#kamisan Batu Akik

March 26, 2015

“Apa sih yang hebat dari batu akik? Ngetrennya?”
Misuh-misuh cucu kesayangan Aki Darawan terdengar siang ini. Sambil sabar dan telaten Aki Darawan masih menggosok satu persatu cincin batu akik koleksinya.
“Cu, ini bukan hanya sekedar batu akik.”
“Itu batu akik, Ki. Dan nggak hebat.”
“Kamu pernah tahu bagaimana perjalanan batu akik ini hingga menjadi cincin?”
Cucu kesayangan Aki Darawan membuang wajahnya, tidak ingin mendengar alasan akinya menyukai cincin batu akik.
Tapi, tetap saja, Aki Darawan menjelaskan padanya.
Satu hal yang menjadi proses dari batu-batu yang terdampar di kali, adalah menjadi mulus dan banyak disukai. Melebihi intan berlian yang sering tidak begitu ramai diperbincangkan. Bebatuan yang berada di kali, dipilih satu persatu, dicari yang bagus dan rupawan. Meski jika dilihat dari mata telanjang, tidak ada bentuk rupawan dari kumpulan batu yang bentuknya tak beraturan itu.
Setelah dipilih, kamu tau, Cu. Mereka akan disinari dengan senter. Jika mereka tulus, maka sinar senter akan tembus dan ini membuktikan bahwa ketulusan dan kejujuran teramat penting hingga tidak perlu lagi ada sesuatu yang disembunyikan.

Kemudian, batu-batu yang terbukti kejujuran dan ketulusannya itu akan dikumpulkan. Dan dipertontonkan pada khalayak, demi satu tujuan, agar mereka bisa menjalani sesuatu yang membuat mereka tak kalah dengan berlian.
Kamu tau, Cu? Bahwa ketika di gerindra, batu itu sama seperti manusia. Manusia menghadapi ragam masalah, dengan persentase melakukan kesalahan dan kebenaran yang tidak seimbang. Itulah mengapa kesalahan membuat manusia menjadi sangat manusiawi dan manusia yang baik adalah yang belajar dari kesalahan. Sama seperti ketia menggerindra batu, ada saja kesalahan yang rasanya membuat penampilan batu menjadi kurang apik. Sehingga bisa menjadi masukan agar saat memolesnya tidak lagi terjadi kesalahan. Dan batu kali yang buruk rupa, ketika mengalami tempaan yang begitu hebat, dia menjadi batu yang begitu rupawan.
Itulah manusia, Cu. Sama, harus mengalami tempaan agar bisa menjadi sosok yang lebih baik dan rupawan. Ini hidup Cu, anggap saja Aki sedang mendidik diri Aki agar bisa lebih baik lagi.
“Tetap saja Ki, tidak menarik.”
Sang cucu kesayangan Aki Darawan melangkah pergi, memilih bermain dengan teman-temannya. Sementara Aki masih memoles batu-batu tersebut dengan minyak zaitun. Agar lebih bersinar saat tertimpa cahaya. Sama seperti manusia, harus rajin dipoles jiwanya, agar juga bisa bersinar dan rupawan.

* sedang tidak mood untuk menulis padahal cerita tentang koleksi batu akik milik bapak sudah begitu menggebu untuk ditulis. Ternyata hasilnya begini jadinya. Biarlah…..*

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Mohon maaf untuk sementara komentar dimoderasi, karena banyak spammer.

Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik. n_n
Link hidup dan Spam akan dihapus ya :)


Terima kasih