#Kamisan #2 Season 3 - Jala ikan


“Hidup ini susah, Nduk !”
Masih diingat Surti nasihat dari Ibunya. Si Mbok yang sering menjajakan dagangan dengan bakul yang digendongnya. Dulu, Surti sering menemani si Mbok berjualan mengelilingi kampung. Terkadang jika belum laris, dagangan mereka, Surti dan si Mbok akan berjalan hingga kampung tetangga.
Dan, dulu si Mbok lah yang mati-matian untuk membujuk Surti agar mau sekolah. Tapi, sayang, Surti lebih senang bermain dengan anak-anak lain.
Beranjak remaja, Surti bermain dengan anak-anak bangsawan, terkadang memang dia menjadi perempuan yang sedikit nakal. Entah seperti apa kenakalannya, hanya Surti, teman bangsawannya serta Tuhan yang tahu. Mungkin, beberapa semak-semak tempat mereka ‘bermain’ juga tahu, tanah juga mungkin tahu.
Dan, suatu saat, ketika Surti hendak menikah dengan Parnojo, seorang nenek yang tak dikenalnya mengatakan, bahwa Surti harus pintar, jangan mau dibodoh-bodohi orang lain.

Surti, nakal. Tetap nakal. Selain tak mendengar nasihat sang nenek misterius, Surti juga sering bermain ke rumah Pak RT ketika Bu RT sedang pergi. Surti juga sering main ke rumah Pak RW atau Pak Lurah sampai pernah bermain ke rumah Pak Camat dan menginap di sana.
Sampai suatu ketika, Parnojo sudah kehilangan akal sehatnya. Dia meninggalkan Surti, dan Surti menangis. Padahal saat itu Surti tengah berada di gubuk tengan sawah bersama Bejo. Parnojo berkata :
“Kamu perempuan nakal yang bodoh !”
Begitulah yang dikatakan Parnojo untuk terakhir kalinya. Namun, Surti tak mengejar Parnojo, karena lupa memakai baju. 
Ketika Surti sudah beranjak tua, tak ada lagi yang mau mengajaknya 'bermain’. Bahkan dia sering tidak dianggap di kampung tempat tinggalnya. Surti memutuskan untuk pindah. Surti ingin mencari teman lain.
Dan suatu hari, Surti melewati tempat yang ramai oleh anak-anak. Mereka mengenakan baju yang sama, Merah dan Putih serta topi. Surti tidak bisa membaca dan tidak tahu apa-apa. 
Di sana dia melihat banyak anak-anak mengerumuni salah satu lelaki yang membawa dagangan ikan kecil-kecil di dalam plastik, sangat kecil dan sesekali dia mendengar lelaki itu mengatakan Cere’. Ada juga digantung jala kecil pada gerobaknya. Surti menyentuh jala kecil, kemudian menyentuh plastik-plastik bening itu. Dan bertanya.
“Pak, tangkap ikannya pakai apa?”
“Ya, pakai Jala ini, Mbok.”
Surti misuh-misuh dalam hati, dia kesal lelaki itu memanggilnya Mbok. Padahal dia sudah ingin mengajaknya 'bermain’.
“Terus cari ikannya dimana?”
Lelaki itu sibuk melayani anak-anak lain yang memberikannya uang kertas, sama seperti dulu ketika Pak RT atau Pak Camat menyelipkan selembar uang kertas ke dalam bajunya.
“Cari ikan itu di laut, Nek.”
Jawaban dari anak kecil yang berdiri di dekat Surti membuat dia semakin kesal. Bagaimana tidak kesal, dia dipanggil Nenek. Tapi, setelah mendapat jawaban, Surti diam-diam tanpa sepengetahuan sang lelaki yang dikerumuni anak-anak kecil itu, dia mengambil satu kantong plastik berisi Jala Kecil.
Setelahnya dia berjalan, terus berjalan, pagi, siang malam. Hingga sampailah dia di tempat yang ramai oleh pengunjung, tempat berpasir yang dekat dengan air. Tempat yang ditunjuk orang-orang menuju ke laut. Kemudian berteriak menjajakan dagangannya, mengikuti lelaki yang dahulu pernah dilihatnya dikerumuni anak-anak.
“Pak, Bu, ini jalanya, untuk nangkep ikan Cere’ !”

*Source Gambar : milik @areknjomplang  *

Comments




domain murah