkadang tidak cukup bagi saya. Tapi, tanpa membaca saya bukan apa-apa. #BeraniLebih disiplin untuk rutin menulis sehingga tidak ada kata mubazir dalam kamus kehidupan. Semoga ini bukan hanya sekedarnya.



Comments




domain murah