[Curhat] Titik balik kehidupan #MGANia


Selamat pagi,
sebelum beraktifitas saya ingin menulis terlebih dahulu untuk mengikuti Giveaway yang diadakan duet antara heymiftah dengan MakNia. Tentang titik balik dalam hidup. Wah, semoga saya tidak kalap.
Tahun 1999, tahun yang bersejerah tidak hanya bagi Indonesia dan rakyatnya, tapi juga bagi pribadi saya. Karena pada tahun ini, Bapak mendapat surat pemberhentian dari tempatnya bekerja. Surat yang mengawali kehidupan baru yang membuat kehidupan saya seperti kurva yang kemudian melengkung hingga 180 derajat karena sangat berbeda sekali.
Sebelumnya, Bapak bekerja sebagai ajudan Bupati, tahu dong ya bagaimana ajaibnya telunjuk saya ini. Tinggal tunjuk sana dan tunjuk sini, jadilah barang itu bisa saya dapatkan. Dan seketika semuanya berubah, bukan karena negara api menyerang.

Ada banyak yang terjadi, sangat banyak. Dari sulitnya membayar hutang pada toko bangunan. Karena kebetulan kami sedang membangun rumah yang kami tempati hingga saat ini. Karena Bapak harus menjadi pengangguran, jadilah tak ada uang untuk membayar tagihan dari toko bangunan. Sampai saat itu, dari saya yang jarang peduli dengan keluarga, maksudnya jarang memahami bagaimana Bapak dan Ibu berusaha untuk memenuhi kebutuhan kami (anaknya). Menjadi sosok anak pertama yang juga turut serta memikul beban kedua orangtua.
Tapi, itu bukan hal yang sangat memorable. Karena yang lebih membuat kami terkenang dan kadang tertawa, bahkan menangis bersama adalah saat mengingat kejadian tanggal 21 Desember. Di tahun yang sama, Ibu akan melahirkan Adik, anak nomor tiga. Karena tidak ada kendaraan, juga tidak ada uang sama sekali. Berangkatlah Bapak dan Ibu, sambil berbekal payung yang sudah benar-benar rusak, ke rumah tetangga yang berbeda RT, beliau adalah Bu Jusanah, Bidan yang menolong Ibu melahirkan.
Insya allah kebaikannya tidak akan pernah kami lupakan. Karena, Bapak tak memiliki uang untuk membayar jasa beliau. Justru Bu Bidan memberikan sembako untuk keluarga kami, karena tahu kami tidak memiliki uang. Saat itu tepatnya bulan puasa, bahkan pernah saya tidak sahur dan berbuka hanya minum teh manis hangat karena memang tidak ada makanan di rumah. Kalaupun ada, hanya untuk Ibu dan Bapak serta adik. Saya tidak tega ikut makan, karena porsinya hanya dua atau tiga sendok bubur tanpa lauk. Percayalah, ini kenangan yang akan saya bawa hingga akhir hidup.
Tibalah saat Bapak mencari uang sebesar 50.000 untuk mengurus Akte Lahir adik saya. Bahkan saat itu tidak ada uang sama sekali. Tidak perlu ditanya seberapa banyak saya menangis saat memasuki kehidupan baru saya ini. Sampai akhirnya, saya harus berpisah dengan benda kesayangan saya, teman saya kala malam tiba, Radio Polytron Bass yang kemudian dijual oleh Bapak bersama dengan Televisi. Semenjak itu, rumah kami selama tiga tahun tidak ada televisi. Tapi tak mengapa, karena yang saya pikirkan hanya satu, bagaimana nanti dan esok hari saja.
Saya juga pernah tidak makan selama seminggu, atau sebulan penuh keluarga kami hanya makan mie bungkus karena pemberian dari LSM yang membagikan sembako gratis. Untuk mendapatkan sembako gratis saja, sempat dicurigai loh, karena rumah kami kan memang baru dibangun dan pada saat selesai itulah bapak mendapat PHK. Jadi, siapa yang akan percaya kalau keluarga kami memang butuh sembako gratis itu.
Ada banyak sekali cerita dan pengalaman yang saya rasakan, sampai kalau tidak salah ingat, kesulitan dalam mencapai cita-cita saya untuk kuliah, ya pada saat saya kuliah. Karena saat itulah, saya tidak dapat melanjutkan kuliah. Sangat sedih sekali. Tidak bohong, sampai saya suka berimajinasi kalau keesokan harinya saya bisa kuliah lagi. Begitu terus, bahkan ketika saya bisa mendapat pekerjaan dengan bekal transkrip nilai saja ! Bahkan sekarang bisa foya-foya belanja buku ini dan itu, sampai harus diet belanja buku -_-.
Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Banyak hal yang saya pelajari dari pengalaman kehidupan. Walaupun tidak juga membuat saya kuat. Tapi, membuat saya bisa merasakan bagaimana pusing dan sedihnya Emip ketika membayangkan biaya kedokteran yang mahal.
Emip sayang, sebagai anak, cukup meminta Ridho dari Allah dan Orangtua. Jangan lupa doakan keduanya sehat dan bahagia. Kenapa? Karena dulu saya pernah melakukan kesalahan. Setiap selesai solat, doa saya cuma satu, minta Allah memberikan uang pada Ibu dan Bapak agar saya bisa melanjutkan sekolah, karena saya pernah loh hampir gagal tidak bisa melanjutkan sekolah :D. Dari situlah saya baru menyadari kesalahan saya, setelah Bapak dan Ibu sakit yang sampai sekarang harus rajin minum obat.
Emip, percayalah bahwa MATEMATIKA ALLAH ITU SEMPURNA. Cukup percaya bahwa ALLAH akan membantu Emip. Walau Emip harus jatuh-bangun sampai terjung payung sekalipun. Siapa tahu, itu akan membuat Emip menjadi Dokter yang amanah. Karena menghargai proses yang sudah Emip lewati.
Masalah uang, itu bukan masalah besar. Justru yang menjadi masalah adalah bagaimana Iman, kesehatan serta kebahagiaan yang harus diperhatikan.
Jadi, sekarang Emip percayakan apa saja pada Allah, karena saya yakin. Emip bisa mencapai apa yang Emip cita-citakan. Hey Miftah, suatu saat nanti saya akan bangga membicarakanmu pada orang lain. 
Itu loh, dokter Miftah, teman saya dulu. Dia hebat dan amanah insya allah. Berobat ke dia aja !
Hahahaha… day dreaming sekali saya. Sudahlah Emip, selamat menjalani kehidupan yang akan mengajarimu bahwa proses lebih penting dalam sebuah kesuksesan.

Tulisan ini diikutsertakan di dalam #MGANia bulan Maret 2015


Comments




domain murah